Minggu Biasa | Pembangunan GKJW
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 56 : 1, 6 – 8
Mazmur: Mazmur 67
Bacaan 2: Roma 11 : 1 – 2a, 29 – 32
Bacaan 3: Matius 15 : 21 – 28
Tema Liturgis: Membangun Iman dan Pengharapan di Tengah Krisis
Tema Khotbah: Setya Iku Ora Gumantung Karo Kahanan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 56 : 1, 6 – 8
Kitab Yesaya lahir dari pergulatan iman yang panjang dan kompleks. Secara khusus pada bagian Yesaya 40-66 berbicara dari konteks pembuangan dan masa setelahnya, ketika Israel hidup di antara luka sejarah dan harapan akan pemulihan. Karena itu, Yesaya tidak hanya berbicara tentang masa lalu Israel, tetapi juga tentang bagaimana Allah bekerja di tengah kehancuran untuk membuka masa depan yang baru. Tema besar kitab ini bergerak di antara dua kutub – penghukuman dan pengharapan, keadilan dan belas kasihan. Allah menegur ketidakadilan umat-Nya, tetapi tidak pernah melepaskan janji pemulihan-Nya. Pemulihan itu sendiri tidak berhenti pada Israel, melainkan diarahkan pada tujuan yang lebih luas: keterlibatan bangsa-bangsa lain dalam karya keselamatan Allah. Kitab Yesaya menjadi menarik karena teks ini tidak bernuansa sempit dan eksklusif, tetapi mengarah pada rencana Allah yang melampaui batas etnis dan sejarah.
Yesaya 56:1 membuka bagian pasca-pembuangan ini dengan seruan yang tegas: peliharalah keadilan dan lakukanlah kebenaran. Seruan ini menunjukkan bahwa keselamatan dari Allah tidak pernah berdiri terpisah dari cara hidup umat. Keselamatan yang “akan datang” bukan sekadar janji masa depan, melainkan arahan tentang cara hidup di masa kini. Iman kepada Allah yang menyelamatkan harus terlihat dalam praktik hidup yang adil, jujur, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Dengan kata lain, percaya kepada Allah selalu berjalan seiring dengan tindakan nyata. Selanjutnya, Yesaya 56:6-7 memperluas cara pandang tentang siapa yang termasuk umat Allah. Orang-orang asing – mereka yang sebelumnya berada di luar batas komunitas Israel – diperhitungkan sepenuhnya ketika mereka mengikatkan diri kepada TUHAN dengan setia. Yang menentukan bukan asal-usul, melainkan kesetiaan dalam relasi dengan Allah. Ibadah mereka diterima tanpa syarat dan mereka diberi tempat yang sama di hadapan Allah. Pernyataan bahwa rumah TUHAN adalah rumah doa bagi segala bangsa menjadi kritik tajam terhadap sikap keagamaan yang sempit dan eksklusif. Bait Allah tidak lagi dipahami sebagai milik satu kelompok, melainkan sebagai ruang perjumpaan Allah dengan seluruh umat manusia. Dan akhirnya dalam Yesaya 56:8 menegaskan semuanya itu dengan jelas: Allah yang menghimpun Israel juga menghimpun bangsa-bangsa lain. Komunitas umat Allah bukan komunitas yang tertutup dan takut berbagi, melainkan komunitas yang terus dibentuk dan diperluas oleh kehendak Allah itu sendiri. Di tengah situasi pasca-pembuangan, ketika identitas keagamaan cenderung mengeras dan menutup diri, teks ini menjadi koreksi profetis yang kuat. Pemulihan Israel bukan tujuan akhir, tetapi sarana bagi karya keselamatan Allah yang lebih luas.
Secara keseluruhan, Yesaya 56:1, 6-8 menempatkan iman dan etika dalam satu kesatuan. Umat Allah dipanggil untuk hidup dalam keadilan sebagai wujud iman yang sejati, sekaligus belajar membuka diri terhadap kehadiran “yang lain” sebagai bagian dari karya Allah. Teks ini menolak agama yang rajin beribadah tetapi abai terhadap keadilan, dan sekaligus membongkar keimanan yang merasa paling benar namun menutup pintu bagi sesama. Dalam kerangka tulisan Yesaya, ibadah sejati selalu mengubah cara hidup dan memperluas persekutuan-komunitas sampai segala bangsa mendapat tempat di hadapan Allah.
Roma 11 : 1 – 2a, 29 – 32
Surat Paulus kepada jemaat di Roma ditulis sekitar tahun 57 M dari Korintus[1]. Surat ini lahir dalam konteks pelayanan yang sedang bergerak maju – Paulus yang bersiap melanjutkan misinya ke wilayah yang belum dijangkau, hingga ke Spanyol[2]. Di dalam suratnya Paulus tidak sekadar menjawab persoalan jemaat, melainkan menguraikan Injil sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya – baik Yahudi maupun non-Yahudi. Intinya jelas: manusia dibenarkan bukan karena perbuatan, melainkan semata-mata karena kasih karunia Allah yang diterima melalui iman.
Dalam kerangka besar inilah, Roma 9-11 menempati posisi yang sangat penting. Di bagian ini, Paulus bergumul dengan pertanyaan yang tidak mudah: Bagaimana memahami kenyataan bahwa sebagian besar Israel menolak Yesus sebagai Mesias, sementara Allah telah memberikan janji-janji perjanjian kepada mereka? Apakah hal ini berarti Allah gagal atau membatalkan pilihan-Nya? Paulus menolak kesimpulan semacam itu. Ia justru menunjukkan bahwa penolakan Israel tidak menggagalkan rencana Allah, melainkan masuk ke dalam misteri karya keselamatan Allah yang lebih luas dan dalam.[3]
Roma 11:1–2a dibuka dengan sebuah pertanyaan yang langsung menyentuh inti persoalan, “Adakah Allah menolak umat-Nya?” Jawaban Paulus sangat tegas, “Sekali-kali tidak!” Ia lalu menunjuk pada dirinya sendiri – seorang Israel, keturunan Abraham dari suku Benyamin – sebagai bukti nyata bahwa Allah tidak menutup pintu bagi Israel. Pernyataan bahwa Allah tidak menolak umat yang telah dikenal-Nya menegaskan bahwa relasi Allah dengan Israel bersifat setia dan berkelanjutan. Pengenalan Allah di sini bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi relasi perjanjian yang tidak mudah diputus. Paulus menegaskan bahwa gereja tidak berdiri dengan memutus Israel, melainkan berada dalam kesinambungan dengan karya Allah yang sama. Penegasan ini memuncak ketika melihat Roma 11:29, “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” Kalimat ini menjadi dasar yang kokoh bagi seluruh argumentasi Paulus. Allah tidak berubah-ubah dalam kesetiaan-Nya. Pilihan dan panggilan-Nya tidak dibatalkan oleh kegagalan atau ketidaktaatan manusia. Ketika manusia goyah, Allah tetap teguh. Sejarah keselamatan tidak digerakkan oleh konsistensi sikap manusia, melainkan oleh kesetiaan Allah pada janji-Nya sendiri.
Dalam Roma 11:30-31, Paulus menunjukkan cara Allah berkarya dengan pola yang mengejutkan. Bangsa-bangsa lain yang dahulu hidup jauh dari Allah kini menerima belas kasihan, sementara Israel mengalami masa ketidaktaatan. Namun, keadaan ini bukan akhir cerita. Ketidaktaatan Israel justru membuka jalan bagi bangsa-bangsa lain, dan pada akhirnya belas kasihan yang sama juga akan menjangkau Israel. Di sini terlihat bahwa Allah memakai kegagalan manusia untuk menghadirkan rahmat-Nya yang lebih luas. Ketidaktaatan tidak menjadi kata terakhir, belas kasihan Allahlah yang memegang kendali. Semua ini ditekankan Paulus dalam Roma 11:32, ketika ia menyatakan bahwa Allah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan supaya Ia dapat menunjukkan belas kasihan-Nya kepada semua orang. Note: Pernyataan ini bukan pembenaran atas dosa, melainkan pengakuan jujur tentang kondisi manusia yang rapuh dan tentang rahmat Allah yang tidak terbatas. Allah tidak meniadakan keadilan-Nya, tetapi menghadirkannya bersama belas kasihan dalam satu rencana keselamatan yang utuh. Secara sederhana, Paulus menegaskan bahwa Allah adalah Allah yang setia, yang tidak meninggalkan umat-Nya, dan yang berkarya melampaui perhitungan manusia. Teks ini menegur ‘gereja’ agar tidak jatuh ke dalam sikap merasa paling benar atau menggantikan Israel, sekaligus menguatkan mereka yang merasa gagal dan ditinggalkan. Pada akhirnya, perikop ini mengarahkan pembaca untuk melihat bahwa sejarah keselamatan tidak ditopang oleh ‘kehebatan’ manusia, melainkan oleh kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan, dan oleh belas kasihan-Nya yang terus hadir berkarya di tengah keterbatasan manusia.
Matius 15 : 21 – 28
Injil Matius lahir dari pergumulan iman komunitas Kristen perdana yang sebagian besar berlatar belakang Yahudi. Teks Injil ini menyampaikan kisah Yesus yang bukan sekadar sebagai catatan peristiwa, melainkan sebagai kesaksian iman yang menafsirkan siapa Yesus bagi umat Allah. Dalam Injil Matius, Yesus ditampilkan sebagai Mesias yang menggenapi janji-janji Perjanjian Lama, sebagai Pengajar yang menafsirkan Taurat secara mendalam dan membebaskan, serta sebagai Anak Daud yang menghadirkan Kerajaan Surga. Karena itu, Injil Matius terus bergerak dalam ketegangan yang hidup: pelayanan Yesus berakar kuat dalam tradisi Israel, tetapi sekaligus membuka jalan bagi maksud keselamatan Allah yang menjangkau segala bangsa.
Ketegangan inilah yang tampak jelas, salah satunya dalam perikop Matius 15:21-28. Yesus menarik diri ke wilayah Tirus dan Sidon – daerah di luar batas geografis dan religius Israel. Pergerakan ini bukan sekadar merujuk pada perubahan lokasi, melainkan tanda bahwa pelayanan Yesus mulai menyentuh ruang-ruang yang selama ini dianggap “di luar” (bdk. Mission from the margin). Di tempat inilah seorang perempuan Kanaan datang memohon belas kasihan bagi anaknya yang menderita. Seruannya, “Tuhan, Anak Daud, kasihanilah aku.” Jika ungkapan perempuan ini sungguh diperhatikan menjadi sangat ironis: seorang non-Yahudi justru mengakui Yesus dengan gelar Anak Daud yang lahir dari tradisi Israel.
Respons awal Yesus yang diam, disusul dengan sikap murid-murid yang ingin menyingkirkan perempuan itu, memperlihatkan keterbatasan cara pandang manusia terhadap karya Allah. Keheningan Yesus bukan bermakna penolakan, melainkan ruang pembelajaran – sebuah proses yang menyingkapkan iman perempuan itu sekaligus membongkar asumsi para murid. Ketika Yesus menyatakan bahwa Ia diutus kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel, Ia menegaskan urutan historis misi-Nya. Namun pernyataan ini tidak menutup pintu, melainkan menguji kedalaman iman yang datang dari luar batas perjanjian. Dialog tentang “anak-anak” dan “anjing” sering terasa keras, tetapi di dalam teks Yunani terdapat nuansa yang lebih halus. Kata yang dipakai Yesus bukan kyōn – istilah umum untuk anjing liar yang bernada sangat merendahkan – melainkan kynárion, bentuk kecil yang dapat diterjemahkan sebagai “anjing kecil” atau “anjing peliharaan rumah.” Pilihan kata ini penting, karena menunjukkan bahwa metafora tersebut tidak dimaksudkan sebagai penghinaan kasar, melainkan gambaran tentang urutan dan kedekatan dalam rumah tangga. Israel digambarkan sebagai anak-anak yang duduk di meja, sementara bangsa-bangsa lain berada di sekitar meja – bukan di luar rumah. Dengan demikian, yang ditekankan adalah prioritas dalam sejarah keselamatan.
Di titik inilah iman perempuan Kanaan itu terpancar nyata. Ia tidak membantah urutan tersebut, tidak pula menuntut posisi anak. Dengan kerendahan hati yang berani, ia justru menangkap celah anugerah dalam metafora itu: bahkan “anjing kecil” (kynárion) pun tetap berada di dalam rumah dan mendapat bagian – meski hanya remah-remah. Hal ini menjadi pengakuan iman yang mendalam. Ia bersandar sepenuhnya pada karakter Allah yang murah hati, bukan pada hak atau status. Yesus kemudian memuji iman perempuan itu sebagai iman yang besar dan mengabulkan permohonannya. Penilaian ini jarang muncul dalam Injil Matius dan justru diberikan kepada seseorang yang berada di luar komunitas perjanjian Israel. Penyembuhan anak perempuan itu merupakan tanda bahwa rahmat Kerajaan Allah tidak dikurung oleh batas etnis atau identitas religius. Respons imanlah yang menjadi pintu masuk bagi karya Allah. Matius 15:21-28 memperlihatkan bagaimana rencana keselamatan Allah bergerak dari partikularitas menuju universalitas tanpa meniadakan keduanya. Teks ini menolak eksklusivisme yang menutup diri, tetapi juga tidak mengabaikan urutan historis karya Allah. Iman perempuan Kanaan itu menjadi cermin bagi gereja: bahwa partisipasi dalam Kerajaan Allah tidak ditentukan oleh asal-usul atau kedekatan religius, melainkan oleh iman yang rendah hati, gigih, dan percaya penuh pada belas kasihan Kristus, yang selalu lebih luas daripada batas-batas yang dibangun manusia itu sendiri.
Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan ini menegaskan bahwa iman sejati lahir dari keberanian berharap di tengah keheningan, menghidupi keadilan di tengah ketimpangan, dan tetap tinggal dalam relasi dengan Allah yang setia meskipun sejarah dan kehidupan berjalan retak. Belas kasih Allah tidak dibatasi oleh identitas atau kelayakan manusia, ruang kehadiran-Nya terbuka bagi mereka yang disisihkan, dan karunia serta panggilan-Nya tidak pernah ditarik kembali, sehingga iman bukan soal kesempurnaan atau kenyamanan, melainkan kesetiaan untuk mendengar jeritan dari pinggiran dan menghidupi pengharapan di tengah krisis.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Tentu di antara kita pernah ada dalam posisi mendesak dan benar-benar membutuhkan jawaban, namun seorang yang kita hubungi melalui Whatsapp Call tidak segera merespons dan memberikan jawab. Yang terdengar hanya nada sambung yang berulang, lalu mati, dan dari hal itu memunculkan rasa kesal yang pelan-pelan berubah menjadi pertanyaan, “Apakah benar tidak didengar, atau hanya tidak dianggap penting?” Pengalaman sederhana seperti ini sering kali terasa remeh, namun justru di sanalah tersimpan kegelisahan yang lebih besar tentang hidup hari ini, tentang dunia yang terasa makin “bising” tetapi makin sulit mendengar, tentang sistem yang sibuk mengatur tetapi lambat merespons jeritan yang nyata.
Dalam situasi bangsa hari ini yang dirasa sedang tidak baik-baik saja, ketika hukum terasa menggelikan, ketika alam rusak tanpa rasa bersalah, ketika kekuasaan berbicara lebih lantang daripada kebenaran, iman sebenarnya sedang berada dalam godaan yang halus, yakni goda iman untuk menjadi semakin kecil, sempit, dan aman agar tidak mengganggu kenyamanan. Dan teks pada saat ini justru berbicara dari ruang ketegangan itu, dari pengalaman menunggu respons yang tidak segera datang, dan dari iman yang sedang diuji oleh keheningan yang panjang.
Isi
Perikop Injil Matius menempatkan Yesus di wilayah Tirus dan Sidon, sebuah ruang yang sejak awal menandai perlintasan batas, bukan hanya geografis tetapi juga sosial-religius, dan di tempat itulah seorang perempuan Kanaan datang membawa jeritan yang sangat wajar tentang anaknya yang menderita. Seruan perempuan ini tidak ditanggapi dengan cepat, bahkan pada awalnya dijawab dengan diam – bukan karena Yesus tidak peduli, tetapi karena iman sedang diuji pada titik yang paling rawan, yakni ketika permohonan tidak segera direspons dan sistem keagamaan tampak lebih sibuk menjaga keteraturan daripada mendengar penderitaan.
Dialog yang menyusul, termasuk metafora tentang “anak-anak” dan “anjing kecil”. Dialog ini bukanlah legitimasi penyingkiran, melainkan pembongkaran cara pandang yang sudah lama mapan tentang siapa yang layak didengar lebih dulu. Dan di sinilah iman perempuan Kanaan itu justru bersinar dengan cara yang gigih dan rendah hati. Sebuah iman yang tidak menuntut hak, tidak memainkan identitas, tetapi bersandar sepenuhnya pada kemurahan Allah yang diyakini tidak mungkin sempit. Yesus menyebut iman ini besar karena keberaniannya untuk tetap berharap di tengah keheningan dan tetap percaya bahwa belas kasihan Allah tidak dikurung oleh batas-batas yang dibuat manusia.
Nada Injil ini beresonansi kuat dengan seruan Yesaya yang menegaskan bahwa keselamatan Allah tidak pernah dipisahkan dari keadilan yang dijalani, dan rumah Allah tidak dibangun sebagai ruang tertutup yang aman dari gangguan, melainkan sebagai rumah bagi segala umat, ruang terbuka tempat orang asing, yang sering dianggap tidak pantas dan jauh, justru diberi tempat yang setara. Seruan untuk memelihara keadilan dan melakukan kebenaran tidak hanya sebatas slogan, melainkan panggilan konkret agar iman tidak menjadi pelarian dari krisis, tetapi kehadiran yang bertanggung jawab di tengahnya.
Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma, menambahkan kedalaman yang menenangkan sekaligus menantang, ketika menegaskan bahwa karunia dan panggilan Allah tidak pernah ditarik kembali, bahkan ketika manusia gagal, tersesat, atau kehilangan arah. Kesetiaan Allah tidak bergerak mengikuti fluktuasi perilaku hidup manusia, belas kasihan-Nya justru bekerja melalui sejarah yang retak, termasuk melalui ketidaktaatan dan kegagalan yang sering ingin disembunyikan. Paulus menegaskan bahwa iman tidak diukur dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian untuk tetap tinggal di dalam relasi dengan Allah yang setia, meskipun situasi sosial dan politik terasa makin menjauh dari keadilan.
Bacaan Matius, Yesaya, maupun Roma, jika diletakkan bersama, membentuk satu kesaksian yang jujur tentang iman yang tidak lahir dari kondisi ideal, melainkan dari krisis yang nyata. Iman tidak tumbuh karena semuanya berjalan baik, tetapi karena ada keberanian untuk tidak menutup telinga ketika suara dari pinggiran datang mengetuk, sekalipun itu mengganggu kenyamanan dan mengusik batas-batas yang selama ini dijaga.
Penutup
Hari ini, 16 Agustu 2026 – sehari sebelum perayaan kemerdekaan, ketika simbol-simbol kebangsaan mulai memenuhi ruang publik dan kata “merdeka” diucapkan dengan penuh kebanggaan, Sabda Allah justru mengajak kita untuk berhenti sejenak dan menoleh lebih jujur ke dalam – sebab iman tidak dibentuk hanya oleh upacara dan seremonial, melainkan oleh cara menghadapi krisis yang terus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Gereja, baik sebagai organisasi maupun sebagai organisme yang hidup, diuji bukan oleh seberapa rapi tata ibadahnya atau seberapa kokoh bangunan fisiknya, melainkan oleh kesediaannya tetap membuka pintu, mengangkat suara yang selama ini dibiarkan berdering tanpa jawaban, serta hadir di ruang-ruang di mana keadilan terasa semakin jauh dan harapan mudah dilelahkan.
Point inilah yang membawa masa Pembangunan GKJW menemukan maknanya yang paling dalam, bukan pertama-tama sebagai perluasan struktur, program, atau angka statistik, melainkan sebagai proses memelihara kepekaan iman agar gereja tidak kehilangan “daya dengarnya” terhadap jeritan zaman, tidak sibuk melindungi diri, dan tidak tergoda mengecilkan panggilannya hanya demi rasa aman. Pembangunan sejati tampak dalam keberanian bersuara ketika hukum timpang, dalam kesetiaan merawat ciptaan di tengah eksploitasi yang dilegalkan, dalam kesediaan berdiri bersama mereka yang selama ini hanya dihitung sebagai beban, serta dalam keteguhan untuk terus menghidupi pengharapan meskipun jawaban Allah sering datang dengan cara yang tidak segera dan tidak mudah dipahami.
Di tengah berbagai krisis yang melingkupi kehidupan bersama, GKJW terus dibentuk menjadi gereja yang tidak mematikan iman ketika keadaan menekan, tidak memadamkan pengharapan ketika jawaban terasa lambat, dan tidak menutup telinga ketika suara-suara dari pinggiran kembali berdering, sebab justru di sanalah Allah Sang Kepala Gereja berkarya, membangun gereja-Nya dengan cara yang sunyi, tidak mencolok, tetapi setia dan menyelamatkan. Amin. [gus].
Pujian: KJ. 432 Jika Padaku Ditanyakan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Tamtunipun, ing sauruting pigesangan punika kita asring ngalami kahanan ingkang sarwa kepepet lan estu enggal mbetahaken wangsulan, nanging tiyang ingkang dipun hubungi lumantar Whatsapp Call mboten enggal mangsuli. Ingkang kapirsanan namung pratandha sambung telpon, nanging mboten wonten tanggapan lan wangsulan. Bab punika ingkang ndadosaken manah ngraosaken mangkel lan tuwuh pitakenan, “Apa pancen ora mireng, utawa pancen dianggep ora penting?” Babagan ingkang asring dipun alami punika asring kawastanan bab ingkang lumrah, nanging menawi dipun raosaken kanthi saestu, punika dados wujud nyata prekawis ingkang kalampahan ing satengahing kahanan gesang padintenan – kahanan ingkang tansaya “rame”, nanging kosokwangsulipun tansaya kathah tiyang ingkang “awrat” anggenipun midhangetaken.
Tansaya cetha menawi saestu mirsani kahanan gesanging bangsa ing dinten punika ingkang karaosaken tansaya mboten tumata – nalika tatanan hukum tansaya karaos mboten adil, nalika kahanan alam donya saha titahipun Gusti tansaya rusak nanging sadaya kalawau dados prekawis ingkang lumrah, lan nalika tiyang ingkang kagungan panguwasa namung ngugemi kapentingan dhiri tinimbang kayekten ingkang sejati. Ing kahanan ingkang makaten punika babagan iman sejatosipun nampeni panggodha ingkang alus, nanging mbebayani. Panggodha ingkang ndadosaken iman tansaya alit, cekak, lan namung nggayuh kahanan ingkang mapan. Lan waosan ing dinten punika nedahaken bab iman ingkang tuwuh saking papan ingkang kebag momotan – lumantar lampah gesang ingkang taksih nganti-anti wangsulan ingkang mboten enggal kababar, lan lumantar iman ingkang ngalami ujian bab eningipun batin ingkang karaos mboten sekedhap.
Isi
Injil Mateus nedahaken bilih Gusti Yesus saweg mapan wonten ing tlatah Tirus lan Sidon, salah satunggaling papan ingkang kawastanan tapel-wates. Papan ingkang sacara tata panggenan lan tata sosial kawastanan papan pinggirian. Ing papan punika wonten salah satunggaling tiyang wadon Kanaan ingkang sowan ing ngarsanipun Gusti Yesus ngasta punapa ingkang dados momotanipun, nggih punika kang putra nandhang kasangsaran. Injil Mateus nyerat kanthi cetha bilih pasambating tiyang wadon punika mboten nampeni wangsulan ingkang instan, malah Gusti Yesus namung mendel kemawon – mboten karana Gusti Yesus mboten preduli kaliyan tiyang wadon kalawau, nanging awit iman ingkang dipun-uji ing babagan ingkang paling asor – nggih punika nalika panyuwunan mboten enggal nampeni wangsulan lan tata cara agama kapirsanan langkung mranata tata aturan tinimbang midhangetaken pasambat kasangsaran.
Salajengipun tansaya ndadosaken manah karaos perih, nalika Gusti Yesus dhawuh ngagem pasemon babagan bocah lan segawon alit. Dhawuh punika mboten ateges tiyang wadon kasuwun sumingkir, nanging kosokwangsulipun Gusti Yesus nindakaken pakaryan bab pamanggih ingkang sampun mapan sesambetan sinten ingkang pantes dipun wangsuli langkung rumiyin. Ing bab punika iman saking tiyang wadon kalawau saestu nyata sumunar kanthi cara ingkang bakuh lan kebak andhap-asoring manah. Iman ingkang saestu sumendhe ing kamirahanipun Gusti, ingkang dipun ugemi bilih kamirahanipun Gusti Yesus punika mboten cekak. Gusti Yesus nedahaken bilih iman saking tiyang wadon punika kawastanan adi, awit tiyang wadon punika bakuh anggenipun nggondheli pangajeng-ajeng ing satengahing kahanan ening lan pracaya bilih welas-asihipun Gusti Allah punika mboten dipun kunjara kaliyan tata-caraning manungsa ingkang sarwa winates.
Seratan Injil Mateus punika ugi cundhuk kaliyan punapa ingkang dados dhawuhipun Yesaya ingkang nedahaken bilih kawilujengan ingkang pinangkanipun saking Gusti Allah punika mboten saged uwal kaliyan lampah gesang ingkang nglampahi kaadilan. Padalemaning Gusti punika mboten ateges dados papan mligi kagem tiyang tartamtu, aman saking sakathahing rubeda lan prekawis. Padalemaning Gusti punika minangka papan kagem sadaya umat, papan ingkang tansah tinarbuka kagem sadaya tiyang – tiyang pinggiran ingkang asring kawastanan mboten pantes, malah nampeni papan ingkang sami. Yesaya paring dhawuh supados tansah nggulawenthah bab kaadilan lan nglampahi gesang ingkang mursid. Punika mboten namung winates ing tutug lan lathi, nanging timbalan nyata supados iman kababar kanthi tanggel-jawab ing sadhengah momotan lan prekawis gesang.
Seratanipun Paulus kagem pasamuwan ing Roma, tansaya njangkepi dhawuh ingkang nentremaken. Paulus nedahaken bilih sih rahmat lan timbalanipun Gusti punika mboten badhe sirna, sanadyan manungsa dhawah, mblasar, lan mboten sampurna. Kasetyanipun Gusti punika mboten gumantung kaliyan tata cara gesanging manungsa, welas asihipun Gusti punika mbabar lan makarya ing satengahing gesang ingkang rumpil. Paulus saestu paring dhawuh bilih iman punika mboten dipun taker kaliyan kasampurnaning gesang, nanging kaliyan raos bakuh tansah nggandhol saha kagungan sesambetan kaliyan Gusti Allah ingkang setya, sanadyan kahanan tata sosial-politik karaos awrat lan tebih saking timbalan kaadilan.
Waosan Mateus, Yesaya, ugi Roma, menawi dipun papanaken sesarengan paring satunggal paseksi ingkang jujur babagan iman ingkang kababar nyata ing kahanan kebak momotan lan rubeda – mboten kahanan ingkang sae lan sampurna. Iman punika mboten tuwuh awit sadaya lumampah kanthi sae, nanging iman punika tuwuh ngrembaka nalika sumadya mboten nampik para tiyang ingkang rawuh saking papan pinggiran – sanadyan asring ndadosaken kahanan mboten nyaman lan mbok bilih saged ngowah-owahi samubarang ingkang sampun katata.
Panutup
Ing dinten punika, 16 Agustus 2026 – satunggal dinten saderengipun bangsa punika mahargya kamardikan. Nalika simbol kamardikan saged kapirsanan lan tembung “mardika” dipun andharaken kanthi sora, Sabdanipun Gusti ing dinten punika ngatag kita supados sumadya sidhem sawetawis lan kepareng mirsani dhiri kanthi jujur. Awit iman punika mboten kadhasaran karana babagan ritus-seremonial kemawon, iman punika saged tuwuh nalika sumadya ngadhepi prekawis lan momotan ingkang tansah binabar ing sauruting pigesangan padintenan. Pasamuwanipun Gusti dipun tanting kanthi saestu – mboten winates ing babagan tata pangabekti utawi babagan fisik kemawon, nanging punapa saestu sumadya mbikak korining timbalan, ngrengkuh saben tiyang ingkang dipun lirwakaken, sarta estu sumadya makarya ing papan-papan ingkang tebih saking babagan kaadilan.
Piwucal saha pitedah ing mangsa pambangunan GKJW punika estu nampeni pamanggih ingkang adi. Ingkang utami mboten ing babagan tata cara struktur, program, utawi seratan-seratan ingkang winates, nanging mangsa pambangunan punika minangka proses nggulawentah iman tansaya ngoyot supados pasamuwan “tansah midhangetaken” punapa ingkang dados prekawis-prekawis gesang. Pasamuwan mboten dhawah ing kapentingan dhiri, lan mboten kapincut godha ingkang tumuju ing raos aman lan mapan. Pambangunan ingkang sejati punika cetha kapirsanan nalika kita sumadya ngupadi kaadilan nalika tata hukum mboten adil, kanthi setya nggulawenthah titahipun Gusti, sumadya ngrengkuh sok sintena kemawon ingkang asring dipun wastani namung dados “pinggiran”, sarta ngugemi lan pracaya kanthi teguh sanadyan wangsulanipun Gusti asring binabar kanthi tata cara ingkang mboten kanyana.
Mugi ing satengahing prekawis lan momotan ing pigesangan kita punika, GKJW dados pasamuwan ingkang kagungan iman ingkang bakuh ing satengahing kahanan ingkang awrat, mboten kecalan pangajeng-ajeng nalika wangsulanipun Gusti mboten enggal dipun tampeni, lan kagungan manah ingkang tinarbuka nalika pasambat-pasambat saking pinggiran punika kapirsanan. Awit ing babagan ingkang makaten kalawau, Gusti Allah ingkang dados sesirahing pasamuwan makarya, mbangun pasamuwanipun kanthi cara ingkang sidhem, nanging setya lan milujengaken. Amin. [gus].
Pamuji: KPJ. 338 Greja Prasasat Baita
____________
[1] Dr. Th. van den End, Tafsiran Alkitab: Surat Roma (BPK Gunung Mulia, 2010). p. 3
[2] Bagi penduduk wilayah sekitar Laut Tengah pada zaman itu, Spanyol adalah ujung bumi. Kedua batu karang yang terletak di sebelah-menyebelah Selat Gibraltar adalah pilar-pilar Herakles, yang merupakan perbatasan bumi yang didiami manusia. Di luarnya ada samudera yang mengelilingi bumi. Maka dengan usaha penginjilan ke Spanyol genaplah karya pengabaran Injil kepada bangsa-banga (bdk. Nubuat Yesaya). Dr. Th. van den End, Tafsiran Alkitab: Surat Roma. p. 6
[3] Dr. Th. van den End, Tafsiran Alkitab: Surat Roma.p.480