Keluarga Kristen: Hidup dalam Kebenaran, Kesucian, dan Kasih Kristus Khotbah Minggu 28 Juni 2026

15 June 2026

Minggu Biasa 8 | Pembukaan Bulan Keluarga
Stola Hijau

Bacaan 1: Yeremia 28 : 5 – 9
Mazmur: Mazmur 89 : 1 – 4, 15 – 18
Bacaan 2: Roma 6 : 12 – 23
Bacaan 3: Matius 10 : 40 – 42

Tema Liturgis: Bangunlah Mezbah Keluarga
Tema Khotbah: Keluarga Kristen: Hidup dalam Kebenaran, Kesucian, dan Kasih Kristus

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 28 : 5 – 9
Perikop ini adalah bagian dari kisah pertentangan antara nabi Yeremia dengan Hananya bin Azur. Hananya bernubuat bahwa dalam dua tahun, kuk Babel akan dipatahkan dan perkakas Bait Allah yang dibawa Nebukadnezar akan kembali. Yeremia menanggapinya dalam ayat 5-6. Respons Yeremia terhadap Hananya, mula-mula tidak langsung menolak nubuat Hananya. Ia berkata, “Amin! Kiranya demikianlah diperbuat TUHAN…” (Ay. 6). Sikap ini menunjukkan kerendahan hati Yeremia. Ia pun sebenarnya mengharapkan pemulihan bagi Yehuda, tetapi ia tidak mau berkata atas nama Tuhan tanpa kepastian firman-Nya.

Ayat 7-8 – Pengingat sejarah nubuat. Yeremia mengingatkan bahwa para nabi sebelumnya sering bernubuat tentang perang, bencana, dan malapetaka. Artinya, nubuat biasanya datang sebagai peringatan atau panggilan pertobatan. Ia ingin menekankan bahwa nubuat yang menyenangkan hati belum tentu benar. Sebaliknya, sering kali firman Allah terdengar keras karena menyingkapkan dosa dan memanggil umat untuk kembali kepada-Nya.

Ayat 9 – Kriteria nabi sejati. Yeremia memberikan ukuran yang jelas: “Apabila perkataan nabi itu digenapi, barulah diketahui bahwa benar-benar Tuhan yang mengutus nabi itu.” Nubuat bukan dinilai dari indahnya kata-kata atau enaknya didengar, melainkan dari kesesuaiannya dengan kehendak Tuhan dan penggenapannya dalam sejarah. Prinsip ini menegaskan bahwa kebenaran seorang nabi diuji oleh kesetiaan dan kegenapan firman, bukan oleh popularitasnya. Karena itu, perlu berhati-hati terhadap nubuat palsu. Tidak semua pesan rohani yang terdengar meyakinkan berasal dari Tuhan. Nabi sejati menyampaikan kebenaran, meskipun nubuat itu pahit. Yeremia lebih memilih menyampaikan berita tentang pembuangan dan hukuman ketimbang memberikan harapan palsu.

Roma 6 : 12 – 23
Dalam bagian ini Rasul Paulus menekankan bahwa orang percaya yang telah dibaptis di dalam Kristus tidak lagi hidup di bawah kuasa dosa, melainkan harus hidup sebagai hamba kebenaran yang menghasilkan kekudusan dan berujung pada hidup kekal.

Ayat 12-13 – Jangan biarkan dosa berkuasa. Paulus memperingatkan Jemaat Roma agar “Janganlah dosa berkuasa di dalam tubuhmu yang fana, sehingga kamu menuruti keinginannya.” Dosa masih ada di dunia, tetapi orang percaya tidak boleh menyerahkan anggota tubuhnya sebagai senjata kejahatan. Sebaliknya, mereka dipanggil untuk mempersembahkan diri kepada Allah sebagai alat kebenaran.

Ayat 14 – Hidup di bawah kasih karunia. “Dosa tidak akan berkuasa atas kamu, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Ayat ini menunjukkan bahwa Hukum Taurat hanya bisa menyatakan dosa, tetapi kasih karunia di dalam Kristus memberi kuasa untuk mengalahkan dosa. Hal ini berarti bahwa kasih karunia bukan alasan untuk berbuat dosa, melainkan kuasa untuk hidup benar.

Ayat 15-18 – Dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran. Paulus menolak kesalahpahaman: “Kalau di bawah kasih karunia, berarti boleh berbuat dosa?” Jawabnya: “Sekali-kali tidak!” Ia memakai ilustrasi perbudakan: siapa yang kita taati, disitulah kita menjadi hamba. Jika kita taat pada dosa, berarti kita menjadi hamba dosa dan hal itu menjadikan hidup kita menuju maut. Sedangkan jika kita taat pada kebenaran, berarti kita menjadi hamba Allah dan ini menjadikan kita menuju kehidupan. Orang percaya dahulu adalah hamba dosa, tetapi kini dibebaskan dan dijadikan hamba kebenaran.

Ayat 19-21 – Buah dari dosa adalah maut. Paulus menegaskan: “dulu kamu menyerahkan tubuhmu kepada kecemaran, tetapi sekarang serahkan kepada Allah untuk hidup kudus.” Buah dari hidup dalam dosa hanyalah penyesalan dan kematian. Hidup lama menghasilkan rasa malu dan kebinasaan, tetapi hidup baru menghasilkan kekudusan dan sukacita.

Ayat 22-23 – Upah dosa dan karunia Allah. Orang percaya kini merdeka dari dosa dan menjadi hamba Allah. Buahnya adalah pengudusan dan kesudahannya adalah hidup kekal. Paulus menutup nasihatnya dengan kontras yang tajam, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Kata “upah” (ὀψώνια – opsōnia) berarti gaji tentara, yaitu sesuatu yang memang pantas diterima. Sedangkan “karunia” (χάρισμα – charisma) adalah pemberian cuma-cuma yang tidak pantas kita terima.

Matius 10 : 40 – 42
Ayat 40 – Penyambutan para murid adalah penyambutan Kristus. Yesus mengutus para murid untuk memberitakan Injil. Ia menegaskan bahwa siapa yang menerima mereka, sebenarnya menerima Dia sendiri. Lebih dalam lagi, menerima Yesus berarti menerima Allah Bapa yang mengutus-Nya. Ini menegaskan otoritas kerasulan: para murid Yesus bukan hanya wakil manusia, tetapi wakil Kristus sendiri. Kehadiran para murid membawa hadirat Kristus sendiri. Menolak mereka berarti menolak Yesus dan Bapa.

Ayat 41 – Upah bagi yang menerima nabi atau orang benar. Yesus memakai contoh: menyambut seorang nabi karena ia nabi, atau menyambut seorang benar karena ia benar. Artinya, penghormatan dan penerimaan kita kepada Utusan Allah akan berbuah berkat. “Upah nabi” bukan berarti menjadi nabi, tetapi menerima bagian dalam berkat yang Allah berikan melalui pelayanan nabi itu. Allah menghargai setiap orang yang mendukung pelayanan hamba-Nya, walaupun mereka bukan nabi atau pelayan langsung.

Ayat 42 – Sekecil apa pun pelayanan tidak akan sia-sia. Yesus menutup dengan contoh sederhana, yaitu memberikan segelas air sejuk kepada seorang kecil (bisa murid, orang yang lemah, atau orang yang hina). Syaratnya adalah pemberian itu dilakukan “karena ia murid-Ku,” bukan sekadar kebaikan sosial, tetapi sebagai ungkapan iman kepada Kristus. Yesus menjanjikan tidak ada pelayanan yang terlalu kecil; Allah memperhitungkan semuanya. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan kasih sekecil apa pun, jika dilakukan dalam nama Kristus memiliki nilai kekal.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kesetiaan kepada Tuhan memampukan kita untuk hidup dalam kebenaran dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Kita dapat menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan dalam tindakan atau perilaku hidup yang benar sebagai hamba Allah yang telah menerima anugerah Allah. Di mulai dari keluarga kita masing-masing, dengan cara menghidupi nilai-nilai Kristiani, yaitu saling mengasihi, jujur, mengampuni, dan melayani anggota keluarga, sebagai bentuk penghormatan kepada Kristus. Dengan kata lain, sebagai keluarga Kristen, kita dipanggil untuk membangun hidup dalam kebenaran, meninggalkan dosa, dan mewujudkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pernahkah saudara melihat sebuah rumah, yang dari luar tampak indah dan kokoh, tetapi ketika saudara masuk ke dalamnya, ternyata rumah itu penuh retakan, bocor, bahkan hampir roboh? Keadaan ini dapat menjadi gambaran dari sebuah keluarga. Ada beberapa atau banyak keluarga, bahkan keluarga Kristen, yang dari luar tampak harmonis, punya rumah bagus, ekonomi cukup, anak-anak sekolah tinggi. Tetapi ketika kita melihat lebih dekat, ternyata ada pertengkaran, ketidaksetiaan, rasa kecewa, bahkan kehilangan damai sejahtera. Dari sini kita bertanya, “Apakah sesungguhnya yang membuat keluarga kuat, kokoh, dan penuh damai? Apakah harta? Pendidikan? Jabatan?” Tidak. Alkitab mengingatkan kita bahwa yang membuat keluarga kuat adalah bila dibangun di atas kebenaran dan kasih Kristus. Inilah yang kita sebut sebagai mezbah keluarga. Mezbah keluarga bukan sekadar doa malam bersama, tetapi gaya hidup yang berpusat pada Kristus, yaitu hidup dalam kebenaran, dalam kekudusan, dan dalam kasih.

Isi
Mengawali bulan keluarga saat ini, mari kita belajar bagaimana  keluarga Kristen membangun mezbah keluarga, melalui tiga pilar utama, yaitu: kebenaran, kekudusan, dan kasih melalui bacaan kita.
Pertama, Mezbah Keluarga dibangun dengan hidup dalam kebenaran. Dalam bacaan pertama disaksikan mengenai dua nabi yang berbicara, yaitu Hananya dan Yeremia. Nabi Hananya berkata dengan nubuat yang manis, “Tidak lama lagi, semua penderitaan akan selesai, kuk Babel akan dipatahkan, dan kita akan bebas.” Mendengar itu, tentu bangsa Israel senang, karena kata-kata Hananya memberi harapan yang enak didengar. Yeremia berdiri dan berkata: “Amin, semoga begitu”. Tetapi nabi sejati adalah nabi yang menyampaikan kebenaran firman Tuhan, dan tanda kebenarannya adalah bila nubuat itu sungguh terjadi. Artinya, Yeremia tidak ingin menyenangkan telinga bangsa Israel, melainkan dia menyampaikan kebenaran dari Allah. Dari sini kita belajar bahwa dalam keluarga, kita juga sering tergoda untuk hanya mendengarkan kata-kata manis. Kita menutupi masalah dengan berkata, “Ah, semua baik-baik saja,” padahal kenyataannya tidak. Sebenarnya yang dibutuhkan keluarga adalah keberanian untuk hidup dalam kebenaran. Karena itu, membangun mezbah keluarga berarti berani menegakkan kebenaran Allah, bukan sekadar mencari kenyamanan semata.

Kedua,  Mezbah Keluarga dibangun dengan hidup dalam kekudusan. Dalam surat Roma, Paulus menulis dengan tegas, “Janganlah dosa berkuasa di dalam tubuhmu… kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.” Paulus memakai perbandingan sederhana: kita ini pasti menjadi hamba. Entah kita menjadi hamba dosa atau hamba kebenaran. Pertanyaan penting bagi kita, “Di dalam keluarga kita, siapa yang berkuasa? Apakah ego, amarah, kesombongan, dan keinginan duniawi? Ataukah Kristus dengan kasih-Nya?” Kalau dosa yang berkuasa, maka keluarga akan retak, penuh pertengkaran, dan kekecewaan. Tetapi jika Kristus yang berkuasa, maka keluarga akan bertumbuh dalam kekudusan. Mezbah keluarga, bukan hanya doa formal, tetapi juga pembiasaan hidup kudus sehari-hari. Anak-anak belajar taat dan jujur. Orang tua belajar setia dan penuh kasih. Semua anggota keluarga bersama-sama mempersembahkan diri kepada Tuhan. Artinya baik orang tua maupun anak dapat menempatkan hidupnya untuk Tuhan, bukan hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Misal: orang tua mengajak anak berdoa bukan hanya untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga mendoakan tetangga yang sakit, teman yang kesusahan. Orang tua bersedia meluangkan waktu untuk anak, anak belajar menghormati orang tua.

Ketiga, Mezbah Keluarga dibangun dengan hidup dalam kasih Kristus.  Dalam Matius 10:40, 42, Tuhan Yesus berfirman, “Siapa menyambut kamu, ia menyambut Aku… bahkan barangsiapa memberi segelas air sejuk kepada seorang kecil ini, ia tidak akan kehilangan upahnya.” Perkataan Tuhan Yesus ini sangat indah. Artinya, setiap tindakan kasih, sekecil apa pun, jika dilakukan dengan tulus karena Kristus, sangat berharga di mata Allah. Tidak perlu menunggu perbuatan besar; hal sederhana saja, seperti segelas air sejuk, berarti besar di hadapan Tuhan.

Keluarga Kristen juga dipanggil untuk saling mengasihi dalam hal-hal kecil. Sayangnya, sering kali kita ramah kepada orang luar, tetapi kasar kepada orang rumah. Kita murah senyum di luar, tetapi mudah marah di rumah. Padahal kasih harus dimulai dari dalam keluarga. Mezbah keluarga bukan hanya doa malam, tetapi juga tindakan kasih yang nyata: berbicara dengan lembut, memperhatikan kebutuhan anggota keluarga, dan saling mendoakan satu sama yang lain.

Penutup
Mezbah keluarga bukan sekadar rutinitas doa, tetapi pola hidup Kristen dalam keluarga. Mari kita bertekad untuk membangun mezbah keluarga, yaitu hidup dalam kebenaran, kekudusan, dan dalam kasih Kristus. Dengan begitu, kita sebagai keluarga Kristen akan menjadi kuat, bukan hanya di dalam, tetapi juga dapat ikut serta mewujudkan karya Tuhan Allah, sehingga kita dapat menjadi berkat bagi dunia. Amin. [nn].

 

Pujian:

  • 451 Bila Yesus Berada di Tengah Keluarga
  • 289 Keluarga Hidup Indah

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Punapa panjenengan nate mirsani griya ingkang saking njawi katingal kiyat lan endah, nanging nalika mlebet, griya punika tembokipun sampun retak, bocor, lan meh ambruk? Kawontenan punika saged dados gambaran tumrap gesang bebrayatan. Wonten (menawi ugi kathah) brayat, kalebet ugi brayat Kristen, ingkang ketingal harmonis, nggadhah griya sae, ekonominipun mapan, anak-anakipun sekolah ngantos inggil. Nanging nalika kita tingali saking celak, wonten crah, mboten setya, raos kuciwa, malahan ngantos kecalan katentreman. Saking ngriki kita taken, “Sejatosipun punapa ingkang saged ndadosaken brayat punika kiyat, kukuh, lan kebak katentreman? Punapa donya brana? Pendidikan? Kalenggahan?” Mboten. Kitab Suci ngengetaken dhateng kita bilih ingkang saged ndadosaken brayat punika kiyat, inggih punika nalika dipun wangun ing sainggilipun kayekten lan sihipun Sang Kristus. Punika ingkang dipun wastani Misbyah Brayat. Misbyah Brayat punika mboten namung dedonga ing wanci dalu sesarengan, nanging tumindak gesang ingkang ndadosaken Sang Kristus punika pusat, inggih punika gesang ing kayekten, ing kasucen lan ing katresnan.

Isi
Miwiti sasi kuluwarga samangke, swawi minangka brayat Kristen kita sami sinau mangun misbyah brayat lumantar tiga tumindak utami, inggih punika: kayekten, kasucen, lan katresnan lumantar waosan kita.
Sepisan, Misbyah brayat punika dipun yasa sarana gesang ing salebeting kayekten. Ing waosan kita ingkang wiwitan wau dipun sebataken bilih wonten nabi kalih ingkang saweg ngendika, inggih punika Hananya lan Yeremia. Nabi Hananya ngaturaken pameca ingkang manis, bilih mboten dangu malih sadaya kasangsaranipun bangsa Israel badhe rampung, pasanganipun ratu ing Babil bakal dipun putungaken lan para umat bakalan uwal saking bilai. Mireng ingkang kados mekaten, tamtu ndadosaken bangsa Israel bingah, awit tembung-tembung ingkang dipun aturaken Hananya punika sekeca dipun mirengaken. Nanging nabi Yeremia jumeneng lan ngandika: “Amin, Muga-muga Sang Yehuwah tumindak mangkono.” Nanging, nabi sejati punika ingkang nglantaraken dhawuhipun Gusti, lan tanda bilih punika leres inggih pameca ingkang dipun dhawuhaken punika estu kelampahan. Tegesipun, nabi Yeremia punika mboten pengin namung ngucapaken tembung ingkang ngremenaken nalika dipun mirengaken, nanging estu ngaturaken kayekten minangka dhawuh Pangandikanipun Gusti. Saking ngriki kita saged sinau bilih ing salebeting brayat, kita asring kagodha kangge mirengaken pawartos ingkang sae lan tembung-tembung ingkang manis, sinaosa punika palsu. Kita asring nutupi prekawis sarana matur, Ah, kabeh mengko ya ora apa-apa”, kamangka nyatanipun mboten kados mekaten. Sejatosipun ingkang dipun betahaken dening brayat inggih punika, wantun gesang ing kayekten. Awit saking punika, ngyasa misbyah brayat punika ateges wantun nglampahi kayektenipun Gusti, mboten namung pados aman lan nyaman.

Kaping kalih, Misbyah brayat punika kayasa sarana gesang ing salebeting kasucen. Wonten ing serat Rum, Rasul Paulus nyerat, “Mulane dosa aja nganti nguwasani badanmu… Kowe wis padha kaluwaran saka ing dosa lan dadi abdining kebeneran”. Paulus ndamel perbandingan: kita punika tamtu dados abdi. Duka kita dados abdining dosa utawi abdining kabeneran. Pitakenan ingkang wigati kangge kita, “Ing satengahipun brayat kita, sinten ingkang nguwaosi? Punapa ego? Nepsu? Gumedhe? Kamelikan kadonyan? Punapa Sang Kristus kaliyan katresnan-Ipun?” Bilih dosa ingkang nguwaosi, brayat kita tamtu pecah, awit kebak ing crah lan raos kuciwa. Nanging bilih Sang Kristus ingkang nguwaosi, tamtu brayat kita saged tuwuh ing salebeting kasucen. Misbyah brayat punika mboten namung pandonga, nanging kados pundi kita ndadosaken gesang suci punika minangka pakulinan ing pigesangan saben dinten. Anak-anak saged sinau setya lan jujur. Tiyang sepuh sinau setya lan kebak ing katresnan. Sadaya anggota brayat misungsungaken gesangipun dhumateng Gusti. Tegesipun, sae minangka tiyang sepuh mekaten ugi minangka anak, saged mapanaken gesangipun kagem Gusti, mboten namung ing greja, nanging ugi ing gesang padintenan. Umpaminipun, tiyang sepuh ngajak anak ndongakaken tanggi ingkang sawek kesrakat gesangipun, ingkang sakit, dados mboten namung menggalih kabetahanipun piyambak. Tiyang sepuh saged nglodhangaken wekdal kangge anak, anak saged urmat dhateng tiyang sepuhipun.

Kaping tiga, Misbyah brayat kawangun sarana gesang ing salebeting Katresnanipun Sang Kristus. Ing Mateus 10:40, 42, Gusti Yesus dhawuh: “Sing sapa nampani kowe, iku dadi Aku sing ditampani… sing sapa aweh banyu kang seger marang salah sawijining wong cilik iki… wong iku mesthi bakal tampa pituwase”. Dhawuh punika elok. Tegesipun, saben tumindak tresna, sinaosa namung alit, bilih dipun tindakaken kalayan eklas awit karana Sang Kristus, punika wigati ing ngarsanipun Gusti. Dados mboten prelu ngrantos tumindak ingkang ageng, tumindak ingkang prasaja, kados ta toya seger sacangkir, ing ngarsanipun Gusti punika wigati sanget.

Brayat Kristen ugi dipun timbali supados saged sami nresnani wiwit prekawis ingkang alit. Nanging kadang kita asring sae dhateng tiyang sanes, nanging kasar dhateng tiyang ing griya. Kita sumeh dhateng tiyang sanes, nanging gampil nesu dhateng brayat kita. Kamangka, katresnan punika kedah kawiwitan saking brayat kita. Misbyah brayat punika mboten namung ndonga ing wanci dalu sesarengan, nanging ugi tumindak tresna ingkang nyata, kados ta pangucap kita ingkang lembut, nggatosaken kabetahanipun brayat, sarta sami donga-dinonga ing antawisipun anggota brayat.

Panutup
Misbyah brayat punika mboten namung sregep ndonga, nanging nindakaken gesang manut tata cara Kristen ing satengahing brayat. Swawi kita ngiyataken tekad kita kangge mangun misbyah brayat kita, inggih punika sarana gesang ing salebeting kayekten, kasucen, lan katresnanipun Sang Kristus. Kanthi mekaten, kita minangka brayat Kristen saged kiyat, mboten namung ing lebet, nanging ugi saged ndherek mujudaken pakaryanipun Gusti lumantar brayat kita, satemah brayat kita saged dados margining berkah dhateng jagad. Amin. [nn].

 

Pamuji: KPJ. 320  Kang Nuntun Laku Utama

Renungan Harian

Renungan Harian Anak