Apa Yang Akan Terjadi, Terjadilah! Pancaran Air Hidup 4 September 2026

4 September 2026

Bacaan: Yehezkiel 24 : 15 – 27  |  Pujian: KJ. 417
Nats: Kalau itu sudah terjadi, kamu akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan ALLAH.(Ayat 24b)

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang penuh kebahagiaan, sukacita, kedamaian, dan kebaikan. Bahkan bagi sebagian orang, mereka rela mengorbankan banyak hal untuk memperoleh dan mempertahankan kebahagiaan, sukacita, kedamaian, dan kebaikan bagi dirinya itu. Meskipun sebenarnya, dalam kehidupan setiap orang pasti akan mengalami suka-duka, tangis-tawa. Hidup manusia seakan seperti roda yang berputar. Ada kalanya berada di atas, ada kalanya berada di bawah. Ada kalanya berada di depan, tetapi juga ada kalanya berada di belakang.

Dalam bacaan kita, Allah menguatkankan hati Yehezkiel yang akan kehilangan istrinya, namun ia tidak diperkenankan meratapi kematian istrinya di depan umum. Hal ini bukan berarti Allah melarang Yehezkiel untuk berduka dan bersedih hati atas kematian istrinya. Namun, Allah ingin memberi pemahaman pada Yehezkiel bahwa di waktu yang akan datang kejatuhan Yerusalem dan Bait Suci akan sedemikian hebatnya, sehingga akan membuatnya dan bangsa Israel tidak sempat menyatakan kesedihan. Ketaatan yang dimiliki Yehezkiel ini menjadi salah bagian terberat dalam tugas pelayanannya sebagai pengawas dan penjaga umat Allah. Mengapa demikian? Karena secara manusiawi ia sangat sedih atas kematian istrinya, namun ia tetap harus teguh menyampaikan seruan Tuhan kepada bangsa Israel yang memberontak. Allah sebentar lagi akan kehilangan umat-Nya, kota-Nya, dan Bait Suci- Nya, itu sama seperti Yehezkiel yang kehilangan istri yang paling dikasihinya.

Sebagai orang Kristen adakala kita diizinkan mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dan menyakitkan dalam kehidupan kita. Suka – duka kehidupan pasti terjadi secara silih berganti kita alami. Selanjutnya, tinggal bagaimana kita bersikap ketika menghadapi semua peristiwa itu. Teladan Yehezkiel mengajak kita untuk meletakkan hidup kita kepada Tuhan Allah Sang Empunya Kehidupan. Ketika kita mengakui dengan iman bahwa hidup kita adalah milik Tuhan Allah, maka hidup kita bukan milik kita lagi. Konsekuensinya hanya kehendak Tuhan Allah saja yang terjadi atas hidup kita. Mari kita terus hidup menurut kehendak Tuhan Allah, kita percaya setiap peristiwa baik suka maupun duka akan memampukan kita menyadari dan merasakan kehadiran Tuhan Allah dalam hidup kita. Amin. [Hiz].

“Jangan kehendakku, Bapa, kehendak-Mu jadilah.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak