Bacaan: Yoel 2 : 1 – 2; 12 – 17 | Pujian: KJ. 24
Nats: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, …” (Ayat 13)
Sebagai manusia, kita bisa kecewa jika ada seseorang berbuat salah, tetapi meminta maaf dengan tidak sungguh-sungguh. Apalagi jika hari ini sepertinya menyesal, di kemudian hari melakukan kesalahan yang sama hingga berulang kali. Tanpa sadar, kita pun juga kerap berlaku hal yang sama kepada Tuhan. Hari ini menyesal, esok mengulangi lagi. Hari ini janji bertobat, esoknya lupa.
Umat Israel juga demikian. Pengakuan dosa dan pertobatannya seringkali tidak sungguh-sungguh. Nabi Yoel mengingatkan umat Israel akan malapetaka besar. Mulai dari serbuan belalang yang menimbulkan kelaparan hingga kemarau panjang yang mematikan. Nabi Yoel juga memberikan gambaran tentang Hari Tuhan yang mengerikan. Gelap gulita dan kelam kabut melambangkan hukuman dan kebinasaan. Peringatan-peringatan itu dikaitkan dengan kemerosotan moral serta dosa yang menjalar pada seluruh kehidupan umat Israel. Yoel mendesak umat Israel untuk berbalik kepada Tuhan. Umat Israel harus melaksanakan liturgi ratapan, disertai pengakuan dan pertobatan yang sungguh. Mengoyakkan hati dan bukan pakaian, menekankan bahwa pertobatan bukan semata soal kulit luar atau perkara lahiriah, melainkan tindakan pembaharuan hidup atau komitmen untuk meninggalkan dosa dan pemberontakan. Diiringi kesungguhan mengarahkan pikiran, laku hidup, dan keputusan kepada Allah. Pertobatan ini diteguhkan oleh keyakinan akan kemurahan hati Tuhan yang berkenan mengampuni, menyayangi, dan memulihkan kehidupan umat-Nya.
Hari ini adalah Rabu Abu, hari pertama kita memasuki masa Pra Paskah. Dalam tradisi Israel, abu melambangkan kefanaan, penyesalan diri, dan pertobatan. Pengingat bahwa sejatinya kita rapuh bagai debu. Tanpa rahmat Tuhan, kita tak mampu. Kita perlu belajar peka terhadap peringatan-peringatan Tuhan melalui semesta ataupun pengalaman hidup sehari-hari. Sebab seruan pertobatan nabi Yoel juga ditujukan kepada kita. Rabu Abu bukan sekedar liturgi ratapan atau pengakuan dosa, tetapi harus disertai tindakan pembaharuan hidup. Dunia yang hancur oleh kuasa dosa membutuhkan lebih banyak orang yang mau berbalik kepada Allah dan menghidupi pertobatannya dengan sungguh-sungguh, mengarahkan segenap hati dan hidup pada tuntunan Ilahi, bukan kehendak manusiawi. Amin. [wdp].
“Pertobatan adalah kesungguhan mengakui dosa disertai tindakan memperbarui hidup seturut kehendak Bapa.”