Sahabat Jiwa Sekolah Pamong Pendamping Pemuda

7 September 2026

IPTh. Balewiyata Greja Kristen Jawi Wetan menyelenggarakan kegiatan pembinaan bertajuk “Sekolah Pamong Pendamping Pemuda: Sahabat Jiwa” yang berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 4-6 September 2026. Acara yang dipusatkan di Pendapa Atas atau Ruang Wismoady Wahono ini dipimpin oleh Pdt. Dikky Agung Triatmodjo, M.Th. yang bertindak sebagai Kepala Sekolah Program. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali para peserta agar mampu menjadi pendamping dan sahabat jiwa yang baik bagi rekan sebayanya, yaitu para pemuda-pemudi di jemaat masing-masing.

Sama dengan Sekolah Pamong Pendamping Remaja yang lalu, acara ini dikemas secara unik dengan mengusung konsep camp atau perkemahan. Selama tiga hari pelaksanaannya, para peserta yang berasal dari berbagai Majelis Jemaat dan Majelis Daerah di ruang lingkup GKJW mengikuti proses belajar dengan cara lesehan santai dan beristirahat di dalam 23 tenda yang telah dibagi oleh panitia. Rangkaian kegiatan ini secara resmi dibuka pada Jumat sore melalui Kebaktian Pembukaan menggunakan model Share Christian Praxis (SCP) yang dilayani oleh Pdt. Yulius S.N., S.Si., MAPS.

Memasuki hari kedua, para pemuda mendapatkan berbagai materi komprehensif yang relevan dengan dinamika masa kini. Sesi pembekalan diawali dengan pembahasan mengenai “Fenomena Pemuda GKJW” dan “Pranata tentang Pemuda & Forum Pemuda” yang dibawakan oleh Pdt. Muso Wahyu Bimantoro, S.Si. Selain itu, wawasan peserta juga diperluas melalui materi “Pemuda dan Lintas Iman” oleh Pdt. Yulius, serta pembekalan seputar “Pemuda, Kewirausahaan dan Dunia Kerja” yang menghadirkan Bp. Yopie Junianto selaku dosen Universitas Ciputra dan Julia Thissen selaku co-worker UEM.

Fokus utama dari sekolah pamong ini adalah praktik Spiritual Companionship (Pendampingan Spiritual) bagi rekan sebaya. Praktik ini dibagi ke dalam dua tahap, di mana pada tahap kedua, kelompok-kelompok peserta dinamai dengan tokoh-tokoh sejarah kekristenan, seperti C.L. Coolen, Johanes Emde, Paulus Tosari, Abisai Ditotruno, J.E. Jellesma, dan Johanes Kruyt. Pendampingan spiritual ini diiringi dengan serangkaian kegiatan reflektif lainnya, seperti Doa Pagi bernuansa Doa Labirin yang dipimpin oleh Pdt. Ardi Rahardiyanto, S.Si. dan Pdt. Dikky, serta malam keakraban yang diisi dengan kegiatan Api Unggun.

Menariknya, panitia penyelenggara juga menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan dan kebersamaan kepada seluruh peserta. Hal ini terlihat dari peraturan yang mewajibkan peserta membawa tumbler sendiri dengan tujuan mengurangi penggunaan air minum dalam kemasan plastik. Tidak hanya itu, panitia juga menerapkan sistem potluck pada waktu snack time, di mana setiap peserta membawa makanan ringan atau buah-buahan dari tempatnya masing-masing untuk dinikmati secara bersama-sama sepanjang program berlangsung.

Rangkaian kegiatan Sekolah Pamong Pendamping Pemuda ini mencapai puncaknya pada Minggu pagi melalui materi “Design Kebaktian Pemuda yang Relevan” yang dipandu oleh Pdt. Dikky dan Pdt. Ardi. Setelah melalui sesi evaluasi bersama Julia Thissen, seluruh rangkaian acara ini akhirnya ditutup dengan Kebaktian Penguatan dan diakhiri dengan makan siang bersama serta prosesi sayonara.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak