Kue Apem dan Wedang Jahe : Simbol Pengampunan dan Kehangatan   Pertemuan Pendeta Aktif GKJW

Kue Apem dan Wedang Jahe digunakan sebagai sarana perjamuan kasih diakhir “Pertemuan Pendeta Aktif GKJW” yang diadakan di Pacet, Mojokerto. Sebanyak 156 pendeta aktif GKJW menutup pertemuan 2 hari (9-10 Desember 2019) tersebut dengan kebaktian dan perjamuan kasih.

Kebaktian dan perjamuan kasih tersebut dilayani oleh Pdt. Eko Adi Kustanto, Pdt. Rena Sesaria, dan Pdt. Gideon Hendro Buono. Selain untuk menutup pertemuan tersebut, ibadah itu juga untuk mengenang semangat para pendiri Greja Kristen Jawi Wetan yang berdiri tanggal 11 Desember 1931.

Semangat saling berbagi, saling memberi dan saling melengkapi menjadi dasar panggilan jemaat-jemaat awal berhimpun menjadi gereja mardika dan mandiri dalam satu persekutuan “Pesamuwan-pasamuwan Kristen ing Tanah Jawi Wetan”. Dalam perjalanannya, persekutuan itu mengalami masa tenang dan tegang. Pelayan pun datang silih berganti. Akan tetapi, tujuan perjalanan itu tetap: “Mewujudkan diri menjadi rekan kerja Tuhan dan menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah bagi dunia”.

Pdt. Eko Adi Kustanto memulai perenungan dengan mengangkat  kisah  Paus Miltiades, seorang santo dalam sejarah gereja Katolik di Afrika. Dimasa kepemimpinan Miltiades, berkembang aliran Donatisme (di bawah pimpinan Donatus) yang beranggapan bahwa sah atau tidaknya sakramen/pelayanan  tergantung pada sang pemberi pelayanan. Jikalau sakramen atau pelayanan diberikan orang yang tidak layak, maka pelayanan tersebut dianggap tidak sah. Miltiades kemudian mengambil sikap dengan merangkul semua orang  percaya dengan keyakinan bahwa semua orang adalah saudara rahim kekudusan  Allah. Ia mengajak setiap orang berani untuk membuka dan merengkuh  diri saudara  yang berbeda.

Berdasarkan Yesaya 41 : 14-20, pemberita Firman menyampaikan bahwa  apa yang dikisahkan melalui kitab Yesaya adalah buaian dan bualan ditengah padang gurun yang kering, keras dan sulit. Akan tetapi, lahir pengharapan ditengah kemustahilan itu. Demikianlah gereja. Gereja adalah suatu kemustahilan, meskipun  dalam waktu yang sama ia menawarkan pengharapan.

Sementara itu, dalam Injil Matius 18 : 12-14, diceritakan Sang gembala sebagai  gembala yang merengkuh. Gembala yang memutuskan untuk mencari domba satu yang tersesat, sambil memastikan 99 domba yang lain berada ditempat yang aman dan tidak akan dimakan binatang buas. Tanpa satu domba yang hilang, 99 domba yang lain tidak akan menjadi lengkap. Yang satu adalah bagian dari saudara. Bagi 99 domba, mereka belajar menghayati bahwa satu domba adalah bagian utuh kebersamaan. Dari bagian ini, kita belajar bahwa ini bukanlah persoalan apa dan berapa tetapi siapa melakukan apa.

Melalui dua bacaan alkitab itu, para pendeta diajak menghayati kesatuan tubuh Kristus yang merengkuh keberagaman dan menawarkan pengampunanNya. Mungkin terkadang dianggap mustahil, tetapi kemustahilan dipertaruhkan demi pengharapan. Karena semua adalah saudara dalam kerahiman Allah.

Maka, melalui  perjamuan kasih ini, peserta menerima Kue Apem sebagai symbol pengampunan Tuhan bagi Gereja dan umatNya.  Dalam filosofi jawa, Kue Apem memang merupakan symbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan.

Sementara itu, Wedang Jahe yang hangat menjadi symbol kebersamaan dan kehangatan para pendeta dalam menjadi rowang gawe yang setia, rendah hati dan penuh hormat mengemban misi penyelamatan Tuhan melalui GKJW.

Dalam pertemuan Pendeta selama dua hari itu, para pendeta juga mendapatkan informasi tentang Industri 4.0 yang disampaikan Budiman Sujatmiko, Revitalisasi Asset GKJW oleh Team asset GKJW dan sessi bertema “Patunggilang Kang Nyawiji yang disampaikan Tim Sejarah. Kesemuannya adalah bagian dari semangat GKJW untuk  melengkapi para pemimpin gerejawi  menghadapi dan merespon transformasi  jaman yang terjadi dengan begitu cepat.

 

 

 

Bagikan Entri Ini:

  • 236
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •