Bacaan: 1 Raja-raja 1 : 38 – 48 | Pujian: PKJ. 288
Nats: “Tetapi, jawab Yonatan kepada Adonia, ‘Tidak! Tuan kita Raja Daud telah mengangkat Salomo menjadi raja, dan berkata demikian: Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang pada hari ini telah memberi seorang penerus duduk di atas takhtaku, dan aku sendiri masih boleh menyaksikannya.” (Ayat 43, 48)
Kalau saudara diminta untuk membayangkan keluarga saudara, bagaimana keadaan keluarga saudara? Apakah harmonis atau justru broken home? Seringkali kita terpaku pada gambaran keluarga yang ideal: ayah harus dihormati, ibu harus dipahami, anak dituntut taat dan berhasil. Pertanyaannya, “Apakah keluarga kita sedang berjalan menuju kehendak Allah atau sedang mengamankan ambisi melalui tuntutan peran masing-masing?” Ada keluarga yang terlihat baik-baik saja, tetapi lelah. Semua peran dijalankan, semua aturan ditaati, semua kewajiban dipenuhi namun di balik itu, hubungan suami-isteri, orang tua-anak terasa tegang, mudah tersinggung, dan bernada penuh tuntutan.
Dalam 1 Raja-raja 1:28–53, kita melihat pertarungan antara ambisi dan kehendak Allah. Adonia mengangkat dirinya sendiri menjadi raja. Ia menciptakan legitimasi, mengumpulkan dukungan, dan bergerak seolah-olah semuanya sudah sah. Ambisi selalu ingin cepat, ingin diakui, dan ingin dikukuhkan oleh orang lain. Daud di akhir hidupnya bertindak sebagai raja dan ayah. Ia mendengarkan kehendak Allah dan menaatinya, meski itu berarti ia melawan arus dan merapikan kekacauan yang dibuat Adonia anaknya sendiri. Dari keputusan Daud inilah, Salomo naik takhta. Yang menarik, keputusan yang lahir dari kehendak Allah tidak melahirkan kekerasan, tetapi kasih karunia. Salomo tidak menghabisi Adonia. Ia memberi kesempatan. Kasih karunia memberi ruang untuk pertobatan, bukan sekadar kemenangan.
Di balik aturan, percakapan, dan konflik yang berulang, mungkin ada ambisi yang selama ini tidak kita sadari: keinginan untuk dimengerti tanpa mau mendengarkan, keinginan untuk ditaati tanpa mau mengasihi, keinginan agar keluarga berjalan sesuai rencana kita sendiri. Karena itu pertanyaannya bukan lagi, siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan: kehendak siapa yang sedang kita perjuangkan di dalam keluarga kita? Kehendak Allah tidak selalu membuat keluarga langsung harmonis, tetapi Ia selalu menuntun keluarga kita pada kasih karunia. Dari sanalah lahir keberanian untuk mengampuni, kerendahan hati untuk mendengarkan, dan kesediaan untuk saling menopang. Di sanalah keluarga berhenti saling menuntut, lalu belajar berjalan bersama, pelan, tidak sempurna, namun dipimpin oleh Allah. Amin. [MEA].
“Keluarga dipulihkan bukan ketika semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika tunduk pada kehendak Allah.”