Di banyak rumah hari ini, ada pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa. Sayangnya, mereka sering merasa menjadi pahlawan sendirian. Seorang istri merasa telah menjadi superwife: mengurus rumah, anak, pekerjaan, menjaga perasaan suami, menelan lelah dan luka tanpa banyak suara. Di rumah lain, seorang suami merasa menjadi superhusband: bekerja keras, memikul beban finansial, merasa tidak pernah benar-benar didengar, lalu memilih diam. Ironisnya, di balik kata “super” itu, tersembunyi satu kenyataan yang sama: tidak ada dukungan emosional yang sungguh dirasakan. Dan, bukan karena kurang cinta! Kita hidup di era yang sibuk, cepat, dan penuh tuntutan. Kalender penuh, notifikasi tak berhenti, dan energi habis sebelum percakapan sempat dimulai. Pasangan tinggal serumah, tidur di ranjang yang sama, tetapi jiwa mereka berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing merasa sudah melakukan bagiannya. Masing-masing merasa paling lelah. Masing-masing merasa paling berkorban. Namun ketika semua merasa menjadi “super” sendirian, keluarga justru kehilangan satu hal paling mendasar: kehadiran yang saling menguatkan. Belakangan ini, media massa kembali menampilkan kisah-kisah keluarga yang retak—bahkan tragis. Ada istri yang mati-matian menjaga perasaan suami, menahan kecewa demi keutuhan rumah tangga. Ada suami yang, tanpa rasa bersalah, menjalin relasi dengan perempuan lain. Demikian pula sebaliknya. Ada pula keluarga yang hancur bukan karena satu ledakan besar, tetapi karena ketiadaan empati yang berlangsung lama. Perselingkuhan, kekerasan emosional, pengabaian—sering kali bukan dimulai dari niat jahat, melainkan dari perasaan tidak dilihat, tidak didengar, dan tidak dipedulikan.
Procidano, seorang psikolog klinis dan pengembang skala pengukuran dukungan sosial menjelaskan bahwa perceived social support (dukungan sosial yang dirasakan) adalah pemahaman individu tentang sejauh mana mereka merasa didukung oleh orang-orang di sekitar mereka. Perceived social support ini melibatkan persepsi individu tentang ketersediaan dukungan sosial, sejauh mana mereka merasa bahwa orang lain dapat diandalkan dan bersedia membantu mereka dalam situasi tertentu (Procidano, 1992). Ia juga menyatakan bahwa perceived social support dapat berasal dari berbagai sumber, yakni keluarga dan teman. Tingkat dan kualitas yang diterima oleh individu dapat berdampak signifikan terhadap kesejahteraan mereka, mengurangi tingkat stres, meningkatkan koping, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. Bahwa perceived social support dari keluarga merupakan salah satu aspek penting dari dukungan sosial. Dukungan sosial yang dirasakan dari keluarga merujuk pada dukungan emosional, informasi, dan sumber daya praktis yang diberikan oleh anggota keluarga kepada individu. Dukungan emosional melibatkan ekspresi kasih sayang, perhatian, dan afeksi positif dari anggota keluarga. Dukungan emosional dalam konteks keluarga mencakup hubungan emosional yang saling mendukung dan membantu mengatasi stres, kecemasan, atau masalah emosional individu. Misalnya, anggota keluarga yang memberikan dukungan emosional dengan mendengarkan, mengajak berbicara, dan memberikan perhatian saat individu menghadapi kesulitan emosional. Dukungan emosional adalah salah satu bentuk kehadiran relasional yang sangat penting dalam kehidupan orang dewasa. Ketika seseorang merasa didengar, dipahami, dan ditemani secara emosional, beban psikologis menjadi lebih ringan. Dukungan semacam ini membantu menenangkan tekanan batin, menguatkan rasa berharga diri, dan menumbuhkan kedekatan yang lebih intim dalam relasi. Beberapa riset juga menunjukkan bahwa dukungan emosional merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hubungan orang dewasa. Mereka yang memiliki keluarga, sahabat, atau pasangan yang mampu hadir secara emosional cenderung merasa tidak terlalu kesepian, mengalami lebih sedikit gejala depresi, serta memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi. Kehidupan emosional mereka juga ditandai dengan suasana hati yang lebih positif, lebih jarang dikuasai emosi negatif, dan kondisi kesehatan yang secara umum lebih baik. (Chen & Feeley, 2014; Brinker & Cheruvu, 2017)
Sangat menarik, pesan Natal 2025 ini mengulik tentang keluarga. Ada apa dengan keluarga, sehingga Allah berkenan hadir menyelamatkannya? Ini menjadi sangat relevan. Allah tidak hadir ke dunia melalui keluarga ideal, mapan, dan sempurna. Ia hadir dalam keluarga yang sederhana, rapuh, dan penuh keterbatasan. Natal mengingatkan kita bahwa keselamatan adalah anugerah—Allah lebih dulu hadir, lebih dulu mengasihi, lebih dulu menyelamatkan. Namun Natal juga menegaskan sesuatu yang sering kita lupakan: merawat keselamatan itu adalah panggilan bersama. Allah hadir menyelamatkan keluarga, bukan untuk menggantikan peran kita, melainkan untuk menghidupkan kembali relasi yang mati rasa. Keselamatan keluarga tidak bertumbuh dari satu orang yang berkorban sendirian. Ia tumbuh dari keberanian untuk berkata: “Aku lelah, dan aku butuh kamu.” “Aku tidak mengerti sepenuhnya, tetapi aku mau mendengarkan.” “Aku mungkin gagal, tetapi aku tidak mau pergi.”
Pada akhirnya Natal 2025 mengundang kita untuk turun dari panggung “superhusband” dan “superwife”, lalu kembali menjadi suami dan istri yang saling hadir. Hadir bukan hanya secara fisik, tetapi emosional. Hadir bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi untuk menjaga hati. Keselamatan keluarga bukan sekadar status rohani, melainkan proses sehari-hari: memilih setia ketika godaan hadir, memilih peduli ketika lelah, memilih berbicara ketika diam terasa lebih mudah. Natal 2025 mengajak kita bertanya dengan jujur: Apakah di rumah kita, Allah hanya dirayakan… atau sungguh dihadirkan? Ketika Allah hadir, keselamatan bukan hanya dikenang—tetapi dirawat, dijaga, dan dihidupi bersama.
Selamat Natal untuk keluarga-keluarga GKJW!
Sumber
Jenna Brinker, J., & Cheruvu, V. K. (2016). Social and emotional support as a protective factor against current depression among individuals with adverse childhood experiences. DOI: 10.1016/j.pmedr.2016.11.018
Chen, Y., & Feeley, T. H. (2014). Social support, social strain, loneliness, and well-being among older adults: An analysis of the Health and Retirement Study. Journal of Social and Personal Relationships, 31(2), 141–161. https://doi.org/10.1177/0265407513488728
Procidano, M. E. (1992). The nature of perceived social support: Findings of meta-analytic studies. In C. D. Spielberger & J. N. Butcher (Eds.), Advances in personality assessment (Vol. 9, pp. 1–26).
Procidano, M. E., & Heller, K. (1983). Measures of Perceived Social Support From Friends and From Family: Three Validation Studies. American Journal of Community Psychology, 11(1).