Panggilan Menjadi Saksi Kristus Khotbah Minggu 17 Mei 2026

4 May 2026

Minggu Paskah 7 | Bulan Kespel
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 1 : 6 – 14
Mazmur: Mazmur 68 : 1 – 10, 32 – 35
Bacaan 2: 1 Petrus 4 : 12 – 14; 5 : 6 – 11
Bacaan 3: Yohanes 17 : 1 – 11

Tema Liturgi: Rumah Kita, Rumah Tuhan
Tema Khotbah: Panggilan Menjadi Saksi Kristus

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 1 : 6 – 14
Kenaikan Tuhan Yesus adalah momen terakhir para murid melihat Tuhan Yesus dalam wujud fisik sebelum Ia naik ke surga. Tidak ada tanda langsung dalam teks yang mengungkapkan bahwa para murid sadar inilah pertemuan terakhir mereka secara fisik. Namun, beratnya pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan ada kesadaran mendalam akan perubahan besar yang akan terjadi. Selama 40 hari Tuhan Yesus menampakkan diri kepada para murid-Nya, Ia mengangkat isu tentang Kerajaan Allah (Ay. 3), jadi wajar jika para murid bertanya tentang pemulihan Kerajaan Israel (Ay. 6), yang mereka samakan dengan Kerajaan Allah. Pemahaman para murid tentang Kerajaan Allah terkait erat dengan pemulihan kerajaan yang bersifat politik dan teritorial. Tuhan Yesus tidak menyangkal pemulihan itu akan terjadi, hanya menegaskan bahwa waktu tepatnya bukan untuk mereka ketahui, bahwa “masa dan waktu” adalah urusan Allah bukan urusan mereka. Mereka telah bertanya tentang pemulihan kekuasaan politik Israel namun Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa mereka akan menerima kuasa yang berbeda, yaitu kuasa Allah yang disalurkan kepada mereka melalui perantaraan Roh Kudus. Roh Kudus yang sama inilah yang memberi kuasa kepada Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya di bumi. Sekarang Roh Kudus ini akan memberi kuasa kepada para murid pada hari Pentakosta (dan banyak orang percaya setelah Pentakosta) untuk menggenapi apa yang Tuhan Yesus inginkan agar mereka dimampukan  bersaksi tentang Dia melintasi batas budaya, bangsa, dan wilayah geografis (Ay. 8). Tuhan Yesus perlahan terangkat meninggalkan murid-murid-Nya, awan yang menyelubungi-Nya mengingatkan pada awan kemuliaan atau “Shekinah” (bhs. Ibrani shekinah berarti “diam” atau “berada di tengah”), simbol kehadiran Allah yang nyata dalam Perjanjian Lama dan Baru, seperti awan kemuliaan di Kemah Suci/Tabernakel (Kel. 40), awan di Gunung Sinai (Kel. 19), awan yang memimpin Israel (Kel. 13), peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus (Mat. 17). Shekinah adalah pengingat bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh. Dia adalah Allah yang hadir dan tinggal menyertai umat-Nya. Kehadiran-Nya terus berlanjut sampai sekarang melalui karya Roh Kudus.

Kehadiran kedua pria berpakaian putih/malaikat (Ay. 10-11) mengingatkan para murid untuk fokus pada perintah Tuhan Yesus, yaitu kembali ke Yerusalem dan melanjutkan misi mereka. Mereka diminta tidak terpaku ke mana dan bagaimana Tuhan Yesus pergi, tetapi mereka harus melangkah maju dalam pelayanan menjadi saksi Kristus. Mereka taat pada perintah Tuhan Yesus untuk menunggu kedatangan Roh Kudus. Walau Tuhan Yesus tidak lagi hadir secara fisik, mereka tetap melakukan perintah-Nya dengan setia. Di ruang atas di Yerusalem itu, para murid Yesus bersama dengan murid yang lain terus berdoa dengan kesungguhan dan harapan. Ini menunjukkan bahwa taat, bersekutu, dan berdoa adalah tiga langkah penting dalam menjalankan kehendak Allah.

1 Petrus 4 : 12 – 14; 5 : 6 – 11
Petrus menasihati para saudara seiman, orang-orang Kristen yang tersebar di provinsi – provinsi Romawi di Asia Kecil agar tidak merasa heran atau terkejut saat mengalami “nyala api siksaan” (Ay. 12), yaitu penganiayaan dan penderitaan yang datang sebagai ujian iman mereka. Karena mereka turut menderita bersama Kristus, Petrus mengajak mereka untuk bersukacita. Sukacita ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi untuk hari kemuliaan Tuhan Yesus kelak, ketika Kristus dinyatakan secara penuh. Orang percaya harus berbahagia jika mereka mengalami penghinaan atau siksaan karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan (Roh Allah) ada di dalam mereka. Kehadiran Roh Kudus adalah jaminan dan penghiburan bahwa mereka bukan dibiarkan sendirian dalam penderitaan.

Karena itu, Petrus mengajak orang percaya untuk merendahkan diri di bawah kuasa Allah yang besar agar Dia dapat meninggikan mereka pada waktu yang tepat serta menyerahkan semua kekhawatiran mereka kepada-Nya, sebab Dialah yang memelihara dan memperhatikan kehidupan umat-Nya (Ay. 7). Petrus mengingatkan umat untuk tetap sadar dan selalu waspada, karena musuh mereka, si Iblis, sedang berkeliaran di sekitar mereka layaknya Singa yang mengaum, mencari kesempatan untuk menangkap dan memakan siapa pun yang dapat ia kuasai. Umat percaya harus melawannya dengan iman yang teguh, sebab mereka tahu bahwa saudara-saudari seiman mereka di seluruh dunia juga mengalami penderitaan yang sama. Petrus menutup bagian ini dengan doa (Ay. 10-11) agar Allah, sumber kasih karunia, menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam hidup umat kepunyaan-Nya. Itulah yang akan menyempurnakan, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kehidupan orang percaya setelah mengalami penderitaan sesaat di dunia. Segala kemuliaan dan kuasa adalah milik Allah sampai selama-lamanya.

Yohanes 17 : 1 – 11
Yesus menutup pengajaran panjang-Nya kepada para murid (Yoh. 13–16) dengan berdoa kepada Bapa. Dalam doa ini, Ia menengadah ke langit dan memohon agar Bapa memuliakan-Nya, agar melalui kemuliaan itu Ia pun dapat memuliakan Bapa. Yesus menyadari bahwa Ia telah menerima otoritas dari Bapa untuk memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah diberikan kepada-Nya. Hidup kekal itu bukan sekadar hidup tanpa akhir, tetapi suatu kualitas hidup yang berasal dari hubungan yang intim dan sejati dengan Allah dan dengan Yesus Kristus yang diutus-Nya. Yesus menegaskan bahwa Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang Bapa tugaskan selama Ia di dunia untuk menyatakan kasih, kuasa, dan kebenaran Allah kepada umat manusia.

Yesus memperkenalkan siapa Allah sebenarnya kepada para murid, yaitu mereka yang telah dipilih dari dunia dan diserahkan kepada-Nya. Ia menyatakan nama “Bapa” bukan sekadar sebutan, tetapi seluruh karakter dan kehadiran-Nya sebagai Allah yang hidup. Dengan menyebut Allah sebagai “Bapa“, Yesus membuka jalan agar manusia bisa berhubungan dengan Allah secara dekat dan pribadi. Dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia tidak berdoa untuk dunia, tetapi secara khusus untuk murid-murid yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Kata “dunia” (Ay. 9) di sini bukan merujuk pada bumi atau seluruh umat manusia, melainkan pada sistem dunia yang menentang Allah, dunia yang menolak kebenaran dan hidup dalam pemberontakan terhadap Sang Pencipta. Bukan berarti Yesus tidak mengasihi dunia namun sebaliknya, Injil ini menunjukkan bahwa kasih Allah begitu besar hingga Ia mengutus Anak-Nya demi keselamatan dunia. Namun dalam momen ini, fokus doa Yesus adalah perlindungan bagi para pengikut-Nya yang harus tetap tinggal di tengah dunia yang bermusuhan.

Yesus tahu bahwa saat-Nya untuk kembali kepada Bapa telah tiba. Ia akan segera meninggalkan dunia ini, tetapi murid-murid akan tetap berada di dalamnya. Karena itu, Ia dengan penuh kerinduan berseru, “Bapa yang Kudus” (Ay. 11), sebuah panggilan yang mencerminkan sifat Allah yang benar dan tak bercela. Ia memohon agar Bapa menjaga murid-murid dalam nama-Nya agar mereka tetap hidup sesuai dengan identitas ilahi yang telah diberikan kepada mereka, bahwa mereka tetap setia, kudus, dan teguh dalam iman, meskipun hidup di tengah dunia yang asing dan penuh tantangan. Yesus tidak sekadar berdoa agar mereka terlindung secara fisik, tetapi terutama agar mereka kuat secara rohani, agar mereka tetap setia dan tidak kehilangan jati diri mereka sebagai umat Allah. Ia juga memohon agar mereka menjadi satu, sebagaimana Bapa dan Anak adalah satu. Sebuah kesatuan yang lahir dari kasih, kebenaran, dan tujuan yang sama.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kisah Kenaikan Tuhan Yesus menekankan bahwa para murid dan kita umat percaya saat ini diberi kuasa Roh Kudus untuk melanjutkan misi Allah menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Perlu peneguhan iman dan panggilan untuk tetap setia dalam misi Allah meski ada penderitaan yang harus kita alami demi menjadi saksi Kristus. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk taat, bersatu, setia, dan siap menderita demi Kristus dengan penguatan dari Roh Kudus sebagai wujud penyertaan Allah sendiri. Inilah yang menjadi doa dan harapan Tuhan Yesus bagi kita semua umat kepunyaan-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Pada lomba lari 400 meter putra Olimpiade 1992 di kota Barcelona, Spanyol. Derek Redmond pelari tercepat asal Inggris menjadi perhatian banyak orang. Dia sangat berharap bisa merebut medali pada Olimpiade saat itu setelah gagal mendapatkannya di Olimpiade sebelumnya di Korea tahun 1988 karena mengalami cedera, beberapa jam sebelum perlombaan dimulai. Sama seperti para pelari dari negara lain, Derek Redmond mengemban tugas dari negaranya untuk bisa bertanding dan mencapai garis finis dengan hasil yang baik serta mengharumkan nama negaranya. Redmond dan semua atlet mulai mengadu kecepatan. Ketika sudah 250 meter, Redmond merangsek ke posisi keempat. Sedikit lagi mengamankan medali perunggu. Namun ketika balap lari itu menyisakan 150 meter, Redmond tampak kesakitan dan terpincang-pincang di lintasan lari. Redmond mengalami masalah cedera hamstring (tarikan atau robekan pada otot paha bagian belakang). Namun di balik rasa sakit itu ada keinginan yang jauh lebih besar kini menantangnya untuk kembali terus berlari, yaitu menyelesaikan lomba, tugas negara yang diembannya. Ketika Redmond berlari sambil menahan sakit, seorang pria bertopi tiba-tiba menerobos barikade keamanan. Pria bertopi itu ternyata ayah sekaligus pelatihnya, Jim Redmond. Jim merangkul Redmond dan membantunya menuju garis finish. Beberapa langkah dari garis finish, Jim melepaskan rangkulannya. Dia membiarkan Redmond memenuhi keinginan dan tugasnya. Ketika Redmond menyentuh garis finish, semua orang yang memadati stadion bertepuk tangan untuk kegigihannya. Redmond memang gagal memenuhi harapannya meraih medali di ajang Olimpiade, dia juga didiskualifikasi, tetapi dia mengaku sangat bersyukur punya ayah sebaik Jim. “Ayah saya adalah orang yang paling bangga sedunia! Saya lebih bangga kepadanya meski gagal mendapatkan medali emas,” ujarnya.

Isi
Bacaan di Kisah Para Rasul 1 ini adalah momen terakhir para murid melihat Tuhan Yesus dalam wujud fisik sebelum Ia naik ke surga. Wajar jika para murid bertanya dan ingin mengetahui kapan Kerajaan Israel akan dipulihkan. Sama halnya dengan pertanyaan dalam benak kita akan harapan kapan kehidupan keluargaku, rumah tanggaku, ekonomiku, pekerjaanku akan dipulihkan? Tuhan Yesus tidak menyangkal pemulihan itu akan terjadi, hanya menegaskan bahwa waktu tepatnya bukan untuk mereka ketahui, “masa dan waktu” adalah urusan Allah bukan urusan manusia. Meskipun pemulihan Kerajaan Israel yang mereka harapkan tertunda, kuasa yang mereka perlukan akan segera diberikan melalui Roh Kudus yang akan memampukan mereka untuk bersaksi sampai ke ujung dunia.

Saat tugas panggilan menjadi saksi-Nya diberikan, Tuhan Yesus tidak membiarkan umat kepunyaan-Nya berjalan sendirian. Di saat Tuhan Yesus perlahan terangkat meninggalkan murid-murid-Nya, awan yang menyelubungi-Nya mengingatkan akan “awan kemuliaan” atau “Shekinah” (bhs. Ibrani shekinah berarti “diam” atau “berada di tengah”). Ini adalah simbol kehadiran Allah yang nyata dalam Perjanjian Lama dan Baru, seperti awan kemuliaan di kemah suci/Tabernakel (Kel. 40), awan di Gunung Sinai (Kel. 19), awan yang memimpin Israel (Kel. 13), peristiwa transfigurasi Tuhan Yesus (Mat. 17). Shekinah adalah pengingat bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh. Dia adalah Allah yang hadir dan tinggal menyertai umat-Nya. Kehadiran-Nya terus berlanjut sampai sekarang melalui karya Roh Kudus. Kehadiran Allah ini jugalah yang terus kita rasakan dalam menghadapi situasi apapun di kehidupan kita setiap hari.

Banyaknya peristiwa yang terjadi sering membuat kita terbenam dalam lamunan dan angan-angan akan keadaan yang kita harapkan, yang terkadang justru lamunan itu membuat kita menjadi terdiam dan sulit bergerak untuk mengerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita dalam kehidupan. Kehadiran dua orang berpakaian putih yang menegur para murid untuk tidak terus melihat ke langit juga merupakan pengingat supaya para murid tidak hanya terus melihat ke atas diam dan terpaku pada apa yang menjadi angan-angan dan lamunan akan pemulihan Israel, tetapi untuk beranjak pergi menjadi saksi Kristus. Hal ini jugalah yang perlu kita lakukan, jangan sampai kita hanya diam pada angan-angan dan lamunan akan keadaan kehidupan kita, tetapi kita harus mau bergerak melangkah maju, kembali fokus dalam tugas pelayanan, dan menjadi saksi Kristus. Banyak orang tidak mau diajak berpelayanan atau berbuat baik karena merasa masih banyak angan-angan dalam hidupnya yang masih ingin dicapai, banyak hal-hal besar yang masih ingin diraih. Kita beranggapan bahwa pelayanan kita harus bisa berdampak besar dan luar biasa, sehingga kita merasa tidak mampu untuk melakukan hal itu karena merasa waktu dan tenaga kita yang terbatas. Namun jika kita melihat setelah para murid mendapatkan tugas menjadi saksi Kristus, mereka tidak langsung pergi ke berbagai tempat dan melakukan banyak mukjizat yang luar biasa, namun mereka justru kembali ke ruang atas rumah di Yerusalem. Panggilan itu direspons dengan bersekutu dan berdoa di dalam rumah sambil menanti janji Roh Kudus yang pada akhirnya memampukan mereka untuk melayani dan bersaksi sampai kemana-mana. Menjadi saksi-Nya juga bisa kita mulai dari dalam rumah kita masing-masing. Rumah kita juga adalah rumah Tuhan dimana Tuhan hadir dan berkarya. Kesaksian kita bisa kita mulai dari hal-hal kecil di dalam keluarga kita, seperti memberi keteladanan untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu, mengajarkan perbuatan baik seperti berbagi, saling menceritakan berkat yang sudah Tuhan berikan supaya setiap anggota keluarga bisa merasakan bahwa kehidupan keluarganya sungguh diberkati Tuhan dan tertarik untuk tetap menjaga persekutuan bersama dengan Tuhan.

Tentu panggilan menjadi saksi Kristus ini tidak mudah dilakukan, bahkan di lingkup rumah sekalipun. Hanya sekadar memberikan keteladanan untuk rajin pergi ke gereja saja, banyak di antara kita yang mengalami kesulitan. Belum lagi soal memberikan keteladanan tentang kesetiaan, kejujuran, dan memaafkan. Banyak penderitaan yang harus kita alami sebagai ujian iman. Namun penderitaan atas nama Kristus harus dihadapi dengan penuh sukacita karena Roh Allah terus ada memberikan kekuatan di dalam kehidupan umat percaya.

Hal ini juga disampaikan Petrus kepada orang-orang Kristen yang tersebar di provinsi – provinsi Romawi di Asia Kecil agar tidak merasa heran atau terkejut saat mengalami “nyala api siksaan“, yaitu penganiayaan dan penderitaan karena menjadi saksi Kristus. Saat penderitaan itu ada, banyak sekali hal yang kita khawatirkan. Kita khawatir akan masalah pribadi kita, keluarga kita, kesehatan kita, pekerjaan kita, usaha kita, bisnis kita. Rasa khawatir inilah yang menghalangi kita untuk menjadi saksi Kristus. Namun Petrus mengajak supaya kita mau menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Allah yang besar karena Dialah yang memelihara dan memperhatikan kehidupan kita. Petrus juga mengingatkan kita untuk tetap sadar dan selalu waspada, karena musuh kita, si Iblis, sedang berkeliaran di sekitar kita, layaknya singa yang mengaum, mencari kesempatan untuk menangkap dan memakan siapa pun yang dapat ia kuasai. Karena bisa saja si Iblis akan masuk menguasai kehidupan kita lewat ketakutan dan kekhawatiran akan masalah yang sedang kita hadapi.

Hal inilah yang juga diketahui oleh Yesus, bahwa dalam melanjutkan karya-Nya di dunia, para murid harus berhadapan dengan dunia. Kata “dunia” (Yoh. 17:9) bukan merujuk pada bumi atau seluruh umat manusia, melainkan pada sistem dunia yang menentang Allah, dunia yang menolak kebenaran, dan hidup dalam pemberontakan terhadap Sang Pencipta. Oleh sebab itu, menutup pengajaran-Nya dan sebelum memasuki masa penderitaan (disiksa, disalib, dan mati), Ia berdoa kepada Bapa. Selain berisi bahwa Ia telah menerima kuasa dari Bapa dan telah menyelesaikan pekerjaan yang Bapa tugaskan selama Ia di dunia, Ia juga berdoa untuk para murid dan orang-orang percaya yang sudah diberikan Bapa sebagai milik kepunyaan-Nya. Murid-murid itu bukan orang yang luar biasa menurut ukuran dunia. Namun Yesus menghargai mereka sebagai pemberian berharga dari Bapa. Ia menegaskan bahwa mereka telah menjaga firman Bapa artinya mereka telah menerima pewahyuan Allah dan berusaha mengikutinya meskipun pemahaman mereka belum sempurna.

Ia tetap melihat para rasul dan kita saat ini sebagai cerminan kemuliaan-Nya. Ini menunjukkan betapa Tuhan Yesus melihat bukan hanya siapa kita saat ini, tetapi apa yang bisa kita kerjakan oleh karena karya Roh Kudus dan kasih karunia Allah. Melalui para rasul dan kita saat ini, Injil disebarkan dan gereja bertumbuh. Pemuliaan ini meski belum sempurna secara manusia, sudah nyata di mata Tuhan. Karena itu, Yesus dengan penuh kerinduan berseru, “Bapa yang Kudus”, sebuah panggilan yang mencerminkan sifat Allah yang benar dan tak bercela. Ia memohon agar Bapa menjaga para murid dalam nama-Nya agar mereka tetap hidup sesuai dengan identitas Ilahi yang telah diberikan kepada mereka, bahwa mereka tetap setia, kudus, dan teguh dalam iman, meskipun hidup di tengah dunia yang penuh dengan penderitaan. Yesus tidak sekadar berdoa agar umat kepunyaan-Nya terlindung secara fisik, tetapi terutama agar kita kuat secara rohani, agar kita tetap setia dan tidak kehilangan jati diri sebagai umat Allah. Ia juga memohon agar kita menjadi satu, sebagaimana Bapa dan Anak adalah satu, sebuah kesatuan yang lahir dari kasih, kebenaran, dan tujuan yang sama. Inilah doa yang tetap bergema hingga hari ini, yaitu agar umat Allah hidup dalam kesatuan yang sejati, bukan hanya secara lahiriah, tetapi dalam keselarasan hati, iman, dan misi yang sama dalam bersaksi dan melayani Tuhan.

Penutup
Saat ini kita memasuki Bulan Kesaksian dan Pelayanan, bulan dimana kita diingatkan bahwa kita yang menjadi milik Kristus, tanpa terkecuali memiliki tugas dan panggilan yang sama, yaitu menjadi Saksi Kristus. Sebagai umat Tuhan, kita mungkin sama-sama sedang berjuang dalam kehidupan. Mungkin saat ini, kita sedang ada dalam pergumulan yang berat, ada dalam keprihatinan, ada dalam ketakutan dan khawatirkan. Jangan sampai keadaan kita menjadi penghalang untuk kita tetap melayani dan menjadi saksi-Nya, karena bisa saja kesaksian dan pelayanan yang kita tunjukkan itu menjadi sumber kekuatan dan penghiburan bukan hanya bagi kita pribadi tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita. Marilah kita tetap menyerahkan panggilan pelayanan kita dalam doa kepada Tuhan Allah supaya Roh Allah yang Kudus selalu menyertai dan memberkati kehidupan kita di dalam situasi apapun. Amin [M@ul].

 

Pujian: KJ. 426  Kita Harus Membawa Berita

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten ing lomba playon 400 meter jaler Olimpiade tahun 1992 ing kutha Barcelona, Spanyol. Derek Redmond atlit saking Inggris dados kawigatosan katah tiyang. Piyambakipun nggadhah pangajeng-ajeng saged angsal medali Olimpiade awit nate gagal angsal medali ing Olimpiade kepengker wonten ing Korea tahun 1988 jalaran ngalami cidera sak derengipun lomba dipun wiwiti. Sami kados para atlit saking negari sanesipun, Derek Redmond nampi tanggel jawab saking negari Inggris kangge ndherek lomba lan saged ngrampungaken lomba playon punika dumugi garis pungkasan kanthi sae sarta bekta aruming nami negarinipun. Nalika Redmond lan atlit sanesipun sami balapan, sampun mlampah 250 meter, Redmond saged wonten ing urutan sekawan, kirang sekedik malih angsal medali perunggu. Nanging nalika balapan kirang 150 meter malih, Redmond ketingal raos kelaran lan pincang awit cidera hamstring (jalaran otot pupu wingking ketarik utawi pedot). Ing satengah-tengah raos kelaran awit cidera, wonten pepinginan ingkang ageng sanget, saged ngrampungi lomba kanthi garis pungkasan minangka ayahan tanggel jawab ingkang sampun dipun tampi. Nalika Redmond mlajeng kanthi kelaran, wonten satunggal tiyang jaler saking penonton ingkang mlebet ing lintasan lomba lan ngrangkul Redmond kangge paring pitulungan supados Redmond saged mlajeng ngantos dumugi garis finish. Tiyang ingkang nulungi punika bapak ugi pelatihipun, Jim Redmond. Nalika kirang sekedik tumuju garis finish, Jim ngeculaken Redmond supados saged mlampah piyambakan mungkasi lomba kados pikajengipun. Nalika Redmond saged dumugi garis pungkasan, sadaya tiyang wonten ing stadion sami sorak paring pangalembana awit semangat ingkang dipun ketingalaken Derek Redmond. Sinaosa Redmond gagal nggayuh pangajeng-ajengipun angsal medali ing Olimpiade, nanging Redmond rumaos saos syukur sanget awit kagungan bapa ingkang sae sanget, “Rama kula punika tiyang ingkang paling bingah sak donya, nanging kula langkung bingah malih awit kagungan Rama kados mekaten, sinaosa sak mangke taksih dereng saged angsal medali.

Isi
Waosan saking Lelakone Para Rasul 1 punika nedahaken wekdal pungkasan kangge para sakabat mirsani Gusti Yesus kanthi wujud manungsa, sakderengipun Gusti Yesus sumengka dhateng swarga. Limrah menawi para sakabat paring pitaken lan kepingin sumerap, “Wanci kapan Israel badhe kapulihaken?”. Sami kados pitaken lan pangajeng-ajeng wonten ing manah kita “Kapan brayatku, ekonomiku, pangaweanku, usahaku iso pulih maneh?” Gusti Yesus mboten selak bilih punika badhe kalampahan, nanging kapan “mangsa lan wektunipun” saged kalampahan? Punika sadaya wonten ing pangwaosipun Gusti Allah ingkang mboten dipun sumerapi dening manungsa. Sinaosa pemulihan Karajan Israel dereng kalampahan, nanging para sakabat badhe nampi kuwaos saking Roh Suci supados para sakabat saged dados saksinipun Gusti Yesus ngantos dumugi ing pungkasaning bumi.

Nalika timbalan ayahan peladosan punika dipun tampi dening para sakabat, Gusti Yesus mboten badhe negakaken para sakabat lumampah piyambakan. Nalika Gusti Yesus sumengka dhateng swarga nilar para sakabat wonten mega ingkang ngalang-alangi. Mega punika ngemutaken dhateng “mega kamulyan” utawi “shekinah” wonten ing basa Ibrani, punika pralambang panganthinipun Gusti Allah ing satengah-tengahing umat wonten ing Prajanjian Lami lan Enggal, kados cariyos mega kamulyan ing tarub suci/tabernakel (Pangentasan 40), mega ing Redi Sinai (Pangentasan 19), mega ingkang ngirid bangsa Israel (Pangentasan 13), lan transfigurasi Gusti Yesus (Matius 17). Shekinah punika dados pangemut bilih Gusti Allah punika sanes Gusti Allah ingkang tebih, nanging Gusti Allah ingkang tansah ngirid gesang para umat kagungan-Ipun. Panganthinipun Gusti Allah tansah dipun raosaken ngantos dumugi samangke wonten ing salebeting pakaryanipun Sang Roh Suci nalika kita ngadepi mawarni-warni kawontenan ing gesang saben dinten.

Kathahipun kahanan ingkang sampun kita adepi wonten ing gesang kita, asring ndadosaken kita namung mandeg wonten ing pangajeng-ajeng lan ewet sanget kangge wantun lumampah nindakaken punapa ingkang sampun dados tanggel jawab ing gesang kita saben dinten. Rawuhipun kalih tiyang jaler ingkang ngagem rasukan pethak lan ngendika dhateng para sakabat supados mboten terus ngadeg ndangak dhateng langit, punika ugi dados pangenget supados para sakabat mboten terus-terusan kepikiran pangajeng-ajengipun bab pamulihan Karajan Israel, nanging enggala bidal dados saksinipun Sang Kristus. Punika ugi ingkang kedah kita lampahi, sampun ngantos kita namung mandeg wonten ing pangajeng-ajeng, nanging kita kedah wantun ndherek nindakaken peladosan lan dados saksinipun Sang Kristus. Kathah tiyang ingkang mboten purun dipun ajak peladosan awit rumaos taksih kathah angen-angen ingkang taksih kepingin dipun gayuh, rumaos bilih peladosan punika kedah wujud tumindak ingkang ageng, lajeng rumaos mboten saged nindakaken peladosan awit taksih winates wekdal dan tenaganipun. Nanging menawi kita tingali sak sampunipun para sakabat nampi timbalan dados saksinipun Gusti Yesus, para sakabat mboten lajeng kesah dhateng pundi-pundi papan lan ngawontenaken mukjizat, nanging para sakabat taksih wangsul malih dhateng griya ing Yerusalem. Timbalan punika dipun tampi kanthi nyatunggil lan ndedonga wonten ing griya, sareng kaliyan ngrantos tumedhakipun Sang Roh Suci ingkang badhe nyagedaken para sakabat kangge paring peladosan lan dados saksinipun Sang Kristus.

Mila dados saksinipun Sang Kristus saged kita wiwiti saking griya kita piyambak-piyambak. Griya kita ugi dados padalemanipun Gusti Allah ing pundi Gusti Allah rawuh lan makarya. Paseksi kita saged awujud tumindhak-tumindhak ingkang alit wonten ing griya, kados ta paring tuladha bab ndedonga, bab paweweh, bab paring pangapunten, saged ugi crita bab katresnanipun Gusti supados sadaya brayat saged ngraosaken bilih Gusti tansah nganthi lan berkahi gesang brayat kita, ugi tansah seken anggenipun mbangun sesambetan kaliyan Gusti.

Tamtu timbalan dados saksinipun Sang Kristus punika mboten gampang dipun lampahi, namung paring tuladha seken tindak greja kemawon kathah saking kita ingkang kewetan. Dereng malih paring tuladha bab kasetyan, kajujuran, lan paring pangapunten. Kathah kaprihatosan ingkang kita adepi minangka ujian iman, nanging kaprihatosan awit Sang Kristus punika kedah kita adepi kanthi manah ingkang kebak sukabingah lan saos syukur, awit Roh Suci tansah paring kakiyatan wonten ing salebeting gesang para tiyang pitados. Bab punika ingkang ugi dipun wartosaken dening Rasul Petrus dhumateng para tiyang Kristen supados mboten nggumun lan kaged nalika ngadepi “panasing geni siksan”, inggih punika panganiaya lan kaprihatosan awit dados saksinipun Sang Kristus. Nalika kaprihatosan punika wonten ing gesang, badhe kathah sanget prekawis ingkang kita sumelangi. Kita sumelang bab gesang pribadi kita, sumelang prekawis masalah brayat kita, sumelang bab sesakit ingkang kita raosaken, sumelang bab usaha lan bisnis kita. Raos sumelang punika ingkang asring ngalangi kita dados saksinipun Gusti Yesus. Nanging Rasul Petrus memulang supados kita purun masrahaken sadaya raos sumelang kita dhumateng Gusti Allah, awit Gusti Allah piyambak ingkang badhe ngreksa gesang kita sadaya. Rasul Petrus ugi ngemutaken supados kita tansah eling lan waspada, awit mengsah kita si Iblis wonten ing sakiwa tengen kita kados singa ingkang nggero-nggero pados wekdal badhe mangsa sinten kemawon ingkang saged dipun kuwaosi. Saged kemawon Iblis badhe lumebet nguwaosi gesang kita saking raos ajrih lan sumelang ingkang kita raosaken.

