Minggu Biasa 6 | Penutupan Bulan Mardika
Stola Hijau
Bacaan 1: Keluaran 19 : 2 – 8a
Mazmur: Mazmur 100
Bacaan 2: Roma 5 : 1 – 8
Bacaan 3: Matius 9 : 35 – 10 : 8
Tema Liturgis: Rumah Kita, Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Allah Memanggil, Mengasihi, dan Mengutus Umat-Nya bagi Dunia
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 19 : 2 – 8a
Bangsa Israel baru saja tiba di Gunung Sinai, setelah tiga bulan keluar dari tanah Mesir. Di tempat ini Allah hendak menyatakan diri-Nya dan mengikat perjanjian dengan umat-Nya. Musa dipanggil naik ke gunung sebagai perantara, sebab Allah memilih berbicara melalui dia untuk menyampaikan firman-Nya kepada bangsa itu. Peristiwa ini menegaskan bahwa relasi antara Allah dan Israel bukanlah pertemuan pribadi, tetapi melibatkan seluruh umat.
Allah mengingatkan Israel akan karya penyelamatan yang sudah dilakukan-Nya: Ia telah membebaskan mereka dari Mesir dan melindungi mereka “di atas sayap Rajawali.” Gambaran Rajawali menunjukkan kasih dan kuasa Allah yang menopang, mengangkat, dan membawa umat-Nya keluar dari perbudakan menuju kebebasan. Dengan demikian, perjanjian yang ditawarkan Allah berakar pada anugerah, bukan pada usaha manusia.
Namun, anugerah itu menuntut respons. Allah menetapkan syarat bahwa Israel harus sungguh-sungguh mendengarkan suara-Nya dan memegang teguh perjanjian-Nya. Jika mereka taat, Allah menjanjikan identitas baru: mereka akan menjadi milik kesayangan-Nya, yaitu harta yang sangat berharga di antara segala bangsa; menjadi kerajaan imam, yaitu umat yang dipanggil untuk menjadi perantara antara Allah dan bangsa-bangsa lain; serta menjadi bangsa yang kudus, yaitu hidup terpisah dari cara hidup dunia dan berfokus kepada Allah saja. Identitas ini bukan hanya sebuah kehormatan, melainkan juga tanggung jawab.
Setelah Musa menyampaikan firman itu, seluruh umat menjawab dengan satu suara, “Segala yang difirmankan Tuhan itu akan kami lakukan.” (Ay. 8). Respons ini menunjukkan kesiapan mereka menerima perjanjian Allah. Kesediaan awal ini menandai komitmen umat untuk hidup dalam hubungan perjanjian dengan Allah.
Roma 5 : 1 – 8
Teks kita ini menegaskan bahwa hasil dari pembenaran oleh iman adalah damai sejahtera dengan Allah. Paulus membuka bagian ini dengan menekankan bahwa melalui iman kepada Kristus, manusia yang semula terpisah dari Allah kini diperdamaikan dengan-Nya. Damai sejahtera yang dimaksud bukan sekadar ketenangan batin, tetapi keadaan hubungan yang telah dipulihkan, sehingga manusia boleh hidup dalam kasih karunia Allah dan menaruh pengharapan akan kemuliaan-Nya di masa depan. Inilah dasar keyakinan iman orang percaya: keselamatan bukan hasil usaha, melainkan anugerah yang diterima melalui Kristus.
Namun, Paulus tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa hidup orang percaya tetap berhadapan dengan penderitaan. Justru penderitaan itu dimaknai sebagai bagian dari proses iman. Penderitaan bukanlah tanda Allah meninggalkan umat-Nya, melainkan jalan untuk menumbuhkan ketekunan. Dari ketekunan lahirlah karakter yang tahan uji, dan dari karakter yang tahan uji tumbuhlah pengharapan yang tidak mengecewakan. Dengan demikian, penderitaan dalam hidup orang beriman bukan sia-sia, melainkan dipakai Allah untuk memurnikan iman dan meneguhkan pengharapan.
Dasar dari pengharapan ini adalah kasih Allah yang dicurahkan melalui Roh Kudus di dalam hati orang percaya. Roh Kudus menjadi jaminan bahwa kasih Allah nyata, hidup, dan bekerja di tengah umat-Nya. Kasih itu mencapai puncaknya di dalam Kristus yang mati bagi manusia. Paulus menekankan betapa radikalnya kasih itu: Kristus tidak mati bagi orang yang sudah layak atau benar, melainkan justru ketika manusia masih lemah, durhaka, dan berdosa. Tidak ada manusia yang sanggup berkorban sebesar itu, tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya secara luar biasa dengan mengorbankan Kristus demi keselamatan dunia.
Keseluruhan teks ini menyingkapkan tiga hal penting: pertama, pembenaran oleh iman membawa damai dan pengharapan. Kedua, penderitaan orang percaya memiliki makna rohani sebagai jalan pertumbuhan iman. Dan ketiga, kasih Allah mendahului segala usaha manusia, nyata dalam pengorbanan Kristus di salib. Dengan demikian, Roma 5:1-8 menghadirkan keyakinan bahwa hidup orang percaya sepenuhnya berada di dalam kasih karunia Allah. Sebuah kasih yang tidak goyah oleh penderitaan, tidak terbatas oleh kondisi manusia, dan menjadi dasar pengharapan yang pasti dalam Kristus.
Matius 9 : 35 – 10 : 8
Yesus berkeliling kota dan desa, mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Allah, serta menyembuhkan orang sakit (9:35). Pelayanan-Nya selalu utuh: pewartaan firman yang disertai tindakan nyata yang membawa pemulihan. Ketika melihat orang banyak, Yesus digerakkan oleh belas kasihan yang mendalam, sebab mereka seperti domba tanpa gembala (9:36). Gambaran ini menunjukkan kondisi umat yang rapuh, tersesat, dan membutuhkan pemimpin sejati.
Yesus lalu menegaskan bahwa ladang tuaian sangat luas, tetapi pekerja sedikit (9:37-38). Dunia digambarkan penuh dengan orang yang haus akan keselamatan, namun belum banyak yang siap melayani. Karena itu, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk terlebih dahulu berdoa kepada Allah, Sang Pemilik Tuaian, agar Ia mengirimkan pekerja. Doa menjadi dasar setiap misi.
Menjawab doa itu, Yesus memanggil dua belas murid (10:1-4) dan memberi mereka kuasa untuk mengusir roh jahat dan menyembuhkan penyakit. Angka dua belas melambangkan Israel Baru, umat perjanjian yang diperbarui. Dalam pengutusan pertama ini, murid-murid diarahkan terutama kepada “domba yang hilang dari umat Israel” (10:5-6). Prioritas ini menegaskan bahwa keselamatan dimulai dari Israel sebagai umat perjanjian, sebelum akhirnya menjangkau bangsa-bangsa lain.
Isi pekabaran itu sederhana namun penuh kuasa: “Kerajaan Surga sudah dekat” (10:7). Tanda hadirnya Kerajaan itu nyata melalui tindakan: menyembuhkan, menahirkan, membangkitkan, dan membebaskan (10:8). Prinsip yang menyertainya jelas: “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, maka berikanlah dengan cuma-cuma.” Injil adalah anugerah, sehingga pewartaan harus dilakukan dalam kerelaan, bukan demi keuntungan pribadi.
Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan ini menyingkapkan karya Allah yang menyeluruh. Allah memilih dan menetapkan Israel sebagai umat kesayangan-Nya untuk hidup kudus di tengah bangsa-bangsa (Kel. 19:2-8a); kasih Allah nyata melalui Kristus yang memberi damai sejahtera dan hidup baru bagi manusia berdosa (Rom. 5:1-8); dan kasih itu diwujudkan dalam pengutusan Yesus serta para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menghadirkan pemulihan bagi dunia (Mat. 9:35–10:8).
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Seorang anak kecil menggambar rumah di sekolah. Gurunya bertanya, “Ini rumah siapa?” Anak itu menjawab, “Ini rumah saya… dan rumah Tuhan.” Gurunya terkejut, “Kenapa rumah Tuhan?” Si anak menjawab dengan polos, “Karena di rumah saya, kami berdoa, berbagi makanan, dan tidak saling marah. Aku kira Tuhan senang tinggal di situ.”
Sederhana tetapi dalam. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, rumah mencerminkan nilai dan relasi. Maka saat kita berkata, “Rumah kita, rumah Tuhan,” itu bukan soal arsitektur, tetapi tentang siapa yang tinggal di dalamnya dan bagaimana kita hidup di dalamnya.
Kaitannya dengan bumi, bumi ini bukan hanya tempat tinggal sementara, melainkan rumah yang dipercayakan Allah, tempat di mana kehadiran-Nya ingin dinyatakan, dan relasi yang benar dengan sesama serta ciptaan dijalankan.
Hari ini, kita merenungkan tiga bacaan yang membawa kita memahami bagaimana rumah kita seharusnya menjadi Rumah Tuhan, bukan hanya dalam pengertian gereja sebagai bangunan, tetapi seluruh dunia sebagai ruang persekutuan antara Allah, manusia, dan ciptaan. Kita akan melihat bahwa Allah memanggil umat-Nya bukan untuk hidup bagi dirinya sendiri, tetapi menjadi saluran kasih, damai, dan pemulihan bagi dunia.
Isi
- Dipanggil untuk Menjadi Umat Allah yang Hidup Kudus (Keluaran 19:2–8a)
Ketika bangsa Israel tiba di Gunung Sinai, Allah memanggil mereka bukan hanya untuk beristirahat setelah perjalanan panjang, tetapi untuk menegaskan identitas dan panggilan mereka. Allah mengingatkan mereka, “Aku telah membawa kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.” (Ay. 4). Ini adalah gambaran kasih yang mengangkat, melindungi, dan membebaskan. Tetapi kasih itu tidak berhenti pada penyelamatan saja, di sini Allah menawarkan perjanjian. Perjanjian ini punya dua sisi: anugerah dan tanggung jawab. Allah memberikan keselamatan lebih dulu, dan kemudian mengundang umat untuk hidup dalam ketaatan, menjadi bangsa yang kudus dan kerajaan imam.
Dalam konteks kita hari ini, ini berarti kita dipanggil untuk hidup tidak seperti dunia yang merusak, mengabaikan, dan memperalat ciptaan demi keuntungan. Kita dipanggil untuk menjadi umat yang hidup dalam relasi yang benar dengan Allah, sesama, dan bumi. Bumi adalah rumah yang dipercayakan Allah. Jika kita adalah umat-Nya, maka kita adalah penatalayan rumah itu. Tugas kita ialah menjaga, merawat, dan memelihara harmoni di dalamnya. Menjadi “kerajaan imam” berarti menjadi perantara pemulihan bagi dunia yang rusak karena ketidakadilan, kerusakan lingkungan, dan relasi yang retak. - Damai Sejahtera yang Memulihkan Relasi (Roma 5:1–8)
Dalam Roma 5, Paulus menegaskan bahwa melalui iman kepada Kristus, kita diperdamaikan dengan Allah. Ini bukan hanya soal hubungan pribadi antara saya dan Tuhan, tetapi pemulihan relasi yang menyeluruh, relasi dengan sesama dan juga dengan ciptaan. Damai sejahtera yang dijanjikan bukan hanya ketenangan batin, tetapi kehidupan dalam kasih karunia, hidup dalam tatanan yang diperbarui. Kita tidak lagi hidup dalam pola dunia yang menindas dan merusak, tetapi dalam pola Kristus yang mengasihi bahkan ketika kita berdosa, yang memberi diri bahkan saat kita tidak layak.
Paulus juga menyingkapkan bahwa penderitaan bukan akhir, melainkan proses. Penderitaan akan membentuk ketekunan, karakter, dan pengharapan. Maka dalam konteks krisis lingkungan, ketidakadilan sosial, dan penderitaan global, kita tidak menyerah. Sebab kasih Allah telah dicurahkan melalui Roh Kudus mendorong kita untuk tetap berjuang bagi keadilan, pemulihan, dan keutuhan ciptaan. Kristus mati bagi kita yang tidak layak, maka kita pun diundang untuk mengasihi sesama dan ciptaan bukan karena mereka sempurna, tetapi karena kasih Kristus mendorong kita. Rumah ini adalah milik Tuhan dan kita punya tanggung jawab menjaga isinya. - Diutus untuk Menghadirkan Kerajaan Allah (Matius 9:35–10:8)
Yesus melihat orang banyak, dan Ia tergerak oleh belas kasihan, sebab mereka seperti domba tanpa gembala. Dunia ini penuh orang yang lelah, sakit, tertindas, dan tersesat. Kita pun bisa melihat hal yang sama hari ini: tanah yang rusak, air yang tercemar, hutan yang ditebangi, orang miskin yang terpinggirkan, anak-anak yang kehilangan masa depan. Yesus tidak hanya melihat, Ia bertindak. Ia mengajar, menyembuhkan, dan mengutus murid-murid-Nya. Mereka diberi kuasa untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah: menyembuhkan, membangkitkan, dan membebaskan. Misi ini bukan sekadar rohani, tetapi sangat konkret, pemulihan hidup dalam segala dimensinya.
Dan pesan-Nya jelas: “Kamu telah menerima dengan cuma-cuma, maka berikanlah dengan cuma-cuma.” (10:8). Kasih, keselamatan, dan rumah ini adalah anugerah. Maka kita dipanggil untuk memberi kembali: bukan dengan serakah, tetapi dengan murah hati; bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk melayani; bukan untuk merusak, tetapi untuk membangun.
Penutup
Rumah Kita adalah Rumah Tuhan
Hari ini Allah memanggil kita kembali kepada identitas kita: umat perjanjian, penerima kasih karunia, dan utusan Kerajaan Allah. Dunia ini—bumi tempat kita hidup—adalah Rumah Tuhan. Maka, merusak bumi berarti merusak rumah-Nya. Mengabaikan penderitaan sesama berarti mengabaikan hadirat-Nya.
Gereja bukan hanya bangunan tempat ibadah. Gereja adalah umat yang hidup dalam relasi yang benar:
- Dengan Allah: umat taat kepada panggilan-Nya, hidup dalam kasih-Nya.
- Dengan sesama: umat membangun keadilan, menyembuhkan luka, menjadi berkat.
- Dengan ciptaan: umat merawat bumi, memelihara ekosistem, menjadi penatalayan yang setia.
Mari menjadikan rumah kita sebagai Rumah Tuhan, sebuah tempat di mana kasih, damai, dan pemulihan hadir nyata. Bukan hanya dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam tindakan nyata yang menyembuhkan relasi dan memperjuangkan keutuhan ciptaan. Kiranya Roh Kudus memampukan kita. Amin. [Sv].
Pujian: PKJ. 185 Tuhan Mengutus Kita
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Wonten satunggaling bocah alit nggambar griya nalika wonten ing sekolah. Gurunipun tanglet, “Gambar omahe sapa iku?” Bocah punika paring wangsulan, “Punika griya kula… dalemipun Gusti ugi.” Gurunipun kaget, lajeng nyuwun keterangan, “Kok iso dadi daleme Gusti?” Bocah punika mangsuli kanthi tulus, “Amargi wonten ing griya kula, kula sak kaluwarga tansah ndedonga, sesarengan dhahar, lan mboten sami tukaran. Kula kinten, Gusti remen wonten ing griya punika.”
Prasaja, nanging maknanipun ngandhut kawicaksanan ingkang lebet. Griya punika mboten namung papan kangge ngaso, nanging ugi minangka gambaraning gesang sesarengan, ing pundi nilai-nilai kabecikan, katresnan, saha sesambetan antawisipun tiyang-tiyang wonten ing sajroning griya. Mila, nalika kita matur, “griya kula punika griyanipun Gusti,” punika sanes bab bangunan, nanging babagan sinten ingkang manggen, saha kados pundi kita nglampahi gesang ing salebeting griya punika.
Prekawis bab bumi, bumi punika sanes namung panggenan kangge gesang sawetawis wekdal, nanging griya ingkang dipun titipaken dening Gusti Allah dhumateng kita sadaya. Bumi punika papan panggenan ingkang kedahipun saged martosaken rawuhipun Gusti, papan ing pundi manungsa, sesami, saha sadaya titah saged sesambetan kanthi leres, adil, lan rukun.
Ing dinten punika, kita badhe nggegilut tiga pawartos suci ingkang maringi pitedah dhateng kita sadaya, bilih griya kita kedah dados griyanipun Gusti, mboten namung greja minangka bangunan, nanging jagad punika piyambak minangka papan panggenan patunggilan antawisipun Gusti, manungsa, lan sadaya titah. Kita dipun undang dening Gusti supados mboten gesang kangge kepentingan kita piyambak, nanging dados sarananing sih-kadarman, katentreman, saha pamulihan jagad punika.
Isi
- Kapiji dados Umatipun Gusti Allah ingkang Gesang Suci (Pangentasan 19:2–8a)
Nalika bangsa Israel dumugi ing Gunung Sinai, Gusti Allah ngundang umat-Ipun Israel, mboten namung kangge ngaso sasampunipun lelampahan ingkang dangu, nanging kagem negesi punapa ta jati dhirinipun saha tugasipun umat punika. Gusti Allah ngandika, “AnggoningSun nggendhong sira ana ing swiwining manuk Garudha, Sunparakake marang ing ngarsaningSun.” (Ay. 4). Pangandika punika minangka pralambang katresnan ingkang ngluhuraken, ngreksa, saha nyalametaken. Ananging, katresnan punika mboten mandheg ing pakaryan pangluwaran, Gusti Allah ugi paring tawaran prajanjian. Prajanjian punika gadhah kalih sisi: nugraha saha tanggel jawab. Gusti Allah sampun maringi karahayon langkung rumiyin, lajeng ngulemi umat-Ipun supados purun gesang miturut pangandikan-Ipun, dados bangsa suci lan karajaning para imam.
Ing jaman samangke, tegesipun kita sami kautus dados umat ingkang gesang miturut karsanipun Gusti, mboten kados donya ingkang sok ngremehaken, ngrisak, saha ngrebat alam kangge kapentingan pribadi. Kita kautus dados umat ingkang gesang ing paseduluran kanthi prayogi kaliyan Gusti, kaliyan sesami, saha kaliyan bumi. Bumi punika satuhu griyaning gesang ingkang dipun titipaken dening Gusti Allah. Menawi kita punika umat-Ipun, kita dados abdi pangreksa, ingkang ngreksa, ngrimati, lan nguri-uri katentreman saha kabecikan ing bumi punika. Dados karajaning para imam tegesipun, kita dipun paringi tugas minangka pangantara pangruwat saha pamulihan, tumrap donya ingkang sampun risak jalaran tumindak mboten adil, karisakaning lingkungan, saha sesambetan ingkang risak. - Tentrem Rahayu ingkang Mujudaken Pamulihan Sesambetan (Rum 5:1–8)
Wonten ing serat Rum 5, Rasul Paulus paring pepesthi bilih lumantar kapitadosan dhumateng Gusti Yesus Kristus, kita sampun dipun-rukunaken kaliyan Gusti Allah. Mboten namung magepokan kaliyan sesambetan pribadi antawis kula pribadi kaliyan Gusti, nanging ugi nuju dhateng pamulihaning sadayanipun sesambetan, kalebet sesambetan kaliyan sapepadha ugi kaliyan sadaya titah.
Prasetyan tentrem rahayu punika mboten namung tentreming manah, nanging gesang ingkang kawengku ing sih-rahmat, gesang ing tatanan enggal miturut karsanipun Gusti. Kita mboten nglampahi gesang miturut pola donya ingkang nindhes, ngrusak, nanging lumampah miturut tuladha Sang Kristus ingkang nresnani nalika kita punika kebak dosa, ingkang maringi gesang-Ipun sanadyan kita mboten pantes nampi.
Rasul Paulus ugi nyariyosaken bilih kasangsaran punika sanes wekasan, nanging dados sarana pangolahaning batin. Kasangsaran punika nuntun kita dhateng ketekunan, nuntun dhateng watak ingkang kiyat, lan nuwuhaken pangajeng-ajeng. Mila, sanadyan kita sami ngadhepi krisis lingkungan, sosial ingkang mboten adil, saha kasangsaran ing donya, kita mboten angsal nyerah. Awit katresnaning Gusti Allah wonten ing manah kita, lumantar Sang Roh Suci ingkang kaparingaken dhateng kita, ingkang maringi kakiyatan lan semangat dhateng kita supados kita tansah ngudi kaadilan, pamulihan, saha kautuhan titah.
Sang Kristus sampun seda kagem kita ingkang mboten layak, mila kita dipun undang supados purun nresnani sapepadha saha sadaya titah, mboten awit sampurna, nanging awit katresnanipun Sang Kristus ingkang tansah nggugah manah kita. Bumi punika griya kagunganipun Gusti, lan kita sami kaparingan kapitadosan lan kawajiban kangge ngreksa saha ngrimati sadayanipun ingkang wonten ing sajroning bumi punika. - Kautus kangge Nggelar Karajanipun Gusti Allah (Mateus 9:35–10:8)
Nalika Gusti Yesus nyumurupi kathahing tiyang, manahipun kebak ing welas asih, amargi tiyang-tiyang punika kados mendha ingkang tanpa pangon. Donya punika kebak tiyang ingkang lungkrah, lara, katindhes, saha kesasar. Ugi kahanan kados siti ingkang rusak, toya ingkang reged, wana ingkang katebang, tiyang mlarat ingkang kasisih, saha anak-anak ingkang kecalan mangsa ngajengipun. Nanging, Gusti Yesus mboten namung mirsani, Panjenenganipun tumindak. Panjenenganipun martosaken Injil, nyarasaken ingkang lara, saha ngutus para sakabat-Ipun. Para sakabat dipun paringi kuwasa kagem nggelar pratandha Kratoning Allah: nyarasaken, nangekaken, saha mbebasaken. Tugas pangutusan punika mboten namung sacara karohanen, nanging ugi kasunyatan ngrasuk saben aspeking gesang, nglantaraken pamulihan ingkang sejati.
Sarta dhawuhipun Gusti cetha sanget, “Kowe padha nampani kanthi lelahanan, mulane wenehna kanthi lelahanan uga.” (10:8). Katresnan, karahayon, saha griya punika minangka sih-rahmat saking Gusti. Mila kita dipun utus supados purun maringi malih, mboten kanthi serakah, nanging kanthi loma; mboten kangge ngrebut, nanging kangge ngladosi; mboten kangge ngrisak, nanging kangge mbangun lan nguripi.
Panutup
Griya kita punika Griyanipun Gusti. Ing dinten punika, Gusti Allah miji kita saha ngengetaken dhateng jati dhiri kita minangka umat prajanjian, ingkang nampi sih-rahmat, lan kautus kagem nglantaraken Kratoning Allah. Jagad punika bumi ingkang dados papan panguripan kita, punika griya kagunganipun Gusti. Mila, menawi bumi punika kita risak, punika ateges kita ngrisak griyanipun Gusti. Menawi kita nglirwakaken sangsaranipun sesami, punika ugi ateges kita nglirwakaken rawuhipun Gusti Allah piyambak.
Gereja punika mboten namung papan pangibadah. Gereja punika umat ingkang gesang miturut sesambetan ingkang leres, ingkang nyawiji ing katresnan lan kasetyaning iman:
- Kaliyan Gusti Allah: umat tansah mituhu dhateng pitedah-Ipun, sarta gesang ing sih katresnan-Ipun.
- Kaliyan sesami: umat mbangun kaadilan, nambani tatuning gesang, lan dados berkah tumrap pepadha.
- Kaliyan titah: umat ngreksa bumi, nguri-uri ekosistem, sarta dados pengreksa ingkang setya lan tanggel jawab.
Sumangga kita sami ndadosaken griya kita dados griyanipun Gusti, papan ing pundi katresnan, tentrem, saha pamulihan saged katingal lan karaosaken. Mboten namung wonten ing pandonga saha pangabekti, nanging ugi lumantar tumindak nyata ingkang mulihaken sesambetan lan ngreksa kautuhaning titah. Mugi Sang Roh Suci paring kasagedan dhateng kita sadaya. Amin. [Sv].
Pamuji: KPJ. 416 Saprakara Kang Pantes