Pentakosta | Bulan Mardika
Stola Merah
Bacaan 1: Bilangan 11 : 24 – 30
Mazmur: Mazmur 104 : 24 – 34, 35b
Bacaan 2: 1 Korintus 12 : 3b – 13
Bacaan 3: Yohanes 20 : 19 – 23
Tema Liturgis: Rumah Kita, Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Roh Kudus: Kuasa, Kesatuan, dan Misi
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Bilangan 11 : 24 – 30
Bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun mengalami beban kepemimpinan yang sangat berat di pundak Musa. Di pasal ini, Musa merasa kewalahan menghadapi keluhan dan pemberontakan bangsa Israel. Tuhan merespons dengan menunjuk 70 tua-tua untuk ikut memimpin dan menolong Musa. Ayat 25 menunjukkan Roh Tuhan yang biasanya memberi kuasa khusus kepada Musa kini dibagikan kepada para tua-tua. Ini menandakan bahwa pelayanan rohani tidak hanya terbatas pada satu orang pemimpin saja. Bernubuat di sini berarti mereka dipenuhi Roh untuk berbicara atas nama Tuhan, bukan sekadar meramalkan masa depan, tetapi menyampaikan pesan ilahi.
Roh Allah tidak terikat oleh lokasi, formalitas, atau kehadiran fisik di acara tertentu. Hal ini terbukti pada Eldad dan Meldad yang meskipun tidak berada di Kemah saat itu, namun juga mendapat kuasa Roh Tuhan dan bernubuat. Tuhan bisa bekerja di luar batasan manusia. Meskipun Yosua khawatir bahwa kepemimpinan Musa akan terganggu oleh “pesaing”. Namun, Musa justru merespons dengan kerendahan hati dan visi yang besar, “Ah, kalau saja seluruh umat TUHAN menjadi nabi, dan TUHAN memberikan Roh-Nya kepada mereka!” (Ay. 29). Ini adalah gambaran kerendahan hati pemimpin sejati, tidak takut berbagi otoritas dan senang bila orang lain juga dipakai Tuhan. Visi Musa ini menubuatkan pencurahan Roh Kudus di Kisah Para Rasul 2, dimana semua orang percaya dipenuhi Roh Kudus.
1 Korintus 12 : 3b – 13
Surat 1 Korintus 12 ditulis Paulus untuk menegur dan mengajar Jemaat Korintus yang terpecah-pecah dalam berbagai kelompok dan merasa superior berdasarkan karunia rohani tertentu, terutama karunia bahasa roh. Paulus ingin mengingatkan bahwa semua karunia berasal dari Roh yang sama dan tujuannya adalah membangun tubuh Kristus, bukan untuk saling meninggikan diri. Paulus menggunakan gambaran tubuh untuk menjelaskan berbagai macam karunia Roh yang diterima oleh semua orang percaya. Dalam pemahaman tersebut Paulus menegaskan bahwa semua orang percaya mendapatkan karunia Roh, meskipun manifestasinya sangat beragam antara satu orang dengan yang lainnya. Oleh karena itu, teguran bagi Jemaat Korintus dalam suratnya sebenarnya bukan ditujukan kepada beberapa orang secara khusus, namun mengarah kepada seluruh jemaat yang pada saat itu mempunyai pemahaman tentang karunia Roh yang menyimpang.
Karena jemaat mengira bahwa hanya mereka yang bernubuat dan berbahasa Roh saja yang menerima karunia Roh sehingga dapat menjadi pemimpin di jemaat, sedangkan orang yang tidak bisa berbahasa Roh harus mengikuti arahan dari yang berbahasa Roh. Pemahaman ini tidak hanya meninggikan orang-orang khusus yang bisa berbahasa Roh, namun juga merendahkan karunia Roh yang diberikan Tuhan dalam wujud yang beragam itu. Karena itu, kehidupan di Jemaat Korintus menjadi tidak harmonis dan bahkan mengalami perpecahan karena masing-masing orang ingin meninggikan dirinya berdasarkan karunia Roh yang mereka miliki.
Yohanes 20 : 19 – 23
Injil Yohanes mengisahkan ketika Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya. Pada saat itu Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus kepada mereka (Ay. 22). Hal ini tentu sedikit berbeda dari apa yang ditulis oleh Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) dimana Tuhan Yesus yang menampakkan diri menjanjikan Roh Kudus kepada mereka. Bahkan Lukas memperjelas pencurahan Roh Kudus pada saat Pentakosta (Kisah Para Rasul 2).
Namun meskipun nampak ada perbedaan dalam narasi Injil Yohanes dengan ketiga Injil yang lain, kita bisa mengetahui bahwa peristiwa Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus kepada para murid yang dicatat oleh Yohanes ini adalah sebuah pengutusan. Sebelum Tuhan Yesus memberikan Roh Kudus, Ia mengutus para murid-Nya yang hadir saat itu, seperti halnya Dia yang diutus Bapa. Para murid diberikan otoritas untuk mengampuni atau mempertahankan dosa (Ay. 23). Dalam bahasa Yunani:
- “Mengampuni” → ἀφῆτε (aphēte) artinya membebaskan, melepaskan, membiarkan pergi.
- “Tetap ada” → κεκράτηνται (kekratēntai) dari kata κρατέω yang berarti menahan erat, memegang, tidak melepaskan.
Struktur kalimat menunjukkan tindakan otoritatif, bukan sekadar anjuran moral. Akan tetapi, tidak berarti murid-murid secara pribadi dapat memutuskan siapa yang diampuni atau tidak secara sewenang-wenang. Tuhan Yesus menghembusi mereka lebih dulu (Ay. 22), baru memberi otoritas ini. Artinya, pengampunan dan penahanan dosa hanya bisa dilakukan melalui kuasa Roh Kudus, bukan kemampuan manusia semata.
Tugas para murid adalah memberitakan Injil, jika seseorang percaya dan bertobat, murid menyatakan bahwa dosanya sudah diampuni oleh Allah (berdasarkan janji Allah dalam Kristus). Tetapi, jika seseorang menolak Injil, murid menyatakan bahwa dosanya tetap ada (tidak diampuni). Otoritas ini adalah deklaratif, bukan kreatif — artinya murid menyatakan apa yang Allah sudah tetapkan, bukan menciptakan keputusannya sendiri. Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya seperti Bapa mengutus Dia (Ay. 21). Ini mengacu pada misi Pengutusan Gereja di mana pemberitaan Injil menjadi sarana utama pengampunan dosa.
Benang Merah Tiga Bacaan
Roh Kudus adalah sumber kuasa, kesatuan, dan misi bagi umat Allah. Pencurahan Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta menunjukkan bahwa setiap orang percaya telah menerima karunia Roh Kudus dalam hidupnya. Meskipun wujud dari karunia itu berbeda-beda pada setiap orang, namun semuanya itu ada dalam satu kesatuan, yaitu Tubuh Kristus. Tubuh Kristus yang terwujud dalam gereja itu diutus Bapa untuk memberitakan Injil sehingga karya pendamaian umat manusia dengan Allah dalam pengampunan dosa dapat terjadi.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Setiap kita pasti pernah merasa kewalahan ketika beban pelayanan atau tanggung jawab hidup terasa begitu berat. Musa, Paulus, dan para murid Yesus pernah mengalaminya. Namun, di balik semua tantangan itu, kita melihat satu benang merah: Roh Kudus adalah sumber kuasa, kesatuan, dan misi bagi umat Allah. Hari ini kita akan belajar dari tiga bagian Alkitab yang saling melengkapi, untuk melihat bagaimana Roh Kudus bekerja dalam umat-Nya dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.
Isi
Mari kita melihat kisah Musa yang sudah kelelahan memimpin bangsa Israel menuju tanah perjanjan. Wajahnya memandang jauh, matanya berat, dan hatinya lebih berat lagi. Sejak keluar dari Mesir, umat ini tak henti-hentinya bersungut-sungut. Dan kini mereka minta daging, merengek seperti anak kecil. Musa mengangkat wajahnya kepada Tuhan, dan berkata, “Tuhan, aku tak sanggup sendiri. Beban ini terlalu berat bagiku.”
Tuhan menjawab, bukan dengan keajaiban instan, tetapi dengan solusi relasi: 70 tua-tua dipanggil untuk berbagi beban. Dan di hadapan Musa, Roh yang ada padanya turun ke atas mereka. Mereka mulai bernubuat — bukan meramal masa depan, tetapi menyuarakan pesan Allah. Melihat hal ini, Yosua meminta Musa untuk menghentikan para tua-tua itu. Namun, Musa dengan jiwa pemimpin yang sejati justru memandang hal ini sebagai sebuah kebaikan dan berharap agar semua orang dapat menerima Roh Tuhan. Inilah visi Musa bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan Allah. Karya pelayanan bukanlah beban bagi satu atau dua orang saja, melainkan tugas dan tanggung jawab bersama yang harus dilakukan dengan penuh sukacita bersama dengan bimbingan Roh Kudus. Karena setiap umat dipanggil bukan hanya untuk dilayani melainkan juga untuk saling melayani.
Mari kita lompat ke abad pertama Masehi, ke kota Korintus yang ramai. Jalan-jalan dipenuhi pedagang, pelabuhan penuh kapal, dan di balik semua kemajuan itu, gereja di Korintus retak dari dalam. Bukan karena masalah doktrin besar, tetapi kesombongan rohani. Sebagian jemaat berkata, “Aku punya karunia bahasa roh, jadi aku lebih rohani.” Yang lain merasa minder karena tidak memiliki karunia itu. Suasana di jemaat seperti tubuh yang saling bersaing antar anggota – tangan merasa lebih penting dari kaki, mata memandang rendah telinga. Rasul Paulus menulis dengan tegas, “Semua karunia berasal dari Roh yang sama. Kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh oleh satu Roh.” Tidak ada satu pun anggota yang lebih penting. Tidak ada karunia yang boleh dipakai untuk meninggikan diri. Roh Kudus diberikan untuk membangun, bukan memecah-belah. Penegasan ini kemudian menyadarkan Jemaat Korintus bahwa karunia Roh memang beragam, tetapi mereka harus bersatu sebagai satu tubuh. Dengan demikian karya Allah dapat dinyatakan melalui kehidupan Jemaat Korintus.
Akhirnya, Injil Yohanes mengajak kita melihat Tuhan Yesus yang saat itu mengutus para murid-Nya untuk memberitakan Injil. Dalam karya pemberitaan Injil, para murid tidak dibiarkan sendiri, Roh Kudus dihembuskan untuk menguatkan mereka. Karena pelayanan pemberitaan Injil adalah sarana pengampunan dosa, maka ada otoritas ilahi yang diterima para murid. Otoritas yang dikaruniakan melalui Roh Kudus, yang memberikan hikmat dan kuasa kepada mereka untuk memberitakan Injil. Melalui pemberitaan Injil inilah banyak orang dipanggil untuk menerima pengampunan dosa dan keselamatan. Misi yang sama juga dilakukan gereja saat ini, yakni memberitakan Injil agar semakin banyak orang yang menerima pengampunan dosa dan keselamatan dari Tuhan.
Penutup
Akhirnya, mari kita bertanya pada diri kita demikian, “Apakah kita masih memandang pelayanan sebagai beban yang harus ditanggung sendiri? Apakah kita masih membandingkan karunia kita dengan orang lain? Apakah kita sudah menjalankan misi pengampunan yang Yesus percayakan?” Hari ini, mari kita buka hati. Biarkan Roh Kudus yang sama yang memenuhi Musa, mempersatukan Jemaat Korintus, dan mengutus para murid, juga memenuhi kita. Karena ketika Roh Kudus bekerja, beban menjadi ringan, perbedaan menjadi kekayaan, dan misi menjadi sukacita. Amin. [RES].
Pujian: KJ. 233 Roh Kudus Turunlah
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Saben tiyang tamtu nate ngraosaken kuwalahan, nalika momotan peladosan utawi tanggel jawabing gesang kraos awrat sanget. Nabi Musa, Rasul Paulus, lan para sakabatipun Gusti Yesus ugi nate ngalami kahanan ingkang mekaten. Nanging, ing salebeting sadaya tantangan punika, kita saged mirsani satunggal piwucal bilih Roh Suci punika sumbering kakiyatan, patunggilan, lan misi kagem umatipun Gusti Allah. Ing dinten punika, kita badhe sinau saking tigang perangan Kitab Suci ingkang dados waosan kita punika, supados saged mangertos kados pundi Roh Suci punika makarya wonten ing umat-Ipun, wiwit saking Prajanjian Lami ngantos Prajanjian Enggal.
Isi
Sumangga kita mirsani ingkang dipun alami dening nabi Musa nalika mimpin bangsa Israel tumuju tanah prajanji. Nabi Musa lenggah kanthi badan lemes, pasuryanipun katingal sayah, lan manahipun langkung abot tinimbang saking raos keselipun badan. Wiwit medal saking tanah Mesir, bangsa Israel mboten nate kendel anggenipun nggresula. Sapunika sami nyuwun daging, kados bocah alit ingkang mrengek. Nabi Musa ngiyataken manah sowan dhumateng Gusti Allah, “Gusti, kawula mboten saged piyambakan. Momotan punika awrat sanget kangge kawula.”
Gusti paring wangsulan, mboten kanthi mukjijat ingkang dumadakan, nanging kanthi cara sesrawungan. 70 pinisepuh dipun pilih supados paring pitulungan ing tugas kepemimpinanipun Musa. Ing ngarsanipun Musa, Roh ingkang wonten ing Musa lajeng kaparingaken dhumateng para pinisepuh punika. Wonten ing wekdal punika, sami nindakaken nubuat — sanes ngramal, nanging martosaken dhawuhipun Gusti kanthi kakiyataning Roh. Mirsani kahanan punika, Yusak lajeng nyuwun dhateng nabi Musa supados nyegah para sepuh punika. Nanging, nabi Musa kanthi jiwa pemimpinipun malah mirsani bilih punika minangka kabecikan, saha nyuwun supados saben tiyang saged nampi Rohing Pangeran. Punika visi nabi Musa tumrap saben tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Allah. Pakaryan peladosan punika sanes momotan kangge satunggal utawi kalih tiyang kemawon, nanging minangka tugas saha tanggel jawab sesarengan ingkang kedah katindakaken kanthi kabingahan, saha wonten ing pitedahipun Roh Suci. Awit saben umat punika dipun timbali mboten namung nampi peladosan, nanging ugi saged sami paring peladosan satunggal lan sanesipun.
Sumangga kita lajeng mirsani dhateng abad wiwitan Masehi, wonten kutha Korinta ingkang rame sanget. Kutha punika pepak dening para pedagang, pelabuhanipun kebak dening prau, lan wonten ing salebeting kemajengan punika, pasamuwan ing Korinta wiwit retak saking lebet. Sanes amargi masalah piwucal agami ingkang ageng, nanging amargi gumunggung rohani. Sawetawis anggota pasamuwan ngendika, “Kula gadhah karunia basa roh, mila kula langkung suci.” Sanesipun malah kraos minder awit mboten kagungan karunia punika. Kahanan ing pasamuwan punika kados badan ingkang anggotanipun sami saingan satunggal kaliyan satunggalipun – tangan ngrumaos langkung wigatos tinimbang suku, mripat ningali kanthi asor kuping. Rasul Paulus nyerat kanthi teges, “Sadaya karunia punika asalipun saking Roh ingkang sami. Kita sadaya sampun kabaptis dados satunggal badan lumantar satunggal Roh.” Mboten wonten satunggal anggota ingkang langkung wigatos. Mboten wonten karunia ingkang kedah dipun ginakaken kangge ngluhuraken dhiri. Roh Suci punika dipun paringaken kangge mbangun, mboten kangge misah. Pangandika tegas punika lajeng ndadosaken para anggota Pasamuwan Korinta sadar bilih karunia Roh punika pancen benten, nanging sami kedah nyawiji dados satunggal badan. Kanthi mekaten, pakaryanipun Gusti Allah saged katingal cetha lumantar gesangipun Pasamuwan Korinta.
Pungkasanipun, Injil Yohanes ngajak kita mirsani Gusti Yesus ing wekdal punika ngutus para sakabat-Ipun kangge martosaken Injil. Ing pakaryan martosaken Injil punika, para sakabat mboten dipun tegakaken piyambakan, nanging Roh Suci kaparingaken temah ngiyataken para sakabat. Awit peladosan martosaken Injil punika dados sarana pangapuntening dosa, mila wonten kuwaos ilahi ingkang kaparingaken dhateng para sakabat. Panguwaos punika kaparingaken lumantar Roh Suci ingkang maringi kawicaksanan lan kakiyatan dhateng para sakabat kagem martosaken Injil. Lumantar pawartos Injil punika kathah tiyang ingkang dipun timbali nampi pangapuntening dosa saha kawilujengan. Misi ingkang sami ugi dipun tindakaken dening greja ing jaman sak punika, inggih punika martosaken Injil supados saya kathah tiyang ingkang nampi pangapuntening dosa saking Gusti.
Panutup
Wonten pitakenan dhateng dhiri kita ingkang makaten, “Punapa kita taksih ngraosaken peladosan minangka momotan ingkang dipun tanggel piyambakan? Punapa kita taksih mbandingaken karunia kita kaliyan sanesipun? Punapa kita sampun nindakaken misi pangapunten ingkang dipun karsakaken Gusti Yesus?” Dinten punika, sumangga kita mbikak manah kita. Kita nampi Roh Suci ingkang sami ngiyataken nabi Musa, nyatunggilaken Pasamuwan Korinta, lan ngutus para sakabat. Amargi nalika Sang Roh Suci punika makarya, nuli momotan gesang dados entheng, ingkang benten saged ndadosaken berkah, lan misi peladosan dados kabingahan. Amin. [RES].
Pamuji: KPJ. 283 Bilih Roh Suci