Bacaan : Rut 3 : 14 – 4 : 6 | Pujian: KJ 256
Nats: “Kemudian dipilihnyalah sepuluh orang dari para tua-tua kota itu dan berkata, “Duduklah kamu disini” [ayat 2]
Kemajuan Teknologi Informasi melahirkan istilah baru, salah satunya Phubbing. Phubbing adalah istilah sibuk main handphone sehingga mengabaikan orang di dekatnya. Ketidakpedulian semacam itu kemudian menjadi kebiasaan. Anak-anak masa bodoh dengan perjuangan dan jerih lelah orangtua, orangtua menelantarkan anak-anaknya, tetangga tidak saling peduli, penumpang muda di sebuah bis tidak peduli akan kesulitan seorang nenek yang tidak mendapatkan tempat duduk. Mentalitas tidak mau berinisiatif, tidak mau capek, tidak mau mengambil resiko, tidak mau bertanggungjawab menjadi gaya hidup baru.
Rut adalah perempuan Moab menantu Naomi. Keduanya menjadi janda karena suami dan anak laki-laki Naomi meninggal. Rut yang tidak memiliki keturunan, memutuskan untuk pergi ke Betlehem, untuk mencari penghidupan. Karena kemiskinannya, Naomi bermaksud menjual ladang milik Elimelekh. Boas adalah salah seorang penebus (go’el) bagi Naomi dan Rut. Penebus dalam tradisi Israel adalah seorang sanak keluarga yang berkewajiban mempertahankan kepentingan keluarganya. Mencegah tanah milik keluarga dialihtangankan kepada orang lainyang bukan kerabat.
Menarik bahwa keberlangsungan suatu keluarga dan kepemilikan tanah menjadi perhatian seluruh masyarakat. Segera Boas mengumpulkan 10 orang dari para tua-tua kota itu. Ia juga menawarkan kepada orang lain yang juga berhak untuk menjadi penebus. Ketika sang penebus lain menolak, Boas menyediakan diri membeli tanah itu dan menikahi Rut.
Apa yang dilakukan Boas dalam tradisi Israel adalah wujud kepeduliaannya atas kepemilikan tanah dan keberlangsungan sebuah keluarga. Kepedulian diwujudkan dengan duduk bersama mencari kesepakatan. Kesulitan keluarga Naomi menjadi kesulitan bersama. Dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa Indonesia mengenal budaya GOTONG ROYONG. Bekerja bersama tanpa pamrih/sukarela untuk berkontribusi mengatasi kesulitan orang lain. Di tengah lemahnya solidaritas social, kita diajak memperteguh budaya bangsa yang sudah berakar tapi tercerabut oleh kesibukan dan privatisasi manusia modern. [nw]
“Mengabaikan mereka yang menderita kelaparan, penyakit adalah dosa modern, dosa dari hari ini” (Paus Fransiskus)