Yesus Pahlawanku Khotbah Minggu 5 Juli 2026

22 June 2026

Minggu Biasa | Pekan Anak
Stola Hijau

Bacaan 1: Zakharia 9 : 9 – 12
Mazmur: Mazmur 145 : 8 – 14
Bacaan 2: Roma 7 : 15 – 25a
Bacaan 3: Matius 11 : 16 – 19, 25 – 30

Tema Liturgis: Be A Hero!
Tema Khotbah: Yesus Pahlawanku

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Zakharia 9 : 9 – 12
Nabi Zakharia berasal dari kaum keluarga imam Ido yang berasal dari suku Lewi (Neh 12:16). Setelah pembuangan, ia tinggal di Yerusalem dan melayani sebagai seorang imam dan nabi di sana. Pelayanan yang dilakukan Zakharia adalah menggugah orang-orang Yahudi yang ada di Yehuda dan Yerusalem untuk melanjutkan kembali pembangunan Bait Allah pada masa pemerintahan gubernur Zerubabel dan imam besar Yosua. Semua nubuat disampaikan Zakharia kepada sekitar 50.000 orang Yahudi buangan yang kembali ke Yehuda. Tujuan penulisan kitab ini adalah mendorong sisa-sisa kaum Yahudi untuk melanjutkan kembali pembangunan Bait Allah, agar mereka tekun menjalankan tugas mereka hingga selesai. Yang kedua, memberikan semangat kepada mereka agar tidak berkecil hati karena Mesias yang mereka harapkan tidak segera datang setelah mereka menyelesaikan pembangunan Bait Allah. Di sinilah Zakharia menyatakan arti sebenarnya gambaran Mesias yang akan datang.

Secara garis besar kitab Zakharia dibagi menjadi dua bagian, bagian I (Zak. 1:1 – 8:23) : Nubuat dalam konteks membangun kembali Bait Allah (520 – 518 SM). Bagian II (Zak. 9:1 – 14:21) : Nubuat mengenai Yehuda dan Mesias yang akan datang. Bagian perikop yang kita baca (Zak. 9:9-12) adalah bagian kedua dari nubuat Zakharia yang berbicara tentang Mesias yang akan datang. Diungkapkan di ayat 9, “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Zakharia menggambarkan sosok Mesias sebagai Raja Israel yang adil, jaya, dan lemah lembut. Keadilan menjadi dasar damai sejahtera, maka kehadiran Sang Mesias dipandang sebagai sosok yang akan membawa keadilan yang akan menghadirkan damai sejahtera. Jaya berarti Sang Mesias yang dinantikan akan membawa kemenangan, penebusan, dan keselamatan bagi banyak orang. Zakharia juga menggambarkan Sang Mesias sebagai sosok yang mengendarai keledai. Keledai adalah binatang lambang damai.

Nubuatan Zakharia inilah yang kemudian dituliskan kembali dalam Matius 21:5 dan Yohanes 12:15, nubuat yang digenapi dalam peristiwa Yesus yang memasuki kota Yerusalem. Yesus yang disambut dengan sukacita, dielu-elukan oleh banyak orang. Ia menunggang seekor keledai saat masuk ke Yerusalem dan dipandang sebagai Sang Raja Damai yang mempersatukan semua bangsa, tidak ada lagi permusuhan, peperangan yang menindas dan membinasakan.

Pada bagian ayat 11-12, Zakharia menggambarkan bangsa Yehuda sebagai “orang-orang tahanan dari lubang yang tidak berair”. Artinya bangsa Yehuda hidup sebagai umat tawanan bangsa lain. Itulah sebabnya, Tuhan Allah akan melepaskan mereka karena Tuhan mengingat “darah perjanjian-Ku dengan engkau.” (Ay. 11). Tuhan akan menyelamatkan umat-Nya. Tuhan sendirilah yang akan membebaskan dan melindungi umat-Nya (Ay. 12-14). Karena itu, Zakharia menyampaikan nubuat yang berisi perintah Tuhan Allah agar bangsa Yehuda kembali ke Yerusalem. Tuhan Allah akan memulihkan kembali keadaan Yehuda, bahkan akan mengembalikan kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi (Ay. 12). Mereka akan hidup dalam damai sejahtera sehingga anak cucu mereka dapat bertambah dan bertumbuh dengan baik.

