Bertobatlah Sebelum Terlambat! Khotbah Minggu 27 September 2026

14 September 2026

Minggu Biasa | Penutupan Bulan Kitab Suci
Stola Hijau

Bacaan 1: Yehezkiel 18 : 1 – 4, 25 – 32
Mazmur: Mazmur 25 : 1 – 9
Bacaan 2: Filipi 2 : 1 – 13
Bacaan 3: Matius 21 : 23 – 32

Tema Liturgis: Alkitab Menuntun pada Pertobatan Ekologis
Tema Khotbah: Bertobatlah Sebelum Terlambat!

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yehezkiel 18 : 1 – 4, 25 – 32
Dalam naskah Ibrani, kitab Yehezkiel diletakkan pada susunan nabi-nabi besar sehingga masuk ke dalam kelompok nabi (Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel). Menurut sejarahnya pada tahun 597 SM, nabi Yehezkiel bersama dengan orang-orang Israel lainnya diangkut ke pembuangan di Babel. Dari tempat pembuangannya di Babel, Yehezkiel mengikuti dengan seksama perkembangan di tanah Yehuda. Pada tahun 593 SM dia terpanggil menjadi seorang nabi yang menubuatkan tentang jatuhnya kota Yerusalem karena ia sendiri mengetahui secara detail situasi perkembangan Yerusalem. Ia bernubuat di Babel, di tepi sungai Kebar (Yeh. 1:1).

Pada bagian Yehezkiel 18:1-4, 25-32 nabi Yehezkiel menyuarakan betapa pentingnya pertanggungjawaban pribadi (responsibility self). Hal ini dilatarbelakangi oleh orang-orang di tanah Yehuda yang menghadapi runtuhnya Yerusalem dan pembuangan ke Babel memiliki perasaan bahwa mereka dihukum bukan karena dosa yang mereka lakukan tetapi oleh karena dosa yang dilakukan oleh ayah-ayah mereka. Itu sebabnya muncul peribahasa sindiran, “ayah-ayah makan buah anggur mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu.” (Ay. 2). Artinya anak-anak menjadi korban dari dosa keturunan sebelumnya. Anak dihukum oleh karena dosa ayahnya. Di sini orang Yehuda menjadi korban perasaan putus asa dan fatalisme sehingga beranggapan bahwa dosa itu sebagai warisan yang dibebankan kepada mereka dan sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab mereka. Yehezkiel menentang pandangan atau pemikiran semacam ini (18:4). Perasaan putus asa dan fatalisme itu mematikan tanggung jawab pribadi maka harus ditolak dengan keras. Yehezkiel menekankan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan menanggung akibat dosanya sendiri, bukan dosa ayahnya maupun dosa orang lain. Di sisi lain Allah juga selalu menunjukkan kasih-Nya supaya orang mau melakukan pertobatan (18:30-32).

Filipi 2 : 1 – 13
Pada mulanya Filipi adalah sebuah kota kecil yang dahulu bernama Krenides, berasal dari bahasa Yunani “Krenes” yang berarti mata air atau sumur. Kata tersebut dipakai untuk menunjuk berbagai mata air yang ada di sekitar daerah itu. Kota ini terletak di pedalaman Yunani, pada Via Egnatia, jalan yang menghubungkan bagian Timur dan bagian Barat daerah Romawi. Pada tahun 356 SM sebuah kota yang bernama Krenides dikalahkan oleh Filipus, Raja Makedonia, ayah Aleksander Agung, lalu diberi nama Filipi. Di bawah pimpinan raja-raja berikutnya Filipi berkembang dengan pesat bahkan menjadi kota kosmopolitan. Konteks sosial kota Filipi ini pada akhirnya juga mempengaruhi kehidupan jemaat di Filipi. Warga jemaat Filipi berasal dari berbagai macam latar belakang sosial, budaya, suku, dan status ekonomi yang beraneka ragam. Hal ini bisa menjadi ancaman perpecahan dalam kehidupan berjemaat.

Oleh karena itu, dalam kitab Filipi 2:1-13 ini rasul Paulus menasihati Jemaat Filipi: pertama agar warga Jemaat Filipi hidup dalam kesatuan (hati, pikiran, kasih, jiwa, dan tujuan) tidak mencari kepentingan diri sendiri maupun pujian yang sia-sia (Ay. 1-4). Kedua, agar mereka belajar dari keteladanan Tuhan Yesus Kristus yang rendah hati dan taat sebagai seorang hamba yang rela berkorban disalibkan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Selain nasihat, rasul Paulus juga memberikan perintah kepada jemaat Filipi untuk taat dengan cara mengerjakan keselamatan. Keselamatan yang harus dikerjakan di sini bukan bekerja untuk mendapatkan keselamatan (work for) tetapi lebih tepatnya kerjakan keselamatan yang telah dimiliki sebelumnya (work out your salvation). Kerjakanlah itu dengan rasa takut dan gentar, mengandung arti hal ini dikerjakan dengan sikap menghormati yang tinggi. Mengerjakan bukan dengan rasa takut karena suatu ancaman atau hukuman, melainkan karena ada kesadaran, keseriusan, dan kesungguhan hati akibat dari sikap taat itu (Ay. 12-13).

Matius 21 : 23 – 32
Injil Matius 21:23-32 merupakan bentuk respons atau jawaban Yesus terhadap pertanyaan para imam kepala dan tua-tua Yahudi terkait kuasa yang dimiliki-Nya. Kata kuasa (Yunani: ἐξουσίᾳ; exousia) merujuk pada hak atau otoritas untuk melakukan sesuatu. Apa yang telah dilakukan oleh Yesus itu bagi pemahaman orang Yahudi memerlukan otoritas khusus. Di sini Yesus memilih untuk tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, namun Ia balik bertanya tentang baptisan Yohanes dan otoritas yang dimilikinya (Ay. 24). Pertanyaan Yesus ini secara eksplisit menunjukkan bahwa otoritas keduanya berasal dari Allah. Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi tidak berani mengakui otoritas Yohanes karena mereka takut kepada orang banyak dan memilih mengambil zona aman dengan mengatakan, “kami tidak tahu”, sehingga Yesus pun menolak menjawab mereka (Ay. 25-27).

Selanjutnya pada ayat 28-32, Yesus memberikan perumpamaan kepada Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi tentang seseorang yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Perumpamaan[1] ini sederhana namun jelas. Ayahnya memanggil anak laki-laki pertama dan memintanya untuk bekerja di kebun anggur. Ia berkata “tidak”, tetapi kemudian berubah pikiran dan akhirnya mau pergi bekerja. Kemudian ia juga memanggil anak laki-laki kedua dan berkata “ya”, tetapi tidak pergi bekerja. Dari sini jelas bahwa orang yang melakukan kehendak ayahnya adalah “yang pertama”. Mengetahui kehendak ayah tanpa melakukannya tidak ada gunanya. Dari sini sangat jelas bahwa yang penting bukan hanya pengetahuan, tetapi pertobatan dan melakukan kehendak Allah. Yesus berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, para pemungut cukai dan para pelacur akan masuk ke dalam Kerajaan Allah mendahului kamu”, karena mereka telah berubah pikiran (21:31-32). Pada prinsipnya Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting dalam Kerajaan Allah bukanlah kedudukan, pengetahuan, atau otoritas seseorang sekalipun itu berasal dari Allah melainkan perubahan pikiran, perbuatan, sikap, dan kesadaran mau melakukan kehendak Allah.

Benang Merah Tiga Bacaan
Setiap orang pasti pernah melakukan suatu kesalahan maupun dosa sehingga perlu melakukan pertobatan. Agar bisa melakukan pertobatan itu dibutuhkan kesadaran, keseriusan, kesungguhan, dan komitmen yang muncul dari dalam diri sendiri (Filipi 2:1-13). Oleh karena setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan menanggung akibat dosanya sendiri bukan dosa ayahnya maupun dosa orang lain. Di sisi lain Allah juga selalu menunjukkan kasih-Nya supaya orang mau melakukan pertobatan (Yehezkiel 18:1-4, 25-32). Hasil dari pertobatan itu terwujud secara nyata melalui perubahan pikiran serta kesadaran untuk terus berusaha melakukan kehendak Allah (Matius 21:23-32).

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Dalam Tata Kebaktian GKJW ada bagian pertobatan yang terdiri dari panggilan pertobatan, pengakuan dosa, berita anugerah, dan tanggapan berita anugerah. Secara teknis, untuk melakukan bagian pertobatan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang melakukan dengan cara berdoa, bernyanyi, membaca kutipan ayat Alkitab, litani atau bersahut-sahutan, saat teduh secara pribadi, dll. Tujuannya agar semua umat yang berbakti menyadari kesalahan atau dosa-dosa yang telah dilakukannya, secara jujur mau mengakui kesalahan dan dosanya serta benar-benar merasakan anugerah keselamatan dari Allah. Pertanyaan reflektifnya, “Apakah kita (pelayan) dan umat yang berbakti melakukan pertobatan itu dengan sungguh-sungguh? atau jangan-jangan hanya sekedar rutinitas ritual dalam kebaktian saja?”

Isi
Melakukan pertobatan dengan kesungguhan hati membutuhkan sebuah tahapan atau proses dalam kehidupan kita. Ketiga bacaan kita saat ini memberikan pengajaran berkaitan dengan proses yang harus kita lakukan untuk melakukan pertobatan secara sungguh-sungguh, yaitu:

  1. Memiliki Pengetahuan atau Pemahaman yang Benar
    Memiliki pengetahuan atau pemahaman yang benar tentang kesalahan atau dosa, pertobatan, dan anugerah keselamatan Allah adalah hal yang mendasar untuk melakukan pertobatan secara sungguh-sungguh. Dalam kitab Yehezkiel 18:1-4, 25-32, nabi Yehezkiel menyuarakan betapa pentingnya memiliki pengetahuan atau pemahaman yang benar tentang tanggung jawab pribadi (responsibility self). Hal ini dilatarbelakangi oleh orang-orang di tanah Yehuda yang menghadapi runtuhnya Yerusalem dan pembuangan ke Babel memiliki perasaan bahwa mereka dihukum bukan karena dosa yang mereka lakukan tetapi oleh karena dosa yang dilakukan oleh ayah-ayah mereka. Itu sebabnya muncul peribahasa sindiran, “ayah-ayah makan buah anggur mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu.” (Ay. 2). Artinya anak-anak menjadi korban dari dosa keturunan sebelumnya. Anak dihukum oleh karena dosa ayahnya. Di sini orang Yehuda menjadi korban perasaan putus asa dan fatalisme[2] sehingga beranggapan bahwa dosa itu sebagai warisan yang dibebankan kepada mereka dan sebenarnya bukan menjadi tanggung jawab mereka. Yehezkiel menentang pandangan atau pemikiran semacam ini (18:4). Perasaan putus asa dan fatalisme itu mematikan tanggung jawab pribadi maka harus ditolak dengan keras. Yehezkiel menekankan pemahaman bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan menanggung akibat dosanya sendiri, bukan dosa ayahnya maupun dosa orang lain. Allah selalu menunjukkan kasih-Nya supaya setiap orang mau melakukan pertobatan (18:30-32).
  2. Memiliki Kesadaran Diri (self-awareness)
    Setelah memiliki pengetahuan atau pemahaman yang benar, untuk melakukan pertobatan yang sungguh-sungguh setiap orang harus memiliki kesadaran diri (self-awareness). Pertama, menyadari siapa sebenarnya diri kita. Kita hidup di dunia ini tidaklah sendiri tetapi berelasi dan berdampingan dengan orang lain. Oleh karena itu, semestinya kita hidup dalam kesatuan (hati, pikiran, kasih, jiwa, dan tujuan) tidak mencari kepentingan diri sendiri maupun pujian yang sia-sia (Filipi 2:1-4). Kedua, belajar dari keteladanan Tuhan Yesus Kristus yang rendah hati dan taat sebagai seorang hamba yang rela berkorban disalibkan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ketiga, menjadi pribadi yang taat mengerjakan karya keselamatan yang telah dianugerahan Allah. Keselamatan yang harus dikerjakan di sini bukan bekerja untuk mendapatkan keselamatan (work for) tetapi lebih tepatnya kerjakan keselamatan yang telah dimiliki sebelumnya (work out your salvation). Kerjakanlah itu dengan rasa takut dan gentar, yang mengandung arti hal ini dikerjakan dengan sikap menghormati yang tinggi. Mengerjakan bukan dengan rasa takut karena suatu ancaman atau hukuman, melainkan karena ada kesadaran, keseriusan, dan kesungguhan hati akibat dari sikap taat itu (Ay. 12-13).
  3. Adanya Perubahan Nyata dalam Laku Hidup Kita
    Perubahan secara nyata dalam kehidupan kita merupakan bukti pertobatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana perumpamaan Tuhan Yesus yang diberikan kepada Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi tentang seseorang yang mempunyai dua orang anak laki-laki (Mat. 21: 28-32). Perumpamaan ini sangat sederhana namun jelas. Seorang ayah memanggil anak laki-laki pertama dan memintanya untuk bekerja di kebun anggur. Ia berkata “tidak”, tetapi kemudian berubah pikiran dan akhirnya mau pergi bekerja. Kemudian ia juga memanggil anak laki-laki kedua dan berkata “ya”, tetapi ia tidak pergi bekerja. Dari sini jelas bahwa orang yang melakukan kehendak ayahnya adalah “yang pertama.” Mengetahui kehendak ayah tanpa melakukannya tidak ada gunanya. Dari sini sangat jelas bahwa yang penting bukan hanya pengetahuan, tetapi pertobatan dan melakukan kehendak Allah. Yesus berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, para pemungut cukai dan para pelacur akan masuk ke dalam Kerajaan Allah mendahului kamu,” karena mereka telah berubah pikiran (21:31-32). Secara tegas Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting dalam Kerajaan Allah bukanlah kedudukan, jabatan, pengetahuan, atau otoritas seseorang sekalipun itu berasal dari Allah melainkan perubahan pikiran, perbuatan, sikap dan kesadaran mau melakukan kehendak Allah.

Penutup
Hari minggu ini kita bersama-sama menutup serangkaian kegiatan dalam penghayatan bulan kitab suci. Akan tetapi, panggilan untuk melakukan pertobatan dengan sungguh-sungguh tidak berhenti sampai di sini saja. Melalui kesaksian Kitab Suci Allah terus menuntun hidup kita untuk melakukan karya dan kehendak-Nya. Allah memanggil kita untuk bertobat bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk alam semesta. Di tengah konteks kerusakan alam semesta ini kita memiliki panggilan melakukan pertobatan ekologis[3] dengan cara membangun hubungan yang baik dengan alam semesta sebagai persekutuan universal. Hal ini secara konkret dilakukan dengan cara mengurangi sampah (membawa botol air minum sendiri, menghindari penggunaan plastik sekali pakai, dan memilah sampah), hemat energi dan sumber daya (mematikan pengisi daya yang tidak dipakai, efisiensi penggunaan air, dan menggunakan kembali barang bekas yang masih bisa dipakai) dan aksi lingkungan dengan cara menanam pohon dll. Bertobatlah, sebelum terlambat! Amin. [G-Mbul].

 

Pujian: PKJ. 37  Bila Kurenung Dosaku

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing salebeting Tata Pangabekti GKJW wonten perangan pamratobat ingkang madeg saking timbalan mratobat, pengakenig dosa, pawartos sih rahmat, lan nanggapi pawartos sih rahmat. Perangan ingkang sampun kasebataken kalawau katindakaken kanthi maneka warni cara. Wonten ingkang nindakaken kanthi ndedonga, ngidung, maos sawetawis perangan ayat kitab suci, litani, wekdal ening piyambak-piyambak, lsp. Tujuanipun supados sadaya umat ingkang sami ngabekti ngrumaosi kalepatan utawi dosa-dosa ingkang sampun dipun tindakaken, kanthi jujur purun ngakeni kalepatan lan dosanipun saha saestu ngraosaken kanugrahan kawilujengan saking Gusti Allah. Ingkang dados pitakenanipun: “Punapa kita minangka pelados lan pasamuwan ingkang ngabekti nindakaken pamratobat punika kanthi temen lan saestu? utawi Punapa namung saderma ritual pakulinan ing salebeting pangabekti?”

Isi
Nindhakaken pamratobat kanthi temen lan saestu mbetahaken setunggaling perangan utawi “proses” ing salebeting gesang kita. Tiga waosan kita punika paring piwucal sesambetan perangan “proses” ingkang kedah kita lampahi kangge nindakaken pamratobat ingkang saestu, inggih punika:

  1. Kagungan Kawruh lan Pangertosan ingkang Leres
    Kagungan kawruh utawi pangertosan ingkang leres bab kalepatan utawi dosa, pamratobat, lan kanugrahan kawilujengan saking Gusti Allah dados dasar kangge nindakaken pamratobat ingkang saestu. Wonten ing waosan kitab Yehezkiel 18:1-4, 25-32, nabi Yehezkiel maringi piwucal wigatosipun nggadhahi kawruh utawi pangertosan ingkang leres babagan tanggel jawab pribadi (responsibility self). Bab punika adhedasar saking tiyang-tiyang wonten Yehuda ingkang ngadhepi luguripun Yerusalem lan pambuangan wonten Babel ngraosaken menawi piyambakipun nampi paukuman sanes amargi dosa ingkang katindakaken piyambak ananging saking dosa ingkang dipun tindakaken dening tiyang sepuhipun. Pramila wonten paribasan, ”para bapa padha mangan woh mentah lan untune anak-anake padha dadi linu.” (Ay. 2). Tegesipun anak-anak dados korban tumindhak dosa saking tedhak turun tiyang sepuhipun. Anak-anak nampi paukuman karana dosa ramanipun. Wusana tiyang Yehuda sami semplah manahipun lan “fatalisme” mila nggadahi pemanggih bilih dosa punika minangka warisan ingkang dipun sanggi lan sejatosipun sanes tanggel jawabipun. Pangraosan semplah ing manah lan fatalisme punika nglirwakaken tanggel jawab pribadi. Yehezkiel negesaken pangertosan menawi saben tiyang nggadhahi tanggel jawab tumrap dhirinipun piyambak lan nanggung dosanipun piyambak, sanes dosa ramanipun utawi dosa tiyang sanes. Kejawi punika Yehezkiel mratelakaken bilih Gusti Allah tansah nedahaken sih katresnanipun supados saben tiyang purun mratobat (18:30-32).
  2. Sadar Dhiri (Self-awareness)
    Sasampunipun kagungan kawruh utawi pangertosan ingkang leres, kangge nindakaken pamratobat ingkang saestu, saben tiyang kedah sadar dhiri (self-awareness). Ngrumaosi sinten sejatosipun dhiri kita. Kita gesang wonten donya punika mboten piyambak nanging sesambetan kaliyan tiyang sanes. Pramila, ingkang kita tindhakaken: sepisan nglampahi gesang punika ing salebeting tetunggalan (manah, pikiran, katresnan, jiwa, lan tujuan) mboten ngupadi kawigatosan dhiri piyambak utawi panggalembana ingkang tanpa guna (Filipi 2:1-4). Kaping kalih, nuladha Gusti Yesus Kristus ingkang andhap asor ing manah lan setya tuhu dados setunggaling abdi ingkang lila legawa ngurbanaken Sarira, kasalib kangge milujengaken manungsa saking panguwaos dosa. Kaping tiga, dados tiyang ingkang setya tuhu nindakaken pakaryan kawilujengan ingkang sampun kaparingaken dening Gusti Allah. Pakaryan ingkang kedah dipun tindakaken wonten ngriki sanes ngupadi supados pikantuk kawilujengan (work for) ananging nindakaken pakaryan ingkang sampun dipun tampi saderengipun (work out your salvation). Nindakaken punika kanthi raos ajrih asih saha ngurmati ingkang inggil. Nindakaken sanes kaliyan raos ajrih amargi setunggaling “ancaman” utawi paukuman, nanging amargi sadar dhiri, temen lan saestu ing manah karana kasetyan punika (Ay. 12-13).
  3. Wontenipun Ewah-ewahan ingkang Nyata ing Salebeting Gesang
    Ewah-ewahan ingkang nyata wonten ing gesang kita dados bukti pamratobat ingkang katindhakaken kanthi saestu. Kados dene piwucalipun Gusti Yesus lantaran pasemon ingkang kaparingaken dhumateng pangareping imam lan pinituwaning bangsa Yahudi prekawis salah setunggaling tiyang ingkang kagungan putra kalih jaler sadaya (Mat. 21:28-32). Pasemon punika prasaja sanget lan gampil dipun mangertos. Satunggaling bapa nimbali putranipun jaler ingkang pambarep lan paring dhawuh supados nyambut damel wonten ing kebon anggur. Piyambakipun mangsuli “inggih” utawi sumadya nanging kasunyatanipun mboten tumindhak. Selajengipun, nimbali putranipun ingkang kaping kalih dipun dhawuhi sami kaliyan ingkang pembarep. Wiwitanipun mangsuli “mboten purun.” Karana rumaos keduwung manahipun lajeng tindhak nyambut damel. Saking ngriki kantenan menawi tiyang ingkang nindakaken dhawuhipun bapanipun inggih punika anak ingkang kaping kalih. Mangertos pikajengipun bapa tanpa nglampahi mboten wonten ginanipun. Mila cetha sanget menawi ingkang wigatos mboten namung kawruh, ananging pamratobat lan nindhakaken karsanipun Gusti Allah. Gusti Yesus paring dhawuh, “Satemene pituturKu marang kowe: para juru-mupu-beya lan para wanita tuna-susila bakal ndhisiki kowe lumebu ing Kratoning Allah” amargi piyambakipun keduwung lan pracaya (21:31-32). Saking ngriki cetha sanget bilih ingkang wigatos wonten ing salebeting Kratoning Allah sanes kalenggahan, jabatan, kawruh, utawi panguwaos senadyan punika saking Gusti Allah piyambak ananging wontenipun ewah-ewahaning penggalih, tumindhak, sikep lan kanthi sadar purun ngestokaken dhawuhipun Gusti Allah.

Panutup
Dinten minggu punika kita sesarengan mungkasi maneka warni “kegiatan” ing salebeting “penghayatan” wulan kitab suci. Ananging, timbalan kangge nindhakaken pamratobat kanthi saestu mboten kendel dumugi wonten ing ngriki kemawon. Lantaran paseksinipun kitab suci Gusti Allah tansah nyarirani gesang kita kangge nindakaken karsan-Ipun. Gusti Allah nimbali kita kangge mratobat, mboten namung kangge gesang kita piyambak nanging ugi kagem jagad raya. Ing salebeting kawontenan risakipun jagad punika, kita nggadhahi tanggel jawab timbalan nindakaken pamratobat “ekologis” kanthi cara mbangun sesambetan ingkang sae kaliyan sesami lan jagad raya. Punika dipun tindhakaken kanthi cara ngirangi sampah (ngasta botol toya piyambak kangge ngunjuk, ngirangi ngginakaken plastik, lan milah sampah), hemat energi lan sumber daya (mejahi sumber daya ingkang mboten dipun ginakaken, ngirid damel toya, lan ngagem malih barang bekas ingkang taksih saged dipun ginakaken) lan aksi lingkungan kanthi cara nanem wit, sayuran, woh-wohan, lsp. Mratobata, mumpung isih ana wektu! Amin. [G-mbul].

 

Pamuji: KPJ. 61  Saestu Keduwung

_______________

[1] Dalam perumpamaan ini ada perbedaan posisi anak yang melakukan kehendak bapanya. Dalam alkitab TB2 yang melakukan kehendak bapa adalah anak yang pertama. Sedangkan dalam alkitab TB1 dan Terjemahan Bahasa Jawa yang melakukan kehendak bapa adalah anak yang kedua. Secara doktrinal tidak ada perbedaan. Hanya posisi “si anak sulung” dan “anak yang kedua” yang berbeda. J.R. Michaels, menulis dalam bukunya “The Parable of the Regretful Son,” HTR 61 (1968): halaman 15-26. Mengatakan bahwa “urutan tidak mempengaruhi arti perumpamaan ini sama sekali, nilai pegajarannya sama”. Agar semakin jelas bisa membaca artikel ini.

[2] Fatalisme adalah pandangan filosofis yang meyakini bahwa segala peristiwa dalam hidup telah ditentukan sebelumnya oleh takdir atau nasib, sehingga manusia tidak berdaya mengubahnya. Paham ini menekankan kepasrahan total dan kurangnya inisiatif untuk berusaha, karena hasil akhir dianggap sudah digariskan.

[3] Pertobatan ekologis adalah perubahan mendalam dalam cara pandang dan perilaku manusia dari eksploitatif menjadi peduli terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan dan rumah bersama. Ini merupakan komitmen hidup selaras dengan lingkungan, menuntut aksi nyata seperti mengurangi sampah, hidup hemat, dan merawat bumi demi generasi mendatang.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak