Satu Rumah, Satu Perjuangan Khotbah Minggu 7 Juni 2026

25 May 2026

Minggu Biasa 5 | Pekan Uem
Stola Hijau

Bacaan 1: Hosea 5 : 15 – 6 : 6
Mazmur: Mazmur 50 : 7 – 15
Bacaan 2: Roma 4 : 13 – 25
Bacaan 3: Matius 9 : 9 – 13, 18 – 26

Tema Liturgis: Satu Rumah, Satu Perjuangan
Tema Khotbah:
Satu Rumah, Satu Perjuangan

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Hosea 5 : 15 – 6 : 6
Teks Hosea memerlihatkan dinamika hubungan perjanjian antara Allah dan Israel. Allah yang menarik diri (5:15) menunjukkan tindakan pedagogis: Ia ingin umat-Nya menyadari bahwa akibat dosa mereka adalah keterasingan dari sumber hidup. Namun seruan dalam 6:1–3 adalah pengakuan kolektif bahwa hanya dengan kembali kepada TUHAN, pemulihan dan kehidupan baru dimungkinkan. Ada gambaran teologis yang kuat bahwa Allah sendiri adalah tabib yang menyembuhkan luka umat-Nya, sekaligus sumber kehidupan yang membangkitkan kembali bangsa yang “terluka parah.”

Namun, Allah menyingkapkan kekecewaan-Nya: kasih umat seperti kabut pagi, cepat hilang (6:4). Yang dikehendaki Allah bukan ritual kurban yang formalistis, melainkan ḥesed (kasih setia) dan pengenalan akan Dia (6:6). Penekanan ini menegaskan bahwa relasi perjanjian sejati dibangun atas dasar kesetiaan, bukan sekadar ketaatan seremonial. Dengan demikian, teks Hosea ini menjadi cermin bagi umat beriman untuk mengutamakan kesungguhan hati dalam pertobatan dan kesetiaan dalam relasi dengan Allah.

Roma 4 : 13 – 25
Rasul Paulus menegaskan bahwa janji Allah kepada Abraham untuk menjadi bapa banyak bangsa, tidak bergantung pada ketaatan kepada hukum Taurat, melainkan pada iman. Janji itu bersifat universal, melampaui batas etnis dan hukum Yahudi. Abraham percaya kepada Allah yang “menghidupkan orang mati dan menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada.” (Ay. 17). Dengan demikian, iman Abraham menjadi teladan bagi semua generasi: iman yang bertumpu bukan pada situasi lahiriah, melainkan pada janji Allah yang setia.

Di sini Rasul Paulus sedang membangun teologi kesatuan umat: Yahudi maupun non-Yahudi dipersatukan sebagai “satu rumah iman.” Iman Abraham menembus logika keterbatasan manusia (karena ia tua dan Sara mandul), tetapi ia tetap yakin bahwa Allah sanggup menggenapi janji-Nya. Implikasi teologisnya, orang Kristen tidak dibenarkan karena usaha atau ketaatan hukum, melainkan karena percaya kepada Allah yang membangkitkan Yesus dari kematian. Inilah dasar dari kehidupan umat yang dipersatukan, bukan oleh hukum, melainkan oleh anugerah iman.

Matius 9 : 9 – 13, 18 – 26
Kisah pemanggilan Matius menyoroti keberanian Yesus menembus batas sosial dan religius. Ia mengajak seorang pemungut cukai, profesi yang dibenci dan dianggap najis menjadi murid-Nya. Bahkan Yesus makan bersama orang-orang berdosa, sebuah tindakan yang mengguncang tatanan sosial-keagamaan pada waktu itu. Jawaban Yesus, “Aku menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan,” (Ay. 13) menegaskan prioritas Kerajaan Allah: penerimaan, kasih, dan pemulihan lebih penting daripada ritual semata.

Kisah penyembuhan perempuan yang sakit pendarahan dan kebangkitan anak kepala rumah ibadat semakin menegaskan kuasa pemulihan Yesus. Kedua tokoh ini, perempuan yang secara kultis dianggap najis dan anak yang sudah mati, melambangkan situasi tanpa harapan. Namun melalui sentuhan dan sabda Yesus, mereka dipulihkan dan dibangkitkan. Injil ini memperlihatkan bahwa “rumah Allah” adalah ruang inklusif di mana semua orang, termasuk yang terbuang dan tak berdaya, mendapat tempat dan pengharapan. Kasih karunia menjadi dasar utama komunitas iman.

Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan hari ini menggarisbawahi visi Allah tentang satu komunitas yang bersatu dalam kasih, iman, dan pemulihan. Dalam Hosea, umat diajak kembali kepada Tuhan dalam pertobatan sejati. Dalam Roma, kita diingatkan bahwa yang menyatukan bukanlah hukum, melainkan iman. Dalam Injil Matius, Yesus menunjukkan bahwa semua orang, termasuk yang terpinggirkan, memiliki tempat dalam rumah Tuhan. Maka, rumah Tuhan bukanlah kumpulan orang sempurna, melainkan komunitas orang yang bersama-sama berjuang dalam anugerah.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pernahkah saudara merasa asing di tengah rumah saudara sendiri? Atau merasa bahwa dalam komunitas iman, ada sekat-sekat tak terlihat antara “kami” dan “mereka”? Hari ini, Tuhan meneguhkan kita bahwa gereja adalah rumah untuk semua, tempat pertobatan, iman, dan pemulihan berjalan bersama. Tuhan tidak mencari kesempurnaan, tetapi kejujuran dan kebersamaan dalam kasih.

Isi
Ketika kita berbicara tentang rumah, kita membayangkan tempat di mana ada kehangatan, penerimaan, dan kasih yang tidak bersyarat. Namun, dalam kenyataan hidup, sering kali rumah justru menjadi tempat penuh luka: relasi yang retak, harapan yang hancur, dan perjuangan yang terasa sepi. Maka melalui bacaan-bacaan hari ini, Tuhan ingin meneguhkan kita bahwa rumah sejati adalah tempat di mana kasih, iman, dan pemulihan bertemu, dan itulah yang Ia kehendaki hadir di tengah-tengah gereja-Nya.

Dalam kitab Hosea, kita melihat bagaimana Allah “menarik diri” bukan karena benci, melainkan agar umat-Nya menyadari betapa jauhnya mereka telah melangkah dari kasih sejati. Seruan “Marilah kita kembali kepada TUHAN” bukanlah panggilan personal belaka, tetapi seruan komunal, ajakan untuk bersama-sama kembali pada pusat hidup: Tuhan sendiri. Dalam dunia yang menuntut kesuksesan dan pencitraan, kita diajak membangun rumah Tuhan bukan dengan kemegahan lahiriah, melainkan dengan hati yang remuk dan kerinduan akan kasih Allah.

Ini sangat relevan bagi gereja kita hari ini. Kita bisa saja aktif dalam pelayanan, rutin hadir di gereja, tetapi apakah hati kita sungguh mengenal dan mengasihi Allah? Atau kita sekadar menjalankan tradisi? Pertobatan sejati bukan tentang berhenti berbuat salah saja, tetapi juga tentang memulihkan arah hidup bersama, menghidupi kasih dan kebenaran sebagai gaya hidup. Rumah Allah menjadi nyata ketika setiap kita berani rendah hati dan berkata: “Tuhan, pulihkan kami, mulai dari diriku.”

Berikutnya Rasul Paulus menyampaikan kebenaran yang membebaskan: Abraham menjadi bapa banyak bangsa bukan karena ketaatan pada hukum, tetapi karena iman. Dan bukan iman yang mudah, melainkan iman yang tetap percaya meskipun janji tampak mustahil. Abraham menua tanpa anak, namun ia tidak membiarkan logika menghancurkan pengharapan. Ia percaya kepada Allah yang membangkitkan yang mati dan menciptakan dari yang tidak ada.

Dalam konteks gereja, ini sangat penting. Kita sedang hidup dalam era yang penuh ketidakpastian. Jemaat-jemaat kecil berjuang secara ekonomi. Keluarga-keluarga Kristen menghadapi tekanan dunia yang semakin sekuler. Tetapi iman bukan tentang seberapa baik keadaan kita sekarang, melainkan tentang seberapa dalam kita mempercayai Allah yang memegang masa depan kita. Kita berjuang bukan karena kekuatan kita sendiri, tetapi karena kita yakin Tuhan memelihara rumah-Nya.

Mari kita jadikan gereja sebagai tempat saling menguatkan iman. Tempat di mana kita tidak saling menghakimi, tetapi saling membangkitkan harapan. Satu rumah hanya bisa berdiri kokoh jika semua anggota berpegang pada janji Allah dan saling menopang dalam perjalanan iman.

Injil Matius menghadirkan Yesus dalam potret yang sangat manusiawi dan menyentuh. Ia memanggil Matius, seorang pemungut cukai yang dianggap najis oleh masyarakat. Ia duduk makan bersama orang berdosa. Ia menjamah perempuan yang sakit pendarahan dan membangkitkan anak kepala rumah ibadat. Semua tindakan ini menggambarkan satu hal: Rumah Tuhan adalah tempat di mana luka dipulihkan dan hidup yang telah patah diberi harapan baru.

Yesus tidak memilih siapa yang boleh masuk ke rumah kasih-Nya. Ia membuka pintu selebar-lebarnya bagi yang terbuang, yang malu, yang dianggap tidak layak. Di zaman sekarang, mungkin Matius adalah mereka yang dipinggirkan karena masa lalu. Perempuan yang sakit adalah mereka yang tak terdengar suaranya. Anak yang mati adalah harapan-harapan kita yang sudah kita anggap mustahil untuk hidup kembali. Tetapi di dalam rumah Tuhan, semua itu dipulihkan. Tuhan tidak melihat siapa kita dahulu, tetapi siapa kita yang rela datang dan percaya. Maka gereja harus menjadi rumah seperti itu: terbuka, penuh empati, dan menyembuhkan, bukan hanya secara rohani tetapi juga sosial. Apakah kita bersedia membangun rumah seperti itu? Rumah yang fondasinya adalah pertobatan sejati, temboknya adalah iman yang saling menopang, dan atapnya adalah kasih pemulihan yang menaungi siapa pun yang datang?

Penutup
Marilah kita wujudkan gereja sebagai “satu rumah” yang tidak dibangun atas dasar kesamaan asal-usul, status sosial, atau ketaatan hukum, tetapi atas dasar kasih, iman, dan pemulihan dalam Yesus Kristus. Dalam Pekan UEM 2026 ini marilah kita berjuang bersama, saling menolong, saling mendoakan, saling merangkul, dan saling menopang bersama dengan saudara-saudari kita sebagai United Evangelical Mission, baik di wilayah Asia, Afrika, maupun Eropa (Jerman) agar dunia melihat wajah Allah dalam rumah kita. Amin. [AN].

 

Pujian: KJ. 249  Serikat Persaudaraan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Punapa Panjenengan nate rumaos kados “tiyang sanes” sinaosa Panjenengan wonten ing griya Panjenengan piyambak? Utawi rumaos bilih wonten ing satengahing pasamuwan kita punika kok taksih kraos wonten sekat antawising “kula” lan “Panjenengan”? Dinten punika, Gusti nedahaken bilih Greja punika griya utawi omah kangge sadaya tiyang wah malih sadaya titah, papan pamratobat, iman kapitadosan, lan pangapunten ingkang mawujud sesarengan. Gusti mboten madosi kasampurnan, nanging mantebing iman lan katresnan ingkang tulus.

Isi
Ing kitab Hosea, kita nyumurupi caranipun Gusti Allah mundur, mboten amargi sengit, nanging supados umat sadar sampun tebih saking katresnan sejati. Tembung “Ayo padha bali marang Gusti” punika sanes ajakan pribadi, nanging ajakan sesarengan kangge wangsul dhateng pusating gesang: Gusti piyambak. Ing jaman ingkang kebak tuntutan sukses lan pencitraan, kita dipun ajak mbangun wismanipun Gusti sanes kalayan kemewahan lahiriah, nanging kalayan manah ingkang remuk lan klangenan tumrap katresnan sejati.

Bab punika penting tumraping greja kita samangke. Sanadyan aktif ing peladosan lan ajeg ndherek pangibadah, nanging punapa manah kita estu pancen nresnani Gusti? Utawi punika sadaya katindakaken namung minangka wujud nindakaken tradisi? Pamratobat ingkang sejati sanes namung bab mandeg anggenipun nglampahi dosa, nanging mulihaken arah gesang sesarengan, ngurip-uripi gesang ingkang adhedhasar katresnan lan kayekten. Wismanipun Gusti dados nyata menawi saben tiyang purun andhap asor lan matur, “Gusti, mugi kawula paduka pulihaken, wiwit saking kawula piyambak.”

Selajengipun Rasul Paulus nyebataken menawi Abraham dados bapa kangge bangsa-bangsa sanes amargi ketaatanipun dhateng hukum, nanging amargi iman. Imanipun ugi sanes kapitadosan ingkang gampang utawi sepele. Sinaosa Abraham sampun sepuh lan dereng kagungan turun, nanging tetep pitados dhumateng Gusti Allah ingkang maringi gesang dhumateng ingkang pejah lan makarya nitahaken saking ingkang mboten wonten.

Ing gesang minangka pasamuwan, bab punika ugi penting sanget. Kita gesang ing jaman ingkang sarwa mboten pasti. Kathah brayat kagunganipun Gusti ingkang ngadhepi tantangan ekonomi. Kulawarga Kristen ingkang ngadhepi tekanan saking jagad ingkang sangsaya sekuler. Nanging iman mboten gumantung kawontenan ingkang asring ewah, nanging gumantung kapitadosan dhumateng Gusti Allah ingkang ngasta mangsa ngajeng para kagungan-Ipun. Kita mboten nglampahi perjuangan kalayan kakiyatan kita piyambak, nanging adhedhasar pangandel bilih Gusti Allah piyambak ingkang ngreksa wisman-Ipun lan para kagungan-Ipun.

Pramila mangga kita wujudaken greja dados papan ingkang saling ngiyataken iman. Papan ingkang mboten saling “ngadili” satunggal kaliyan sanesipun, nanging mbangkitaken utawi nuwuhaken pangajeng-ajeng. Griya namung saged ngadeg kokoh bilih para anggotanipun sami nggondheli prasetyanipun Gusti lan saling ndhukung satunggal kaliyan sanesipun.

Ing Injil Mateus mratelakaken Gusti Yesus kanthi gambaran kamanungsan ingkang endah sanget. Panjenenganipun nimbali Mateus, tukang pajek ingkang dipun asingaken. Panjenenganipun dhahar sesarengan kaliyan tiyang dosa. Panjenenganipun nyarasaken tiyang estri lan nguripaken anakipun kepala dalem pangabekti. Sadaya pakaryanipun Gusti punika nedahaken bilih: wismanipun Gusti punika dados papan pangapura lan gesang ingkang nuwuhaken pengajeng-ajeng enggal.

Gusti Yesus mboten milih-milih bab sinten ingkang pareng mlebet dhateng wisma katresnan-Ipun. Panjenenganipun malah kersa mbikak kori kangge sinten ingkang dipun singkiri sesaminipun, ingkang isin, ugi ingkang mboten dipun anggep. Ing jaman samangke, Mateus punika tiyang ingkang dipun singkiri amargi masa lalunipun. Tiyang estri ingkang sakit punika tiyang ingkang suwantenipun mboten dipun mirengaken. Anak ingkang pejah punika pangajeng-ajeng ingkang sampun dipun raosaken mokal saged gesang malih. Nanging ing wismanipun Gusti, sadaya punika dipun pulihaken. Gusti mboten mirsani sinten kita punika ing rikala rumiyin, nanging sinten ingkang purun sowan lan pitados. Pramila greja kedah dados griya ingkang kados mekaten: tinarbuka, welas asih, lan nyarasaken, mboten namung ing babagan karohanen nanging ugi ing babagan sosial. Punapa kita sagah mangun griya ingkang kados mekaten? Griya ingkang dipun dhasaraken ing pamratobat ingkang sejati, tembokipun saking iman, lan atapipun katresnan saha pangapura?

Panutup
Mangga kita wujudaken greja dados “omah siji” ingkang mboten kawangun saking asal ingkang sami utawi status sosial ingkang sami kemawon, nanging saking katresnan, iman, lan pangapunten ing Gusti Yesus Kristus. Ing Pekan UEM 2026 punika, kita sareng-sareng merjuang, saling ndhukung, ndedonga, ngrengkuh, lan sareng-sareng ngupadi kaliyan para sadherek kita ing United Evangelical Mission sae ing Asia, Afrika, lan Eropa, supados jagad ndeleng wedanan-Ipun Gusti Allah wonten ing griya kita. Amin. [AN].

 

Pamuji: KPJ. 354  Tetalesnya Sawiji

Renungan Harian

Renungan Harian Anak