Mari Duduk dan Bicara Renungan Harian 13 November 2018

13 November 2018

Bacaan : Rut 3 : 14 – 4 : 6  |  Pujian: KJ 256
Nats: “Kemudian dipilihnyalah sepuluh orang dari para tua-tua kota itu dan berkata, “Duduklah kamu disini” [ayat 2]

Kemajuan Teknologi Informasi melahirkan istilah baru, salah satunya Phubbing. Phubbing adalah istilah sibuk main handphone sehingga mengabaikan orang di dekatnya. Ketidakpedulian semacam itu kemudian menjadi kebiasaan. Anak-anak masa bodoh dengan perjuangan dan jerih lelah orangtua, orangtua menelantarkan anak-anaknya, tetangga tidak saling peduli, penumpang muda di sebuah bis tidak peduli akan kesulitan seorang nenek yang tidak mendapatkan tempat duduk. Mentalitas tidak mau berinisiatif, tidak mau capek, tidak mau mengambil resiko, tidak mau bertanggungjawab  menjadi gaya hidup baru.

Rut adalah perempuan Moab menantu Naomi. Keduanya menjadi janda karena suami dan  anak laki-laki Naomi meninggal.  Rut yang tidak memiliki keturunan,  memutuskan untuk pergi ke Betlehem, untuk mencari penghidupan.  Karena kemiskinannya, Naomi  bermaksud menjual ladang milik Elimelekh. Boas adalah salah seorang penebus (go’el) bagi Naomi dan Rut. Penebus dalam tradisi Israel adalah seorang sanak keluarga yang berkewajiban mempertahankan kepentingan keluarganya. Mencegah tanah milik keluarga dialihtangankan kepada orang lainyang bukan kerabat.

Menarik bahwa keberlangsungan suatu keluarga  dan kepemilikan tanah menjadi perhatian seluruh masyarakat. Segera Boas mengumpulkan 10 orang  dari para tua-tua kota itu. Ia juga menawarkan kepada orang lain yang juga berhak untuk menjadi penebus. Ketika  sang penebus lain menolak,  Boas menyediakan diri  membeli tanah itu dan menikahi Rut.

Apa yang dilakukan Boas dalam tradisi Israel  adalah wujud kepeduliaannya atas kepemilikan tanah  dan keberlangsungan sebuah keluarga. Kepedulian diwujudkan dengan duduk bersama mencari kesepakatan. Kesulitan keluarga Naomi menjadi kesulitan bersama.  Dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa Indonesia mengenal budaya  GOTONG ROYONG.  Bekerja bersama tanpa pamrih/sukarela untuk berkontribusi mengatasi kesulitan orang lain. Di tengah lemahnya solidaritas social, kita diajak memperteguh budaya bangsa yang sudah berakar tapi tercerabut oleh  kesibukan dan privatisasi manusia modern.  [nw]

“Mengabaikan mereka yang menderita kelaparan, penyakit adalah dosa modern, dosa dari hari ini”  (Paus Fransiskus)

Renungan Harian

Renungan Harian Anak