PEW GKJW, Masihkah Bermasa Depan?

PEW (Pemberdayaan Ekonomi Warga) adalah salah satu program unggulan GKJW yang dilihat dari sisi mana pun sangat relevan baik dari panggilan GKJW sebagai tubuh Kristus (organisme) maupun sebagai lembaga gerejawi (organisasi).  Namun PEW kerap menjadi polemik yang bahkan mengendurkan semangat menggereja hingga semangat ber-PEW sendiri di beberapa tempat. Maka apakah PEW masih bermasa depan adalah pertanyaan yang relevan kita tanyakan hari ini.

Dilihat dari tiga panggilan gereje: Diakonia, Koinonia, dan Marturia, jelas PEW memenuhi ketiganya. Dari segi diakonia (pelayanan cinta kasih), PEW menyasar warga jemaat yang butuh didukung dalam perekonomian, tidak dengan cara karitatif (diberi ikan), namun lebih dari pada itu, transformatif (ditemani dan diberi kail). Apakah artinya memberikan bantuan, jika bantuan itu akhirnya tidak mengubah seseorang, baik dari segi material maupun spiritual. Maka secara diakonia, PEW adalah panggilan gereja. Dari segi koinonia (persekutuan), PEW mendekatkan warga yang butuh dibantu dengan sesama senasib. Bisa jadi mereka akan bersaing, tapi dengan pendampingan yang tepat, sekiranya persaingan itu bisa menjadi sangat produktif bahkan mengikat. Bernuansa positif. PEW juga mendekatkan mereka dengan gereja jika gereja adalah pendonor. Atau mendekatkan mereka dengan lembaga donor yang lain. Dan sejak hubungan mereka transformatif, mereka akan terpacu untuk berhasil dan berbuah. Dari segi marturia (kesaksian) PEW adalah bintang. Sejak PI (Pekabaran Injil) dari rumah ke rumah menjadi bentuk kesaksian yang tidak kontekstual, dengan apakah orang-orang Kristen hari ini bersaksi kepada dunia? PEW bisa menjadi alternatif kesaksian, bagaimana gereja berkarya memberdayakan warga. Bahkan menjadi kesaksian yang lebih besar ketika PEW bisa menjadi berkat bagi masyarakat di sekitarnya.

Namun PEW selama ini berada dalam posisi dilematis. Bukan karena PEW itu sendiri buruk, tapi karena pra kondisi PEW kurang disiapkan. Dampaknya adalah yang biasa kita lihat:

  1. Orang yang berhasil menjadi lupa kepada gereja karena sangat sibuk mengurusi ekonominya.
  2. Orang yang tidak berhasil, tidak datang ke gereja karena mempunyai utang dana PEW.
  3. Orang berebut dana PEW dan membuat satu dengan yang lain menjadi tidak enakan, karena yang iri merasa kurang diperhatikan, dan yang berhasil menganggap mendapatkan dana menganggap dirinya lebih baik daripada yang lain.
  4. Dana PEW digunakan untuk kebutuhan lain, seperti membayar utang, SPP anak, membeli sembako, dll.
  5. Dana bergulir tidak bisa berjalan terus karena mandeg di seseorang atau di sekelompok orang, hal ini bisa memberikan ekses buruk yang lain gereja menghentikan dana PEW karena trauma akan pengalaman PEW sebelumnya.
  6. PEW dianggap pinjaman enak, lebih enak dari bank, sehingga orang bebas meminjam toh jika ada bunga ringan, kebanyakan tanpa bunga. Tidak dibayar tidak ada sanksi, paling hanya diurak-urak, selebihnya sudah.
  7. Sudah dibangunkan program bahkan sarana, tetapi tidak digunakan akhirnya jembledhak tidak terpakai.

Pengalaman yang demikian yang menjadikan PEW menjadi kasus runyam di GKJW, bisa jadi di beberapa lembaga serupa. Sebenarnya hal ini bisa jadi berangkat dari semangat PEW yang menggebu, tetapi sistemnya sendiri belum dipertimbangkan dengan baik, minimal di tiga sisi: perencanaan, pendampingan dan manajemen risiko. Kebiasaan yang seringkali muncul adalah perencanaan yang dilakukan di lembaga sosial seperti gereja sangat baik, namun sisi monitoring dan evaluasi kurang berjalan dengan baik.


Berikut ini adalah pengalaman PEW yang dilakukan di GKJW Jemaat Tunglur. PEW di GKJW jemaat Tunglur meliputi 4 hal, yaitu:

  1. Cafe Door, Rintisan Warung Kopi pemuda. Sebuah warung yang dibuka di depan kapandhitan, dikelola oleh pemuda gereja, hasil murni untuk pemuda pengelola bukan untuk kas KPPM (Komisi Pembinaan Pemuda dan Mahasiswa) atau jemaat. Ada dukungan untuk listrik bulanan ke gereja karena listrik masih menggunakan satu jalur dengan gereja. Sasarannya adalah pemuda sekitar, untuk itu kafe ini free wifi dengan menu-menu yang menyasar pada kebutuhan anak muda. Kafe ini diharapkan optimal seperti yang direncanakan pada tahun 2019.
  2. Taman Toga Lansia, Taman Obat yang dikelola oleh warga lansia. Proyek ini merupakan proyek nothing to loose. Untuk memberikan sarana rekreasi yang positif bagi warga lansia. Untuk itu arahnya bukanlah pada untung, tetapi pada keikutsertaan warga lansia mengelola taman toga ini. Karena itu yang disasar bukanlah apakah taman ini akan besar atau menguntungkan, tetapi rasa memiliki warga lansia dan bagaimana mereka pada usia mereka yang sepuh masih bisa produktif, sehat, dan ada yang dibanggakan selain keluarganya, tetapi karya mereka bersama.
  3. Pilot Project Padi Organik. GKJW memiliki lahan sawah. Selama ini lahan sawah itu dikelola dengan disewakan kepada warga. Seiring dengan program GKJW PPJP dan PPJM I dalam hal ini padi organik, GKJW Tunglur mengembangkan 100 ru tanah sawahnya dikeola untuk padi organik. Dikelola oleh kelompok tani yang beranggotakan KPPL (Komisi Pembinaan Penatalayanan) dan empat orang warga jemaat yang berprofesi sebagai petani. Hal ini juga didukung oleh amanat sidang MD Kediri Utara 2 untuk menjadikan Tunglur dan Sambirejo pilot project pertanian dengan padi organik. Harapannya setelah enam kali masa tanam (dua tahun, 2016-2017) pelaksanaannya bisa dievaluasi untuk pengembangan ke depan seluruh tanah jemaat dikelola dengan cara organik.
  4. Pilot Project Ternak Kelinci. Proyek ini didapatkan dari dana PEW Jemaat sebesar 1 juta setiap tahun. Dana ini memang kecil, namun mengingat KK di GKJW Jemaat Tunglur total 47 KK dengan warga yang berdomisili di jemaat sebesar 34 KK, sebenarnya ini angka yang masuk akal. Dana tersebut diberikan (cuma-cuma) kepada 2 KK dengan pemantauan dari jemaat. Harapannya pertengahan tahun 2017 sudah bisa dipasarkan lokal. Hingga hari ini telah berkembang menjadi 4 KK. Ada laporan kepada PHMJ secara berkala dari peternak kelinci tentang keadaan kelincinya.

Selain ini ada beberapa proyek di jemaat yang diadakan untuk mendukung pengembangan PEW ke depan, beberapa  yang terkait misalnya:

  1. P2A (Pendampingan dan Perlindungan Anak) secara khusus K2 (Kelas Kreatif) anak dan remaja. Wahana yang diadakan di jemaat untuk anak dan remaja yang diadakan rutin seminggu sekali atau bahkan lebih meliputi perpustakaan anak (yang dikelola oleh anak-anak sendiri), keterampilan, sampai dengan waktu bebas (menonton film, bermain game, belajar, dll).
  2. Pelatihan keterampilan ibu-ibu, diadakan sebulan sekali dalam kebaktian KPPW mulai berlangung tahun 2015. Keterampilan yang dibuat sederhana meliputi membuat makanan olahan rumahan (singkong keju, telur asin, abon ayam, dll) dan keterampilan rumah tangga (tas kain, dll). Karena kebaktian KPPW diadakan 2 kali dalam sebulan maka dalam minggu yang lain diadakan penyuluhan kesehatan untuk ibu-ibu (kanker serviks, penyakit jantung, diabetes, tumbuhan untuk pengobatan alternatif, dll.)
  3. Perbaikan sistem database dan penelitian jemaat. Sementara ini beberapa perbaikan database yang diadakan mulai tahun 2016 adalah database umum dan motivasi teologi persembahan. Nanti di tahun 2017 dilanjutkan dengan penelitian pendapatan jemaat dan penelitian bidang minat usaha pemuda dan remaja. 2018 penelitian pengembahan PEW yang ada.

PEW GKJW Jemaat Tunglur mengikuti sistem managerial yang selama ini dikembangkan di beberapa organisasi baik pemerintah maupun swasta dengan mengembangkan sesuai konteks lokal. Beberapa tahapan yang dilakukan dalam proses ini adalah dalam konteks lokalitas Tunglur adalah:

  1. Perencanaan dan Pengadaan
    • Sistem PEW meliputi sistem perencanan, pengadaan, pelaksanan, pengembangan, monitoring, dan evaluasi perlu dipikirkan sejak awal. Tim yang dipilih untuk PEW sebaiknya adalah tim yang memiliki latar belakang terkait. Seringkali memudahkan kerja PEW, akhirnya pendeta dan PHMJ menjadi tim utama, padahal belum tentu pendeta dan PHMJ memiliki pengalaman terkait dengan seluk-beluk PEW. Hal inilah yang membuat PEW seringkali baik di awal tetapi lantas mengendur di belakang. Sebaiknya tim ini tidak berubah, jika pun akhirnya ada regenerasi, regenerasinya tidak melupakan keberadaan unsur sebelumnya supaya sejarahnya tidak putus. Dalam penentuan sistem ini juga menjadi penting dipikirkan langkah-langkah berikutnya seperti bagaimanakah sistem pengembangannya, monitoringnya, evaluasinya, bagaimana jika terjadi dana macet, dana manakah yang bisa digunakan untuk talangan, sebesar apakah dana talangan tersebut, dll.
    • Dana untuk PEW sebaiknya berasal dari dana lebih di jemaat. Dana lebih berarti dana yang tidak dipakai untuk apa pun. Bisa saja dana ini adalah dana yang dikhususkan untuk PEW, atau bisa juga dana ini berasal dari dana abadi. Dan penting untuk dipertimbangkan minimal dana itu cukup untuk pelaksanaan 3 sampai 5 kali pemberian ke depan. Karena PEW adalah program yang harapannya bisa berkelanjutan, maka pembatasan dan pemrioritasan menjadi penting. Dan komunikasi untuk ini menjadi langkah utama yang perlu dilakukan bersama-sama dengan seluruh pihak yang terlibat. Setelah 2 atau 3 kali pelaksanaan PEW perlu
    • Penelitian keadaan jemaat. Diperlukan supaya PEW yang diberikan tidak hanya yang dibutuhkan jemaat, bukan juga sekadar yang diinginkan, tetapi diinginkan dan dibutuhkan. Banyak bantuan pemberdayaan menjadi sia-sia karena mimpi Pokja PEW tidak selaras dengan gambaran penerima. Mimpi Pokja PEW disadari adalah kebutuhan jemaat, tetapi jemaat penerima tidak menginginkan itu. Namun menuruti keinginan saja tanpa menimbang kebutuhannya juga akhinya membuat penerima menjadi kesulitan dalam pengembangannya.
    • Pola berpikirnya lebih baik tahap perencanaan ini matang sampai tahap tertentu, daripada cepat-cepat melangkah. Selesai sampai tahap tertentu tidak melulu harus rigid, tetapi minimal sudah tergambar. Perubahan sistem dimungkinkan jika Roh Kudus berperan, perubahan yang lain ada baiknya dibatasi. Berangkatlah dari yang bisa dipasarkan di sekitar dulu, jaringan pemasaran dari luar biasanya menuntut jumlah besar, sehingga akan sulit dipenuhi untuk industri rumahan dan industri kecil. Namun jika memang PEW bisa dalam skala menengah sampai besar, jaringan khususnya pemasaran adalah keharusan.
    • Manajemen risiko. Jika tidak untung tetapi rugi, bagaimanakah sistem perbaikannya.
  2. Pelaksanaan
    • Pertemuan bersama adalah keharusan. Baik tim PEW, penyandang dana, dan penerima. Pertemuan dimulai dengan penyamaan visi. Karena arahnya ini menyangkut banyak pihak adalah tanggung jawab bersama.
    • Pemberian dukungan dana disertai dengan persiapan yang tepat. Jika jemaat mempunyai data pekerjaan dan penghasilan jemaat, akan lebih baik. Jika tidak Tim memiliki semacam kajian tertentu untuk pemberian dana. Dan komunikasi di tahap ini adalah vital, mengapa seseorang diprioritaskan diberi dan yang lain belum. Sisi pastoral berperan cukup besar dalam tahap ini.
    • Di abad 21 ini salah satu kekuatan terbesar adalah media. Media hari ini seperti diketahui bukan hanya pemberita tetapi bahkan pembentuk opini. Media ini juga berperan bagi keberlangsungkan program PEW ke depan, khususnya menjadi sarana bersaksi. Media bisa bersifat keluar dan ke dalam.
  3. Pengembangan
    • Sistem bisa berkembang sesuai dengan panggilan Tuhan dan konteks. Maka sistem dalam hal ini perlu untuk terus menerus dikaji dalam jangka waktu tertentu. Namun tidak bisa berubah setiap waktu. Sistem yang selalu berubah setiap tahun akan membingungkan dan membuat ketertarikan orang pada PEW tidak bertahan lama, regulasi untuk pengembangan perlu tetap menghitung rencana awal program PEW ini.
    • Jika dimungkinkan adanya pengembangan penerima melalui pelatihan, kursus, dll, sangat dimungkinkan dilakukan. Pelatihan dan pembinaan tidak selalu harus dilakukan sendiri tetapi bisa bekerja sama dengan pihak lain, atau mengikuti pembinaan dan pelatihan yang diadakan oleh yang lain.
    • Sistem jaringan perlu dibangun terkait pemasaran jangka panjang. Perlu dipikirkan juga jaringan pendanaan ketika ternyata program ini berkembang.
  4. Monitoring
    • Sistem monitoring ini meliputi: pendampingan penggunaan dana, pendampingan usaha berkala, pemantauan hasil, dan menghubungkan dengan jaringan.
    • Untuk monitoring ini dibutuhkan orang-orang yang memang memiliki pengalaman di bidangnya dan berhasil atau memiliki proyeksi akan peluang pada keberhasilan. Orang yang terlibat dalam monitoring adalah orang yang aware pada perubahan yang terjadi di bidang PEW dan berwawasan ke depan.
  5. Evaluasi
    • Evaluasi dilakukan berkala, tidak lebih cepat atau lebih lambat. Percepatan atau pelambatan baru dilakukan setelah evaluasi. Percepatan atau pelambatan bahkan penambahan atau penghentian selama proses adalah hal-hal yang biasanya menjadi tidak terukur.
    • Target evaluasi ada baiknya bukan hanya secara material tetapi juga spiritual. Mengingat bahwa ini adalah program berwawasan gerejawi.
    • Keberhasilan atau kegagalan dalam evaluasi tidak serta merta mengikuti trend yang berkembang hari ini, tetapi mengikuti sistem perencanan dan pengadaan yang telah dibuat di awal. Supaya hasilnya fair dengan perencanaan. Di sinilah kesulitan jika sistemnya berubah-ubah.
    • Sistem reward perlu dipertimbangkan. Arah dari reward ini sebaiknya yang bisa digunakan untuk pengembangan dan sejalan dengan panggilan dan visi gereja.

Di Tunglur tentu proses yang berjalan tidak sangat ideal, tetapi dalam skala konteks lokal, prinsip-prinsip tersebut coba dilakukan. Tidak selalu mudah, namun kami bersama melihat prospek masa depan. Jadi apakah PEW bermasa depan? Masih dan sangat! Ketika PEW direncanakan dan dilaksanakan dengan menimbang kekuatan dan kelemahan jemaat, serta peluang dan hal-hal di luar yang mengancam keberlangsungannya.

Selamat ber-PEW!

Bagikan Entri Ini: