Jejak Iman Bagi Bumi Yang Dijanjikan Pancaran Air Hidup 16 September 2026

16 September 2026

Bacaan: Kejadian 50 : 22 – 26  |  Pujian: KJ. 457
Nats: “Lalu Yusuf menyuruh anak-anak Israel bersumpah, katanya: ‘Allah pasti akan memperhatikan kamu. Pada waktu itu, kamu harus membawa tulang belulangku dari sini.” (Ayat 25)

Manusia seringkali hidup hanya untuk hari ini. Kita bekerja, menikmati hasil bumi, memakai sumber daya alam, lalu melangkah tanpa memikirkan jejak yang kita tinggalkan bagi generasi sesudah kita. Alam diperas, hutan ditebang, air dicemari, seolah-olah bumi tidak memiliki batas. Padahal, Alkitab sejak awal mengingatkan kita bahwa hidup manusia selalu terikat dengan tanggung jawab terhadap ciptaan Allah.

Bacaan hari ini mengisahkan akhir hidup Yusuf di tanah Mesir. Ia hidup panjang umur, melihat keturunan Efraim sampai generasi ketiga. Menjelang kematiannya, Yusuf tidak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi tentang masa depan umat Allah. Ia berkata dengan iman bahwa Allah pasti akan memperhatikan Israel dan membawa mereka kembali ke tanah yang dijanjikan. Karena itu, Yusuf meminta agar tulang-tulangnya kelak dibawa keluar dari Mesir. Permintaan Yusuf tampak sederhana, namun sarat makna iman. Ia percaya pada janji Allah, sekaligus menunjukkan ikatan yang dalam dengan tanah perjanjian. Tanah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang kehidupan yang dikaruniakan Allah dan harus dijaga.

Sikap Yusuf menuntun kita pada pertobatan ekologis: menyadari bahwa bumi bukan milik kita sepenuhnya, tetapi titipan Allah bagi keberlangsungan hidup bersama. Alkitab menuntun kita untuk bertobat secara ekologis dengan mengubah cara pandang dan cara hidup kita. Pertobatan ekologis berarti kita berhenti bersikap serakah terhadap alam, mulai hidup lebih sederhana, dan bertanggung jawab atas apa yang kita pakai dan buang. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat kita wujudkan dengan menghemat air dan listrik, mengurangi sampah plastik, menanam dan merawat tanaman di lingkungan sekitar kita, serta mendidik diri dan keluarga untuk menghargai ciptaan Tuhan. Seperti Yusuf yang meninggalkan jejak iman bagi generasi selanjutnya, marilah kita juga meninggalkan jejak kasih bagi bumi. Dengan dituntun oleh Firman Tuhan, mari kita bertobat, memperbaiki relasi kita dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan-Nya. Amin. [YNW].

“Iman yang sejati bukan hanya menatap surga, tetapi juga merawat bumi sebagai anugerah Allah.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak