Kertorejo, ia diapit oleh GKJW Jemaat Ngoro dan Mojowarno. Laksana rembulan yang pancaran sinarnya meredup di antara dua matahari yang cahayanya amat terang.
Kiasan ini disampaikan pendeta jemaat Kertorejo-Jombang, Dwi Bagus Adi Santoso. Ia bersyukur acara ini bisa terlaksana, dan harapannya sejarah Kertorejo juga bisa terangkat dan menjadi motivasi tersendiri bagi warga.
Sore itu, Jumat, 6 Juni 2025. Ratusan warga memadati gedung gereja kuno berbentuk joglo. Ingin mengetahui jejak profil dari salah satu tokoh penting awal pembukaan dan perintisan Jemaat. Bangku dan kursi tambahan yang ada di luar dan samping gereja terlihat penuh.
Kegiatan yang juga diinfokan di wilayah MD Surabaya Barat Jombang dan melalui jalur WA rupanya mendapat respon yang cukup positif. Seperti kedatangan Hendro (78), asal Banyuwangi. Posturnya yang mirip bule tapi masih fasih berbahasa Jawa ini ternyata punya darah turunan Jawa-Manado. Sendirian saja via kereta api, karena sudah tak punya family yang tinggal di sini. “Saya langsung tergerak untuk hadir!” kisahnya yang kini menjadi warga GKI.
Belajar dari Sejarah dan Iman Pendahulu
Kyai Wakya (Pak Kamirah) dan Kyai Sesam Midin, adalah kisah utama dari diskusi dan peluncuran buku yang ditulis bersama antara Wiryo Widianto, Negari Karunia Adi, dan Iman Wimbadi. Mereka tampil bersama, menguraikan sekelumit kisah sebagaimana artikel dalam buku tersebut.
Di samping itu hadir pula Prof. Harianto, guru besar Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB Bogor dan Pdt. Chrysta B.P. Andrea dari IPTh. Balewiyata Malang. Mereka termasuk pemberi kata pengantar dalam buku tersebut.
Pada sesi awal, Wiryo Widianto, warga GKJW Waru ini mengawalinya dengan menjelaskan bahwa nama Kertorejo tak bisa dilepaskan dari komunitas Ngoro yang dipimpin oleh C.L. Coolen. Model kekristenan yang diterapkan Coolen dirancang agar mudah diterima oleh masyarakat Jawa. Dalam kepemimpinannya, ia membuka banyak dusun. Kertorejo berada di urutan nama ke-29 dari 32 dusun yang ada, yang keseluruhannya masih ada hingga sekarang.
Kisah Wakya, salah satu murid Coolen, menjadi sorotan utama dalam pemaparanya. Ia berasal dari Krian dan sempat belajar ilmu mencuri dari gurunya yang berasal dari Sidoarjo.
Wakya mengalami titik balik kehidupan setelah hampir tertangkap dalam ujian terakhirnya. Ia tersadar perbuatannya itu bisa merugikan orang lain, dan juga konsekuensi hukum yang menanti jika ia tertangkap.
Hal itu mendorongnya untuk bertobat. Wakya kemudian ikut serta dalam “babad alas” atau pembukaan lahan, yang komunitas Kristen terbesar akhirnya terbentuk di Kertorejo saat itu.
Di Ngoro, orang Kristen yang ikut baptis banyak yang diusir oleh Coolen. Namun, Kyai Wakya tetap teguh berada di kawasan Hutan Tragal yang kelak bernama Kertorejo. Nama Kertorejo sendiri memiliki makna “ramai/sejahtera dan ramai”.
Wakya menjadi kepala desa terlama, sepanjang 55 tahun. Meskipun tidak dikaruniai anak kandung, ia mengangkat Samidin atau Sesam Midin, seorang gembala kerbau, sebagai anaknya. Ia sebenarnya anak orang kaya, namun harta bendanya habis dijarah. Bersama-sama, mereka membangun Kertorejo dengan fondasi iman yang kuat.
Dari kisah perjalanan tokoh ini, Wiryo menekankan nilai-nilai keteladanan yang bisa dipelajari. Pertama, ia adalah manusia pembelajar; terbuka dan pada hal-hal baru. Kedua, transformasi kepompong menjadi kupu-kupu. Artinya, ia mau mau berubah ke hal yang lebih baik. Dari seorang pencuri menjadi pemimpin (pelayan) warga desa. Ketiga, adanya pemuridan. Ia melakukan pengaderan kepada anak muda dan menyediakan diri sebagai mentor. Keempat, semangat kolaborasi di antara generasi. Kelima, warisan iman yang baik; yaitu mengajarkan agar generasi berikutnya teguh dalam iman yang dimiliki.
Wiryo menambahkan, dari kisah peringatan 55 tahun Wakya menjadi lurah dan 25 tahun Sesam menjadi gembala jemaat, “Ada misionaris yang menulis: ‘Bagaimana selama ini Anda menjadi pemeluk Kristen?’ Dia menjawab: ‘Boten kanten-kantena”’(Bahagianya tak terukur atau luar biasa).”
Lanjutnya dalam tulisan itu, “Harapanmu apa ke depan? Saya, istri, anak, cucu dan keturunan saya tetap teguh dalam iman dan percaya kepada Kristus!”
Iman, Sejarah, dan Keteladanan Hidup
Negari Karunia Adi, warga GKJW Sidoarjo sebagai narasumber kedua, mengangkat nilai pentingnya keluarga Kristen Jawa mula-mula dalam membangun kekeluargaan untuk pewartaan iman. Relevansi di masa kini, menurutnya, adalah bagaimana keluarga Kristen dapat membangun kerajaan Allah di dunia dan memperkuat ekonomi. Ia menekankan bahwa di tengah kesulitan ekonomi dan politik, keluarga Kristen mampu terus berkarya.
Sedangkan Iman Wimbadi, warga GMII Filadelfia Surabaya sebagai narasumber ketiga, mengajak audiens untuk merenungkan karya Tuhan melalui sejarah yang ada, serta siapa saja yang dipakai Tuhan dan pentingnya kebersamaan di dalamnya.
Prof. Hariyanto membawa perspektif yang menarik dengan membahas fenomena wajah laki-laki dan perempuan Jawa yang terlihat serupa atau mirip. Menurutnya, hal itu disebabkan kekurangan gizi sehingga lemak di kulit mengecil dan kulit menempel pada tulang.
Dengan kejadian itu, ia kemudian menyambungkan dengan kondisi masyarakat di kala masa penjajahan tiba. Belanda sendiri bangkrut setelah mengalami kekalahan. Hal itu memaksa masyarakat untuk mengolah tanah perkebunan selama 66 hari kerja paksa. Selain perubahan (pengurangan) 20% lahan tanah itu yang diubah dari penghasil pangan ke perkebunan.
Di tengah masa kelaparan tersebut, Kyai Wakya mampu membangun gereja. “Itu yang bisa dikenang dan dicontoh,” ujarnya. Prof. Hariyanto juga menekankan bahwa kalau kotbah saja sekarang bisa didapatkan dari internet. Namun memberikan contoh dari kehidupan nyata, seperti yang dilakukan Kyai Wakya, adalah pemberitaan firman yang efektif.
Memahami Sejarah untuk Kemajuan Iman
Sementara itu, Pdt. Chrysta menegaskan bahwa pembelajaran Firman Tuhan harus dilakukan tanpa mencabut akar sejarahnya. Ia membandingkan dengan Daud yang mengalahkan Goliat dengan ketapel. “Semakin ditarik ke belakang, semakin kuat tekanannya. Artinya, semakin kita memahami sejarah, semakin kuat kita melangkah maju. Sejarah juga mengajarkan kita untuk belajar dari kekurangan.”
Ia menyoroti bagaimana padepokan Ngoro yang berdiri pada tahun 1828, berbarengan dengan masa Perang Diponegoro (1825-1830). Ketika para pemimpin bertarung, rakyat menghadapi masalah pangan. “Siapa yang memberi rakyat makan, itu yang jadi problem,” katanya, mengingatkan pada kisah Alkitab tentang Yesus yang memberi makan 5.000 orang.
Pdt. Chrysta menekankan bahwa belajar sejarah untuk generasi kekinian, bukan hanya tentang menghafal peristiwa, tanggal dan nama. Melainkan tentang karya Tuhan yang hadir lewat peristiwa-peristiwa tersebut. Dari Kyai Wakya dan Sesam Midin, kita dapat belajar tentang warisan untuk berbagi dan bersaksi secara konkret.
Pentingnya Perspektif Sejarah yang Tepat
Sebagai penutup, kedatangan Ronny H. Mustamu, Sekjen PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) Jatim sebagai closing statement, memberikan wawasan yang lebih luas lagi. Baginya, penting untuk menekankan perspektif sejarah yang tepat. Ia memberikan contoh bahwa banyak orang Indonesia yang tidak percaya kalau nenek moyangnya adalah bangsa pelaut. Padahal kapal Jung buatan Jawa bahkan mengubah model kapal Eropa dalam melakukan pelayaran antar benua. Jawa dulu memiliki pangkalan militer yang bisa menguasai sampai laut Cina.
Ia juga menyoroti mengapa awalnya kekristenan di Jawa tidak dilakukan oleh penginjil, karena adanya “intelektual organik” di Jawa, yaitu pemimpin formal namun organik. Roni Mustamu juga mengingatkan agar generasi sekarang tidak mempercayai bahwa kekristenan (agama Kristen) berasal dari penjajahan. Belanda hanya membawa 2G (Gold, Glory), bukan 3G (tanpa Gospel).
Begitu juga dengan penurunan jumlah anggota GKJW dalam 30 tahun terakhir, juga menjadi perhatian serius. Faktanya kini tidak semua desa Kristen memiliki kepala desa yang juga Kristen.
Acara bincang sejarah dan peluncuran buku ini semoga tak hanya menghadirkan otentisitas (catatan masa lalu) tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan refleksi tentang warisan iman dan keteladanan yang tak lekang oleh waktu.
Naskah: Hendra Setiawan
Foto: Multimedia GKJW Jemaat Kertorejo
Video bincang Buku kisah Kyai Wakya Pak Kamirah & Kyai Sesam Midin dapat diikuti dibawah ini