Pemahaman Alkitab November 2019

Pemahaman Alkitab Nopember 2019 (I)
Bulan Budaya

Bacaan : Amos 5 : 12 – 24
Tema Liturgis
  : Tinggalkan Kebiasaan Buruk dan Gantikan dengan yang Baik
Tema PA
: Bukan Sekedar Pencitraan

Pengantar

Amos adalah nabi yang berasal dari Tekoa. Tekoa terletak kurang lebih 10 kilometer dari Yerusalem. Amos adalah nabi yang berkewarganegaraan Yehuda yang bernubuat di kerajaan Israel Utara. Sekalipun dia seorang nabi, Amos juga bekerja sebagai seorang peternak, petani dan pemungut buah ara. Ada juga yang mengatakan bahwa Amos adalah seorang yang mengawasi peternakan domba yang diperlukan untuk Bait Suci di Yerusalem.

Kerajaan Israel Utara adalah kerajaan yang makmur luar biasa. Dalam bidang politik, Israel Utara sukses melakukan ekspansi (perluasan wilayah) sampai tapal batas yang dulu pernah dicapai oleh Salomo. Dalam bidang ekonomi, Israel Utara berhasil mengembangkan sistem pertanian sehingga hasil panennya melimpah luar biasa. Dalam bidang keagamaan, ibadah Israel Utara adalah ibadah yang semarak dengan persembahan korban tambun, sehingga Bait Allah sangat berlimpah korban-korban tambun. Selain itu, nyanyian-nyanyian peribadatan Israel Utara sangat semarak, indah dan menarik hati.

Peribadatan Israel Utara dirancang sedemikian karena Israel Utara terpengaruh gaya ibadah orang Kanaan. Pemahaman ibadah orang Kanaan adalah bahwa allah / ilah / dewa yang disembah dapat disogok atau dirayu dengan ibadah yang spektakuler. Ibadah orang Kanaan adalah ibadah yang berorientasi menyenangkan hati allah / ilah / dewa yang mereka sembah. Ilah orang Kanaan adalah ilah yang suka dengan bunyi-bunyian dan musik yang indah. Oleh karena itu, apabila orang Kanaan mengalami bencana, maka gaya ibadahnyalah yang harus diperbaiki. Korban-korban harus ditambah. Dari kesuksesan dan kemakmuran itu, rupanya tidak semua rakyat menikmati kemakmuran tersebut.

Hal itulah yang membuat Nabi Amos mengkritik sangat keras Kerajaan Israel Utara. Melalui Amos, Allah menegur Israel Utara. Sepanjang bacaan, kita bisa melihat bahwa Allah sangat benci dan tidak suka dengan gaya kehidupan Israel Utara karena kemakmuran yang dialami tidak membuat rakyat semakin makmur dan bermoral, namun malah sebaliknya, amoral dan sengsara (ay. 12 : “hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang”). Ayat 12 mengindikasikan bahwa kemakmuran hanya dirasakan oleh segelintir orang.

Orang benar yang tidak suka dengan hal itu bisa jadi protes, namun malah mungkin saja dipojokkan atau dibuat salah. Kebenaran bisa dibeli dengan uang suap dan orang-orang miskin diabaikan. Hal tersebut dipertajam dengan pengalaman Amos sebagai seorang petani dan peternak. Amos tentu melihat dan mengalami kesengsaraan tersebut karena tidak meratanya kemakmuran. Nasehat Amos menjadi sangat relevan : “carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup” (ay. 14), “bencilah yang jahat dan cintailah yang baik, dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang, mungkin Tuhan Allah semesta alam akan mengasihani…..” (ay. 15). Melakukan yang baik adalah sumber kehidupan bagi semuanya dan membuat Allah berbelas kasihan. Amos menggunakan pola pikir orang Kanaan untuk menegur Israel Utara, kalau ilah orang Kanaan gembira karena musik yang indah dan korban tambun, Allah Israel adalah Allah yang berbelas kasih karena perbuatan baik umat-Nya.

Di sisi lain, Allah menegur cara ibadah Israel Utara. Ayat 21 dengan jelas menunjukkan ekspresi Allah bahwa Allah benci dan menghinakan cara ibadah Israel Utara. Lebih lanjut lagi di ayat 23 dipakai kata jauhkanlah. Apa masalahnya? Masalahnya adalah bahwa gaya ibadah yang demikian tidak diikuti dengan mengetrapkan keadilan dan kebenaran pada orang-orang tertindas. Ibadah tidak hanya sekedar liturgis (bukan tidak boleh!), namun juga harus diwujudkan dalam laku hidup sehari-hari. Allah mengajak Israel Utara untuk meninggalkan gaya hidup (baca : budaya) yang tidak baik menuju pada sebuah gaya hidup yang berkenan di hadapan Allah. Bukan sekedar pencitraan!