Gusti Yesus pirsa bilih kangge nglajengaken pakaryanipun wonten ing donya, para rasul kedah ngadepi donya. Tembung “jagad” (Yok. 17:9) tegesipun sanes bumi lan sadaya umat manungsa, nanging katuju dhateng sadaya panguwaos donya ingkang nerak panguwaosipun Gusti Allah, ndonya ingkang nampik bab ingkang leres lan mbalela dhumateng Gusti Allah. Mila kangge mungkasi piwulangipun lan sak derengipun nandhang sangsara seda sinalib, Gusti Yesus ndedonga dhumateng Sang Rama. Kajaba isi pandonganipun bab Panjenenganipun sampun nampi kuwaos saking Sang Rama lan sampun saged mungkasi ayahan ingkang dipun paringaken nalika ing donya, Gusti Yesus ugi ndedonga kangge para sakabat lan para tiyang pitados ingkang sampun dipun paringaken Sang Rama minangka umat kagungan-Ipun. Para sakabat punika sanes tiyang ingkang unggul miturut ukuraning donya, nanging Gusti Yesus saestu ngajeni para sakabat minangka peparing saking Sang Rama. Para sakabat lan tiyang pitados sampun nampi sabdanipun Gusti Allah sinaosa pamanggihipun taksih dereng sampurna.

Gusti Yesus pirsa bilih para rasul lan kita samangke sinaosa kathah ingkang taksih dereng sampurna, nanging nalika Sang Roh Suci sampun makarya kita badhe kasagedaken nindakaken timbalan peladosan punika. Lumantar para sakabat lan kita samangke, Injil badhe kababar, greja badhe ngrembaka, sinaosa taksih dereng sampurna miturut manungsa, nanging punika sampun nyata ing paningalipun Sang Rama. Wonten ing pandonga Gusti Yesus munjuk, “Dhuh Rama ingkang suci” ingkang ngetingalaken sifatipun Gusti Allah ingkang leres lan tanpa cacad. Gusti Yesus nyeyuwun supados Sang Rama tansah ngreksa lan njangkung para sakabat lan kita para umat kagungan-Ipun supados tansah setya, mursid, lan kiyat ing salebeting pangandel, sinaosa gesang ing satengah-tengahing jagad ingkang kebak kaprihatosan. Gusti Yesus ugi ndedonga supados umat kagungan-Ipun sageda nyatunggil sami kados Gusti Yesus kaliyan Sang Rama ingkang nyatunggil. Patunggilan ingkang lair saking katresnan, kabecikan, lan pangajeng-ajeng ingkang sami. Punika pandonga ingkang kedah kalampahan ing salebeting patunggilan ingkang sejati kanthi wujud paseksi lan peladosan kita.

Panutup
Samangke kita lumebet wonten ing wulan paseksi lan peladosan, wekdal ingkang sae kangge ngemutaken kita sadaya minangka umat kagunganipun Gusti Yesus bilih kita sadaya kagungan ayahan lan timbalan ingkang sami, inggih punika dados saksinipun Sang Kristus. Minangka umat kagunganipun Gusti, kita sami-sami taksih ngupadi kawontenan ingkang sae ing gesang saben dinten. Menawi samangke kita taksih wonten ing karibedan, kawontenan gesang ingkang mrihatosaken, taksih kathah kahanan ingkang ndadosaken kita ajrih dan sumelang, sampun ngantos kawontenan punika dados singgetan kangge kita ndherek peladosan lan dados saksinipun Sang Kristus. Awit paseksi lan peladosan ingkang kita ketingalaken saged dados sumbering kakiyatan lan panglipur, mboten namung kangge dhiri kita piyambak nanging ugi kangge tiyang sanes ingkang nampi peladosan dan paseksi kita. Mila sumangga kita tansah masrahaken timbalan peladosan kita wonten ing salebeting pandonga dhumateng Gusti Allah supados Sang Roh Suci piyambak ingkang tansah nganthi lan berkahi gesang kita wonten ing sadhengah kawontenan kita. Amin. [M@ul].

 

Pamuji: KPJ. 136  Rahayu Wong Wedi-Asih

Renungan Harian

Renungan Harian Anak