Bacaan: Mazmur 86 : 11 – 17 | Pujian: KJ. 389
Nats: “Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia.” (Ayat 15)
Kidung Jemaat 389 bait satu dibuka dengan lirik sederhana namun sangat dalam: “Besarlah kasih Bapaku, selalu melingkupiku; di mana-mana diriku diasuh-Nya.” Bayangkan seorang anak kecil yang berjalan di tengah keramaian. Ia mungkin belum sepenuhnya paham arah tujuan. Namun ia berjalan dengan tenang karena tangannya digenggam erat oleh bapaknya. Anak itu tidak selalu melihat wajah bapaknya, tetapi ia merasakan kehadiran dan perlindungannya. Kasih Bapa yang digambarkan dalam lagu ini bukan kasih yang sesekali muncul, melainkan kasih yang selalu melingkupi. Allah tidak hanya hadir di saat umat-Nya beribadah, tetapi di setiap saat. Pada baris selanjutnya disebutkan, “Di mana-mana diriku diasuh-Nya”. Lirik menegaskan bahwa relasi Allah sebagai Bapak bersifat personal dan berkelanjutan. Lirik ini mengajak kita masuk ke dalam pengalaman iman yang sama bahwa kita hidup di dunia yang luas dan kadang membingungkan, tetapi kita dilingkupi oleh kasih Bapa Surgawi yang setia, yang tidak pernah melepaskan genggaman tangan-Nya.
Mazmur 86:11–17 memperdalam pemahaman ini. Pemazmur memohon, “Tunjukkanlah jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu.” Doa ini adalah doa seorang anak kepada Bapa yang rindu dibimbing, bukan sekadar ditolong. Di tengah tekanan ancaman dan kerapuhan, Pemazmur menyebut Tuhan Allah “pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih dan setia.” Inilah figur bapa yang sejati: bukan bapa yang meniadakan penderitaan, tetapi bapa yang hadir untuk menguatkan anak-Nya melewati penderitaan.
Ilustrasi lagu dan ungkapan Mazmur hari ini menjadi sangat relevan pada Pekan Adi Yuswa saat ini. Melalui KJ. 389 ini, kita diingatkan sebagai Adi Yuswa, setua apapun kita, tetap ada Allah yang menjadi Bapa kita. Di tengah dunia yang sering kehilangan figur bapak, baik karena luka keluarga, kekerasan, atau ketidakpedulian, Tuhan Allah adalah Bapa yang mengasihi kita. Ia kekal, tidak tergantikan oleh usia dan tidak dibatasi waktu. Karena itu, kita sebagai orang percaya, baik muda maupun lanjut usia, marilah kita hidup dalam pengharapan yang sama bahwa kita memiliki Bapa Sorgawi yang setia dan mengasihi kita untuk selama-lamanya. Amin. [YOPI].
“Bapak adalah cinta pertama bagi putrinya dan sahabat pertama bagi putranya.”