Pembukaan : Training for Conflict Resolution, Mediation and Human Rights Protection – UEM

9 September 2025

Selama lima hari,  dari  Senin-Jumat, 8-13 September 2025, Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan menjadi tuan rumah kegiatan Pelatihan Resolusi Konflik, Mediasi, dan Perlindungan Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan oleh United Evangelical Mission (UEM).

Kegiatan ini  diikuti oleh para utusan gereja-gereja anggota UEM bagian Asia, meliputi: Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU), Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Kalimantan Evangelis (GKE), Gereja Kristen Protestan Angola (GKPA), Gereja Kristen Indonesia di Tanah Papua (GKI-TP), Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Banua Niha Keriso Protestan (BNKP), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), Methodist Church of Sri Lanka (MCSL), The United Church of Christ in the Philippines (UCCP), dan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Selain peserta dari utusan-utusan gereja di atas, kegiatan ini juga diikuti oleh utusan dari satu gereja di luar anggota UEM, yaitu Gereja Protestan Maluku (GPM), serta Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar yang rindu untuk bersama-sama menghidupi persekutuan oikumene, utamanya dalam hal menempa diri sebagai agen-agen yang siap menyerukan suara perdamaian, mampu meresolusi konflik, memediasi setiap pihak yang bersiteru, serta peka dan peduli pada isu Hak Asasi Manusia.

Diawali dengan Ibadah pembukaan pada hari Senin, 8 September 2025 yang dilayani oleh Direktur IPTh. Balewiyata  Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi, M.Th., para peserta diajak untuk masuk dalam suasana hening melalui praktik Visio Divina, yang dapat diterjemahkan sebagai melihat gambaran Sang Illahi melalui sebuah tayangan visual. Pdt. Hardiyan mengungkapkan pentingnya setiap manusia untuk selalu berupaya menata kedalaman hati dan batinnnya untuk selaras dengan Sang Pencipta dan segenap ciptaan yang lain, sehingga manusia dapat mengerti dan menjalankan panggilannya sebagai utusan.

Suasana hening semakin terbangun, ketika Ibadah pembukaan ini dikemas dalam bingkai budaya Jawa, dimana pengiring pujian Ibadah dipercayakan pada paguyuban “Sabawaning Driya Manembah”, sebuah paguyuban penabuh gamelan yang selama ini menjadikan kantor Majelis Agung menjadi pusat kegiatannya. Selain bertugas sebagai pengiring ibadah, paguyuban ini juga membawakan Tembang Rasa Sejati, sebuah tembang yang menjadi refleksi iman Kyai Paulus Tosari, tokoh penting dalam perjalanan sejarah GKJW.

Memasuki doa syafaat, empat orang perwakilan peserta diminta untuk membawakan pokok-pokok doa sesuai dengan bahasa daerah masing-masing. Hal ini menjadi sebuah bukti bahwa keesaan gereja yang selama ini dihidupi oleh UEM tidak terlahang oleh sekat-sekat Suku, Budaya, dan Bahasa. Meskipun berbeda-beda, namun Tuhan telah mempersatukan dalam ikatan persekutuan keluarga Tuhan yang penuh kasih mesra.

Setelah seluruh rangkaian Ibadah selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Pdt. Arivia Novia Susanti, S.Si selaku perwakilan dari Pelayan Harian Majelis Agung GKJW yang mengungkapkan rasa sukacitanya karena GKJW dipercaya menjadi tuan rumah berlangsungnya kegiatan ini.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ridho Simamora, yang menjabat sebagai Programme Officer UEM. Ridho menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada GKJW yang telah berkenan menjadi tuan rumah, serta memberikan arahan teknis kepada setiap peserta yang mengikuti kegiatan ini.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak