Konven Pendeta GKJW: Bukan Sekedar Ajang Reuni

6 February 2026

Suasana sejuk Kota Batu, tepatnya di Hotel Ciptaningati, menjadi latar bagi berkumpulnya para pelayan Tuhan dalam acara Konven Pendeta Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang berlangsung pada Hari Senin-Rabu, 2-4 Februari 2026. Pertemuan yang diaktakan untuk dilaksanakan setiap tiga tahun sekali ini menjadi momen yang sangat dinantikan, di mana para pendeta dari berbagai penjuru pelayanan di jemaat GKJW hadir untuk saling melepas rindu dan mempererat tali silaturahmi. Gelak tawa, tegur sapa, dan obrolan hangat menghiasi setiap sudut hotel, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang begitu kental di antara para pelayan Tuhan.

Namun, di balik kehangatan pertemuan antar-rekan sejawat tersebut, konven pendeta ini bukanlah sekadar ajang berkumpul rutin tanpa makna. Sejak awal kegiatan, tersirat sebuah pesan yang mendalam bahwa ada tanggung jawab besar yang sedang dipikul bersama. Pertemuan ini menjadi ruang kontemplasi bagi para pendeta untuk berhenti sejenak dari rutinitas, guna merefleksikan kembali perjalanan pelayanan mereka di tengah dinamika zaman yang terus berubah, sekaligus menjadi titik tolak untuk menjawab tantangan-tantangan krusial yang kini tengah membayangi gerak langkah gereja.

Menghadapi Realitas “Great Disconnection”

Tema “Great Disconnection” diangkat sebagai respons atas realitas adanya ketidaksambungan antara the pulpit (mimbar/pendeta) dengan the pew (bangku jemaat). Dalam sesi keynote yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Hardiyan Triasmoroadi, diuraikan bahwa para pendeta harus jujur dan jernih dengan realitas adanya jurang pemisah (gap) yang signifikan antara apa yang dikhotbahkan oleh pendeta dengan apa yang dipahami serta dipraktikkan oleh jemaat dalam keseharian.

Ketidaksinambungan ini bukan perkara sepele. Jika dibiarkan, relasi antara pendeta dan jemaat hanya akan bersifat artifisial. Dampak terburuknya adalah munculnya distrust (ketidakpercayaan), melemahnya pembinaan spiritual, hingga penurunan kehadiran warga jemaat dalam kegiatan gereja. Oleh karena itu, konven ini bertujuan untuk menyadari, merespons, dan meminimalisir gap tersebut melalui semangat mendengarkan suara Tuhan dan sesama.

Belajar dari “Musim Gugur” Kekristenan Global

Pada hari pertama, Pdt. Dr. Dyah Ayu Krismawati (Executive Secretary UEM untuk Region Asia) yang juga merupakan pendeta GKJW, memberikan stimulasi yang memantik pemikiran mendalam bertajuk “The Decline of Christianity”. Mengambil cermin dari situasi di Jerman dan Eropa—di mana gereja-gereja megah kini mulai beralih fungsi karena kehilangan umat—para pendeta diajak berefleksi: “Mungkinkah hal serupa dapat terjadi di GKJW?”.

Melalui metode Listening Circle (Jagongan) setelah pemaparan berakhir, para peserta diminta untuk masuk dalam diskusi di tengah kelompok kecil untuk memperdalam serta mencari jalan keluar atas konteks yang ada dan dimungkinkan terjadi di tengah hidup persekutuan. Hari pertama pun ditutup dengan Visio Divina, metode berdoa dengan berefleksi pada gambar atau ikon yang telah ditentukan oleh panitia pelaksana.

Menakar Berbagai Tantangan Lembaga

Memasuki hari kedua, suasana batin para peserta dipersiapkan melalui doa bersama dengan metode Lectio Divina, sebuah praktik merenungkan sabda untuk mencari tuntunan Ilahi sebelum masuk ke dalam isu-isu strategis organisasi. Sesi pertama langsung menyentuh aspek krusial bagi kesejahteraan pelayan: “Quo Vadis Dana Pensiun GKJW”, dengan menghadirkan pakar dari BRI untuk membedah arah masa depan dana pensiun pendeta.

Fokus diskusi tertuju pada urgensi meninjau kembali skema Manfaat Pasti yang selama ini dijalankan. Meskipun skema ini menjanjikan nominal tetap di masa tua, para pendeta diajak untuk menyoroti kelemahan fundamentalnya dalam konteks ekonomi modern, yakni risiko beban finansial jangka panjang yang sepenuhnya ditanggung oleh lembaga (GKJW). Dalam skema Manfaat Pasti, fluktuasi investasi, peningkatan angka harapan hidup, dan inflasi dapat menyebabkan terjadinya underfunded atau defisit dana.

Sebagai alternatif, skema Iuran Pasti mulai dipertimbangkan secara serius sebagai model yang lebih realistis dan akuntabel karena besarannya didasarkan pada akumulasi iuran dan hasil pengembangan investasi yang lebih transparan. Transisi ini adalah langkah konkret lembaga dalam memastikan jaminan hari tua para pendeta berdiri di atas fondasi keuangan yang sehat dan tidak membebani generasi pelayan berikutnya.
Sesi pemaparan kemudian beralih pada soal jati diri GKJW. Pdt. Dr. Agung Siswanto, M.Th. menantang para peserta dengan pertanyaan: “Patunggilan kang nyawiji, masihkah sakti?”. Di tengah tantangan sentralisasi dana dan inisiatif ekonomi, para pendeta berdiskusi agar setiap langkah organisasi tetap menjadi ekspresi diakonia dan pengejawantahan sesanti “Patunggilan Kang Nyawiji”. Diskusi ini pun diperdalam melalui sesi listening and discerning dalam kelompok-kelompok kecil.

Nuweni Sedulur dan Sahabat Jiwa: Suara Personal Menuju Kebijakan
Metode listening and discerning tidak hanya dilakukan dalam ruang sidang formal. Melalui sesi “Nuweni Sedulur”, para pendeta berkumpul berdasarkan angkatan kuliah mereka untuk menciptakan kenyamanan psikologis dan meruntuhkan sekat struktural. Dalam suasana non-formal, mereka mengungkapkan pergumulan personal dan tantangan panggilan secara jujur.

Namun, diskusi ini tidak berhenti pada urusan pribadi. Para pendeta juga membedah isu pelayanan di tubuh GKJW secara kritis. Menariknya, segala proses dan hasil dari “jagongan” angkatan ini dicatat secara sistematis untuk diserahkan kepada lembaga sebagai bahan rekomendasi resmi. Dengan demikian, suara-suara jujur dari akar rumput memiliki peluang nyata untuk ditindaklanjuti menjadi kebijakan gereja.
Momen berlanjut pada acara “Sahabat Jiwa”, sebuah ruang dialog informal yang bersifat sangat personal. Di sini, setiap pendeta mencari seorang kolega untuk menjadi tempat bersandar, saling bercerita, dan mendengarkan. Berdasarkan pertimbangan pastoral dan psikologis, sesi ini menyadari bahwa setiap pribadi membutuhkan rekan untuk berbagi beban hidup tanpa rasa takut dihakimi. “Sahabat Jiwa” membangun ikatan tanggung jawab moral untuk saling mendoakan, memastikan tidak ada pendeta yang merasa berjalan sendirian di tengah dinamika pelayanan yang kompleks.

Pembaruan Janji Tahbis dan Perjamuan Kudus Kontekstual

Seluruh rangkaian kegiatan berpuncak pada hari Rabu melalui ibadah penutup dan Perjamuan Kudus Kontekstual di GKJW Jemaat Batu. Ibadah ini menjadi simbolisasi “panggilan kenotik”—ajakan untuk meneladani Kristus yang mengosongkan diri demi meretas jurang pemisah antara Allah dan manusia.
Suasana penuh haru menyelimuti ruang gereja ketika para pelayan firman berdiri untuk memperbarui janji tahbisan mereka. Momen ini seolah menyalakan kembali api komitmen yang mungkin sempat meredup. Keunikan mencolok terlihat pada penggunaan Singkong Rebus sebagai lambang Tubuh Kristus dan Wedang Jahe sebagai lambang Darah Kristus. Penggunaan hasil bumi lokal ini menegaskan pesan bahwa Kristus hadir dalam realitas sehari-hari yang paling membumi di tengah persekutuan GKJW, mengundang para pendeta untuk terus terkoneksi dengan kultur dan pergumulan umat.

Para pendeta GKJW diharapkan dapat pulang dengan membawa tekad baru untuk meruntuhkan tembok pemisah antara mimbar dan bangku jemaat. Semangat ini dikristalisasi melalui pengutusan di mana mereka mengikrarkan tiga butir tekad utama:

  • Menjadi pemimpin, pemuka gereja, dan gembala yang setia dalam tugas kenabian, keimaman, dan keguruan.
  • Membuka diri bagi perjumpaan tak terduga dan melibatkan umat demi mewujudnyaPatunggilan kang Nyawiji.
  • Menjadi suluh di tengah kegelapan yang lantang meneriakkan kebenaran serta setia memeriksa kemurnian batin demi menuntun mereka yang menderita.

Ikrar ini ditutup dengan pengharapan agar Allah Trinitas memberkati tekad tersebut dan memapukan para pendeta dapat benar-benar menyatakan tekadnya. Dengan selesainya Konven 2026, langkah nyata untuk mengatasi “Great Disconnection” diharapakan dapat dimulai di setiap penjuru Jemaat GKJW.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak