Bacaan: Kidung Agung 7 : 10 – 8 : 4 | Pujian: KJ. 338
Nats: “Milikkulah kekasihku, kepadaku gairahnya tertuju.” (Ayat 10)
Suatu ketika ada seorang laki-laki yang hendak mengunjungi kekasihnya. Rumah mereka berjauhan dan beda kota. Di tengah perjalanan laki-laki itu mengalami musibah. Mobil yang dikendarainya disenggol oleh mobil lain sehingga sebagian badan mobilnya penyok dan kaca spionnya pecah. Namun, dia tetap melanjutkan perjalanannya ke rumah kekasihnya, dengan kondisi mobilnya yang rusak itu. Mengapa dia begitu kuatnya untuk datang dan bertemu dengan kekasihnya? Apakah yang mendorongnya untuk tetap melanjutkan perjalanannya? Jawabannya adalah hasrat. Ya, karena ada hasrat di dalam dirinya. Hasrat itu yang membuatnya ingin tetap menemui kekasihnya. Bagaimana Alkitab berbicara tentang hasrat?
Bagian kitab Kidung Agung merupakan kitab yang dikenal sangat puitis dan penuh cinta kasih. Dalam bacaan kita hari ini dikisahkan hubungan cinta antara seorang laki-laki dan perempuan. Hubungan cinta kasih itu didasarkan pada hasrat. Hasrat di sini perlu dipahami sebagai pendorong dalam suatu hubungan cinta kasih sepasang kekasih. Cinta kasih tanpa hasrat adalah kehampaan. Hanya sebatas formalitas semata. Oleh sebab itu, dalam suatu hubungan atau relasi dibutuhkan hasrat untuk memperkuatnya. Hasrat bukan hanya berbicara tentang keinginan untuk berhubungan secara fisik, tetapi juga hasrat untuk saling mencintai. Sehingga hasrat ini harus diupayakan oleh kedua belah pihak. Dengan hasrat tersebut seseorang akan semakin sungguh-sungguh dalam menjalin suatu relasi bersama dengan yang lainnya.
Dalam rangka bulan ekumene kita diajak untuk merawat persaudaraan sejati. Maka hasrat ini perlu menjadi dasar dalam membangun dan merawat persaudaraan tersebut. Tanpa adanya hasrat, relasi persaudaraan yang terjalin hanyalah suatu perjumpaan hampa. Jika ada hasrat di dalamnya maka relasi itu bukan hanya terbatas pada hal saling mengenal dan melakukan perjumpaan secara rutin dan formal semata, melainkan masing-masing orang akan terus terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih bagi yang lainnya. Seseorang akan rela berkorban dan melakukan apa saja bagi orang-orang yang dicintainya. Mari kita terus menjalin komunikasi dan relasi yang baik dengan mereka yang berbeda. Selamat berekumene. Amin. [TpJ].
“Relasi tanpa hasrat adalah hubungan yang hampa dan tak berguna.”