Yesus Turun Agar Kita Diangkat Pancaran Air Hidup 18 Juni 2026

18 June 2026

Bacaan: Ibrani 2 : 5 – 9  |  Pujian: KJ. 141
Nats: “Tetapi, yang kita lihat ialah bahwa Yesus untuk waktu yang singkat dibuat lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh anugerah Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.” (Ayat 9)

Dalam kehidupan di dunia ini, banyak orang menilai kemuliaan dari kekuasaan, kedudukan, dan penampilan. Namun Yesus menunjukkan jalan yang berbeda ketika Ia hidup di tengah-tengah dunia ini. Yesus yang adalah Anak Allah, rela turun pada tempat yang rendah menjadi manusia. Ia menanggalkan kemuliaan surgawi-Nya untuk masuk ke dalam dunia yang penuh penderitaan, supaya manusia yang telah jatuh dalam dosa dan celaka dapat diangkat kembali. Inilah paradoks kasih Allah: kemuliaan sejati justru lahir dari kerendahan hati dan pengorbanan.

Penulis surat Ibrani ingin menegaskan bahwa melalui penderitaan dan kematian, Yesus memulihkan martabat manusia yang telah rusak oleh dosa. Apa yang dulu tidak lagi kita miliki, yakni kehormatan sebagai ciptaan yang mencerminkan kemuliaan Allah, kini dipulihkan oleh Yesus Kristus. Ia mati bukan karena kalah, melainkan karena kasih. Oleh kasih karunia Allah, Ia menanggung maut bagi semua manusia, agar kita yang percaya kepada-Nya bisa hidup dan dimuliakan bersama Dia.

Ketika kita merenungkan hal ini, seharusnya hati kita dipenuhi rasa syukur. Kita tidak lagi hidup dalam keputusasaan, sebab Yesus telah menunjukkan bahwa jalan salib adalah jalan menuju kemuliaan. Dalam penderitaan dan kelemahan kita, Yesus hadir sebagai Imam Besar yang memahami pergumulan manusia, yang tidak hanya memerintah dari atas, tetapi juga berjalan bersama kita di lembah kelam hidup kita. Karena itu, mari kita belajar meneladani Yesus yang tidak mencari kemuliaan dengan cara dunia, tetapi dengan kerendahan hati, kesetiaan, dan kasih. Sebab, siapa yang rela merendahkan diri di hadapan Tuhan, dialah yang akan ditinggikan pada waktu-Nya. Amin. [fani].

“Kerendahan hati adalah pintu menuju kemuliaan sejati.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak