Genteng Diturunkan, Persaudaraan Ditegakkan Gotong Royong Lintas Iman Jemaat Lawang

7 October 2026

Pagi hari itu, Rabu, 7 Oktober 2026, pemandangan di halaman Gereja GKJW Jemaat Lawang tampak berbeda. Sejumlah orang dari berbagai latar belakang berkumpul, bukan untuk menghadiri sebuah seremoni atau kegiatan perayaan, tetapi untuk bekerja bersama menurunkan genteng gereja. Gedung gereja yang telah berdiri sejak 1933 tersebut memang perlu segera mendapatkan peremajaan. Kondisi sejumlah material kayu dan genteng yang telah lapuk membuat bagian atap perlu diperbaiki demi keamanan dan kenyamanan jemaat.

Menariknya, pekerjaan tersebut dilakukan secara gotong royong oleh berbagai elemen masyarakat. Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Lawang, Kapolsek Lawang, Danramil, Lurah Kalirejo, Ansor, Banser, Lesbumi, Arela, Denpom Lawang, AMPI Kabupaten Malang, Denma Kostrad, Romo Peni dari Gereja Katolik Jago, serta Pdt. Ernawati dari GKA Immanuel. Mereka datang dengan identitas dan latar belakang yang berbeda. Namun di halaman gereja itu, semua melebur dalam satu pekerjaan: mengangkat, menurunkan, dan memindahkan genteng secara bersama-sama.

Ketua Majelis Jemaat GKJW Lawang, Pdt. Sevi Niasari, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran Muspika, tokoh lintas iman, warga gereja, serta berbagai organisasi masyarakat yang turut memberikan tenaga dan perhatian. “Kehadiran saudara-saudara adalah wujud kasih dan persaudaraan sebagai sesama manusia. Kita berbeda, tetapi kita adalah keluarga besar umat manusia di bumi Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Lawang Nur Soleh Hidayat menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata toleransi di tengah masyarakat. Menurutnya, toleransi bukan hanya tentang saling menghormati dari kejauhan. Lebih dari itu, toleransi diwujudkan dengan hadir ketika ada saudara yang membutuhkan, memberikan bantuan, dan bekerja bersama. Renovasi dilakukan agar gedung gereja dapat menjadi tempat ibadah yang lebih aman dan nyaman bagi jemaat. Camat Lawang juga berharap seluruh proses renovasi dapat berjalan lancar, aman, dan selamat hingga selesai.

Kegiatan diawali dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. Em. Soewignjo Soewondo. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Pdt. Sevi Niasari. Potongan tumpeng kemudian diserahkan kepada Ketua Panitia Renovasi, Chatur K.H. Arifianto, sebagai simbol dimulainya proses renovasi sekaligus karya bersama seluruh pihak yang terlibat. Bagi masyarakat Lawang, kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar pekerjaan renovasi sebuah bangunan. Hari itu, genteng memang diturunkan. Namun persaudaraan justru sedang ditegakkan. Rumah ibadah boleh berbeda. Cara berdoa dan tradisi keagamaan boleh tidak sama. Namun ketika sebuah komunitas membutuhkan bantuan, perbedaan tidak harus menjadi jarak.

Renovasi GKJW Lawang akhirnya menjadi sebuah cerita sederhana tentang Indonesia: berbeda dalam iman, bersaudara dalam kemanusiaan, dan bersama dalam gotong royong. Di Lawang, toleransi tidak hanya dibicarakan. Toleransi dikerjakan dengan tangan-tangan yang saling membantu.

Penulis: Daniel
Foto: Komisi Multimedia Jemaat Lawang

Renungan Harian

Renungan Harian Anak