Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) melalui jejaring internasionalnya, United Evangelical Mission (UEM), melaksanakan kegiatan pendampingan psikososial dan psikospiritual bagi para penyintas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pasca-bencana yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada pemulihan luka batin, trauma, dan penguatan daya lenting (resiliensi) para korban.
Pendampingan dilaksanakan pada 9–15 Januari 2026 di beberapa daerah terdampak, antara lain Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Humbang Hasundutan. Dalam pelaksanaannya, UEM mengutus 17 pendeta alumni Clinical Pastoral Education (CPE) serta 5 staf UEM yang dibagi ke dalam beberapa tim wilayah pendampingan. Para pendeta ini berasal dari berbagai gereja anggota UEM di Indonesia dan memiliki kompetensi khusus dalam pendampingan pastoral berbasis trauma dan krisis.
Sebagai salah satu gereja anggota UEM, Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) turut ambil bagian secara aktif dengan mengutus dua pendeta alumni CPE, yakni Pdt. David Prasetyawan (GKJW Jemaat Sidorejo–Pare, MD Kediri Utara I) dan Pdt. Yuli Ernawati (GKJW Jemaat Pronojiwo, MD Malang IV). Keterlibatan ini merupakan wujud nyata solidaritas GKJW terhadap saudara-saudari sebangsa yang tengah bergumul dalam situasi duka dan krisis.
Pendampingan psikososial dan psikospiritual yang dilakukan meliputi kehadiran empatik di tengah para penyintas, pendengaran aktif atas kisah-kisah duka dan kehilangan, penguatan spiritual melalui doa dan refleksi iman, serta pendampingan pastoral bagi individu, keluarga, dan komunitas yang masih tinggal di tenda-tenda pengungsian. Pendekatan ini menekankan bahwa pemulihan trauma tidak dapat dipisahkan dari relasi, harapan, dan makna hidup yang terus dibangun bersama.
Pdt. David Prasetyawan menuturkan bahwa kehadiran langsung di lokasi bencana memberikan pengalaman iman yang sangat mendalam. “Melihat bencana dari dekat mengingatkan saya betapa kecilnya manusia. Hidup bisa berubah sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan jam. Ketika bencana datang, manusia sering kali tidak memiliki kuasa apa pun. Karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk terus bergandengan tangan, saling menguatkan, dan menunjukkan perhatian satu sama lain,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Pdt. Yuli Ernawati menekankan bahwa kehadiran dalam pendampingan pascabencana bukan soal tampil sebagai penolong, melainkan tentang kerendahan hati untuk berjalan bersama para penyintas. Ia menyampaikan, “Jadilah inspirasi tak hanya dalam empatimu, tetapi juga dalam rendah hatimu.” Menurutnya, pendampingan psikososial dan psikospiritual menuntut kepekaan untuk mendengarkan, belajar dari keteguhan para korban, serta menghormati proses duka dan pemulihan yang sedang mereka jalani.
Lebih lanjut, Pdt. David menegaskan bahwa proses pemulihan masih sangat panjang. “Saudara-saudara kita masih berduka, masih bergelut dengan lumpur, masih banyak yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. Mereka masih sangat membutuhkan perhatian, kepedulian, dan kehadiran yang setia,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, UEM menegaskan kembali peran gereja-gereja sebagai komunitas yang dipanggil untuk hadir secara nyata di tengah penderitaan manusia, tidak hanya melalui bantuan material, tetapi juga melalui pendampingan yang menyentuh dimensi terdalam kehidupan manusia. Partisipasi GKJW dalam tim pendampingan ini sekaligus menjadi kesaksian iman bahwa gereja dipanggil untuk melintasi batas wilayah, budaya, dan denominasi demi menghadirkan kasih Kristus bagi mereka yang terluka.
GKJW bersyukur dapat menjadi bagian dari gerakan oikumenis ini dan berharap bahwa pelayanan pendampingan psikososial dan psikospiritual yang dilakukan bersama UEM dapat menumbuhkan harapan baru, kekuatan batin, serta semangat untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan bagi para penyintas bencana di Sumatera Utara.
Berita: Pdt. David Prasetyawan,
Foto: Tim Psikososial UEM