Bacaan: 1 Korintus 15 : 42 – 49 | Pujian: KJ. 446 : 4
Nats: “Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.” (Ayat 49)
Suatu kali saya mendengar percakapan sekelompok remaja putri di sebuah taman. Dalam percakapan itu ada yang berkata: “Tahu ga sih, moment yang paling aku benci dalam hidupku itu adalah waktu aku berada di depan cermin”. “Lho, kenapa?” tanya salah satu temannya. “Iya aku benci dengan diriku, kenapa aku diciptakan jelek seperti ini,” jawabnya. Secara spontan teman-temannya mengatakan, “Nggak kok, kita kan sama”. Saya tahu bahwa mereka sedang berusaha untuk membesarkan hati temannya. Ini sebuah realita, banyak orang merasa rendah diri, minder, merasa tidak berguna, tidak mau menerima diri ketika melihat kenyataan dan realitas fisik atau tubuhnya. Ada yang sangat bersyukur dan menerimanya, dengan segala kelebihan dan keterbatasanya, tetapi ada juga yang menghujat dan menolaknya.
Melalui bacaan hari ini, rasul Paulus mengingatkan kita akan realitas kehidupan manusia. Yakni realitas jasmaniah, termasuk di dalamnya adalah tubuh manusia secara fisik, yang dapat rusak dan binasa. Kedua adalah realitas sorgawi yaitu kehidupan rohani yang ilahi dan kekal. Rasul Paulus tidak memandang bahwa tubuh jasmani ini adalah realitas yang buruk dan jahat, sebagaimana pandangan filsafat Yunani pada saat itu. Sebaliknya, rasul Paulus memandang tubuh jasmani dan tubuh sorgawi/rohani adalah kesatuan proses yang belum sempurna.
Saudara, mungkin saat ini ada di antara kita yang merasa bahwa tubuh jasmani kita lemah, mengalami sakit, menderita, tidak berdaya, tidak berguna bahkan tidak mampu melakukan apa-apa. Atau ada yang merasa tidak puas dengan dirinya karena bentuk tubuh dan wajah yang tidak cantik atau tampan seperti orang lain. Atau merasa bahwa hidupnya tidak sesejahtera tetangga. Saat ini, mari kita ingat, bahwa yang alamiah itu akan berlalu, dan akan diubah dalam rupa sorgawi. Karena itu, syukurilah apa yang kita miliki saat ini. Sebab dengan bersyukur maka kita akan merasakan bahwa Allah sudah memberikan yang terbaik dalam hidup kita. (mere).
“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah”