Bacaan: Matius 22 : 15 – 22 | Pujian: KJ. 405
Nats: “Guru, kami tahu, Engkau orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut terhadap penilaian orang, sebab Engkau tidak memandang muka.” (Ayat 16b)
Seorang pemancing membutuhkan umpan untuk mendapatkan ikan. Ikan tidak akan menyadari bahwa umpan tersebut adalah jebakan dan mengiranya makanan. Umpan berfungsi untuk menarik perhatian ikan lewat penglihatan, penciuman atau getaran, memancing nalurinya untuk menggigit agar mata kail bisa menjeratnya. Demikian dengan kehidupan kita di tengah dunia, jika kita tidak waspada, ada banyak faktor eksternal yang menjadi umpan dan berpotensi memancing reaksi kita.
Kaum Farisi adalah kelompok religius Yahudi dan kaum Herodian adalah kelompok politik pendukung dinasti Herodes Agung. Mereka berkonspirasi untuk menjebak Yesus. Meskipun kedua kelompok ini berlawanan, mereka memiliki misi yang sama, yakni menjatuhkan Yesus. Kaum Farisi sering menentang Yesus karena dianggap melanggar tradisi Yahudi. Sedangkan kaum Herodian menganggap Yesus sebagai ancaman politik yang mengganggu stabilitas dan menimbulkan pemberontakan. Maka untuk menjerat-Nya, mereka menggunakan umpan, memuji integritas Yesus dalam pengajaran-Nya. Yesus tidak terpancing, Ia merespons dengan jawaban yang benar bahwa ketaatan kepada Allah tidak meniadakan tanggung jawab seseorang dalam relasinya dengan sesama sebagai bagian dari masyarakat.
Perlawanan terhadap nilai-nilai kebenaran sering kali dilakukan oleh mereka yang merasa terancam atau terganggu kepentingannya. Di tengah realitas kehidupan yang syarat berbagai kepentingan, kebencian, dan ketidakadilan, kita perlu waspada dengan pujian atau cacian, umpan yang berpotensi memancing reaksi kita untuk merespons secara destruktif. Kebijaksanaan Yesus dalam menghadapi jebakan kaum Farisi dan Herodian mengajarkan kita betapa pentingnya mengandalkan tuntunan Allah dalam merespons segala sesuatu. Mari kita berjuang untuk menjaga integritas, setia pada kebenaran, kendati berada di bawah tekanan. Hidup bersama memerlukan pola pikir terbuka, tulus, dan rendah hati. Tidak berpijak pada kebenaran tunggal sampai harus meniadakan perbedaan, menyisihkan liyan. Kejernihan batin, ketenangan diri, keteguhan pada nilai-nilai kebenaran, dan belajar peka terhadap motivasi di balik tindakan orang lain akan membantu kita merespons segala sesuatu dengan tepat. Kiranya kebijaksanaan Kristus memimpin kita. Amin. [wdp].
“Segala pujian dan cacian, renungkanlah dalam hening dan bening, agar tidak menjadi umpan yang menjerat kita.”