Mendengarkan Suara Anak-Anak Pancaran Air Hidup 6 Juli 2026

6 July 2026

Bacaan: Yeremia 27 : 1 – 11, 16 – 22  |  Pujian: KJ. 357
Nats: “Tetapi, bangsa dan kerajaan yang tidak mau takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel dan yang tidak mau menaruh tengkuknya ke bawah kuk raja Babel, bangsa itu akan Kuhukum dengan pedang, kelaparan, dan penyakit sampar, …” (Ayat 8)

Kata mendengarkan memiliki makna yang lebih dalam daripada kata mendengar. Mendengarkan berarti menangkap suara dengan telinga dan sungguh-sungguh memperhatikan. Seorang anak yang mendengarkan nasihat orang tua atau gurunya, maka ia akan berusaha mendengarkan dengan penuh perhatian, memahami isi nasihat itu, lalu melakukan apa yang menjadi nasihat mereka. Sedangkan kata mendengar berarti dapat menangkap suara/bunyi, mendapat kabar tanpa harus memperhatikan isi pesan secara mendalam. Karena itu, dalam relasi keluarga hal mendengarkan menjadi bagian penting untuk dapat saling mengerti, menghargai, dan menghormati.

Bagian bacaan kita saat ini berkisah tentang hal mendengarkan suara Tuhan. Bangsa Yehuda melalui nabi Yeremia diperintahkan Tuhan Allah untuk tunduk kepada bangsa Babel yang dipimpin oleh Nebukadnezer. Jika mereka menolak maka mereka akan mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi, sebagaimana disebutkan dalam nats kita, mereka akan mengalami kematian akibat kalah perang, mengalami kelaparan dan penyakit sampar. (Ay. 5). Takluk dan tinggal di Babel menjadi cara Allah untuk menghukum bangsa Yehuda yang tidak setia kepada-Nya, sekaligus menjadi cara Allah memelihara umat-Nya. Perintah ini ditujukan kepada Raja Zedekia (Ay. 12-15), para imam, dan rakyat Yehuda (Ay. 16-22). Namun mereka lebih senang mendengarkan nubuat nabi-nabi palsu, yang mengajak mereka untuk melawan Babel daripada menyerah dan tunduk kepada Babel.

Dari isi cerita di atas kita dapat belajar bahwa mendengarkan suara Tuhan bukanlah hal yang mudah, terlebih jika perintah atau sabda Tuhan itu sulit untuk kita lakukan, seperti bangsa Yehuda yang diperintahkan untuk takluk pada Babel. Di sinilah, kita diingatkan bahwa mendengarkan suara Tuhan membutuhkan hati yang peka dan terbuka kepada karya dan rancangan-Nya atas hidup kita. Pada pekan anak saat ini, kita juga diajak untuk mau mendengarkan suara dari anak-anak kita. Kita mau memperhatikan apa yang menjadi harapan dan pendapat mereka. Mari kita membuka diri, memberi waktu bagi anak-anak kita untuk berbicara, dan kita mau mendengarkan suara mereka dengan kerendahan hati. Amin. [AR].

“Mendengarkan dengan telinga, membuka hati, dan meresapi setiap kata penuh makna.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak