HUT Ke – 81 RI
Stola Putih
Bacaan 1: 2 Raja-raja 5 : 1 – 14
Mazmur: Mazmur 87
Bacaan 2: Kisah Para Rasul 15 : 1 – 21
Bacaan 3: –
Tema Liturgis: Membangun Iman dan Pengharapan di Tengah Krisis
Tema Khotbah: Berdoa dan Membangun Negeri
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
2 Raja-raja 5 : 1 – 14
Perikop kita saat ini merupakan kisah yang populer bagi orang Kristen, yaitu kisah Naaman yang sembuh dari penyakit kusta. Kisah diawali dengan memperkenalkan Naaman, seorang panglima raja Aram, seorang yang terpandang dan dicintai oleh raja Aram. Bukan hanya dicintai oleh manusia, TUHAN juga mengasihi dia, TUHAN berkenan memberikan kemenangan kepada Naaman, sekalipun dia bukan seorang Israel. (Ay. 1). Narasi kisah ini berfokus pada Naaman yang terkena penyakit kusta. Pada masa itu, penyakit kusta adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan seorang yang terkena kusta. Dan sering kali orang dengan penyakit kusta dikucilkan, disisihkan dari masyarakat, agar masyarakat tidak ikut tertular.
Di rumah Naaman tinggallah seorang anak gadis, seorang Israel yang dibawa oleh orang Aram ke negerinya. Di rumah Naaman, gadis itu menjadi seorang pelayan (Ay. 2). Melihat dan mengetahui bahwa Naaman terkena penyakit kusta yang sulit sembuh, gadis Israel itu memberitahukan kepada Naaman melalui istrinya bahwa di Israel (Samaria) ada seorang nabi yang dapat menyembuhkan Naaman dari penyakitnya itu. (Ay. 3). Mendengar hal tersebut, Naaman segera menghadap raja Aram memohon agar dia diberikan izin untuk pergi ke Israel guna menemui raja Israel dan nabi Elisa disertai harapan akan kesembuhannya. (Ay. 4-6). Sesaat kemudian Naaman bertemu dengan raja Yoram, raja Israel waktu itu, dan menyerahkan surat dari raja Aram yang memohon agar raja Yoram dapat menolong Naaman. Setelah membaca surat raja Aram, reaksi yang ditampakkan, Yoram mengoyakkan pakaiannya dan merasa bahwa Naaman mencari masalah dengannya (Ay. 7).
Elisa yang mendengar bahwa Yoram mengoyakkan pakaiannya, segera ia menyampaikan pada raja agar Naaman datang kepadanya. Lalu datanglah Naaman ke rumah Elisa. Namun Elisa tidak langsung menemui Naaman melainkan menyuruh hambanya menemui Naaman dengan pesan, “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” (Ay. 10). Hal ini tentu membuat Naaman menjadi gusar, ia merasa bahwa Elisa tidak memedulikan dirinya, tidak ada sambutan atau keramahan dari Elisa kepadanya. Ia marah karena sikap Elisa yang hanya mengutus hambanya bertemu dengannya. Naaman juga merasa perintah agar dia mandi tujuh kali dalam sungai Yordan adalah perintah yang kurang pas. Ia membandingkan dengan sungai-sungai lain, seperti Abana, Parpar, dan Damsyik yang lebih jernih dan bersih airnya dibandingkan sungai Yordan. (Ay. 12).
Yang menarik para pengawal Naaman tidak turut terpancing dengan kemarahan Naaman. Mereka berusaha meyakinkan Naaman bahwa apa yang diperintahkan Elisa bukanlah perintah yang berat dan sulit untuk dilakukan. Mereka membujuk agar Naaman tetap melakukan perintah Elisa itu dengan harapan Naaman pulih kembali (Ay. 13). Maka Naaman melakukan apa yang diperintahkan Elisa. Ia membenamkan dirinya tujuh kali ke dalam sungai Yordan dan setelahnya tubuhnya pulih kembali. Ia sembuh dari sakit kustanya (Ay. 14), dan percaya kepada Allah Israel.
Dari narasi cerita kesembuhan Naaman ini, kita dapat menghayati bahwa kuasa Tuhan dinyatakan bagi Naaman, panglima Aram. Karya Tuhan Allah tidak hanya terbatas untuk bangsa Israel saja, namun juga dinyatakan bagi bangsa lain. Naaman menjadi sembuh karena ia melakukan apa yang menjadi perintah Tuhan melalui Elisa, yaitu mandi di sungai Yordan tujuh kali. Artinya tetap ada respons dan upaya yang dilakukan oleh Naaman untuk memperoleh kesembuhan dan pemulihan dari sakit kustanya.
Kisah Para Rasul 15 : 1 – 21
Narasi Kisah Para Rasul 15 ini mengisahkan tentang perbedaan pandangan antara Paulus dan orang Kristen Yahudi dalam memahami sunat. Orang Kristen Yahudi memahami bahwa orang percaya harus disunat sesuai dengan tradisi Yahudi yang diajarkan Musa. Karena itu mereka datang ke Antiokhia untuk mengajarkan hal ini, agar jemaat di Antiokhia disunat sebagai syarat mendapatkan keselamatan. Tanpa sunat mereka tidak dapat diselamatkan (Ay. 1). Pandangan ini ditentang oleh Paulus dan Barnabas, yang dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka. Bagi Paulus, keselamatan tidak bergantung pada sunat lahiriah, lebih dalam lagi, bagi Paulus, keselamatan ada di dalam iman kepada Yesus Kristus. Oleh karena perbedaan cara pandang inilah, kemudian Paulus dan Barnabas diminta untuk datang kepada para rasul dan para penatua di Yerusalem guna memperoleh kejelasan akan hal sunat ini (Ay. 2). Maka berangkatlah Paulus dan Barnabas ke Yerusalem. Dalam perjalanan mereka melewati Fenisia dan Samaria, mereka tetap mewartakan kabar sukacita dan menceritakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Dan hal ini membawa kebahagiaan bagi mereka yang mendengarnya. (Ay. 3)
Sampai di Yerusalem, Paulus dan Barnabas disambut oleh jemaat, para rasul dan para penatua di sana. Kemudian Paulus mulai menceritakan tentang karya Allah yang mereka lakukan, dimana banyak orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus oleh pewartaan Injil yang mereka lakukan. Beberapa saat kemudian beberapa orang dari golongan Farisi yang telah percaya menyampaikan pendapat mereka bahwa orang-orang non Yahudi harus disunat dan melakukan hukum Musa. Mereka berpendapat bahwa keselamatan juga harus diikuti dengan melakukan hukum Taurat. (Ay. 4-5).
Maka mulailah para rasul dan para penatua bersidang membicarakan perbedaan pandangan ini. Setelah beberapa waktu lamanya mereka bersidang, Rasul Petrus mulai berbicara di depan jemaat. Petrus menyampaikan pemikirannya yang menjelaskan bahwa Allah telah memilihnya sebagai seorang rasul. Sebagai rasul, ia memiliki tugas untuk mewartakan Injil Kristus kepada semua bangsa agar mereka yang mendengar berita Injil menjadi percaya (Ay. 7). Petrus menyampaikan bahwa Allah telah mengaruniakan Roh Kudus kepada orang percaya sebagaimana para murid. Allah tidak memandang perbedaan antara para murid (orang Yahudi) dengan mereka yang percaya (orang non Yahudi) sebab Allah telah menyucikan hati mereka (Ay. 8-9). Kemudian Petrus mempertanyakan alasan orang Kristen Yahudi yang mengharuskan orang non Yahudi untuk sunat dan melakukan hukum Taurat. Petrus menyatakan bahwa keselamatan merupakan kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus (Ay. 11). Mendengar pernyataan Petrus itu, diamlah seluruh jemaat Yerusalem yang mendengarkan saat itu.
Selanjutnya Paulus dan Barnabas mulai menceritakan segala karya dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa lain (Ay. 12). Lalu Yakobus melanjutkan, ia memberikan kesaksian ucapan-ucapan para nabi yang menguatkan jemaat akan janji Allah kepada umat-Nya. Dimana Tuhan Allah telah berjanji membangun kembali pondok Daud yang telah roboh supaya semua orang mencari Tuhan dan segala bangsa menjadi percaya pada Kristus. Maksud perkataan Yakobus ini menunjukkan bahwa Allah berkenan menyelamatkan orang Yahudi sekaligus bangsa-bangsa yang lain. Karena itu, Yakobus mengingatkan jemaat Yerusalem agar mereka tidak mempersulit bangsa-bangsa lain yang ingin mengenal Allah dan percaya kepada Allah. Jangan membebani mereka dengan tradisi Yahudi seperti sunat dan hukum Taurat. Kendati demikian, Yakobus tetap menekankan hal yang penting bagi umat percaya, yaitu menjauhkan diri dari makanan-makanan untuk berhala, menghindari percabulan, dan tidak makan dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah (Ay. 20).
Benang Merah Dua Bacaan
Dari kedua bacaan di atas dapat diambil benang merahnya, yaitu:
- Keselamatan dan pemulihan hanya oleh iman di dalam Tuhan.
- Tuhan Allah tidak memandang muka, Ia berkenan menyelamatkan semua bangsa yang percaya kepada-Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
(Pelayan mengawali khotbah dengan seruan pekik “Merdeka” sebanyak tiga kali)
Hari ini kita memperingati 81 tahun kemerdekaan RI. Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah menganugerahkan kemerdekaan kepada bangsa kita Indonesia melalui perjuangan para pejuang kemerdekaan. Sudah 81 tahun Indonesia merdeka, bebas dari penjajahan bangsa lain, namun yang menjadi pertanyaan reflektif di hari kemerdekaan ini, “Bagaimana kita mengisi kemerdekaan negara kita? Apakah yang dapat kita maknai dari kemerdekaan ini?” Tentu kita memaknai kemerdekaan ini tidak sekadar merdeka dari penjajahan, bebas menentukan arah dan tujuan pembangunan negara secara mandiri saja, tetapi kita juga diajak berperan serta mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif dan membangun. Kita harus menyadari bahwa masih ada ketimpangan sosial di negara kita, ada ketidakadilan di tengah kehidupan masyarakat, kebijakan publik yang belum berpihak pada rakyat, dll. Itu semua menyadarkan kita bahwa kita perlu terus berusaha dan berjuang untuk melanjutkan kemerdekaan dengan karya dan hal positif yang membangun negeri. Jangan sampai kemerdekaan yang telah kita rasakan menjadi sia-sia karena adanya ketimpangan sosial dan ketidakadilan dimana-mana.
Isi
Bagian firman Tuhan yang kita baca dan renungkan pada hari ini berbicara tentang keselamatan di dalam iman percaya kepada Tuhan dan karya keselamatan Allah di dalam Kristus bagi semua bangsa. Bagian bacaan I mengisahkan Naaman, panglima Aram yang sembuh dari penyakit kusta. Pada masa itu, penyakit kusta adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan seorang yang terkena kusta. Dan sering kali orang dengan penyakit kusta dikucilkan, disisihkan dari masyarakat, agar masyarakat tidak ikut tertular. Naaman mendengar di Israel ada seorang nabi yang dapat menyembuhkan penyakitnya itu dari seorang gadis Israel yang ada di rumahnya. Segera ia bergegas menuju Israel menjumpai nabi itu, yaitu Elisa. Sesampai di rumah Elisa, Naaman menjadi gusar dan marah sebab hanya hamba Elisa saja yang menemuinya dan memerintahkannya untuk mandi di sungai Yordan sebanyak tujuh kali. Di sini Naaman merasa bahwa Elisa tidak memedulikan dirinya, tidak ada sambutan atau keramahan dari Elisa kepadanya. Yang menarik para pengawal Naaman tidak turut terpancing dengan kemarahan Naaman. Mereka berusaha meyakinkan Naaman bahwa apa yang diperintahkan Elisa bukanlah perintah yang berat dan sulit untuk dilakukan. Mereka membujuk agar Naaman tetap melakukan perintah Elisa itu dengan harapan Naaman pulih kembali. Lalu Naaman melakukan apa yang diperintahkan Elisa. Ia membenamkan dirinya tujuh kali ke dalam sungai Yordan dan setelahnya tubuhnya pulih kembali. Ia sembuh dari sakit kustanya dan percaya kepada Allah Israel.
Pada bacaan 2 Kisah Para Rasul 15 mengisahkan tentang perbedaan pandangan antara Paulus dan orang Kristen Yahudi dalam memahami sunat. Orang Kristen Yahudi memahami bahwa orang percaya harus disunat sesuai dengan tradisi Yahudi yang diajarkan Musa. Sedangkan bagi Paulus, keselamatan tidak bergantung pada sunat lahiriah, lebih dalam lagi, baginya, keselamatan ada di dalam iman kepada Yesus Kristus. Oleh karena perbedaan cara pandang inilah, kemudian Paulus dan Barnabas diminta untuk datang kepada para rasul dan para penatua di Yerusalem guna memperoleh kejelasan akan hal sunat ini. Sesampainya di Yerusalem, Paulus dan Barnabas menceritakan tentang karya Allah yang mereka lakukan, dimana banyak orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus oleh pewartaan Injil yang mereka lakukan. Sebaliknya beberapa orang dari golongan Farisi yang telah percaya menyampaikan pendapat mereka bahwa orang-orang non Yahudi harus disunat dan melakukan hukum Musa. Mereka berpendapat bahwa keselamatan juga harus diikuti dengan melakukan hukum Taurat.
Maka mulailah para rasul dan para penatua bersidang membicarakan perbedaan pandangan ini. Setelah beberapa waktu lamanya mereka bersidang, Rasul Petrus mulai berbicara di depan jemaat. Ia menyampaikan pemikirannya yang menjelaskan bahwa Allah telah memilihnya sebagai seorang rasul, sebagai rasul, maka ia memiliki tugas untuk mewartakan Injil Kristus kepada semua bangsa agar mereka yang mendengar berita Injil menjadi percaya. Allah telah mengaruniakan Roh Kudus kepada orang percaya sebagaimana para murid. Allah tidak memandang perbedaan antara para murid (orang Yahudi) dengan mereka yang percaya (orang non Yahudi) sebab Allah telah menyucikan hati mereka. Selanjutnya Paulus dan Barnabas mulai menceritakan segala karya dan mukjizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa lain. Yakobus melanjutkan, ia memberikan kesaksian ucapan-ucapan para nabi yang menguatkan jemaat akan janji Allah kepada umat-Nya. Dimana Tuhan Allah telah berjanji membangun kembali pondok Daud yang telah roboh supaya semua orang mencari Tuhan dan segala bangsa menjadi percaya kepada Kristus. Maksud perkataan Yakobus ini menunjukkan bahwa Allah berkenan menyelamatkan orang Yahudi sekaligus bangsa-bangsa yang lain. Karena itu, Yakobus mengingatkan jemaat Yerusalem agar mereka tidak mempersulit bangsa-bangsa lain yang ingin mengenal Allah dan percaya kepada Allah.
Dari narasi cerita kesembuhan Naaman ini dan kisah persidangan di Yerusalem ini, kita dapat menghayati bahwa kuasa Tuhan dinyatakan bagi Naaman dan semua bangsa yang percaya kepada Yesus Kristus. Karya Tuhan Allah tidak hanya terbatas untuk bangsa Israel saja, maupun orang Yahudi dengan segala tradisi dan ketetapan hukum Tauratnya, namun juga dinyatakan bagi bangsa lain. Naaman menjadi sembuh karena ia melakukan apa yang menjadi perintah Tuhan melalui Elisa, yaitu mandi di sungai Yordan tujuh kali. Orang non Yahudi beroleh keselamatan dan anugerah Roh Kudus oleh karena iman mereka kepada Yesus Kristus. Artinya pemulihan dan keselamatan dari Tuhan tetap memerlukan respons dan tindakan. Naaman sembuh dan pemulihan dari sakit kustanya karena ia taat melakukan perintah Tuhan, ia mandi di sungai Yordan tujuh kali. Demikian orang non Yahudi/umat yang belum mengenal Tuhan menjadi percaya karena mereka mau mendengarkan ajaran para rasul dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan atas hidup mereka.
Penutup
Mensyukuri 81 tahun kemerdekaan RI mengajak kita sebagai warga negara Indonesia ikut berperan serta dalam membangun kehidupan bangsa dan negara. Kita senantiasa mendoakan pemerintah negara kita agar diberikan hikmat dan kebijaksanaan dalam setiap kebijakan yang diambil dan diputuskan. Kita mendoakan setiap pemimpin dan pejabat negara agar mereka dapat berlaku jujur, adil, dan benar agar kehidupan rakyat Indonesia sejahtera.
Belajar dari pengalaman Naaman yang bersedia mematuhi perintah Tuhan untuk mendapatkan pemulihan, maka sikap kita dalam upaya mewujudkan Indonesia yang maju ialah mau taat dan patuh terhadap setiap peraturan pemerintah dan UU yang berlaku di Indonesia. Kepatuhan pada UU dan peraturan yang berlaku akan menolong kita mewujudkan Indonesia emas, Indonesia sebagai negara yang maju. Belajar dari proses persidangan di Yerusalem dimana perihal keselamatan bukan lagi ditentukan dari sunat dan tidak sunat, orang Yahudi atau non Yahudi melainkan karena iman kepada Yesus Kristus, tanpa memandang suku, kelompok, golongan. Maka dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kita diajak menerapkan nilai-nilai kebenaran, keadilan sosial, kepedulian kepada semua orang, tanpa membeda-bedakan, tanpa memandang status sosial, tetapi dilandasi oleh hati nurani yang tulus. Tentu masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan dan terus memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi kehidupan bersama. Mari bersama kita melangkah membangun kehidupan berbangsa bernegara dengan diterangi oleh kasih Kristus. Amin. [AR].
Pujian: KJ. 336 Indonesia Negaraku
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
(Palados miwiti khotbahipun kanthi ngucap pekik “Merdeka” ping tiga)
Dinten punika kita sami mengeti 81 taun kamardikan RI. Kita tansah saos sokur dhumateng Gusti Allah ingkang sampun maringi kamardikan dhateng bangsa Indonesia lumantar para pejuang kamardikan. Sampun 81 taun anggenipun Indonesia merdika, bebas saking panganiaya lan panindesan bangsa sanes, nanging ingkang dados pitakenan reflektif ing dinten kamardikan punika, “Kados pundi anggenipun kita ngisi kamardikan negri kita punika? Punapa artosipun mardika punika kangge kita?” Ing ngriki kamardikan punika mboten namung mardika saking penjajah kemawon, bebas anggen kita namtokaken arah lan tujuan mbangun negri punika sacara mandiri. Ing ngriki kita dipun ajak ngisi kamardikan sacara positif lan mbangun. Kita kedah sadar bilih taksih kathah katimpangan sosial ing negri kita punika, taksih wonten tumindak mboten adil ing satengahing gesang masyarakat, mekaten ugi taksih wonten kebijakan publik ingkang mboten mihak dhateng rakyat, lsp. Sadaya punika kedah kita sadari, lan kita kedah ngupaya kanthi temen kangge nglajengaken mbangun negeri mawi karya lan pamikiran ingkang positif. Sampun ngantos kamardikan ingkang kita raosaken punika muspra awit kathahing katimpangan sosial lan tumindak mboten adil ing pundi-pundi.
Isi
Bagean sabdanipun Gusti ingkang kita waos lan gilut-gilut ing dinten punika nyariosaken bab kawilujengan srana iman pitados dhumateng Gusti lan kawilujengan ing Gusti Yesus kangge sadaya bangsa. Waosan kapisan nyariosaken Naaman, senopati Aram ingkang pulih saking sakit kusta. Ing jaman semanten, sakit kusta punika salah satunggaling penyakit ingkang ewet dipun sarasaken awit mboten wonten obat ingkang saged nyarasaken tiyang kusta punika. Asring tiyang kusta punika dipun sisihaken saking masyarakat, awit masyarakat ajrih bilih katular. Naaman mireng saking lare estri ing griyanipun bilih ing Israel wonten nabi ingkang saged nyarasaken piyambakipun. Mila piyambakipun enggal-enggal tindak dhateng Israel saperlu manggihi nabi Elisa. Sak sampunipun dumugi ing griyanipun Elisa, Naaman rumaos kuciwa lan duka awit mboten manggihi Elisa, ingkang manggihi namung abdinipun Elisa ingkang dipun utus Elisa kangge martosaken supados Naaman siram ing lepen Yarden ping pitu. Ing ngriki Naaman rumaos bilih Elisa mboten peduli kaliyan piyambakipun awit mboten purun nyambut piyambakipun. Selajengipun para abdinipun Naaman ngupaya kangge ngyakinaken Naaman supados nindakaken punapa ingkang dipun printahaken nabi Elisa. Awit printah punika sanes printah ingkang awrat kangge dipun tindakaken kanthi pangajeng-ajeng Naaman saged saras lan pulih malih. Selajengipun Naaman manut dhateng printah punika, piyambakipun njeburaken dhirinipun kaping pitu ing lepen Yarden. Sak sampunipun badanipun Naaman pulih malih kados sedyakala. Piyambakipun saras saking sakit kusta lajeng pitados dhumateng Gusti Allah Israel.
Ing perangan waosan 2 Lelakone Para Rasul 15 nyariosaken bab pemanggih ingkang benten antawis Paulus kaliyan tiyang Kristen Yahudi bab tetak. Kanggenipun tiyang Kristen Yahudi, tiyang pitados punika kedah dipun tetak kados tradisi Yahudi ingkang dipun wucalaken Musa. Kosokwangsulipun kanggenipun Paulus, bab kawilujengan punika mboten gumantung kaliyan tetak sacara lairiah, langkung saking punika, kawilujengan punika wonten ing iman pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus. Awit saking benten pemanggih punika, Paulus lan Barnabas dipun suwun tindak ing Yerusalem ngadep para rasul lan para pinituwa kangge manggihaken penjelasan bab tetak punika. Sak sampunipun dumugi Yerusalem, Paulus lan Barnabas nyariosaken bab pakaryanipun Gusti Allah ingkang sampun katindakaken dening kekalihipun, ing pundi kathah tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus awit saking pawartosipun Paulus lan Barnabas punika. Kosokwangsulipun saperangan tiyang Farisi ingkang pitados sami matur bilih para tiyang non Yahudi punika kedah dipun tetak lan nindakaken hukum Musa. Para tiyang punika nggadhah pemanggih bilih kawilujengan kedah dipun sranani kanthi nindakaken hukum Torah.
Selajengipun para rasul lan para pinituwa sami nindakaken sidang kangge ngrembag benten pemanggih punika. Sak sampunipun sawetawis wekdal, Rasul Petrus miwiti pirembagan ing sak ngajenipun pasamuwan. Piyambakipun ngaturaken pemanggihipun bilih Gusti Allah sampun miji piyambakipun minangka rasul. Minangka rasul piyambakipun kagungan tugas kangge martosaken Injil Kristus dhateng sadaya bangsa, ing pundi sadaya bangsa punika saged mirengaken pawartos Injil lajeng pitados. Gusti Allah sampun maringi Sang Roh Suci dhateng para tiyang pitados kados para sakabat. Gusti Allah mboten mbentenaken antawis para sakabat (tiyang Yahudi) kaliyan tiyang pitados sanesipun (tiyang non Yahudi) awit Gusti Allah sampun nyucekaken manah para tiyang punika. Selajengipun Paulus lan Barnabas nyariosaken sadaya pakaryan lan mukjizatipun Gusti Allah lumantar kekalihipun di satengah-tengahing bangsa sanes. Mekaten ugi Yakobus maringi paseksi srana pangucapipun para nabi ingkang ngiyataken pasamuwan tumrap prajanjipun Gusti Allah dhateng umat-Ipun. Gusti Allah sampun prajanji mbangun malih pondok Dawud ingkang rubuh, supados saben tiyang sami madosi Gusti lan sadaya bangsa pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus. Paseksinipun Yakobus punika nedahaken bilih Gusti Allah karsa nylametaken tiyang Yahudi ugi sadaya bangsa sanesipun ingkang pitados. Karana punika Yakobus ngengetaken supados pasamuwan Yerusalem sampun ngantos damel eweting bangsa-bangsa sanes ingkang kepengin mangertos lan pitados dhumateng Gusti Allah.
Saking cariyos sarasipun Naaman lan sidang ing Yerusalem punika, kita saged manggihaken bilih panguwaosipun Gusti Allah dipun nyatakaken dhateng Naaman lan sadaya bangsa ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus. Pakaryanipun Gusti Allah mboten namung winates kangge bangsa Israel kemawon, nanging ugi kangge bangsa-bangsa sanesipun. Naaman saged pulih lan saras awit piyambakipun nindakaken printahipun Gusti lumantar nabi Elisa, inggih punika njebur lepen Yarden ping pitu. Tiyang non Yahudi nampi kawilujengan lan kaparingan Roh Suci karana iman pitadosipun dhumateng Gusti Yesus. Punika negesaken bilih pamulihan lan kawilujengan saking Gusti tetep mbetahaken respons lan tumindak. Naaman saras lan pulih malih saking sakitipun karana manut nindakaken sabdanipun Gusti, piyambakipun njebur lepen Yarden ping pitu. Mekaten ugi para tiyang non Yahudi/tiyang ingkang dereng tepang Gusti dados pitados awit para tiyang punika purun mirengaken piwucalipun para rasul lan nampi Gusti Yesus minangka Juru Wilujengipun.
Panutup
Pahargyan 81 taun kamardikan RI punika, ngajak dhateng kita kangge saos sokur dhumateng Gusti sarta tumut mbangun pigesangan bangsa lan negari kita. Kita dipun ajak ndedonga kangge pamrintah supados dipun paringi kawicaksanan anggenipun netepaken kabijakan. Kita ugi ndedonga kangge para pemimpin lan pejabat negeri supados para pemimpin lan pejabat punika tansah tumindak jujur, adil, lan leres supados pigesanganipun rakyat Indonesia manggihi kasantosan.
Sinau saking pengalaman Naaman ingkang manut dhateng sabdanipun Gusti kangge nampi pamulihan, mila sikep kita anggenipun mujudaken Indonesia maju inggih punika manut lan netepi saben pranatan pamrintah lan UU ing Indonesia. Sikep manut dhateng UU lan pranatan punika nulungi kita kangge mujudaken Indonesia emas, Indonesia ingkang majeng. Sinau saking pengalaman sidang ing Yerusalem ing pundi kawilujengan mboten katamtokaken saking tetak lan mboten tetak, tiyang Yahudi utawi non Yahudi nanging awit saking iman pitados dhumateng Sang Kristus, tanpa mandeng suku, kelompok, golongan. Mila ing satengahing konteks pigesangan bangsa lan negari, kita dipun ajak ngetrepaken nilai-nilai kayekten, kaadilan sosial, kapedulian dhumateng sesami, tanpa mbenten-bentenaken, tanpa mandeng status sosial, nanging dipun landesi manah ingkang tulus. Tamtu taksih kathah prekawis ingkang saged kita tindakaken kangge ngisi kamardikan lan merjuangaken kaadilan lan kasantosan kangge gesang sesarengan. Mangga sesarengan kita mbangun pigesangan bangsa lan negeri kita kanthi pepadhang sihing Sang Kristus. Amin. [AR].
Pamuji: KPJ. 359 Indonesia Nagri Adi