Tetes Air Hujan Renungan Harian 20 Oktober 2019

Bacaan : Lukas 18 : 1 – 8   |  Pujian : KJ. 452
Nats:
Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak…” (ayat 4a)

Melihat batu yang besar serasa tidak akan ada yang mampu menghancurkannya. Tapi ternyata batu yang besar itu berlubang dan berpotensi pecah. Lubang pada batu besar itu terjadi karena tetes air hujan yang terus menerus turun di atas permukaan batu tersebut. Hal ini senada dengan teks hari ini yang Tuhan Yesus sampaikan dengan perumpamaan tentang hakim yang tidak benar. Dijelaskan bahwa ada hakim yang tidak takut Allah dan tidak menghormati siapapun. Maka datanglah seorang janda, yang minta haknya untuk dibela. Kenapa dibela? Posisi kedudukan janda dalam tradisi Yahudi adalah lemah karena budaya patriakhi-mengutamakan laki-laki, dan perempuan tidak punya hak bicara. Lalu dalam teks ditunjukkan bahwa beberapa waktu lamanya, hakim itu menolak dan akhirnya membenarkan janda tersebut. Kata “membenarkan” atau “pembenaran” (Yun : Dikaioo), membebaskan dari tuntutan, menyatakan benar atau tidak bersalah. Sehingga, hakim itu menyatakan perempuan itu benar, tidak bersalah, atau bebas  dari tuntutan. Hal ini mengajarkan tentang konsistensi berdoa.

Allah selalu menunjukkan belas kasihan kepada manusia. Berbeda dengan hakim lalim yang terganggu saat ada yang datang mohon belaskasihannya. Berbeda dengan Allah, yang tidak pernah terganggu dengan doa-doa dan permohonan yang kita sampaikan. Pertanyaannya : apakah doa dan harapan yang kita sampaikan selalu mendapat jawaban instant atau cepat? Tidak! Ayat 4, kata “beberapa waktu lamanya” menunjukkan ada jeda waktu atau proses yang panjang atau tidak tahu batas waktunya. Tapi kita belajar untuk tidak berhenti memohon. Hal inilah permohonan didasarkan pada iman (aram: Aman), mempercayakan diri seutuhnya dan melakukan dengan segenap hati. Maka, jangan pernah jenuh, menyerah, atau bosan dalam memohon kepadaNya seperti tetes air hujan. Kita percaya, Allah tidak membiarkan umatNya memohon kepadaNya siang dan malam. Mari belajar kesetiaan janda yang punya hasrat tinggi berdoa dan bergantung pada Allah. (Kulz)

“Berdoalah pada Allah dengan tekun, percaya, dan bersyukurlah senantiasa”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •