Damai Kita Jaga, Dunia Ceria Tuntunan Ibadah Anak 20 September 2026

7 September 2026

Tahun Liturgi: Hari Perdamaian Internasional
Judul: Damai Kita Jaga, Dunia Ceria
Tema: Menjaga Perdamaian Adalah Buah Dalam Pelayanan

Bacaan Alkitab: Filipi 1 : 21-30
Ayat Hafalan: Filipi 1 : 22a

Lagu Tema:

  1. Kidung Siwi 128 “Terang Dunia”
  2. Havenu Shalom Alechem / Bagimu Damai Sejahtera

Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Perjalanan hidup dan pelayanan Paulus sungguh berliku, penuh duka dan suka, luka dan sukacita. Namun di atas semua itu Paulus menghayati bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang berbuah di dalam Kristus. Surat yang kita baca ini ditulis Paulus dari dalam penjara, namun pesannya tetap positif, kuat dan penuh dengan makna.

Paulus meyakini di dalam Kristus, hidup ini anugerah. Ia pernah menjalani hidup dengan keliru ketika menjadi orang yang jahat sampai membenci pengikut Kristus. Namun kasih Tuhan telah menemukannya dan membawanya pada hidup yang baru. Karena itu Paulus berpesan kepada jemaat Kristen di Filipi, selagi masih diberi kesempatan untuk hidup, hiduplah dalam anugerah itu. Cara hidup yang demikian sungguh dihayati oleh Paulus. Baginya hidup dan dirinya itu adalah anugerah Kristus, milik Kristus dan untuk Kristus sajalah dia mengabdikan hidup dan dirinya (Ayat 21).

Hidup dalam anugerah Tuhan adalah hidup yang berdampak, memberi buah yang nyata, salah satunya tentu menjaga perdamaian. Bahkan jika harus berkorban, demi terwujudnya kedamaian itu, Paulus melakukannya sehingga demi anugerah itu bisa dirasakan oleh orang lain. Dia juga rela menderita di penjara demi itu. Dari sana kita melihat bahwa yang ditakutkan Paulus itu bukan kematian karena baginya sudah jelas dan meyakinkan bahwa kematian akan membawanya bertemu Kristus. Yang ditakutkan Paulus bukan mati tapi hidup. Dia takut seandainya ia hidup lupa caranya berbuah, lupa caranya menjaga anugerah, lupa caranya menjadi anak Allah. Melalui ayat ini kita diajak bertumbuh dan berbuah dalam pelayanan dan kehidupan dengan menjaga perdamaian, karena itulah cara kita hidup berpadanan dengan Injil Kristus.

Refleksi Untuk Pamong
Kesediaan memenuhi panggilan sebagai pamong adalah ungkapan syukur atas anugerah Tuhan dalam hidup dan cara kita memberi buah dalam kehidupan maka, seiring dengan itu kita perlu terus belajar untuk menjaga anugerah itu dengan menjaga dan mewujudkan perdamaian dalam kehidupan melalui keteladanan.


TUNTUNAN IBADAH ANAK BALITA

Tujuan:
Sambil mendengarkan cerita, anak dapat mengikuti ucapan “Aku mau jadi pembawa damai” sebagai wujud keinginan melayani Tuhan dengan ceria

Alat Peraga
Alat peraga dan aktivitas dapat diunduh di sini
Video youtube tentang hewan yang menolong hewan yang lain

Pendahuluan
Anak-anak yang baik, siapakah yang pernah bertengkar? Siapa yang suka berteman? Menurut kalian, Tuhan senang anak yang suka bertengkar atau berteman? Ya, betul. Tuhan senang anak yang berteman dan baik dengan siapapun. Anak yang baik dan berteman serta mau menolong anak lain itu namanya anak pembawa damai. Ya anak pembawa damai. Siapa yang mau menjadi pembawa damai? Semua anak-anak di sini mau? Yuk, kita ucapkan bersama “Aku mau jadi pembawa damai”

Sekarang, mari kita lihat video yang menceritakan sikap baik dan membawa damai. Kita belajar dari binatang-binatang pembawa damai. Setelah selesai, tanyakan kepada anak-anak : di antara semua binatang tadi mana binatang yang menarik perhatianmu? Pilih 3 jenis binatang yang akan menjadi tokoh dalam dongeng yang akan diceritakan oleh pamong. Misal : Namanya Ciko Anjing/rusa, Momo kura-kura/gajah, dan Mimi Burung kecil/kucing.

Inti Penyampaian
Di sebuah kebun binatang mini, ada tiga sahabat kecil yang sering bermain bersama setiap sore yaitu Ciko, Momo, dan Mimi. Pada suatu hari, mereka bertiga sedang bermain bola warna-warni.

“yeee… hore..! aku dapat bolanya. Ayo.. gantian kamu bersiap ya Momo..!” kata Ciko sambil tertawa bahagia.

“baiklah. Aku sudah siap Ciko. Buruan.. Tendang keras ke sini.” teriak Momo.

“Oke, siaaap ya… aku punya tendangan hebat” teriak Ciko bersiap menendang bola.

“Hati-hat…!” Belum selesai Momo teriak, tiba-tiba.. Bruukk!

Bola yang ditendang Ciko menyerempet mainan menara balok yang baru dibuat oleh Mimi.
Melihat menara baloknya roboh, Mimi menatap sedih
“Ya… roboh deh. Balokku jadi rusak” Mimi berucap lirih.

Ciko dan Momo saling menatap, lalu Momo berkata, “Itu salah Ciko. Ciko tidak hati-hati.!” Wajah Ciko langsung cemberut, lalu berkata lebih keras ““Bukan! Itu bukan salahku! Tadi Momo yang menyuruhku menendang keras. Ya kan?!”

“Memang, tapi kan aku bilang hati-hati! Kamu nggak asyik, aku gak mau bermain lagi sama kamu” balas Momo. Mereka berdua saling menyalahkan di hadapan Mimi.

Melihat keduanya bertengkar, apa yang dilakukan Mimi? (tanyakan kepada ank-anak kira-kira jawabannya apa). Mimi berkata pelan kepada kedua temannya,

“Sudah-sudah, Teman-teman… jangan marah dan bertengkar ya.”

“Tapi ini salah Ciko!” kata Momo.

“Bukan aku. Aku nggak salah!” jawab Ciko.

Mimi menggeleng pelan lalu berkata, “Aku mau jadi pembawa damai.” (ajak anak-anak untuk menirukan). “Aku mau jadi pembawa damai” Ciko dan Momo berhenti berbicara.  “apa maksudnya Aku mau jadi Pembawa damai?” tanya Momo.
Mimi tersenyum dan memegang pundak kedua temannya

“Aku mau jadi Pembawa damai itu maksudnya jadi anak yang membuat teman yang bertengkar kembali rukun.”

Lalu Mimi berkata lagi, “jadi, yuk kita bisa membangun balok bersama lagi. Gak papa roboh, aku tahu kalian tidak sengaja. Lain kali hati-hati ya.. ”

Ciko menunduk dan mengulurkan tangan “Maaf ya, Mimi.” Kemudian disusul oleh Momo yang juga berkata, “Aku juga minta maaf ya Mi… aku tadi marah.”

Mimi tersenyum senang. “Tidak apa-apa. Yuk kita bermain bersama lagi!”

Mereka bertiga membangun menara balok yang lebih besar dari sebelumnya.

“Wah bagus ya!” kata Ciko.

“Seru ya kalau tidak bertengkar!” kata Momo sambil tertawa.

Mimi tersenyum kepada kedua temannya dan berkata, “Aku senang kita saling mengasihi.”

Kita harus jadi anak-anak yang membawa damai. Jadi, yuk kita ucapkan bersama “Aku mau jadi pembawa damai” (ajak anak-anak mengucapkan bersama).
Anak-anak yang baik, Tuhan senang pada anak-anak yang membawa damai. Jadi, kapanpun dan dimanapun kalian, jadilah anak-anak pembawa damai seperti Mimi ya.

Aktivitas
Anak-anak menerima gelang dan mengenakannya di pergelangan tangan lalu menyanyi bersama, Havenu Shalom Alechem / Bagimu Damai Sejahtera.

Catatan : Minggu depan, anak-anak diminta membawa makanan ringan untuk dimakan bersama.


TUNTUNAN IBADAH ANAK PRATAMA

Tujuan:
Melalui simulasi cerita, Anak dapat menanggapi situasi konflik dengan memilih tindakan melerai (mendamaikan) daripada ikut bertengkar dengan tulus.

Alat Peraga
Kartu simulasi
Alat peraga dan aktivitas dapat diunduh di sini.

Pendahuluan
Anak-anak yang baik, siapa yang suka bertengkar? Apakah kalian pernah punya teman yang suka bertengkar atau mengajak bertengkar? Jika kalian boleh memilih, mana yang lebih baik : berdamai atau bertengkar?

Inti Penyampaian
Pada Hari Perdamaian Internasional ini, kita diajak untuk menjaga perdamaian di manapun kita tinggal, karena itu wujud buah dalam pelayanan. Paulus mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah anugerah Tuhan, maka harus disambut dengan syukur melalui kesediaan kita untuk berbuah sekalipun harus berkorban. Paulus memberikan teladan yang baik bahwa yang perlu ditakuti bukan kematian namun kehidupan yang tidak berbuah. Paulus ini bukan kuatir mati, tapi kuatir kalau hidupnya tidak melakukan apa yang baik dan damai. Tidak menjaga hidup yang damai itu sama dengan hidup menjauh dari Injil.

Diberi hidup adalah anugerah. Memiliki teman juga anugerah. Pertanyaannya, bagaimana anugerah ini kita jaga? Sudahkah kita hidup damai, sementara kita ada di lingkungan yang sulit berdamai, suka bertengkar, mencari masalah dan mudah bermusuhan? Bagaimana seharusnya anak-anak Tuhan bersikap? Mari belajar melalui cerita berikut :

  1. Pamong membawa 3 kartu simulasi dan minta anak-anak memilih salah satu untuk didiskusikan terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan kartu ke-2 dan ke-3.
  2. Minta salah seorang anak membacakannya, kemudian pamong mengulangi dan memoderatori tanggapan anak-anak.
  3. Pamong bisa mengembangkan pertanyaan lanjutan sebagai pendalaman yang dapat menuntun anak-anak pada jawaban yang sesuai dengan bacaan hari ini.

Melalui simulasi yang kita lakukan ini, nampak bahwa anak-anak semua ini telah berusaha belajar mencontoh hidup Paulus. Hidup yang berbuah kedamaian. Mari hidup berbuahkan kebaikan dengan menjaga perdamaian di manapun kita berada.

Penerapan
Ketidakdamaian dimulai dari pertengkaran kecil yang dibiarkan, sampai akhirnya menjadi besar. Karena itulah Perdamaian dunia dimulai juga dapat dimulai dari hal-hal kecil. Dimulai dari anak-anak yang selalu berusaha membawa damai ketika bermain, di rumah, di sekolah, di gereja dan dimana saja.

Aktivitas
Anak-anak menerima kartu komitmen untuk ditulisi minimal 1 sikap mereka untuk menjadi pembawa damai. Bisa juga terinspirasi dari hasil simulasi. Kartu dapat dibawa pulang dan ditempel di rumah.


TUNTUNAN IBADAH ANAK MADYA

Tujuan:
Melalui metode bermain peran (role play), Anak dapat memperagakan cara menjadi penengah saat ada dua orang teman yang sedang berselisih secara runtut.

Alat Peraga
Alat peraga dan aktivitas dapat diunduh di sini.
Bola atau boneka atau mainan lain yang bisa dipakai untuk bermain peran (role play)

Pendahuluan
Selamat pagi anak-anak, bagaimana perasaanmu hari ini? Siapa yang hari ini bahagia? Yang sedih atau kecewa? Pamong dapat sharing bersama anak-anak apa yang membuat mereka bahagia, sedih atau kecewa.

Jika semua orang hidup damai, pasti membuat bahagia. Namun, seringkali kita ini bertemu dengan situasi yang menyedihkan ketika melihat orang lain bertengkar dan apa yang mereka lakukan tidak seperti yang kita inginkan. Nah, hari ini kita akan belajar dengan bermain peran bersama.

Inti Penyampaian
(Pemain : Dani, Doni, Demi (untuk Bola ) dan Sari, Sherly dan Sinta (untuk Boneka )

Dani dan Doni sedang bermain bola dengan seru. Namun, tidak lama kemudian keduanya bertengkar karena berebut bola.

Dani :  “Don.. sudah Don.. Itu kan bolaku! Kok kamu main sendiri terus!”

Doni : “Kenapa harus teriak-teriak sih Dan. Aku kan cuma pinjam sebentar! Kamu juga tadi tidak mau gantian!”

Dani : “ Lha kamu sih, main seenaknya saja. Sini bolaku..!

Doni : “Sabar dikit dong Don.. aku kan sudah bilang kalau pinjam. Aku mau belajar menggiring bola..!”

Keduanya mulai saling marah dan saling berteriak dengan keras, lalu datanglah Demi menghampiri mereka berdua.

Demi :  “hai..hai.. Teman-teman, tenang-tenang.. jangan bertengkar dulu dong. Tenang ya.. Yuk, kita bicara baik-baik.”

Dani dan Doni masih kesal dan wajah mereka cemberut.

Demi : “biar tenang.. coba atur nafas pelan. Tenang.. tarik nafas, keluarkan. Nah.. kalau sudah tenang sekarang ngomong satu-satu ya. Dani  dulu, kenapa kamu marah Dan?”

Dani : “hmm… Aku sebel.. aku kesal karena Doni tidak mau mengembalikan bolaku.”

Demi : “oke.. jadi, kamu kesal karena menurutmu Doni tidak mau mengembalikan bolamu ya? Baik, sekarang Doni. Bagaimana Don?”

Doni : “Bukan.. bukan begitu. Bukan aku tak mau mengembalikan bolanya Dani. Aku sebenarnya mau mengembalikan, tapi aku masih ingin bermain sebentar. Sebentar saja, soalnya aku kan nggak punya bola”

Demi :  “Oh… jadi sebenarnya kalian masih ingin sama-sama bermain, ya?”

Keduanya mulai mengangguk dan mulai tenang.

Demi : “Oke. Bagaimana kalau bermainnya bergantian? Dengan kesepakatan dan di timer. Misalnya, 10 menitan. Jadi yang satu main bola yang lain menunggu sampai timer berbunyi. Jadi tidak ada yang sedih dan marah jika bolanya masih dipakai bermain yang lain”

Dani : “Hmm… boleh. Aku setuju”

Doni : “Oke, aku juga setuju kok.”

Demi: “Nah, begitu kan lebih damai. Enak dilihat, jadi rukun dan bahagia. Masalah apapun itu akan lebih enak kalau dibicarakan baik-baik daripada bertengkar, kan? Iya nggak sih”

Dani dan Doni :“hehe… iya Dem. Makasih ya.. sudah membantu kami!”

(Mereka saling toos…)

Demi : “gitu dong.. kita kan harus jadi anak pembawa damai. Ayo, kita bermain bersama dengan damai!”

Inti Penyampaian
Anak-anak yang hebat.. apa yang dilakukan oleh Demi atau Sinta dalam cerita ini menunjukkan caranya menjadi anak-anak Tuhan yang berbuah. Ya, berbuah kedamaian. Mereka tidak larut dan ikut-ikutan terbawa suasana yang sedang memanas atau tegang, tapi mau mendengar perasaan orang lain dan berusaha mencari solusi dan mendamaikan. Hidup Demi atau Sinta ini hidup yang berbuah.

Dalam bacaan kita, Rasul Paulus mengingatkan bahwa hidup ini anugerah. Selagi masih diberi kesempatan untuk hidup, mari hidup dalam anugerah itu. Paulus telah mencontohkan. Baginya hidup dan dirinya itu adalah anugerah Kristus, milik Kristus dan untuk Kristus sajalah dia mengabdikan hidup dan dirinya. Menjaga perdamaian sekalipun harus berkorban itu bentuk hidup yang memberi buah. Paulus lebih takut jika hidupnya tidak berbuah daripada harus mati.

Penerapan
Ketidakdamaian dimulai dari pertengkaran kecil yang dibiarkan, sampai akhirnya menjadi besar. Karena itulah Perdamaian dunia dimulai juga dapat dimulai dari hal-hal kecil. Dimulai dari anak-anak yang selalu berusaha membawa damai ketika bermain, di rumah, di sekolah, di gereja dan dimana saja. Jadi, mari belajar seperti Demi / Sinta ya..

Aktivitas
Anak-anak menerima kartu komitmen untuk ditulisi minimal 1 sikap mereka untuk menjadi pembawa damai. Bisa juga terinspirasi dari hasil simulasi. Kartu dapat dibawa pulang dan ditempel di rumah.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak