Minggu Biasa 7 | Syukur Yk
Stola Hijau
Bacaan 1: Yeremia 20 : 7 – 13
Mazmur: Mazmur 69 : 7 – 10, 16 – 18
Bacaan 2: Roma 6 : 1b – 11
Bacaan 3: Matius 10 : 24 – 39
Tema Liturgis: Memperjuangkan Kesehatan Lahir dan Batin
Tema Khotbah: Memperjuangkan Kesehatan Lahir dan Batin
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yeremia 20 : 7 – 13
Bagian ini adalah salah satu “pengakuan” autobiografis Yeremia, dalam bentuk sastra. Ini adalah sebuah ratapan individu, seperti banyak dari Mazmur (bdk. Mzm. 6), salah satu pengungkapan diri paling signifikan dari Yeremia. Bagian perikop ini terdiri dari dua bagian, yaitu Tuhan sebagai lawan (Ay. 7-10) dan Tuhan sebagai tokoh utama (Ay. 11-13).
Nabi Yeremia mengeluh bahwa Tuhan telah menipunya dan telah mengalahkannya. Dia telah menjadikannya lelucon dan objek ejekan yang konstan oleh bangsanya (Ay. 7). Jelasnya, Yeremia menganggap bahwa Bangsa Yehuda akan bertobat dengan khotbahnya, namun mereka tidak melakukannya, disinilah Yeremia merasa dikhianati oleh Tuhan. Ia merasa bahwa dia selalu berteriak tentang pesan bencana yang akan datang, akibatnya umat mengkritik dan mengejeknya terus-menerus. (Ay. 8). Ketika Yeremia menjadi sangat lelah dengan penolakan yang dihadapinya, dia memutuskan untuk berhenti menyampaikan pesan-Nya, firman Tuhan membakar dalam dirinya seperti api. Namun akhirnya, dia tidak dapat menahan dirinya lagi dan berbicara kembali (Ay. 9). Yeremia tahu umat mengeluh bahwa satu-satunya yang dia bicarakan adalah teror yang akan datang. Dia telah menjadi semacam “Magomassabib” (teror di setiap sisi) itu sendiri dan kemungkinan besar umat telah menerapkan julukan itu kepadanya. Bangsa Yehuda merasa Yeremia telah mengecam mereka dengan berbicara secara pesimistis dan keras tentang mereka. Bahkan teman-teman dekatnya pun berbalik melawan Yeremia dan berharap bahwa ia akan melakukan kesalahan sehingga mereka bisa mendiskreditkannya atas kata-katanya. (Ay. 10)
Namun, Yeremia yakin bahwa Tuhan akan tetap bersamanya dan membela dia, seperti penjaga yang kuat (bdk. 1:18; 15:20). Oleh karena itu, para penganiaya di antara orang-orang Yehuda tidak akan berhasil. Merekalah yang akan tersandung, merasa malu, dan mengalami kehinaan yang abadi, bukan dia. (Ay. 11). Yeremia meminta kepada Tuhan untuk mengizinkannya menyaksikan penghinaan para kritikusnya karena dia mempercayakan pembalasan kepada-Nya dan tidak mengambilnya sendiri. Tuhan mengetahui hati dan pikiran, baik Yeremia maupun para penganiayanya, jadi Tuhan mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. (Ay. 12). Yeremia menutup ratapan ini dengan panggilan untuk memuji Tuhan dalam lagu karena Tuhan telah menyelamatkannya dari mereka yang ingin berbuat jahat padanya. (Ay. 13).
Roma 6 : 1b – 11
Dalam bagian ini Rasul Paulus menguraikan mengenai prinsip pemuridan dan pengudusan. Iman melangkah bersatu dengan Kristus seperti yang dilambangkan dalam baptisan. Ketika seseorang dibaptis, orang itu telah menyatu dalam kematian dan kebangkitan Kristus. Kristus yang mati dan bangkit berkuasa menyelamatkan dan mengubahkan hidup. Kristus yang menyatu dengan umat percaya melalui inkarnasi dan ketaatan-Nya, telah menyelamatkan dan menebus umat percaya dari dosa. Maka untuk beroleh faedah karya penyelamatan itu, umat harus beriman, menerima Yesus Kristus dengan segenap hidup. Beriman tidak cukup sekali artinya umat percaya menerima Kristus untuk terus-menerus ikut ambil bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Melalui satu dengan kematian-Nya, sifat dosa kita dimatikan. Melalui satu dengan kebangkitan-Nya, umat ikut bangkit. Umat bukan lagi hamba dosa, tetapi menjadi hamba Allah (Ay. 5-10).
Matius 10 : 24 – 39
Mungkinkah murid Tuhan menjalani panggilan memberitakan Kerajaan Surga tanpa menghadapi masalah? Jawabannya ada pada ayat 24-25. Kalau Yesus dalam pelayanan-Nya mendapat penolakan bahkan mati disalibkan, maka para murid boleh memastikan bahwa mereka akan mendapat penolakan yang paling sedikit sama dengan Yesus. Karena itu, Yesus mempersiapkan mereka untuk menghadapi penganiayaan dan penolakan. Penganiayaan pasti akan datang, baik dari lembaga-lembaga resmi (Ay. 17-18), maupun dari pribadi-pribadi yang membenci kekristenan (Ay. 21-22). Mereka tidak bisa menghindar, ibarat domba di tengah serigala. Namun mereka tidak perlu khawatir dan takut akan itu semua, sebaliknya mereka harus bersandar dan mengandalkan Tuhan (Ay. 19-20). Dalam menghadapi penganiayaan itu, kuncinya adalah tetap bertahan sampai akhir (Ay. 22b). Mereka harus mengandalkan hikmat Tuhan sambil menjaga hidup kudus (Ay. 16). Dengan hikmat, Tuhan akan membimbing mereka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memberitakan Injil (Ay. 23).
Para murid diperintahkan untuk tidak takut (Ay. 26, 28, 31). Pertama, kebenaran pasti akan menang (Ay. 26-27). Orang jahat akan dibongkar kejahatannya pada penghakiman terakhir, dan orang benar akan mendapatkan upahnya. Kedua, jiwa lebih penting daripada tubuh (Ay. 28). Aniaya bisa mematikan tubuh, tetapi di hadapan Allah jiwa orang percaya diselamatkan. Ketiga, Allah berdaulat (Ay. 29-31). Kesetiaan para murid akan diuji (Ay. 32-33). Akan terbukti satu hari kelak siapa murid sejati dan siapa yang palsu. Aniaya adalah salah satu alat uji yang ampuh. Saat menghadapi penderitaan, sosok asli seseorang akan muncul, tidak bisa lagi dibuat-buat.
Mengikut Yesus harus memiliki kasih yang total (Ay. 37). Menjadi murid-Nya harus memiliki kasih yang penuh. Yesus tidak melarang para murid-Nya untuk mengasihi keluarga, bahkan murid yang tidak mengasihi keluarga bukanlah murid Yesus bahkan bukan manusia lagi, tetapi kasih kepada keluarga jangan sekali-kali menjadi penghalang untuk mengikuti Dia, sebab mengikut Yesus lebih penting dari segala ikatan yang dijalin seorang dengan keluarganya. Mengikut Yesus berarti mau memikul salib dan mengikut Dia (Ay. 38). Memikul salib dalam Matius 10 ini memiliki latar belakang: Orang-orang Romawi menyalibkan seseorang untuk mempermalukan orang itu di hadapan umum, untuk menunjukkan bahwa seseorang yang disalib sungguh-sungguh tidak berharga, sampah busuk yang harus disingkirkan, dan itu yang dialami Yesus. Murid Yesus juga akan mengalami hal yang sama. Apakah artinya bagi kita? Yesus minta kepada para murid-Nya untuk rela memikul salib, bukan hanya salib diri sendiri atau menjalani penderitaan sendiri, tetapi juga menjalani penderitaan orang lain. Yesus sendiri menderita dan mati disalib bukan karena Ia menikmati penderitaan sendiri, tetapi Ia mati demi umat manusia yang berdosa. Mengikut Yesus harus siap dengan konsekuensi sampai kehilangan nyawa. Nyawa adalah sesuatu yang berharga, mulia, dan agung. Jadi Tuhan menuntut agar kita berani berkorban bahkan kehilangan yang berharga, mulia, dan agung.
Benang Merah Tiga Bacaan
Yeremia, Rasul Paulus, dan Tuhan Yesus semua menekankan pentingnya mempercayai Tuhan dan hidup seturut dengan kehendak-Nya, bahkan ketika menghadapi kesulitan dan penganiayaan. Mereka semua menunjukkan bahwa Tuhan Allah ada bersama dengan orang-orang yang percaya dan memberi mereka kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penganiayaan. Hal ini menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan mental yang merupakan bagian utuh dalam diri seseorang.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan kotbah, silahkan dikembangkan sesuai konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Sebuah penelitian di Jepang mengatakan bahwa 90% penyakit itu berasal dari pikiran dan hanya 10% berasal dari makanan. Dalam dunia kesehatan ada sebuah kondisi dimana pikiran dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik. Hal ini disebut dengan gangguan psikosomatik. Psikosomatik terdiri dari 2 kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Istilah gangguan psikosomatik digunakan untuk menyatakan keluhan fisik yang diduga disebabkan oleh faktor psikis atau mental, seperti stres, depresi, takut, atau cemas. Penderita gangguan psikosomatik umumnya akan merasakan sakit dan masalah pada bagian tubuh tertentu, tetapi tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang, seperti foto Rontgen atau tes darah. Beberapa penyakit tertentu memang terbukti dapat dipengaruhi oleh kondisi mental seseorang, seperti psoriasis, tukak lambung, tekanan darah tinggi, diabetes, asma, dan eksim.
Jika memang demikian, maka dapat dipahami bahwa kesehatan yang utuh bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental, emosional, dan spiritual. Kita akan melihat bagaimana Tuhan ingin kita memiliki kesehatan yang utuh melalui teks-teks Alkitab: Yeremia 20:7-13, Roma 6:1b-11, dan Matius 10:24-39.
Isi
Yeremia mengeluh bahwa Tuhan telah menipu dan mengalahkannya. Ia menganggap Tuhan telah menjadikannya lelucon dan objek ejekan bangsanya. Di sini Yeremia menganggap bahwa Bangsa Yehuda akan bertobat dengan khotbahnya, dan ketika mereka tidak melakukannya, dia merasa dikhianati oleh Tuhan. Yeremia menjadi sangat lelah dengan penolakan yang dihadapinya, dia memutuskan untuk berhenti menyampaikan pesan firman Tuhan. Namun pada akhirnya ia berbicara kembali. Ia tahu Bangsa Yehuda mengeluh bahwa satu-satunya yang ia bicarakan adalah teror yang akan datang. Mereka merasa seseorang harus mengecamnya karena dia berbicara secara pesimistis dan keras tentang bangsa mereka. Bahkan teman-teman dekatnya pun berbalik melawan dia dan berharap bahwa dia akan melakukan kesalahan sehingga mereka bisa mendiskreditkannya atas kata-katanya.
Di sisi lain, dalam Matius 10:24-39, Tuhan Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menghadapi penganiayaan dan penolakan. Penganiayaan pasti akan datang, baik dari lembaga-lembaga resmi maupun dari pribadi-pribadi yang membenci kekristenan. Mereka tidak bisa menghindar, ibarat domba di tengah serigala.
Baik Yeremia maupun para murid Tuhan Yesus berada dalam kondisi tertekan secara mental dan emosional. Meskipun demikian, Yeremia tetap memiliki keyakinan bahwa Tuhan tetap bersamanya dan membelanya, seperti penjaga yang kuat. Sedangkan Tuhan Yesus, meminta agar para murid tidak takut dan khawatir, sebaliknya mereka senantiasa bersandar dan mengandalkan Tuhan. Dalam menghadapi penganiayaan itu, kuncinya adalah tetap bertahan sampai akhir. Mereka harus mengandalkan hikmat Tuhan sambil menjaga hidup kudus. Dengan hikmat, Tuhan akan membimbing orang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memberitakan Injil dan memberikan diri untuk melayani Tuhan hingga titik darah penghabisan.
Rasul Paulus menyatakan iman memiliki arti bersatu dengan Kristus, seperti yang dilambangkan dalam baptisan. Ketika seseorang dibaptis, orang itu telah menyatu dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Kristus yang mati dan bangkit, berkuasa menyelamatkan dan mengubahkan hidup. Dan untuk memperoleh faedah karya penyelamatan itu, kita harus beriman dengan segenap hidup kita kepada Yesus Kristus. Melaui baptisan, secara spiritual kita menyadari bahwa Kristus berkuasa menyelamatkan dan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik lagi. Dengan demikian, kita akan merasa tenang dalam menjalani apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, sekalipun itu adalah hal yang buruk.
Penutup
Hari ini kita bersama mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikan Yayasan Kesehatan (YK) GKJW kepada kita sebagai alat untuk mewartakan cinta kasih-Nya melalui dunia kesehatan. Kita tidak menutup mata bahwa tantangan yang dihadapi oleh rumah sakit – rumah sakit dan poliklinik – poliklinik yang berada di bawah naungan YK tidak mudah. Ketika harus berhubungan dengan lembaga-lembaga pemerintahan bahkan harus bersaing dengan lembaga kesehatan yang lain. Oleh karena itu, mari kita bersama dapat menjaga kesehatan kita secara utuh, baik secara fisik, mental, emosional, dan spiritual. Mari kita terus memberikan dukungan kita untuk YK GKJW. Amin. [DES].
Pujian: KJ. 332 Kekuatan Serta Penghiburan
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Satunggalipun penelitian ing Jepang nedahaken bilih 90% tiyang sakit punika asalipun saking pikiranipun lan namung 10% ingkang asalipun saking dhaharan. Ing jagad kesehatan wonten satunggalipun kondisi nalika pikiran saged njalari gangguan kesehatan fisik. Punika dipun sebut gangguan psikosomatik. Psikosomatik kaperang saking 2 tembung, inggih punika pikiran (psyche) lan badan (soma). Istilah gangguan psikosomatik dipun ginakaken kangge njelasaken keluhan fisik ingkang dipun pengaruhi faktor psikis utawi mental, kados stres, depresi, ajrih, utawi kuwatir. Tiyang ingkang ngalami gangguan psikosomatik limrahipun badhe ngraosaken sakit ananging mboten dipun panggihi kelainan ing pemeriksaan fisik utawi pemeriksaan penunjang, kados foto Rontgen utawi tes darah. Sawetawis lelara pancen kabukti saged dipun sebabaken dening kondisi mentalipun manungsa, kados dene psoriasis, tukak lambung, tekanan darah inggil, diabetes, asma, lan eksim.
Menawi kados mekaten, kita saged mangertosi bilih kesehatan ingkang sampurna mboten namung fisik kemawon ananging ugi mental, emosional, lan spiritual. Kita badhe ningali kados pundi Gusti Allah anggenipun kepengin supados kita gadhahi kesehatan ingkang sampurna lumantar teks-teks Alkitab saking Yeremia 20:7-13, Rum 6:1b-11, lan Mateus 10:24-39.
Isi
Yeremia ngaduh bilih Gusti Allah sampun ngapusi lan ngawonaken piyambakipun. Yeremia nganggep bilih Gusti Allah sampun damel piyambakipun dados lelucon lan dipun paido dening bangsanipun. Cethanipun, Yeremia nganggep bangsanipun badhe mratobat nalika mirengaken pawartosipun, ananging kanyatanipun bangsanipun mboten nglampahi pamratobat. Lajeng piyambakipun rumaos bilih Gusti Allah sampun ngapusi piyambakipun. Kasunyatan punika ndadosaken Yeremia nglokro, mutung, lan mboten purun martosaken sabdanipun Gusti. Senaosa mekaten, sabdanipun Gusti kados dene geni ingkang murub, ingkang ngobaraken semangatipun Yeremia. Pungkasanipun, Yeremia tetep martosaken sabdanipun Gusti kanthi semangat lan tekad ingkang kiyat. Yeremia mangertos bangsanipun ngeluh bilih pawartosipun punika kaangep teror. Ing wekdal candakipun, Yeremia dipun anggep dados nabi ingkang ngandika kanthi pesimistik lan atos wicantenanipun. Langkung-langkung para rencangipun Yeremia ugi nglawan piyambakipun lan ngarep-arep supados Yeremia nindakaken kalepatan supados saged dipun paido.
Wonten ing Matius 10:24-39, Gusti Yesus nyametakaken para sakabat kangge ngadhepi panganiaya lan penolakan. Panganiaya mesthi badhe kelampahan, sae saking lembaga-lembaga resmi ugi saking tiyang-tiyang ingkang mboten remen kaliyan kekristenan. Para sakabat mboten saged ngindar, kados dene mendha ing tengahing asu ajag.
Sae Yeremia mekaten ugi para sakabatipun Gusti Yesus, sadaya sami wonten ing kahanan ingkang mboten sekeca sacara mental lan emosional. Senaosa mekaten, Yeremia nggadahi pemanggih bilih Gusti Allah tansah setya tuhu lan paring kakiyatan. Ing sisih candakipun Gusti Yesus nyenyuwun dhateng para sakabat supados mboten kuwatos ananging sumendhe lan ngandelaken Gusti. Wonten ing sajroning panganiaya kuncinipun inggih punika tansah setya dumugi pungkasan. Para sakabat kedah ngandalaken kawicaksanan ingkang pinangkanipun saking Gusti lan njagi gesang suci. Kawicaksananipun Gusti bakal nuntun manungsa supados saged martosaken Injil wonten ing sadengah kahanan, langkung-langkung masrahaken dhiri kanthi total ngladosi Gusti dumugi ing pati.
Rasul Paulus nyariosaken bilih iman tegesipun nyatunggil kaliyan Sang Kristus kados pralambang wonten ing baptisan. Nalika tiyang dipun baptis, tiyang punika nyatunggil kaliyan seda lan wungunipun Gusti Yesus kristus. Kristus ingkang seda lan wungu kuwaos paring kaslametan lan ngewahi gesang. Supados angsal faedah saking pakaryanipun Gusti ingkang nyalametaken punika kita kedah nggadahi iman lan kapitadosan ingkang saestu. Lumantar baptisan, sacara spiritual kita ngrumaosi bilih Sang Kristus nggadahi kuwaos kagem nylametaken lan ngewahi gesang kita tumuju kahanan ingkang langkung sae. Pramila, kita ngraosaken ayem nalika nglampahi punapa kemawon wonten ing gesang kita sami, senaosa kahanan ingkang kita adhepi mboten sekeca.
Panutup
Dinten punika kita sesarengan ngucap syukur dhumateng Gusti Allah ingkang sampun paring Yayasan Kesehatan (YK) GKJW dhateng kita minangka piranti kangge martosaken sih katresnanipun Gusti lumantar dunia kesehatan. Kita mboten nutup netra bilih tantangan ingkang dipun adhepi dening Griya Sakit lan poliklinikipun GKJW mboten gampil nalika mbangun gesang kaliyan lembaga-lembaga pamrentahan, langkung-langkung kedah saingan kaliyan lembaga kesehatan lintunipun. Pramila, sumangga kita saged njagi kesehatan kita kanthi sampurna, sae sacara fisik, mental, emosional, lan spiritual. Mangga kita tansah maringi dukungan kagem YK GKJW. Amin. [DES].
Pamuji: KPJ. 161 Jiwa Raga Kawula