Minggu Trinitas | Bulan Mardika
Stola Putih
Bacaan 1: Kejadian 1 : 1 – 2 : 4a
Mazmur: Mazmur 8
Bacaan 2: 2 Korintus 13 : 11 – 13
Bacaan 3: Matius 28 : 16 – 20
Tema Liturgis: Rumah Kita, Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Memulihkan Rumah Bersama seperti Kondisi Semula
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kejadian 1 : 1 – 2 : 4a
Dari kisah penciptaan ini, setidaknya kita dapat melihat tiga hal penting yang akan membantu kita memahami rancangan Allah bagi dunia ini. Pertama, ialah tentang Pribadi Allah, Roh Allah, dan Firman. Ketiganya ialah satu Pribadi Sang Pencipta dunia ini. Allah menciptakan dunia dan segala isinya dengan dan di dalam Firman-Nya (bdk. Yoh. 1:1-3). Dan secara khusus, dialog Allah dengan Roh dan Firman-Nya nampak pada kisah penciptaan manusia, yang dijadikan-Nya ”menurut gambar dan rupa Kita” (Ay. 26).
Kedua, frasa ”jadilah petang dan jadilah pagi.” Frasa ini selalu mucul untuk mengakhiri tiap satu hari dalam enam hari masa penciptaan. Kita tahu bahwa dalam pemahaman Yahudi, sebuah hari dimulai pada petang dan berakhir ketika matahari tenggelam. Demikian siklus itu terus berulang setiap hari. Sebagaimana siklus tersebut berjalan secara teratur, demikian pula setiap bagian dari karya agung penciptaan merupakan sebuah keteraturan yang telah dirancang sedemikian rupa oleh Sang Pencipta.
Ketiga, pada hari ketujuh, Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan. Angka tujuh dalam bahasa Ibrani, yaitu: sheva yang berarti penuh, lengkap, bersumpah. Ketika Allah berhenti pada hari ketujuh, Allah sedang menyatakan bahwa segala yang Ia ciptakan telah penuh, telah lengkap. Keteraturan ciptaan itu telah mencapai kepenuhan dan kesempurnaan. Dan ketika Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya, peristiwa ini akan menemui korelasi dengan kehidupan umat dan segenap ciptaan. Bahwa bagaimana pun umat berlaku dosa dan merusak, Ia tetap pada janji keselamatan-Nya. Sebab, pemberkatan dan pengudusan hari ketujuh ialah tindakan Allah Tri Tunggal yang tengah bersumpah, mengikat janji-Nya bagi segenap ciptaan-Nya.
2 Korintus 13 : 11 – 13
Perikop ini, satu sisi merupakan nasihat agar umat mengusahakan kesempurnaan hidup. Di sisi lain merupakan penekanan bahwa buah dari kesempurnaan hidup itu ialah penyertaan Allah Tri Tunggal Sang Sumber Kasih dan Damai Sejahtera. Kesempurnaan hidup dalam bentuk sehati sepikir dinasihatkan oleh Paulus bukan tanpa alasan yang mendesak. Nyatanya, Jemaat Korintus sedang hidup dalam pertikaian antar sesama anggota jemaat. Ini disebabkan oleh fitnah dari golongan orang yang menuduh Paulus sebagai rasul palsu dan kerasulannya patut diragukan. Di sisi lain, golongan tersebut juga memberitakan tentang Yesus yang lain. Keadaan ini makin terafirmasi dengan tindakan Paulus yang sebelumnya juga meninggalkan Korintus dengan terburu-buru. Ini menjadikan Jemaat terpecah pemahamannya, antara percaya pada golongan rasul-rasul palsu tersebut atau tetap percaya kepada Rasul Paulus. Dengan menasihatkan agar saling memberi salam dengan cium yang kudus, Paulus bukan hanya ingin menekankan kasih persaudaraan dan persatuan di antara anggota jemaat, namun ini juga sebagai simbol rekonsiliasi jemaat dengan saling menyambut satu sama lain. Salam penutup dari perikop ini menegaskan kembali penyertaan, janji penyertaan, dan keselamatan Allah Tri Tunggal bagi umat-Nya.
Matius 28 : 16 – 20
Perikop terakhir dari Injil Matius ini dapat kita hayati sebagai penekanan atas beberapa hal. Pertama, perintah ”Jadikanlah semua bangsa murid-Ku” merupakan perintah yang melampaui esklusivitas Bangsa Yahudi. Perintah ini merupakan kontradiksi dari perikop awal Injil (Mat. 1:1-17) yang sangat menekankan ke-Yahudi-an Yesus dengan membeberkan silsilah-Nya yang memang merupakan keturunan Bangsa Yahudi. Sehingga pesannya jelas, bahwa meskipun Yesus berasal dari bangsa eksklusif, namun keselamatan itu bukan hal eksklusif yang diperuntukkan hanya untuk satu bangsa tertentu, namun bagi semua bangsa.
Kedua, perintah untuk membaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Bahwa rancangan keselamatan telah ditetapkan oleh Allah Tri Tunggal sejak semula ketika Ketiganya Yang Esa menciptakan dunia ini. Maka lagi-lagi keselamatan harus disebarluaskan melampaui satu golongan tertentu. Perintah ini diikuti oleh seruan bagi para murid untuk mengajar setiap orang dan golongan melakukan segala yang diperintahkan Tuhan Yesus. Dalam kaitan dengan bacaan pertama, kita dapat melihat misi Tuhan Yesus melibatkan setiap orang untuk mengupayakan tatanan keteraturan yang telah ditetapkan Allah agar tetap lestari, tetap seperti kondisi awalnya, yaitu penuh, lengkap, serta sempurna.
Ketiga, janji Tuhan Yesus untuk menyertai sampai akhir zaman. Bahwa janji penyertaan dan keselamatan itu telah diikat oleh Allah sendiri pada hari yang ketujuh, ketika ia berhenti dari pekerjaan penciptaan-Nya. Dan ”sumpah” ikatan itu berlaku hingga akhir zaman.
Benang Merah Tiga Bacaan
Allah Tri Tunggal menciptakan dunia ini sebagai tatanan yang teratur, penuh, dan sempurna. Setiap orang yang telah menerima Juru Selamat dipanggil untuk melestarikannya agar keselamatan berlaku sebagai keutuhan dan kesempurnaan. Dalam setiap upaya pelestarian, janji keselamatan Allah sendiri senantiasa menyertai umat-Nya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
PPJM II GKJW tahun 2026 mengusung tema ”Ekologi dan Kependudukan.” Siratan tema ini secara singkat mengajak kita untuk menyadari betapa keprihatinan ekologis berdampak langsung dan signifikan pada keadaan penduduk bumi. Sebab, makin besar ledakan jumlah penduduk bumi (diperkirakan sekitar 1 milyar jiwa pertambahan dari tahun 2014), makin rentan pula keberadaan dan eksistensi lingkungan sebagai tempat tinggal bersama. Belum lagi berbagai permainan serta penguasaan segelintir golongan manusia yang bukan hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, namun juga sangat berdampak pada tatanan kependudukan. Kondisi ini harus disadari dan menjadi dorongan bagi setiap orang beriman untuk memunculkan gagasan dan aksi berkesinambungan, demi mengembalikan kondisi kehidupan ini pada keadaan awal ketika diciptakan.
Isi
Tuhan Allah telah menciptakan dunia ini dengan segala isinya dalam sebuah keteraturan yang sempurna adanya. Melalui berbagai karya cipta tersebut, manusia senantiasa disertai dalam hidup sehari-hari. Penyertaan itu merupakan bentuk pemeliharaan agar manusia menghayati bahwa di dalam pemeliharaan Tuhan ada karya keselamatan: yang gelap diterangi, yang haus disediakan air, yang lapar disediakan makanan, yang sakit disembuhkan melalui berbagai macam obat-obatan, yang penat disediakan keindahan untuk melepaskan kepenatan, dan sebagainya. Segala yang tercipta itu menjadi rumah kediaman agar di dalamnya setiap orang merasa berkecukupan atas semua kebutuhannya.
Menyadari hal tersebut tentu bukan hal yang sulit. Menjadi sulit ketika dari masing-masing orang atau golongan muncul keinginan untuk menguasai segala ketersediaan itu. Lebih rumit lagi ketika beberapa golongan tersebut mengetahui cara untuk menguasainya. Tentu dampaknya bukan hanya pada pengerukan karya cipta ilahi untuk memuaskan keserakahan manusiawi sehingga makin rusaklah keadaannya. Namun juga akan berimbas pada tatanan kependudukan di berbagai sendi kehidupan: ada yang sangat makmur, ada yang sangat sengsara; ada yang berkuasa, ada yang dikuasai; ada yang sangat kuat, ada yang sangat lemah; ada yang sambil tidur bisa kaya raya, ada yang banting-tulang tetapi tetap miskin, dan berbagai ketimpangan lainnya. Jika kondisi ini terjadi, atau memang sudah terjadi, maka ini adalah kondisi tidak selamat.
Kondisi tidak selamat ini perlu disadari oleh manusia yang konon merasa dirinya paling sempurna di antara segenap ciptaan, sebab diperlengkapi dengan daya, cipta, dan karsa. Kesadaran terhadap kondisi ini semestinya menuntun manusia pada beragam perasaan, seperti prihatin karena dunia yang dicipta sebagai ”rumah bersama” ini sedang tidak baik-baik saja. Mungkin saja menyesal sebab perilaku serakah ternyata menimbulkan jurang kesenjangan. Mungkin juga kesal dan marah, serta mungkin juga muncul dorongan untuk berbenah. Berbagai perasaan itu benar, sekaligus menjadi modal untuk berbuat dan bertindak. Dan apa pun bentuk tindakannya, sebaiknya bertujuan untuk melestarikan atau mengembalikan keadaan rumah bersama ini sebagaimana awal mulanya, yaitu penuh, lengkap, dan sempurna.
Peran kita sebagai orang percaya yang telah dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus menjadi penting di sini. Bahwa Tuhan Allah, ketiganya yang Esa, telah menciptakan dunia ini dalam keteraturan bahkan dinyatakan-Nya sebagai karya cipta agung yang penuh, lengkap, dan sempurna. Melalui segala yang diciptakan-Nya sebelum manusia, Tuhan Allah ingin menempatkan manusia pada kondisi yang selamat, yaitu damai, aman, nyaman, dan dalam berbagai rupa kebaikan lainnya yang sempurna adanya. Bahkan, kesempurnaan kondisi itu dimeteraikan oleh Tuhan Allah sendiri pada hari yang ketujuh penciptaan dan sampai akhir zaman. Kesempurnaan kondisi selamat itu pula telah dimeteraikan bagi kita dalam sakramen baptis. Kini kita dipanggil untuk melanjutkan karya keselamatan yang telah dimulai sejak kisah penciptaan itu.
Mengembalikan pada kondisi selamat atas karya cipta ilahi sebagai rumah bersama ini memerlukan gerak bersama. Bersehati dan sepikir menjadi modal berharga dalam setiap gagasan dan aksi, alih-alih bertikai dan mencari siapa yang patut dipersalahkan. Arah dari panggilan kita ialah menjadikan kondisi selamat itu bukan hanya bagi segelintir golongan, tetapi bagi semua golongan. Juga bukan hanya bagi golongan manusia, tetapi juga bagi segenap ciptaan. Kondisi ini mendesak untuk diwujudkan di kehidupan sekarang, bukan sebagai penantian di kehidupan kemudian.
Penutup
Berbagai unsur kehidupan sebelum dijadikan-Nya manusia, diciptakan oleh Tuhan Allah sebagai rumah. Manusia diberi wewenang untuk mendiaminya. Mendiami berarti merawat dan memelihara. Merawat dan memelihara berarti membenahi tatkala rusak sehingga menjadi layak. Jika rumah bersama ini terawat dan layak, maka setiap anggota rumah juga akan hidup layak. Amin. [aan].
Pujian: KJ. 426 Kita Harus Membawa Berita
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
PPJM II GKJW ing taun 2026 katindakaken mawi jejer ”Ekologi lan Kependudukan.” Ringkesipun, jejer punika ngajak kita supados sami nyadhari bilih kawontenanipun lingkungan papan panggenan kita saweg ngancam dhateng sadaya tiyang ing donya punika. Sabab, ing taun 2026 punika dipun prediksi cacahipun jiwa ingkang manggen ing bumi punika tuwuh antawis 1 milyar jiwa kaetang saking taun 2014. Kahanan punika saged sansaya awon, awit wontenipun saperangan lan sagolongan manungsa ingkang rumaos kumawasa dhateng sumber dayaning alam, makaten ugi kumawasa dhateng sesaminipun manungsa. Kahanan ingkang kados makaten punika kedah kita sadari minangka tiyang pitados saha mbereg kita sami supados saged nuwuhaken pamawas sae lan tumindak ingkang ajeg saprelu ndadosaken sagung ingkang cinipta punika kados ing mula bukanipun.
Isi
Gusti Allah nitahaken jagad dalasan saisinipun punika kalawan sampurna. Lumantar sadaya ingkang cinipta, gesangipun manungsa tansah dipun rimati ing saben dintenipun. Ing salebetipun pangrimatanipun Gusti Allah, sagung manungsa tansah tinunggil saha sinarengan dening kawilujengan: ingkang peteng dipun padhangi, ingkang ngelak dipun cawisi toya, ingkang luwe dipun cawisi tetedhan, ingkang sakit dipun sarasaken lumantar maneka warni obat-obatan, ingkang saweg kamomotan kalipur mawi sakathahing kaendahan, lan sanes-sanesipun wujud kawilujengan ingkang kaparingaken. Sadaya ingkang cinipta punika dinadosaken bale agung supados sok sintena tiyang ingkang manggen tansah kacekapan ing sadhengah kabetahan.
Ngraos-raosaken bab pangrimatanipun Gusti Allah lumantar sadaya ingkang cinipta punika tamtu sanes prekawis ingkang ewed. Ananging saged dados ewed nalika saben tiyang utawi wonten sawetawis golongan ingkang rumaos kumawasa tumrap samukawis ingkang kacawisaken dening Gusti Allah wonten ing alam lan lingkungan punika. Sansaya dados pakewed manawi manungsa utawi sawetawis golongan kalawau sumerep caranipun anggen nguwasani sumber dayaning alam punika. Tamtu dampakipun mboten namung bab ngeruk samukawis ingkang cinipta lajeng kadadosaken bandha kasugihan awit karana sipat srakah, temah sansaya risak kawontenanipun alam lingkungan. Ananging dampakipun saged katitik ugi saking tatanan kependudukan ing maneka warni kawontenan: wonten tiyang ingkang makmur sanget, wonten ingkang sangsara sanget; wonten ingkang adikuwasa, wonten ingkang dipun kuwasani; wonten ingkang sanget rosanipun, wonten ingkang sanget ringkihipun; wonten ingkang sinambi merem saged kasil kasugihan, wonten ingkang banting-tulang ananging tetep kemawon sekeng; lan ugi kahanan timpang sanes-sanesipun. Kawontenan punika nelakaken bilih donya saha pigesangan punika saweg mboten wilujeng utawi mboten rahayu.
Kahanan kados makaten punika saestu wigatos dipun galih dening manungsa ingkang dipun jangkepi kalawan daya, cipta, lan karsa. Sarana ngrumaosi saha mrangguli kawontenan punika, sampun samesthinipun tuwuh pangrasa ing salebeting manah: raos prihatin awit pancen donya punika saweg awon kawontenanipun, mbok bilih ugi sami apiduwung awit sakathahing tumindak srakah, mbok bilih ugi sami sekel ing panggalih, lan ugi tuwuh pambereg supados sami dandan-dandan tumrap sakathahing karisakan. Sadaya pangraos punika tamtu leres lan dados sesangu kangge mawas saha tumindak. Angkahipun supados samukawis kahanan punika saged kaupaya malih kados dene ing mula bukanipun Gusti Allah nitahaken jagad lan pigesangan, inggih punika jangkep lan sampurna.
Dene kita minangka tiyang pitados ingkang sampun kabaptis ing dalem Asmanipun Sang Rama, Sang Putra, miwah Sang Roh Suci, nampi timbalan adi ing satengahing praharaning donya. Gusti Allah tetiganya sawiji sampun nitahaken jagad punika kalawan tata lan tertib. Sadaya ingkang tumitah punika binerkahan minangka karya-cinipta ingkang agung-mulya, jangkep, saha sampurna. Lumantar sadaya ingkang cinipta saderengipun manungsa, Gusti Allah piyambak mapanaken manungsa wonten ing kahanan ingkang wilujeng, inggih punika ngraosaken tentrem, aman, kepenak, lan samukawis sampurnaning kasaenan. Sampurnaning kasaenan punika kaecap dening Gusti Allah piyambak ing dinten kapitu akarya tumitah ngantos dumugi ing wekasaning jaman. Sampurnaning kawilujengan punika ugi ingkang kaecap dening Gusti Allah dhateng kita sami wonten ing pratandha baptis. Samangke, kita nampi timbalan supados nglajengaken saha nglestantunaken pakaryan karahayon ingkang sampun dipun wiwiti rikala purwa Gusti Allah nitahaken jagad lan pigesangan.
Mangsulaken karya-cinipta minangka bale agung dhateng kawilujengan saha karahayon tamtu kedah mawi saiyeg saeka kapti, inggih kanthi sarujuk ing pamawas saha panggalih. Enering lampah timbalan kita anggen mulihaken kawilujengan punika mboten namung kangge sawetawis golongan kemawon, ananging kangge sagung tiyang lan bangsa. Makaten ugi mboten namung kangge sagung manungsa kemawon, ananging ugi kangge sadaya titah ingkang cinipta dening Gusti Allah. Wondene kawilujengan saha karahayon punika minangka timbalan ing gesang sapunika, sanes panganti-anti ing pigesangan salajengipun.
Panutup
Samukawis ingkang cinipta ngrumiyini manungsa, dipun dadosaken dening Gusti Allah minangka omah lan bale agung. Manungsa kawenganan supados manggen-manetep, ateges sami saiyeg mbudidaya lan ngrimati murih sae lan pantesipun. Bilih bale agung punika sae lan pantes, tamtu sok sintena ingkang manggen-manetep ugi saged gesang kalawan sae lan pantes. Amin. [aan].
Pamuji: KPJ. 339 Iba Dennya Mbingahaken