Bacaan : Bilangan 15 : 32 – 41 | Pujian : KJ 157
Nats: “Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu” (ay.40)
Ikan Sura dan Baya yang sedang bertempur adalah logo terkenal dari Kota Surabaya. Sebagai arek Suroboyo, saya tahu bahwa Sura dan Baya ini bukan hanya bersifat mitologis namun juga filosofis. Telah terkenal mitos tentang pertempuran Sura sang penguasa laut dengan Baya yang menguasai daratan, mereka sama-sama kuat dan sama-sama tangguh, akibatnya tak ada yang menjadi pemenang meski keduanya terluka parah. Lokasi pertempuran itulah yang kini menjadi kota Surabaya, dimana air dan tanah berjumpa. Di sisi filosofis, simbol pertarungan Sura dan Baya ini menggambarkan Surabaya yang beberapa kali ada dalam bahaya (baya) namun tetap selamat (jaya/sura). Demikianlah sura dan baya menjadi simbol semangat dan dinamika kehidupan kota Surabaya.
Simbol adalah lambang yang disepakati bersama untuk mewakili ide atau gagasan yang biasanya lebih kompleks. Jumbai peringatan yang ada dalam Bilangan adalah simbol yang diperintahkan TUHAN untuk dipasang di tiap punca jubah orang Israel. Tujuan jumbai ini adalah untuk mengingatkan Israel agar tak lagi melanggar ketetapan dan aturan-Nya. Dalam hal ini, yang paling penting adalah kesadaran Israel untuk setia dan bukan simbolnya. Masalahnya, dalam perkembangan kemudian yang menjadi lebih mutlak dan lebih penting adalah simbol, sedang gagasan kesetiaan pada TUHAN yang diwakili simbol itu justrulah dilupakan.
Kita hidup dalam dunia yang penuh simbol. Dalam batasan tertentu, simbol memanglah diperlukan manusia untuk mewakili kompleksitas ide, kreatifitas, emosi dan juga imannya. Simbol membantu manusia mengenali diri dan Tuhan-nya secara visual. Masalahnya adalah saat manusia justru membuat simbol manusiawinya sebagai yang mutlak dan tidak boleh ditafsir dengan cara yang lain. Simbol justru kehilangan kekuatannya. Gereja, adalah lembaga yang juga penuh dengan simbol. Warna liturgis, lambang di stola atau baju jabatan adalah simbol-simbol yang memperkaya cara beriman kita. Namun, simbol itu tak perlu dimutlakkan, tak perlu dituhankan. Tak perlulah bersikap: Nek gak ngene sesat, nek gak ngono salah! Mari memaknai simbol sebagai kekayaan iman kita, seperti simbol bajul ijo itu membuat para bonek teriak: Salam satu nyali, wani! (Rhe)
Simbol adalah perwujudan dari Sang Tan Kena Kinaya Ngapa