Suwun, Ya, Srintil Kebaktian Kebun GKJW Jemaat Ampelgading MD Malang IV

17 September 2026

Kalimat itu mungkin terdengar aneh. Siapa yang berterima kasih kepada kotoran kambing? Tetapi kalimat tersebut sungguh-sungguh muncul dalam sebuah Kebaktian Kebun GKJW Jemaat Ampelgading MD Malang IV yang diadakan bersama warga petani di tengah kebun kopi pepanthan Kalirejo. Kebun itu berada di kaki Gunung Semeru.

Kebaktian berlangsung sekitar pukul 15.00–16.00. Sore itu kabut turun cukup tebal sehingga suasana kebun kopi terasa semakin sejuk dan hening. Kami memang sengaja beribadah di kebun. Bukan sekadar memindahkan tempat ibadah dari gedung gereja ke ruang terbuka, melainkan mengajak warga melihat kembali hubungan manusia dengan alam.

Selama ini, sadar atau tidak sadar, manusia sering menempatkan alam sebagai objek. Alam adalah sesuatu yang kita lihat, kita gunakan, kita olah, dan kita ambil manfaatnya. Tanah menjadi lahan pertanian. Pohon menjadi kayu atau penghasil buah. Kopi menjadi komoditas. Kaliandra menjadi pakan ternak. Cara pandang seperti itu membuat manusia seolah-olah berdiri di luar alam. Padahal manusia sendiri adalah bagian dari ciptaan. Manusia tidak ditempatkan sebagai satu-satunya pusat ciptaan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang saling terhubung.

Dalam perspektif ini, relasi manusia dengan alam tidak cukup hanya berbicara tentang bagaimana alam dimanfaatkan secara bijaksana. Relasi tersebut juga menyangkut bagaimana manusia menghargai, merawat, dan membangun persahabatan dengan sesama ciptaan. Karena itu, warga diajak melakukan sesuatu yang sederhana tetapi mungkin terasa tidak biasa: Bercakap-cakap dengan alam. Warga diajak memperhatikan daun kopi, biji kopi, tanah, tanaman kaliandra, dan berbagai unsur alam yang setiap hari berada dekat dengan kehidupan mereka.

Apa yang hendak dikatakan? Tidak harus sesuatu yang rumit. Mungkin sekadar, “Terima kasih.” Terima kasih kepada daun yang memberi kehidupan. Terima kasih kepada kopi yang menjadi sumber penghidupan. Terima kasih kepada kaliandra yang menjadi makanan ternak. Terima kasih kepada tanah yang memungkinkan tanaman tumbuh. Percakapan itu sebenarnya bukan terutama tentang apakah alam dapat menjawab dengan bahasa manusia. Yang sedang dibangun adalah perubahan cara pandang manusia terhadap alam. Kita tidak lagi melihat alam semata-mata sebagai benda yang berguna bagi manusia, tetapi sebagai bagian dari komunitas ciptaan Allah.

Di tengah percakapan itulah seorang petani menyampaikan sesuatu yang menarik. Ia mengucapkan terima kasih kepada srintil. Srintil adalah sebutan untuk kotoran kambing. Bagi kebanyakan orang, kotoran kambing mungkin bukan sesuatu yang ingin dibicarakan dalam ibadah, apalagi dijadikan objek ucapan syukur. Tetapi bagi petani, srintil mempunyai cerita yang berbeda.

Kotoran kambing dapat menjadi pupuk yang membantu menyuburkan tanah. Tanah yang subur membantu tanaman bertumbuh. Tanaman kemudian menghasilkan sesuatu yang menopang kehidupan keluarga. Maka ucapan “Suwun, ya, Srintil” sesungguhnya bukan sekadar kelucuan spontan. Di baliknya terdapat kesadaran ekologis yang sangat sederhana: tidak ada bagian dari ciptaan yang sepenuhnya tidak berguna dalam jaringan kehidupan.Sesuatu yang bagi kita dianggap kotor dan menjijikkan dapat menjadi bagian penting dari proses kehidupan.

Seorang warga yang lain juga mengucapkan terima kasih kepada daun kaliandra yang selama ini membantu mengenyangkan ternaknya; biji kecil kopi yang sudah menjadi berkat. Pengalaman-pengalaman sederhana seperti ini merupakan bentuk teologi lingkungan yang sangat membumi.

Berbicara tentang alam menempatkan kita sebagai pengamat. Berbicara dengan alam mengajak kita masuk ke dalam relasi. Ketika seorang petani berkata: “Suwun, ya, Srintil”, ia sedang melakukan sesuatu yang sederhana: ia sedang mengakui bahwa kehidupannya tidak berdiri sendiri. Ketika seseorang berkata, “Terima kasih, Kaliandra, karena telah mengenyangkan ternakku,” ia sedang menyadari bahwa seekor ternak pun memiliki hubungan dengan tanaman, tanah, manusia, dan akhirnya dengan kehidupan keluarganya. Di situlah spiritualitas ekologis menjadi konkret.

Entah, apakah setelah kebaktian kebun itu warga akan benar-benar mulai bercakap-cakap dengan tanaman mereka setiap hari. Mungkin tidak. Tetapi, ada harapan tentang sebuah perubahan: cara mereka memandang alam. Bahwa ketika melihat daun kaliandra, mereka tidak hanya melihat pakan ternak. Ketika melihat biji kopi, mereka tidak hanya melihat komoditas. Ketika melihat tanah, mereka tidak hanya melihat tempat bercocok tanam. Dan ketika melihat kotoran kambing, mereka mungkin akan tersenyum sambil mengingat: “Oh, ini srintil. Dia juga punya peran dalam kehidupan.”

Mungkin terdengar sederhana. Namun bisa jadi, pertobatan ekologis memang sering dimulai dari hal-hal sederhana: dari kemampuan untuk melihat kembali apa yang selama ini kita anggap biasa, kemudian menyadari bahwa di dalamnya ada kehidupan, ada keterhubungan, dan ada karya Allah. Jadi, kalau suatu hari kita berada di kebun dan melihat srintil, jangan buru-buru menutup hidung. Barangkali kita bisa belajar mengucapkan: “Terima kasih, Srintil.” Sebab, bahkan dari sesuatu yang kita anggap paling remeh, Allah dapat mengajarkan kepada kita bahwa seluruh ciptaan saling terhubung dalam satu rumah kehidupan.

Tulisan dan Foto: Pdt. Eko Susilowati

Renungan Harian

Renungan Harian Anak