Diskusi dalam konteks masa kini:

  1. Sebagian besar orang Indonesia tidak asing dengan kata pencitraan. Bahkan pencitraan bisa jadi sudah menjadi budaya dan gaya hidup. Misal, mana yang lebih mentereng, antara I-Phone dan Mito? Mana yang lebih bergengsi, naik angkot atau naik Alphard? Kehormatan seseorang dinilai bukan dari karakter atau nilai-nilai kehidupan yang dipegang, namun dinilai dari merk-merk branded. Apalagi dengan perkembangan Media Sosial(ita) yang membuat semua orang – tanpa memandang strata- bisa menjadi eksis dan narsis. Instagram bisa membuat seseorang menjadi selebgram. I’m famous on Instagram. Keseharian dan kenyataan hidup bisa disulap tidak seperti sebenarnya. Menurut saudara, apa yang menjadi hilang dari kehidupan kita, dengan adanya pencitraan? Gaya hidup seperti apa yang harus kita bangun?
  2. Gaya hidup atau budaya apa yang seharusnya gereja biasakan di jaman sekarang kepada anggota jemaatnya agar ibadah tidak hanya sekedar liturgis dan pencitraan, namun juga mewujudnyata dalam laku hidupnya? (DT).

 


 

Pemahaman Alkitab Nopember 2019 (II)
Bulan Budaya

Bacaan : Yohanes 5 : 19 – 29
Tema Liturgis
: Tinggalkan Kebiasaan Buruk dan Gantikan dengan yang Baik
Tema PA
: Beriman Bukan Sekedar karena Mujizat

 

Pengantar

Perikop Yohanes 5 : 19-29 tidak bisa dilepaskan dari kisah sebelumnya, yaitu mujizat penyembuhan orang lumpuh di kolam Betesda. Mujizat yang dilakukan Yesus adalah tanda bahwa Dia adalah Anak Allah agar setiap orang percaya. Dalam kisah mujizat itu, orang banyak keberatan dan cenderung memusuhi Yesus karena dua hal.

 Pertama, karena mujizat itu dilakukan pada hari Sabat. Bagi orang Yahudi, hari Sabat adalah hari perhentian, dimana orang Yahudi tidak boleh bekerja. Baik Yesus yang mengadakan mujizat maupun juga orang lumpuh yang diperintah oleh Yesus untuk mengangkat tilamnya, sudah melanggar kekudusan hari Sabat.

Kedua, mujizat yang dilakukan Yesus diklaim sebagai karya Allah. Allah adalah Bapa-Nya dan Dia adalah Anak-Nya. Bapa bekerja, maka Anak pun demikian. Orang banyak keberatan bila Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah.

Oleh karena itu, Yesus kemudian memberikan kesaksian tentang dirinya kepada orang banyak. Mujizat adalah karya keselamatan agar setiap orang percaya kepada Allah dan tidak binasa (band. Yohanes 3 : 16). Karya keselamatan yang dikerjakan oleh Bapa, itu juga yang dikerjakan oleh Anak. Yesus menekankan bahwa setiap orang yang mendengar perkataan-Nya dan percaya kepada Bapa, mempunyai hidup kekal dan tidak turut dihukum (ay. 24). Ini adalah pemahaman yang mendasar bahwa hidup kekal adalah buah dari orang yang percaya kepada-Nya. Bahkan Yesus menekankan, pada saatnya nanti orang-orang yang sudah mati di dalam percaya kepada Bapa-Nya akan dibangkitkan dan menerima hidup kekal. Apa yang menjadi syarat? Selain percaya, Yesus menegaskan bahwa setiap orang yang berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal (ay. 29). Percaya kepada Yesus tidak hanya sekedar kata-kata, namun juga dengan melakukan perbuatan baik. Yesus memberikan contoh dengan perbuatan yang dilakukan-Nya. Kekudusan Hari Sabat tidaklah berkurang kadarnya dengan menolong orang yang sedang membutuhkan. Kita ingat perkataan Yesus di Injil yang lain : “Siapa diantaramu yang tidak menyelamatkan domba-Nya, kalau kalau dombanya masuk ke dalam sumur?” Perbuatan baik terus dilakukan sebagai wujud percaya kita kepada Yesus, Sang Utusan Allah.

 Diskusi dalam konteks masa kini :

  1. Apakah di antara saudara ada yang pernah mengalami mujizat? Apabila iya, ceritakan pengalaman saudara dan apa pengaruhnya bagi pertumbuhan iman saudara!
  2. Bagaimanakah menghayati dan mewujudkan Hari Sabat dalam konteks dunia yang semakin sibuk dan berubah dengan cepat? (DT).
 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •