Bacaan: Wahyu 22 : 8 – 21 | Pujian: KJ. 436
Nats: “… dan barangsiapa yang berbuat benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barangsiapa yang kudus, biarlah ia terus menguduskan dirinya!” (Ayat 11b).
Mahatma Gandhi pernah mengungkapkan, “Kebenaran adalah sesuatu yang sukar diterima, tetapi apabila sudah biasa, ia adalah suatu kebahagiaan.” Banyak orang tidak siap untuk menerima kebenaran, tidak siap untuk berbuat benar, tidak siap untuk mengungkap kebenaran. Penyebabnya mungkin sederhana, ya karena tidak terbiasa melakukannya. Namun apabila kita membiasakan diri untuk berlaku dan berbuat benar, maka ungkapan Mahatma Gandhi tadi rasanya tepat, yaitu kebiasaan berbuat benar akan membawa kita kepada kebahagiaan. Walaupun perlu diakui, mempertahankan kebenaran tentu penuh dengan tantangan. Hal itu tidak mudah, selalu ada godaan untuk berpaling dari kebenaran itu sendiri.
Tantangan inipun menjadi pergumulan yang lekat dirasakan dan diterima persekutuan Kristen pada masa lalu. Kitab Wahyu muncul dari pengalaman penderitaan yang bertubi-tubi, yang dialami persekutuan umat Kristen pada zaman kekaisaran Romawi. Dalam kesesakan dan penderitaan tersebut, muncullah pengharapan yang kuat. Dan pengharapan itu muncul dari niatan untuk selalu berpegangan pada kebenaran Firman Tuhan. Karena itu, ajakannya menjadi jelas, supaya orang benar tetap berbuat apa benar, menjaga kekudusan dan mengupayakan kebenaran bahkan dalam situasi yang sulit dan terjepit, menjadi upaya utama untuk tetap dilakukan.
Umat Tuhan yang hidup pada zaman inipun tidak lepas dari penderitaan, kesesakan, tekanan, tantangan yang muncul dalam berbagai lini kehidupan. Semua segi kehidupan itu menantang kita untuk tetap berlaku benar seturut kehendak Allah. Ada kalanya hal itu menempatkan kita pada jalan yang harus dipilih, maka pilihlah untuk tetap menjadi orang benar, orang kudus yang menjaga kekudusan seturut kehendak dan firman-Nya. Dengan demikian kita akan selamat dan mendapatkan kebahagiaan yang kita harapkan. Tuhan Yesus memampukan kita untuk hidup dalam kebenaran dan kehendak-Nya. Amin. [ardien].
“Kebiasaan belum tentu benar, tapi kebenaran harus dibiasakan.”