Bacaan: Matius 15 : 21 – 28 | Pujian: KJ. 417
Nats: “Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.” (Ayat 28)
Dalam kehidupan, krisis sering datang tanpa permisi. Masalah kesehatan, kesulitan ekonomi, konflik keluarga, atau ketidakpastian masa depan bisa membuat seseorang merasa putus asa. Tidak jarang, di tengah doa dan pengharapan, kita justru merasa Tuhan diam. Keheningan Tuhan inilah yang seringkali mengguncang iman dan membuat pengharapan kita umat percaya perlahan memudar. Namun, justru di sinalah iman kita sedang dibentuk dan diuji.
Bacaan Firman Tuhan hari ini mengisahkan seorang perempuan Kanaan yang datang kepada Yesus dengan satu tujuan: memohon kesembuhan bagi anaknya. Ia berada dalam krisis besar sebagai seorang ibu. Awalnya, Yesus tidak menjawab seruannya. Bahkan ketika para murid meminta Yesus menyuruh perempuan itu pergi, ia tetap bertahan. Jawaban Yesus pun terdengar keras, seolah menolak permohonannya. Namun perempuan itu tidak menyerah. Dengan kerendahan hati dan iman yang teguh, ia tetap berharap kepada Yesus. Ketekunannya berbuah manis. Yesus memuji imannya dan mengabulkan permohonannya.
Kisah ini mengajarkan bahwa iman sejati tidak mudah goyah oleh penolakan atau keheningan. Dalam bulan Pembangunan GKJW, kita diajak membangun iman dan pengharapan di tengah krisis, bukan hanya sebagai sikap batin, tetapi juga sebagai dasar hidup bersama. Iman yang bertahan akan menolong kita tetap percaya bahwa Tuhan bekerja, sekalipun kita belum melihat hasilnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil untuk meneladani ketekunan perempuan Kanaan itu. Mari kita tetap setia berdoa, tidak berhenti berharap, dan terus datang kepada Tuhan dengan rendah hati. Iman yang dibangun di tengah krisis akan menguatkan kita dan menjadi kesaksian bagi sesama. Mari kita terus membangun iman dan pengharapan, percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, umat-Nya. Amin. [YNW].
“Iman yang bertahan dalam krisis akan menumbuhkan pengharapan yang hidup.”