Bacaan: 2 Petrus 2 : 17 – 22 | Pujian: KJ. 363
Nats: “Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena orang diperhamba oleh yang mengalahkannya.” (Ayat 19)
Beberapa tahun lalu, publik dihebohkan oleh skandal yang melibatkan seorang motivator terkenal dengan jargon khasnya ‘super sekali’. Sebagai seorang motivator, ia mengajarkan tentang resep sukses dalam mengelola uang, bisnis, mental, dan cara hidup. Penyampaiannya yang menarik menunjukkan kebijaksanaan dan kesungguhan dalam setiap kata-katanya. Akan tetapi, dalam perjalanan hidupnya motivator tersebut terkena skandal. Ia diduga tidak mengakui anak kandungnya sendiri. Sebuah tindakan yang berlawanan dengan kata-kata mutiara yang ia sampaikan untuk memotivasi banyak orang. Ia yang semula dihormati dan memiliki banyak penggemar, kini ditinggalkan.
Dalam bacaan kita, Rasul Petrus memperingatkan jemaat di Asia Kecil tentang guru-guru palsu. Guru-guru palsu ini menjanjikan kebebasan yang salah. Dalam konteks historis Gnostik dan antinomian (anti-hukum) pada masa itu, kebebasan ini sering berarti otonomi mutlak dari batasan ilahi. Mereka mengajarkan bahwa karena seseorang telah diselamatkan oleh pengetahuan atau Kristus, maka mereka bebas melakukan apa pun (termasuk mengikuti hawa nafsu dan kecemaran moral) tanpa konsekuensi rohani. Inilah yang kemudian menjadi kecaman Petrus. Seseorang yang hidup seolah-olah bebas untuk berbuat dosa sebenarnya bukanlah orang merdeka, melainkan budak dari apa yang mengalahkan mereka. Mereka bukanlah diakonos (pelayan). Mereka tidak bisa menawarkan kemerdekaan sejati karena mereka sendiri tidak merdeka.
Sejatinya kita telah memperoleh kebebasan sejati, yaitu kebebasan dari kuasa dosa yang memampukan kita untuk menjadi hamba Kristus. Jika dalam hati atau kehidupan pribadi kita masih dikuasai oleh hal-hal seperti mencari keuntungan, keserakahan, atau citra diri maka kita masih menjadi hamba kebinasaan. Sudah selayaknya di bulan Kesaksian dan Pelayanan ini, apa yang kita lakukan lebih dari sekadar aktivitas. Tuhan menuntut perubahan batin kita, dari hamba kebinasaan menjadi hamba Kristus. Ada kesesuaian antara apa yang kita imani dengan apa yang kita jalani. Mari kita menjadi pribadi yang benar-benar dikalahkan dan ditaklukkan oleh Kristus sehingga kesaksian dan pelayanan kita sungguh-sungguh memulihkan, membebaskan, dan memberkati banyak orang. Amin. [garlic].
“Pelayanan sejati lahir dari hati yang tulus murni, bukan hati yang terikat oleh ambisi.”