Roma 7 : 15 – 25a
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus, yang ditujukan kepada Jemaat di Roma. Surat ini berisi uraian panjang yang bersifat teologis dan berpengaruh di antara tulisan Paulus yang lainnya. Melalui suratnya ini, Paulus meyakinkan orang percaya di Roma bahwa ia rindu untuk mengunjungi mereka dan menyatakan rencananya untuk segera datang menemui mereka (Rom. 15:23-32). Paulus menuliskan suratnya ini dengan tujuan menguatkan iman mereka di tengah kabar yang memutarbalikkan berita dan ajaran Paulus. Ia juga berusaha memperbaiki beberapa persoalan yang terjadi dalam kehidupan jemaat Roma karena kesalahpahaman sikap orang Yahudi terhadap mereka yang non Yahudi (Rom. 2:21-19; 3:1, 9) dan sebaliknya orang non Yahudi terhadap orang Yahudi (Rom. 11:11-36).

Secara khusus pada bagian perikop bacaan kita (Roma 7:15-25a), Rasul Paulus menasihatkan tentang kebebasan dari pertentangan di bawah Hukum Taurat. Ayat 15-20: Paulus menjelaskan bahwa ada pertentangan antara kehendak melakukan yang baik dengan tindakan yang seharusnya dilakukan. Ayat 21-23: Paulus menyatakan bahwa dosa yang ada dalam diri manusia menyebabkan ketidakmampuan manusia untuk melakukan kebaikan yang diinginkan. Ayat 24-25: Paulus mengungkapkan pengakuan akan ketidakberdayaan dirinya sebagai manusia dengan menyebut diri, ”Aku, manusia celaka!” Ia menyadari bahwa manusia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari maut. Karena itulah, Paulus mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan Allah sebab Dialah sumber pengharapan dan keselamatan. Di dalam Yesus Kristus setiap umat yang percaya akan diselamatkan.

Matius 11 : 16 – 19, 25 – 30
Konteks perikop kita hari ini Matius 11:16 – 19, 25 – 30, berbicara tentang Yesus yang menjelaskan kepada orang banyak tentang jati diri Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah yang mempersiapkan jalan bagi-Nya, kesaksian Yesus akan diri-Nya, dan ajakan Yesus akan keselamatan dari Allah. Kisah dimulai saat Yohanes Pembaptis yang ada di penjara mendengar tentang Yesus yang banyak melakukan pelayanan dan mukjizat. Karena itu, Yohanes Pembaptis menyuruh para muridnya untuk datang menemui Yesus guna memastikan bahwa semua pelayanan dan mukjizat yang Ia lakukan adalah dari Allah. Kemudian Yesus memberikan kepastian kepada para murid Yohanes bahwa semua yang Ia lakukan adalah karya Allah sendiri melalui diri-Nya. (Ay. 4-6). Setelah para murid Yohanes pergi, Yesus mulai berbicara kepada orang banyak tentang Yohanes Pembaptis bahwa dia adalah seorang utusan Allah, yang diutus untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya (Ay. 10).

Di ayat 16 – 19 yang menjadi perikop kita, Yesus menegur orang-orang Yahudi yang berkumpul saat itu. Ia mengumpamakan mereka seperti anak-anak yang duduk di pasar lalu berseru kepada teman-temannya, ”Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung.” (Ay. 17). Perumpaan Yesus ini menggambarkan kekerasan hati orang-orang Yahudi saat itu. Mereka telah mendengarkan seruan Yohanes Pembaptis agar mereka bertobat dan kembali kepada Allah, namun hati mereka tidak serta merta bertobat. Kemudian saat Yesus datang, mereka melihat dan menyaksikan karya Allah dalam rupa-rupa mukjizat yang dilakukan Yesus, namun mereka juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Sang Mesias yang mereka nanti-nantikan. Malah mereka melihat diri Yesus sebagai seorang berdosa yang bergaul dengan pemungut cukai, peminum, dan orang berdosa lainnya. (Ay. 19).

Ayat 25 – 30, merupakan perkataan Yesus kepada Tuhan Allah, sekaligus ajakan Yesus kepada orang-orang Yahudi saat itu untuk percaya kepada-Nya. Dalam doa-Nya, Yesus bersyukur kepada Allah karena pengertian akan karya Allah dinyatakan kepada orang-orang kecil, tetapi tersembunyi bagi mereka yang merasa bijak dan pandai (Ay. 25). Ia melanjutkan perkataan-Nya: untuk mengenal Allah Bapa, maka orang itu harus mengenal-Nya. Yesus menyatakan hanya orang yang mendapat perkenan-Nya, merekalah yang dapat mengenal Allah Bapa dan mengerti bahwa Ia adalah Mesias Sang Anak Manusia yang dinantikan. Oleh karenanya, Yesus berani mengatakan bahwa diri-Nya adalah sumber keselamatan dan pertolongan bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat (Ay. 28). Yesus mengajak orang-orang Yahudi saat itu untuk datang kepada-Nya, yang berarti mereka percaya kepada Yesus. Ia juga berjanji bahwa setiap orang yang datang dan percaya pada-Nya akan mendapatkan kelegaan, yaitu pertolongan dan keselamatan dari Allah. Setiap kuk yang Tuhan pasangkan, itu tidak akan memberatkan mereka, sebab kuk yang Tuhan pasangkan itu akan membuat mereka yang percaya hidup dalam ketaatan dan dapat menjalani hidup dengan tenang.

Benang Merah Tiga Bacaan
Benang merah tiga bacaan kita menjelaskan tentang jati diri Yesus Kristus, Sang Mesias yang dijanjikan sekaligus Sang Juru Selamat manusia. Zakharia menubuatkan sosok Mesias sebagai Sang Raja Damai, yang datang membawa keselamatan. Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Roma mengakui bahwa manusia itu terbatas dan tak berdaya, hanya Yesuslah Sang Pokok Pengharapan dan Keselamatan sejati bagi manusia. Yesus sendiri menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat-Nya. Barangsiapa percaya dan datang kepada-Nya, mereka akan beroleh kelegaan, ketenangan, dan keselamatan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
(Pelayan bertanya kepada anak-anak yang hadir dalam kebaktian: siapa tokoh idola mereka? Mengapa dia mengidolakan tokoh tersebut?)Sejak di bangku sekolah kita sudah dikenalkan dengan para pahlawan bangsa yang berjuang melawan para penjajah, di antaranya kita mengenal sosok Cut Nyak Dien dari Aceh, Patimura dari Maluku, Diponegoro dari Jawa Tengah, dll. Melalui para pahlawan bangsa itu kita mengenal kisah hidup, perjuangan, pengorbanan, dan keteladanan mereka. Sosok pahlawan bangsa ini menggambarkan sosok yang tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi mereka berjuang demi rakyat, memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajah. Demikian di gereja maupun di rumah, Pendeta, Pamong Anak Remaja, orang tua juga mengajarkan tentang tokoh iman kepada anak-anak, seperti Bapa Abraham, Nuh, Musa, Samuel, Daud, Petrus, Paulus, Yesus Kristus, dll. Melalui para tokoh Alkitab ini, Pendeta, Pamong, Orang Tua mengajarkan dan mendidik mereka akan kisah hidup mereka yang menjadi inspirasi, panggilan mereka, pengorbanan mereka, dan teladan hidup mereka. Dari para tokoh Alkitab inilah iman anak dibangun dan ditumbuhkan, sehingga mereka mengenal Tuhan Allah melalui kesaksian Alkitab yang terus menerus diajarkan dan disaksikan. Maka baik jika anak-anak kita memiliki tokoh iman dalam pertumbuhan mereka, terlebih mereka mengidolakan Tuhan Yesus Kristus sebagai tokoh atau pahlawan dalam hidup mereka.

Isi
Secara garis besar ketiga bacaan kita menjelaskan tentang jati diri Yesus Kristus, Sang Mesias yang dijanjikan dan Sang Juru Selamat manusia. Zakharia menubuatkan sosok Mesias sebagai Sang Raja Damai, yang datang membawa keselamatan. Diungkapkan dalam Zak. 9:9, “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” Zakharia menggambarkan sosok Mesias sebagai Raja Israel yang adil, jaya, dan lemah lembut. Keadilan menjadi dasar damai sejahtera, maka kehadiran Sang Mesias dipandang sebagai sosok yang akan membawa keadilan dan yang akan menghadirkan damai sejahtera. Jaya berarti Sang Mesias yang dinantikan akan membawa kemenangan, penebusan, dan keselamatan bagi banyak orang. Zakharia juga menggambarkan Sang Mesias sebagai sosok yang mengendarai keledai. Keledai adalah binatang lambang damai.

Nubuatan Zakharia inilah yang kemudian dituliskan kembali dalam Matius 21:5 dan Yohanes 12:15, yang digenapi melalui peristiwa kedatangan Yesus yang memasuki kota Yerusalem. Ia disambut dengan sukacita, dielu-elukan oleh banyak orang. Ia menunggang seekor keledai saat masuk ke Yerusalem. Dan Dia dipandang sebagai Sang Raja Damai yang mempersatukan semua bangsa, tidak ada lagi permusuhan, peperangan yang menindas dan membinasakan.

Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Roma mengakui bahwa manusia itu terbatas dan tak berdaya, hanya Yesuslah sang pokok pengharapan dan keselamatan sejati bagi manusia. Ia menjelaskan bahwa ada pertentangan antara kehendak melakukan yang baik dengan tindakan yang seharusnya dilakukan (Ay. 15-20). Dosa yang ada dalam diri manusia menyebabkan ketidakmampuan manusia untuk melakukan kebaikan yang diinginkan. (Ay. 21-23) Karena itu, Paulus mengungkapkan pengakuan akan ketidakberdayaan dirinya sebagai manusia dengan menyebut diri, ”Aku, manusia celaka!” Ia menyadari bahwa manusia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari maut. Meskipun demikian Paulus mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan Allah sebab Dialah sumber pengharapan dan keselamatan. Di dalam Yesus Kristus, setiap umat yang percaya akan diselamatkan. (Ay. 24-25)

Yesus sendiri menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia yang datang ke dunia untuk menyelamatkan umat-Nya. Barangsiapa percaya dan datang kepada-Nya, mereka akan beroleh kelegaan, ketenangan, dan keselamatan. Dalam doa-Nya, Yesus bersyukur kepada Allah karena pengertian akan karya Allah dinyatakan kepada orang-orang kecil, tetapi tersembunyi bagi mereka yang merasa bijak dan pandai (Ay. 25). Ia menyatakan hanya orang yang mendapat perkenan-Nya, merekalah yang dapat mengenal Allah Bapa dan mengerti bahwa Ia adalah Mesias Sang Anak Manusia yang dinantikan. Oleh karena itu, Yesus berani mengatakan bahwa diri-Nya adalah sumber keselamatan dan pertolongan bagi mereka yang letih lesu dan berbeban berat (Ay. 28). Ia mengajak orang-orang Yahudi saat itu untuk datang kepada-Nya, yang berarti mereka percaya kepada-Nya. Ia juga berjanji bahwa setiap orang yang datang dan percaya pada-Nya akan mendapatkan kelegaan, pertolongan, dan keselamatan dari Allah. Setiap kuk yang Tuhan pasangkan, itu tidak akan memberatkan mereka, sebab kuk yang Tuhan pasangkan itu akan membuat mereka yang percaya hidup dalam ketaatan dan menjalani hidup dengan tenang.

Penutup
Hari ini merupakan Pekan Anak, dimana kita diajak untuk memperhatikan, mendidik, dan menjadi teladan bagi anak-anak Jemaat. Anak adalah anugerah Tuhan bagi keluarga-keluarga GKJW yang hidup di tengah-tengah komunitas Jemaat dan masyarakat. Pertanyaan reflektif bagi kita sebagai orang tua: “Apakah kita sudah mengajarkan dan mengenalkan Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan anak-anak kita?” Tentu untuk mengajarkan dan mengenalkan Tuhan Yesus, setiap orang tua perlu mengenal dan merasakan kehadiran Tuhan Yesus dalam kehidupan mereka. Kita tidak cukup hanya kenal dan percaya kepada Tuhan Yesus, namun kita juga harus mempercayakan hidup dan keluarga kita dalam kuasa, kasih, dan penyertaan-Nya.

Kepada anak-anak, mari menjadikan Tuhan Yesus sebagai pahlawan dalam hidup kalian. Kalian boleh memiliki tokoh idola, yang menyemangati dan motivasi kalian dalam hidup, namun jangan melupakan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus bukan hanya sosok pahlawan yang rela berkorban dan mati disalib, lebih dari itu, Dia adalah Juru Selamat yang menebus dan menyelamatkan kita semua dari dosa. Dengan selalu percaya dan menjadikan Tuhan Yesus Kristus sebagai pahlawan, penolong, dan Juru Selamat hidup kita, maka kita akan kuat berdiri menghadapi segala persoalan, tantangan, dan percobaan. Mari kita selalu mengandalkan Tuhan Yesus, kita percaya Dialah satu-satunya Juru Selamat kita yang menyelamatkan dan memberikan hidup kekal bagi kita semua. Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita. Amin. [AR].

 

Pujian: KJ. 67  Hai Anak-anak, Muda dan Belia

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
(Palados miwiti khotbahipun srana atur pitakenan dhateng para anak ingkang tumut kebaktian: “Sapa tokoh idola samean? Kenapa samean milih tokoh kuwi dadi idolane samean?”)

Wiwit saking bangku sekolah kita sampun tepang kaliyan para pahlawan bangsa ingkang merjuang nglawan para penjajah, antawisipun kita tepang kaliyan Cut Nyak Dien saking Aceh, Patimura saking Maluku, Pangeran Diponegoro saking Jawi Tengah, lsp. Lumantar para pahlawan punika kita mangertos bab cariyos gesangipun, perjuanganipun, pangorbananipun, lan tuladha gesangipun. Sosok pahlawan bangsa punika nggambaraken sosok ingkang mboten namung mikir dhirinipun piyambak, nanging sosok ingkang merjuang kangge rakyat, merjuangaken kamardikan nglawan penjajah. Mekaten ugi ing salebeting greja lan griya, Pendita, Pamong Anak lan Remaja, tiyang sepuh ugi mulang bab tokoh iman dhateng para putra putrinipun, kados ta Rama Abraham, Nuh, Musa, Samuel, Daud, Petrus, Paulus, Gusti Yesus Kristus, lsp. Lumantar para tokoh iman punika, Pendita, Pamong Anak lan Remaja, ugi tiyang sepuh mucal lan ndidik para anak bab carita gesangipun para tokoh iman ingkang dados inspirasi, timbalanipun para tokoh punika, pangorbananipun sarta tuladha gesangipun.  Saking kesaksian iman para tokoh iman punika, iman anak-anak kita dipun wangun lan dipun tuwuhaken, saengga anak-anak kita tepang kaliyan Gusti Allah lumantar Kitab Suci ingkang terus dipun wucalaken lan dipun sekseni. Pramila sae bilih anak-anak kita punika nggadhah tokoh iman salebeting tuwuh kembangingipun, langkung-langkung anak-anak kita ndadosaken Gusti Yesus Kristus dados tokoh utawi pahlawan salebeting gesangipun.

Isi
Sacara ringkesipun tiga waosan kita njelasaken bab jati dhirinipun Gusti Yesus Kristus, Sang Masih ingkang dipun janjiaken lan Sang Juru Wilujenging manungsa. Nabi Zakharia medar pameca bab Sang Masih minangka Ratuning Katentreman, ingkang rawuh ngasta kawilujengan. Bab punika kaserat ing Zak. 9:9, “He putri Sion, surak-suraka kang sora; he putri Yerusalem, giyak-giyaka! Lah ratunira ngrawuhi sira; Panjenengane iku adil sarta unggul, lembah panggalihe, nitih kuldi, belo anaking kuldi momotan.” Zakharia nggambaraken Sang Masih punika minangka Ratuning Israel ingkang adil, unggul, lan lembah penggalihipun. Kaadilan punika dados dhasaring tentrem rahayu, mila rawuhipun Sang Masih punika kedah dipun pandeng minangka sosok ingkang ngasta kaadilan lan nuwuhaken tentrem rahayu. Unggul tegesipun Sang Masih ingkang dipun rantos punika badhe ngasta kamenangan, panebusan, lan kawilujengan kangge tiyang kathah. Zakharia ugi nggambaraken Sang Masih punika rawuh nitih kuldi. Kuldi punika kewan ingkang nglambangaken katentreman.

Pameca saking nabi Zakharia punika ing tembe dinten dipun serat malih ing Injil Mateus 21:5 lan Yokanan 12:15, ingkang isinipun genepi pameca bab rawuhipun Sang Masih ing Gusti Yesus ingkang mlebet kutha Yerusalem. Ing pundi Gusti Yesus dipun sambut kanthi sukabingah, dipun puja-puji kaliyan tiyang kathah. Panjenenganipun nitih kuldi nalika mlebet Yerusalem. Mekaten ugi Panjenenganipun dipun pandeng minangka Ratuning Katentreman ingkang nunggilaken sadaya bangsa, mboten wonten malih memengsahan, perang ingkang nindes lan musnahaken.

Paulus ing seratipun dhateng pasamuwan Rum ngakeni bilih manungsa punika winates lan ringkih, namung Gusti Yesus kemawon ingkang dados sumbering pangajeng-ajeng lan kawilujengan ingkang sejati kangge para manungsa. Paulus njelasaken bilih wonten pemanggih ingkang benten antawis pemanggih bab tumindak sae kaliyan tumindak ingkang kedah dipun lampahi. Dosa manungsa punika ingkang dados sebabipun manungsa mboten saged nindakaken kasaenan ingkang dipun pingini. Karana punika, Paulus nedahaken pangaken bilih piyambakipun punika mboten nggadhah daya kanthi nyebut dhirinipun, “Wong cilaka aku iki!”  Piyambakipun sadar bilih manungsa mboten saged wilujeng saking pati. Ing ngriki Paulus ngungkapaken saos sukoripun dhumateng Gusti Allah, awit Panjenenganipun punika sumbering pangajeng-ajeng lan kawilujengan kangge manungsa. Wonten ing Gusti Yesus Kristus, saben umat ingkang pitados badhe dipun wilujengaken.

Gusti Yesus piyambak nyatakaken bilih Panjenenganipun punika Putraning Manungsa ingkang rawuh ing donya punika kangge nylametaken umat-Ipun. Sinten kemawon ingkang pitados lan marek sowan ing ngarsan-Ipun badhe nampi kelegaan, ketenangan, lan kawilujengan. Ing pandongan-ipun Gusti Yesus ngaturaken sokur dhumateng Gusti Allah awit pangertosan bab pakaryanipun Allah dipun nyataaken dhateng para tiyang alit, nanging kasingitaken kangge tiyang ingkang rumaos pinter. Gusti Yesus nyatakaken bilih namung tiyang ingkang dipun parengaken kemawon ingkang saged tepang kaliyan Allah Sang Rama lan mangertos bilih Gusti Yesus punika Sang Masih Putraning Manungsa ingkang dipun rantos. Gusti Yesus ugi wantun nyekseni bilih Panjenenganipun punika sumbering kawilujengan lan pitulungan kangge para tiyang ingkang ringkih lan nyanggi momotan ingkang awrat. Mila Panjenenganipun ngajak para tiyang Yahudi nalika semanten supados pitados dhumateng Panjenenganipun. Gusti Yesus ugi janji, saben tiyang ingkang marek sowan lan pitados dhumateng Panjenenganipun, piyambakipun badhe nampi kelegaan, pitulungan, lan kawilujengan saking Gusti Allah. Lumantar kuk ingkang dipun pasang dening Gusti, punika mboten abot, awit kuk punika badhe ndadosaken para tiyang pitados sami manut lan nglampahi gesangipun kanthi tentrem.

Panutup
Dinten punika kita sami mengeti Pekan Anak, ing pundi kita sami dipun ajak kangge nggatosaken, nggulawentah lan dados tuladha kangge anak-anak ing pasamuwan. Anak punika sih rahmatipun Gusti kangge brayat-brayat GKJW ingkang gesang ing satengah-tengahing Pasamuwan lan masyarakat. Pitakenan reflektif kangge kita minangka tiyang sepuh: “Punapa kita sampun gulawentah lan nepangaken Gusti Yesus Kristus salebeting gesang anak-anak kita?” Tamtu kangge nggulawentah lan nepangaken Gusti Yesus, saben tiyang sepuh kedah tepang lan ngraosaken rawuhipun Gusti Yesus ing pigesanganipun. Mila kita mboten cekap namung tepang lan pitados dhumeteng Gusti Yesus kemawon, kita ugi kedah masrahaken gesang kita lan brayat kita sawetahipun ing panguwaos, katresnan, lan panganthin-Ipun Gusti.

Kangge anak-anak, payo padha ndadekna Gusti Yesus dadi pahlawan ning uripmu. Kowe kabeh oleh duwe tokoh idola sing nyemangati lan dadi motivasi uripmu, nanging aja lali karo Gusti Yesus. Gusti Yesus iku ora mung dadi pahlawan ing wis rila ngorbanake Sarirane lan mati sinalib, luwih saka iku, Panjenengane kuwi Juru Wilujeng kang wus nebus lan nylametake awake dhewe saka dosa. Srana pracaya lan ndadekake Gusti Yesus dadi pahlawan, juru tulung lan juru slamet uripe awake dhewe, awake dhewe isa kuat ngadhek ngadepi kabeh masalah, tantangan, lan pacoban. Ayo awake dhewe padha ngandalna Gusti Yesus, pracaya yen mung Gusti Yesus kuwi siji-sijine Juru slamet kita. Gusti Yesus kuwi kang nylametake lan paring urip langgeng kangge awake dhewe. Gusti Yesus tansah nganthi lan mberkahi awake dhewe kabeh. Amin. [AR].

 

Pamuji: KPJ. 386  Welingku Mring Anak Putu

Renungan Harian

Renungan Harian Anak