Bersabar dan Bertekun Pancaran Air Hidup 12 Desember 2022

12 December 2022

Bacaan: Yesaya 29 : 17 – 24 | Pujian: KJ. 441
Nats:Bukankah hanya sedikit waktu lagi, Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan?” (Ayat 17).

Kepanikan tampak di wajah para murid. Siang itu sang guru tiba-tiba mengadakan ulangan mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Hampir semua murid tampak cemas dan takut. Mereka tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan yang tiba-tiba tersebut. Salah seorang murid yang cemas tersebut memperhatikan seorang temannya yang tampak tenang. “Kenapa kamu tampak tenang saja menghadapi ulangan mendadak ini?” tanyanya. Temannya itu menjawab, “Kenapa kalian panik? Bukankah ini bukan yang pertama kali?” Ia lalu melanjutkan, “Kita semua sudah tahu kebiasaan guru ini suka mengadakan ulangan mendadak. Makanya saya selalu belajar untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu diadakan ulangan.”

Hidup ini ibarat kita sedang berada dalam ruang kelas pembelajaran. Bisa jadi, kita gagal atau mendapat nilai yang rendah. Untuk memperbaikinya, kita perlu belajar lagi dan melakukannya dengan sabar serta tekun. Bangsa Israel, bisa jadi tidak memahami alasan penderitaan yang mereka alami. Mungkin mereka bertanya-tanya, mengapa mereka harus meninggalkan tanahnya dan terbuang ke negeri asing. Bisa jadi, mereka bertanya-tanya tentang maksud Allah, tetapi gagal memahaminya. Namun, janji Allah akan digenapi dan akhirnya mereka akan mengerti. Akan tiba waktunya, mereka akan mengalami keselamatan (Ay. 17). Allah akan mengubah keadaan mereka menjadi baik kembali. Keadaan mereka yang semula buruk, baik keadaan jasmani maupun rohani, akan dipulihkan oleh Allah. Tidak akan ada lagi kesengsaraan, sebab hal itu akan digantikan dengan sukacita (Ay. 18-19). Keadaan yang berkebalikan akan dialami orang-orang yang menimbulkan kesengsaraan di tengah umat Allah. Mereka akan hilang lenyap dan akan mendapat hukuman dari Tuhan. Dan pada saat itu, Israel akan mengerti alasan di balik semua penderitaan yang terjadi. Selama berada dalam pembuangan di Babel, mereka harus bersabar dan bertekun.

Jika pengalaman bangsa Israel ini kita refleksikan dalam kehidupan kita, kita mungkin tidak dapat mengerti dan memahami mengapa sebuah peristiwa pahit harus terjadi dalam hidup kita. Yang diperlukan saat itu, kita harus bersabar dan bertekun. Namun, bukan berarti kita hanya diam dan tidak melakukan apa pun. Sabar berarti kita terus berusaha menjalani kehidupan sekalipun berat. Saat kita telah memahami kebenaran firman Allah, ketahanan dan ketekunan kita untuk menjalani kehidupan akan membuahkan sukacita dan kebahagiaan. Amin. [NR].

“Pertolongan akan datang bersama dengan kesabaran.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak