Sebanyak 60 pemuda-pemudi dari 12 jemaat di wilayah MD Malang IV berkumpul di GKJW Tempurejo pada hari Jumat – Sabtu, 8-9 Agustus 2025 untuk mengikuti kegiatan Pembinaan Pemuda tentang Kepemimpinan, Kepioniran dan Pelayanan Intergenerasi. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari proses pembinaan pemuda yang sebelumnya telah diinisiasi melalui kegiatan Pemuda Penggerak pada tahun 2024. Canda tawa menghiasi perjumpaan sekaligus persaudaraan yang terjalin selama ini. Sesuatu yang tidak akan terlupakan, momen indah dalam kebersamaan yang melengkapi sukacita.
Sesuai dengan semangat kesinambungan, maka kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan narasumber yang sama dengan tahun sebelumnya, yaitu Pdt. Gideon H. Buono dan Pdt. Musa W. Bimantara yang membawakan dua sesi utama: “Called to Lead” yang mengupas tema kepemimpinan dan kepioniran, serta “Born to Serve” yang menekankan pelayanan lintas generasi.
Kegiatan ini mengusung tema “Called to Lead, Born to Serve”, melalui tema ini pemuda diajak untuk menyadari bahwa panggilan kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan soal tanggung jawab dan kerendahan hati untuk melayani. Para pemuda diajak untuk melangkah lebih jauh untuk mengenali panggilanNya dan menyusun perencanaan stategis sebagai pemimpin yang berani, bertanggung jawab, dapat dipercaya dan menjadi teladan sebagai pemuda Kristen.
Pada hari pertama, peserta diajak untuk bergumul dalam sesi materi “Dipanggil untuk Memimpin” yang dibawakan oleh Pdt. Gideon Hendro Buono. Dalam sesi ini para peserta diajak untuk tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep kepemimpinan dan panggilan sebagai pemimpin muda, tetapi juga mengajak para peserta untuk keluar dari zona nyaman gereja dan melihat langsung kondisi di luar lingkungan mereka. Pemuda diajak untuk keluar dari lingkungan gereja dan melakukan wawancara serta observasi langsung di masyarakat. Mereka mengunjungi berbagai titik seperti pasar tradisional, lingkungan pemukiman, pusa warga jemaat, hingga area yang mengalami dampak lingkungan, sesuai dengan tema masing-masing.
Melalui wawancara dengan penduduk lokal, tokoh masyarakat, dan pengamatan kondisi lapangan, para pemuda
mengumpulkan informasi mengenai tantangan nyata yang dihadapi masyarakat, misalnya kesulitan ekonomi keluarga, permasalahan lingkungan seperti sampah dan polusi, hingga dinamika kehidupan keluarga yang mulai berubah. Setelah sesi lapangan, para kelompok kembali ke tempat kegiatan untuk melakukan refleksi dan diskusi mendalam. Mereka mengevaluasi hasil temuan lapangan dan mulai merumuskan rekomendasi program internalisasi yang dapat diterapkan untuk menjawab berbagai isu tersebut dalam konteks pelayanan gereja dan penguatan kepemimpinan pemuda.
Hari kedua diawali dengan doa pagi dan ice breaking untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yang mengupas materi “Born to Serve” – disampaikan oleh Pdt. Musa W. Bimantara dengan pendekatan yang sangat dekat dengan kehidupan pemuda saat ini, yaitu fenomena Quarter Life Crisis. Pdt. Musa memberikan gambaran bahwa banyak pemuda mengalami masa kebingungan dan keresahan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari relasi, asmara, pendidikan, pekerjaan, hingga spiritualitas. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para pemuda untuk mengenali diri, bertumbuh, dan menemukan panggilan melayani dalam konteks jemaat dan masyarakat.
Pemuda diajak untuk berdiskusi secara mendalam dalam kelompok berdasarkan latar belakang jemaat masing-masing dengan tema yang relevan, seperti relasi sosial, masalah asmara, tantangan pendidikan, kondisi pekerjaan, dan kehidupan spiritual. Diskusi ini bertujuan untuk menganalisis situasi nyata yang tengah dihadapi oleh pemuda di jemaat mereka serta mengidentifikasi akar permasalahan yang memicu Quarter Life Crisis. Tidak hanya berhenti pada analisis, tetapi juga diajak untuk merancang program-program konkret yang dapat dijalankan sebagai upaya mengatasi persoalan tersebut. Dalam perencanaan program ini, mereka didorong untuk mengedepankan kolaborasi dengan berbagai pihak dan komisi dalam gereja. Pendekatan lintas komisi ini diharapkan menciptakan sinergi dan program yang berkelanjutan dengan dampak positif yang nyata bagi kehidupan jemaat.
Setelah itu, para peserta diajak untuk terlibat aktif dalam outbound yang dirancang untuk memperkuat kerja sama, komunikasi, serta jiwa kepemimpinan. Sementara kedua narasumber, yaitu Pdt. Gide dan Pdt. Musa memberikan catatan- catatan yang membangun pada Check Point Spot masing-masing peserta. Pada akhirnya, para peserta dipandu untuk mengisi refleksi pribadi melalui Google Form sebagai bahan evaluasi dan langkah nyata untuk implementasi di jemaat masing-masing. Acara ditutup dengan ibadah penutupan yang bermuara pada deklarasi pembentukan Forum Pemuda MD Malang IV.
Pembinaan pemuda ini merupakan upaya untuk memaksimalkan proses pembentukan karakter dan kesadaran akan panggilan-Nya dalam rangka mewujudkan misi GKJW memunculkan tanda-tanda kerajaan Allah di dunia. Kegiatan ini tidak hanya membekali pemuda secara pribadi, tetapi juga mempersiapkan mereka sebagai agen perubahan yang mampu berkolaborasi lintas generasi demi kemuliaan Tuhan dan pelayanan yang berdampak bagi gereja dan masyarakat luas. Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi Forum Pemuda MD Malang IV pada bulan-bulan berikutnya, sesuai dengan agenda program yang telah tertuang dalam PKT MD Malang IV Tahun 2025
Berita : Bintang Permata Putri (GKJW Jemaat Spellot)
Dokumentasi : Malang IV Multimedia (M4M)