Pendewasaan Calon Jemaat Petungombo & Tumpak Nangklik

GKJW mendewasakan dua calon jemaatnya menjadi jemaat mandiri. Calon Jemaat Petungombo didewasakan menjadi jemaat mandiri ke-174. Sementara Calon Jemaat Tumpak Nangklik didewasakan menjadi jemaat mandiri ke-175.

Ibadah pendewasaaan kedua calon jemaat tersebut diadakan pada hari minggu, 21 Februari 2021 di tempat masing-masing. Dalam ibadah pendewasaan itu, diadakan pula pelantikan pendeta konsulen yang akan melayani jemaat-jemaat baru tersebut.

Penyerahan surat keputusan dan perlengkapan jemaat untuk jemaat Petungombo

Ibadah pendewasaan calon Jemaat Petungombo dilayani oleh Sekretaris Umum Majelis Agung GKJW, Pdt. Budi Cahyono dengan mengambil bacaan alkitab dari Yohanes 10:7-10. Dalam khotbahnya, Pdt. Budi Cahyono menyinggung tentang gereja sebagai pintu sorga. Tempat-tempat dimana Yesus dimuliakan adalah pintu menuju sorga sesuai ucapan Yesus pada bacaan alkitab tersebut.

Dalam ibadah pendewasaan GKJW Jemaat Petungombo itu juga dilantik Pdt Rima Anggraita sebagai pendeta konsulen untuk jemaat Petungombo. Pdt. Rima Anggraita adalah pendeta baku GKJW Jemaat Sugihwaras yang terletak kurang lebih hanya 4 kilometer dari Petungombo.

GKJW jemaat Petungombo terletak di Dusun Petungombo, Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri. Sejarah perjalanan GKJW jemaat Petungombo dimulai pada tahun 1966 saat beberapa orang kristen hadir di dusun Petungombo. Persekutuan tersebut diresmikan sebagi pepanthan dari GKJW Jemaat Sidorejo pada tahun 1974 bersama 8 pepanthan lainnya yaitu: Banjarjo, Kawarasan, Darungan, Brenggolo, Panjer, Trisulo, Badek, dan Sepawon.

Dalam perkembangan selanjutnya, Pepanthan Petungombo menjadi bagian dari Jemaat Banjarjo yang terlebih dahulu didewasakan. Pepanthan Petungombo kemudian dialihkan sebagai bagian dari GKJW Jemaat Segaran, Kediri pada tahun 2000. Peningkatan status sebagai calon jemaat untuk Pepanthan Petungombo diputuskan pada sidang Majelis Agung GKJW pada tahun 2019 dan akhirnya didewasakan sebagai jemaat mandiri berdasarkan keputusan sidang Majelis Agung GKJW tahun 2020.

GKJW Jemaat Petungombo memiliki anggota 305 jiwa (105 kepala keluarga). Kebanyakan warga bekerja sebagai petani atau buruh tani dengan hasil utama nanas, singkong, dan kopi.

Tumpak Nangklik

Pdt. Retnosari memberkati penatua dan diaken jemaat Tumpak Nangklik

Sementara itu, ibadah pendewasaan calon Jemaat Tumpak Nangklik dilayani oleh Pdt. Retnosari, Wakil Ketua Majelis Agung GKJW. Dalam khotbahnya dari Markus 1: 9-15, Pdt. Retnosari mengingatkan bahwa tumbuh kembang sebuah jemaat adalah karena panggilan/ prakarsa dari Tuhan Allah sendiri. Oleh karena itu, Tuhan Allah akan melengkapi jemaatnya dengan roh kudus agar dapat melakukan karya Tuhan dan menghadapi tantangan jamannya.

GKJW Jemaat Tumpak Nangklik sebelumnya adalah bagian dari GKJW Jemaaat Gunung Tumo yang terletak di desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Jemaat ini berkembang dari pos pelayanan wilayah Gunung Tumo Utara pada tahun 1994. Pos pelayanan tersebut kemudian dikembangkan menjadi calon jemaat pada Bulan November 2018 dan selanjutnya diputuskan menjadi jemaat mandiri pada sidang ke-117 Majelis Agung GKJW tahun 2020.

Setelah didewasakan, Jemaat Tumpak Nangklik akan dilayani oleh Pdt Hutomo Suryo Widodo sebagai pendeta konsulen. Pdt Hutomo Suryo Widodo adalah pendeta GKJW Jemaat Sitiarjo

Warga GKJW Jemaat Tumpak Nangklik berjumlah 187 kepala keluarga (519 jiwa) dengan 90 persen warganya berprofesi sebagai petani dan buruh tani tanaman padi, kelapa, dan pisang.

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •