Mie Setan Pancaran Air Hidup 12 Mei 2022

12 May 2022

Bacaan: Wahyu 10 : 1 – 11 | Pujian: KJ. 426 : 1, 2
Nats:
“Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya.” (Ayat 10).

Mie Setan merupakan salah satu kuliner mie pedas yang beberapa waktu terakhir banyak digemari oleh berbagai golongan. Dimana mie setan ini memiliki level pedas nol sampai tak terhingga. Bagi pecinta mie, pastinya mie setan rasanya nikmat dan memiliki sensasi tersendiri yang ditimbulkan oleh rasa pedasnya. Namun kadang kala membuat sebagian orang menjadi sakit perut karena rasa pedasnya. 

Demikian halnya ketika Yohanes disuruh untuk memakan gulungan kitab kecil ditangan Malaikat itu. Ketika dia memakan gulungan kitab itu di dalam mulutnya terasa manis seperti madu, namun ketika sudah memakannya perutnya menjadi pahit rasanya. Hal ini merupakan gambaran Firman Tuhan. Firman Tuhan terasa lebih manis dari madu sebab ketika firman itu dinikmati akan menimbulkan sukacita, tetapi firman yang sama, ketika diberitakan bisa menimbulkan ketegangan batin yang terasa pahit. Yohanes merasakan manis di mulut pada saat Firman itu disampaikan, tetapi ia melihat perlawanan. Akibat Firman ini, ia menanggung pahit dalam dirinya. Rasa pahit dari tugas kenabiannya, yaitu ketika dia harus berbicara tentang dosa, peringatan akan hukuman, atau penghakiman bagi orang yang menolak firman, inilah beban berat yang ia dipikul. Yohanes dituntut untuk terus menyampaikan nubuat, sebab kitab itu diberikan kepada Yohanes bukan hanya sekadar memuaskan rasa ingin tahunya, tetapi untuk disampaikan kepada dunia. Yohanes diutus untuk menyatakan pikiran dan kehendak Allah bagi dunia. 

Sebagaimana tugas pengutusan Yohanes, kitapun memiliki tugas yang sama yaitu menyampaikan kehendak Tuhan kepada dunia. Memang hal itu tidaklah mudah, ada banyak tantangan yang dapat membuat kita mengalami kepahitan. Namun itulah berkat Tuhan yang harus disyukuri dalam setiap keadaan kita. Ketika kita telah melaksanakan perintah dengan baik, tentulah akan membuahkan hasil yang baik. Jadi alangkah bijaknya kita sebagai orang percaya untuk benar-benar melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Karena hidup orang percaya yang sungguh-sungguh berkualitas ialah menjalani kehidupan seturut dengan perintah dan kehendak Tuhan. Amin. [YHS]

“Jalanilah hidup seturut dengan kehendak Tuhan sekalipun mengalami kepahitan!”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak