Majelis Agung GKJW mengutus Pdt. Rogethe Indra Kurniawan, S.Si. untuk mengikuti kegiatan International Consultation on the Contextualisation of Classical Church Music with Traditional Music yang diselenggarakan oleh United Evangelical Mission (UEM) pada tanggal 20–25 Oktober 2026. Pertemuan yang bertempat di GKPI Medan Kota, Medan, Sumatera Utara ini merupakan lokakarya musik liturgi pertama yang diadakan oleh UEM untuk lingkup wilayah Asia. Kegiatan tersebut dihadiri oleh para delegasi gereja anggota UEM dari berbagai belahan dunia, meliputi Jerman, kawasan Afrika, serta negara-negara Asia seperti Indonesia, Sri Lanka, dan Filipina.
Melalui sektor khusus yang bergerak dalam pengembangan musik gereja, UEM menggagas ruang perjumpaan berkala ini karena menyadari peran vital musik dalam pelayanan ibadah dan pertumbuhan iman umat. Secara khusus, UEM ingin mengangkat pentingnya menghadirkan musik gereja yang kontekstual serta tertata dengan baik. Oleh karena itu, lokakarya di Medan ini tidak hanya diisi dengan pemaparan materi satu arah, melainkan juga dirancang untuk mendengarkan secara langsung perkembangan musik liturgi di wilayah Asia yang memiliki keberagaman budaya dan turut mewarnai corak musik gereja setempat.
Pertemuan ini menjadi sarana bagi setiap gereja anggota untuk mempresentasikan perkembangan sekaligus mendiskusikan berbagai kendala pengembangan musik liturgi di daerah masing-masing. Dalam sesi berbagi tersebut, terungkap bahwa gereja di Jerman tengah berupaya menyikapi tergerusnya musik liturgi model Gregorian oleh musik bernuansa populer, sementara gereja-gereja di Afrika berfokus pada pemenuhan sumber daya manusia guna meningkatkan kualitas musik liturgi mereka. Di sisi lain, gereja di Filipina serta beberapa gereja di Indonesia masih menghadapi tantangan pandangan budaya terkait penggunaan alat musik tradisional dalam ibadah, berbeda dengan gereja-gereja di Jawa, Papua, dan Kalimantan yang telah lama mengadopsi instrumen tradisional sehingga umat merasa lebih dekat dengan liturgi yang dirayakan sekalipun terdapat perbedaan tangga nada diatonis.
Selain dinamika budaya, tantangan mengenai penurunan tingkat kehadiran dan keterlibatan generasi muda dalam ibadah juga menjadi perhatian bersama, baik di gereja-gereja Barat, Afrika, maupun Asia. Fenomena berpindahnya kaum muda ke gereja-gereja beraliran pentakosta-karismatik mendorong sejumlah gereja, seperti di Jerman, untuk melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa kaum muda cenderung mencari sajian musik pop karena dirasa relevan dengan gaya hidup mereka. Diskusi mengenai hal ini mengingatkan gereja-gereja anggota bahwa pembaruan musik liturgi perlu didasari oleh kajian dan data yang jelas, sembari tetap menyadari tantangan mendasar lainnya, yakni bagaimana gereja dapat hadir terlebih dahulu bagi para pemuda.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, forum konsultasi ini juga mencatat langkah perubahan yang telah ditempuh oleh beberapa gereja anggota dalam pembaruan musik liturgi mereka. Bersama dengan gereja di Jerman yang menyusun New Hymn untuk menjawab kebutuhan jemaat masa kini, GKJW turut membagikan pengalamannya dalam mengupayakan pembaruan musik liturgi melalui penerbitan Kidung Kontekstual dan Kidung Siwi. Pengalaman GKJW dalam merampungkan dan mempublikasikan Kidung Siwi juga menjadi bahan berbagi yang berharga di dalam forum, mengingat gereja di Jerman saat ini masih menghadapi kendala serupa dalam mengupayakan penyusunan buku kidung pujian khusus bagi anak-anak.
Keberadaan Kidung Kontekstual dan Kidung Siwi tersebut memperlihatkan upaya nyata GKJW dalam mengontekstualisasikan musik liturgi di lingkup gereja-gereja anggota UEM. Lebih dari sekadar bagian dari perkembangan musik gereja, tersedianya kidung pujian yang menjangkau jemaat dewasa hingga anak-anak ini mencerminkan bagaimana GKJW menghargai dan merangkul setiap generasi di dalam persekutuannya. Melalui ruang berbagi ini, langkah yang telah dimulai oleh GKJW dapat saling melengkapi dengan pengalaman gereja-gereja mitra dalam memperkaya pelayanan liturgi.
Refleksi dari pertemuan ini tentu menjadi pemacu bagi GKJW untuk terus memantapkan pengembangan musik gereja ke depan, khususnya dalam menyiapkan sumber daya manusia dan kaderisasi pegiat musik liturgi secara berkesinambungan. Pertukaran pengalaman dengan gereja-gereja di Jerman dan Afrika memberikan wawasan berharga mengenai pentingnya pembinaan musik gereja yang terpadu melalui lembaga khusus. Sekolah-sekolah musik liturgi di kedua wilayah tersebut telah menyesuaikan kurikulum pendidikan mereka agar tidak hanya berfokus pada pendalaman teologis, komposisi lagu, dan penguasaan teknis alat musik, tetapi juga membekali para pelayan hingga ke tahap produksi rekaman.
Penguatan kapasitas sumber daya manusia tersebut menjadi pijakan penting bagi langkah strategis berikutnya, yakni meningkatkan kualitas produksi karya musik digital di lingkungan GKJW. Selama ini, GKJW telah memiliki banyak perbendaharaan lagu yang baik, namun sebagian besar masih berhenti pada publikasi media cetak karena keterbatasan tenaga ahli di bidang produksi musik digital. Dengan memadukan kekayaan komposisi lagu yang dimiliki ke dalam pengelolaan produksi digital yang profesional, karya-karya kidung GKJW diharapkan dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat luas, memberkati banyak orang, serta terus lestari mewartakan kasih Tuhan melalui nada-nada yang dilantunkan.