“Kita semua diciptakan untuk saling menghargai, mencintai, dan hidup berdampingan dalam damai”
Sebanyak 24 perempuan berkumpul di Balewiyata pada 31 Oktober – 2 November 2025 untuk mengikuti sesi ketiga dari Studi Intensif Lintas Iman (SILI). Program SILI “In her hand-Perempuan Agen Perdamaian” yang merupakan bagian dari upaya penguatan perempuan sebagai agen perdamaian yang diinisiasi oleh United Evangelical Mission (UEM) dan IPTh. Balewiyata, dalam rangka merawat jembatan dialog, persaudaraan, dan kehidupan harmonis di tengah keberagaman.
Kegiatan ini juga dirancang dalam bentuk live-In, yakni terlibat dan tinggal bersama komunitas lintas iman dalam rangka memperdalam pembelajaran dan perjumpaan antara para peserta dan warga jemaat GKJW Jemaat Tulungrejo Kota Batu, Pura Luhur Giri Arjuno – di Desa Tulungrejo, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Atasilani Vihara Dhammadipa Arama di Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu, serta Pesantren Rakyat Al-Amin di Sumberpucung, Kab. Malang.
Program selama tiga hari ini diawali dengan malam pertukaran pengalaman bersama para peserta UEM ‘Women Leadership and Political Education Training’, yang menyoroti peran perempuan dalam transformasi sosial dan perdamaian. Kemudian pada hari Sabtu, para peserta memulai kegiatan dengan mengunjungi Klenteng Kwan Im Tong di Kota Batu untuk mengenal tradisi iman dan kehidupan komunitas setempat. Setelah itu, mereka melanjutkan ke lokasi Live-In masing-masing.
Suara dari Pengalaman Live-In
Qanita, salah satu peserta dari Islam yang berkunjung ke GKJW Tulungrejo, mengungkapkan pengalamannya, “Banyak hal yang tadinya saya hanya tau dari stereotipe yang beredar. ternyata setelah dijelaskan dengan sangat gamblang, saya menyadari bahwa kita tidak akan mengetahui hal sebenarnya ketika kita tidak bertanya kepada sumbernya secara langsung. Disana kita belajar bahwa perempuan juga memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam organisasi maupun kepemimpinan rohani. Bahkan pengalaman saya saat ikut beribadah disana sangat menyentuh. Saya lebih menyadari bahwa pada dasarnya semua agama berasal dari satu sumber kebaikan yang sama, mengajarkan kasih, kedamaian dan kemanusiaan. Saya belajar bahwa perbedaan keyakinan bukanlah jarak, melainkan warna yang memperkaya kehidupan. Karena kita semua diciptakan untuk saling menghargai, mencintai, dan hidup berdampingan dalam damai”.
Di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung, para peserta berkesempatan mengenal pendekatan pendidikan Islam yang inklusif sebagaimana digagas oleh pendirinya, KH. Abdullah SAM, melalui konsep “Pesantren Tanpa Pagar.” Nike, salah satu partisipan dari GKJW Rungkut, berbagi kesannya, “Senang sekali bisa berdialog langsung dengan Kyai, ikut karawitan, dan melihat santri mengaji. Kami jadi tahu lebih banyak tentang cara pesantren memahami dogma dan kehidupan.”
Sementara itu, di Vihara Dhammadipa Arama Batu, lima peserta perempuan agen perdamaian menjalani pengalaman Live-In bersama komunitas Atasilani. Veronika Yuniar Meliana, seorang peserta Katolik, menggambarkan pengalamannya di sana dengan penuh kesan: “Dalam keheningan malam di wihara, saya merasa seperti sedang pulang ke rumah yang sudah lama saya cari: rumah di dalam diri sendiri. Di sana saya menemukan damai, dan saya ingin membawanya kembali ke dunia saya. Setelah meditasi, sesi dialog lintas iman berlangsung hangat. Tidak ada pertentangan keyakinan; yang ada hanya telinga yang mendengar, mata yang saling memandang sebagai manusia yang setara, dan hati yang saling terbuka. Dari dialog, lahir kesadaran bahwa perbedaan bukan tembok, melainkan jembatan yang memperkaya. Melalui pengalaman live-in ini, para peserta memperoleh pemahaman bahwa perdamaian bukan hanya konsep, tetapi praktik yang dihidupi dalam relasi, sikap, dan tindakan sehari-hari. Kegiatan SILI menjadi ruang kecil yang menghadirkan perjumpaan tulus antar iman, sekaligus memperkuat komitmen peserta sebagai agen perdamaian di tengah masyarakat. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan sebagai upaya merawat keberagaman, memperkuat dialog, dan menumbuhkan generasi yang aktif mewujudkan perdamaian dalam kehidupan nyata.Dari perjumpaan kecil, harapan tumbuh. Dari hati yang saling mendengar, damai mengalir. Dari hati yang lembut, damai tumbuh”
Kunjungan dan pengalaman Live-In dalam rangkaian SILI menumbuhkan kesadaran yang lebih mendalam akan keragaman spiritual dan budaya yang membentuk kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui live in, para peserta berkesempatan mengalami secara langsung bagaimana sebuah komunitas agama menjalankan iman dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus membangun hubungan lintas iman melalui kerja sama, saling menghormati, dan pelayanan bersama.
Pada hari Minggu, 2 November 2025 program ini ditutup dengan sesi refleksi dan presentasi di Balewiyata , dimana setiap kelompok membagikan pengalaman mereka terkait praktik keagamaan, keterlibatan sosial, serta peran perempuan di komunitas masing-masing.
Berita dan Foto : Julia Tissen