Bacaan: Yakobus 2 : 1 – 13 | Pujian: KJ. 249
Nats: “Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (Ayat 1)
Dalam sebuah film fantasi yang berjudul Beauty and the Beast, yang diproduksi oleh Walt Disney pada tahun 2017, menceritakan seorang gadis cantik yang bernama Belle yang bersedia bersahabat dengan seorang pangeran yang buruk rupa. Persahabatan itu terbangun tanpa ada perbedaan. Melalui persahabatan yang terjalin, kemudian berkembang menjadi cinta, dan karena cinta tulus dari Belle inilah yang mampu mengakhiri kutukan dalam diri pangeran. Sang pangeran yang buruk rupa berubah menjadi pangeran yang tampan rupawan. Begitulah kisah menarik yang ada dalam film fantasi ini. Namun rasanya hubungan persahabatan si cantik dan si buruk rupa ini sulit untuk diterima akal sehat, apalagi jika sampai terjadi di dunia nyata. Karena pada umumnya, seseorang bersedia untuk bersahabat dan jatuh cinta dengan seseorang yang memiliki tampilan baik dan rupawan. Tetapi jika dalam dunia nyata ini, semua orang bersedia berteman dengan tanpa memandang muka, tentu akan indah rasanya.
Hal senada juga tertulis dalam surat Yakobus ini. Penulis surat Yakobus mengingatkan para pembaca saat itu dan saat ini, untuk tidak mengamalkan iman dengan memandang muka. Sebab ketika kita membeda-bedakan orang karena tampilan fisiknya, atau kedudukannya, hal itu sama artinya kita menjadi hakim bagi sesama. Sedangkan Allah Sang Pencipta tidak pernah sedikitpun membeda-bedakan umat-Nya, ketika menyatakan kasih-Nya. Kepada mereka yang kaya dan miskin, mereka yang rupawan atau buruk rupa, Allah tetap mengasihi dan membuatnya berharga.
Jika Allah Sang Maha Kasih mampu mewujudkan kasih-Nya pada semua umat tanpa perbedaan, akankah kita yang diciptakan-Nya merendahkan sesama dan mewujudkan kasih dengan memandang muka? Bukankah ketika kita merendahkan sesama, hal itu sama artinya dengan kita merendahkan Allah yang menciptakannya? Maka mari di hari kasih sayang ini, kita terus berupaya untuk mewujudkan kasih Allah pada semua orang tanpa ada perbedaan. Mari kita menyatakan kasih kita kepada sesama kita, tanpa memandang muka. Sebab kasih yang tulus kepada sesama adalah wujud kasih Allah yang nyata dalam hidup kita. Amin. [GW].
“Kau bukan Tuhan yang melihat rupa, Kau bukan Tuhan yang memandang harta”
Sari Simorangkir