Hidup ini jarang sekali berjalan mulus. Selalu ada bagian yang terasa kurang, retak, atau tidak seperti yang kita harapkan. Dalam keseharian yang seperti itu, doa sering menjadi ruang sunyi tempat kita datang apa adanya di hadapan Tuhan. Bukan untuk menjadi sempurna, melainkan untuk kembali utuh. Doa tidak selalu menghilangkan sakit atau menyelesaikan masalah, tetapi kerap menghadirkan rasa lega—napas yang lebih panjang, hati yang lebih tenang. Dan dari sanalah proses pemulihan sering dimulai.
Menjadi “utuh” ternyata berkaitan erat dengan menjadi “sehat”. Kata health sendiri berakar dari bahasa Inggris Kuno hal, yang berarti whole—utuh. Maka, apa pun yang menolong seseorang merasa utuh, sesungguhnya juga menolongnya untuk kembali sehat. Kesehatan bukan semata soal tubuh yang tidak sakit, tetapi tentang jiwa yang perlahan menemukan keseimbangannya kembali.
Krisis hidup—ketidaksempurnaan yang tak terhindarkan itu—bukan hanya milik orang dewasa. Remaja pun mengalaminya, meski seringkali dalam diam. Dalam proses pembinaan calon sidi GKJW gelombang 2B tahun 2025, khususnya melalui sesi sahabat jiwa dan mengurai luka (lost and grief) yang berlangsung pada 21–23 November, terungkap begitu banyak cerita yang berat. Ada remaja yang tumbuh di tengah kekerasan dalam rumah tangga, tekanan orang tua yang berlebihan, perundungan di lingkungan sosial, bahkan kekerasan seksual. Ada pula yang bergumul dengan penolakan, kesepian, serta ketidakharmonisan keluarga akibat pertengkaran atau perceraian orang tua. Di titik inilah pelayanan pastoral gereja menemukan urgensinya. Remaja-remaja ini tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi kehadiran—pendamping yang mau mendengar, berjalan bersama, dan menolong mereka menamai luka-luka batin yang selama ini tersembunyi. Doa memang menjadi bagian penting dalam konseling pastoral, namun tantangannya adalah bagaimana membimbing remaja dengan luka batin untuk berdoa dengan cara yang lebih membumi, lebih aman, dan lebih menyentuh pengalaman hidup mereka. Doa yang bukan sekadar kata-kata, tetapi menjadi ruang pemulihan—tempat mereka pelan-pelan merasa diterima, disapa, dan dipulihkan.
Mempraktikkan Doa Kontemplatif
Salah satu cara berdoa yang paling sederhana dan mudah dilakukan adalah doa relaksasi. Kaum muda dapat diajak memilih satu kata atau frasa pendek yang bermakna bagi mereka. Misalnya, “Tuhan, sertai aku,” atau cukup menyebut nama “Yesus.” Ajak mereka menutup mata agar tidak terdistraksi, lalu bernapas perlahan. Setiap kali menarik napas, ulangi kata atau frasa tersebut dengan lembut di dalam hati. Cara ini membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang. Namun, tidak semua orang mudah rileks hanya dengan satu kata. Ada remaja yang lebih nyaman jika memiliki sesuatu untuk dilihat. Dalam situasi seperti ini, memusatkan perhatian pada sebuah objek—seperti bunga, lilin, atau gambar rohani—bisa sangat membantu menenangkan pikiran.
Selain itu, doa dengan imajinasi terbimbing atau perjalanan imajiner juga merupakan bentuk doa kontemplatif yang efektif bagi remaja. Cara ini mengajak mereka “berjalan” ke dalam doa secara perlahan. Ada dua hal penting yang perlu dipersiapkan. Pertama, hubungan yang dilandasi kepercayaan antara remaja dan pendamping pastoral. Kepercayaan ini membuat remaja merasa aman untuk membuka diri, sekaligus menumbuhkan sikap hormat dan rendah hati dalam proses pendampingan. Kedua, waktu dan tempat yang tenang, tanpa gangguan. Musik yang diputar pelan sering kali membantu menciptakan suasana rileks dan memberi rasa privasi yang lebih aman.
Jika suasana sudah siap, perjalanan doa dapat dimulai.
- Pendamping bisa mengajak remaja membayangkan sebuah tempat yang sangat nyaman bagi mereka. Tempat ini tidak perlu diceritakan secara detail—cukup dibayangkan dalam hati. Jika mereka kesulitan, pendamping dapat membantu dengan pertanyaan sederhana: apakah itu pantai, rumah yang tenang, taman dengan pepohonan dan burung, atau momen makan malam keluarga yang penuh tawa?
- Setelah tempat itu terbentuk, remaja diajak menutup mata dan “pergi” ke sana dalam pikiran mereka. Biarkan mereka berada di tempat tersebut sejenak, bernapas perlahan dan teratur, menikmati rasa aman dan damai.
- Selanjutnya, pendamping dapat mengajak mereka membayangkan kehadiran seseorang di tempat itu—bisa anggota keluarga, orang penting dalam hidup mereka, tokoh Alkitab, atau bahkan membayangkan Tuhan atau Yesus hadir bersama mereka. Remaja dapat diajak berbicara, mendengarkan, atau sekadar duduk bersama dalam keheningan. Setelah beberapa saat, pendamping dengan lembut mengajak mereka kembali ke waktu dan tempat saat ini.
- Ketika mata dibuka, penting untuk menanyakan bagaimana perasaan mereka. Apakah mereka merasa tenang, aman, atau justru gugup? Bagaimana sikap tokoh-tokoh yang mereka temui—apakah menghakimi, ramah, atau penuh kasih? Pertanyaan-pertanyaan terbuka ini membantu remaja memahami pengalaman batin mereka.
Dalam sebuah kegiatan support group remaja, saya mengajak beberapa remaja berdoa dengan cara ini. Mereka merasakan bahwa doa seperti ini membuat mereka merasa lebih dekat dengan hadirat Tuhan. Doa tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan sebagai percakapan yang jujur tentang apa yang sedang mereka alami. Sekali saja melakukan doa ini tidaklah cukup. Setelah dibimbing satu atau dua kali, pendamping pastoral dapat mendorong remaja untuk menggunakan teknik ini secara mandiri. Saat mereka membutuhkan ketenangan, atau ketika ingin menyampaikan isi hati kepada Tuhan, doa ini dapat menjadi cara sederhana dan pribadi untuk kembali terhubung dengan-Nya.
Menulis Jurnal sebagai Salah Satu Bentuk Doa
Bentuk lain dari doa yang bisa dilakukan remaja adalah dengan menulis jurnal. Bagi banyak orang—terutama anak-anak dan remaja—cara ini terasa lebih alami. Anak-anak dan remaja sebenarnya sudah sangat akrab dengan kegiatan menulis buku harian. Kita hanya memberi nama yang lebih “dewasa” saja: jurnal. Keunggulan menulis jurnal adalah bisa dilakukan oleh berbagai usia dan tidak menuntut kemampuan khusus seperti imajinasi terbimbing. Terutama bagi anak-anak usia sekolah, menulis sering menjadi cara yang aman untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diucapkan. Lewat tulisan, mereka bisa jujur tanpa takut dihakimi. Bagi mereka yang belum terbiasa menulis atau merasa menulis di buku terasa terlalu abstrak, pendamping pastoral dapat menawarkan cara yang lebih sederhana: menulis surat kepada Tuhan. Tidak ada aturan baku. Topiknya bebas. Yang terpenting adalah kejujuran dan keberanian untuk menuliskan apa yang sedang dirasakan. Beberapa pertanyaan sederhana yang bisa membantu memulai antara lain:
- Apa yang ingin kamu ceritakan kepada Tuhan hari ini?
- Cobalah menulis surat untuk dirimu sendiri, seolah-olah Tuhan sedang menuliskan pesan kepadamu.
- Apa yang paling ingin kamu dengar dari Tuhan saat ini?
Doa, mestinya bukanlah sebuah laku spiritual yang hambar dan menjenuhkan, ketika dilakukan dengan kerinduan pribadi berjumpa dengan Tuhan. Namun, cara berdoa juga ikut membantu apakah doa sungguh-sungguh menguatkan. Dengan cara yang sesuai kekhasan remaja, maka doa menjadi percakapan yang hangat, personal, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari—ruang aman tempat anak dan remaja belajar mengenali perasaan, menata luka, dan perlahan menemukan pengharapan.
Teknik mengatasi/mengendalikan rasa sakit/kecemasan
Pendamping pastoral juga dapat mengajak anak-anak atau remaja untuk berbicara secara terbuka: apakah mereka ingin dibantu mempelajari cara mengelola rasa sakit atau kecemasan yang sedang mereka alami. Cara-cara ini bukan untuk menggantikan pengobatan medis yang sedang dijalani, melainkan sebagai pelengkap—alat tambahan yang bisa membantu mereka merasa lebih tenang dan berdaya.
Pendekatan ini biasanya dimulai dengan mengajak remaja membayangkan diri berada di tempat yang nyaman dan aman. Dari sana, pendamping membimbing mereka menggunakan imajinasi secara perlahan dan lembut.
- Cara yang pertama adalah dengan membayangkan sebuah pintu. Pintu itu terbuka, lalu mereka menuruni tangga dan masuk ke sebuah ruangan kosong. Di ruangan itu, mereka diminta membayangkan rasa sakit atau kecemasan yang sedang dirasakan. Pendamping dapat mengajak mereka untuk menceritakan bentuknya: “Seperti apa rasanya?” Ada yang menggambarkannya seperti monster besar, ada yang melihatnya sebagai warna tertentu—sering kali merah, oranye, atau kuning. Setelah itu, remaja diajak membayangkan gelombang air biru yang sejuk perlahan membasuh dan menenangkan warna-warna tersebut, hingga rasa sakit terasa berkurang. Mereka boleh tinggal sejenak di ruangan itu, lalu perlahan kembali naik tangga dan keluar dari pintu, kembali ke keadaan sekarang.
- Cara lain yang juga bisa digunakan adalah membayangkan sebuah ruangan kosong dengan satu benda di dalamnya: sebuah mesin dengan kenop besar. Kenop itu mengatur seberapa kuat rasa sakit yang dirasakan, dari angka 1 sampai 10. Pendamping dapat menanyakan, “Di angka berapa rasa sakitmu sekarang?” Setelah itu, remaja diajak membayangkan memutar kenop tersebut turun satu atau dua tingkat. Tidak perlu sampai nol. Cukup sedikit saja. Banyak anak dan remaja melaporkan bahwa setelah latihan ini, rasa sakit atau kecemasan mereka terasa lebih ringan.
Latihan imajinasi terbimbing seperti ini dapat diajarkan oleh pendamping pastoral sebagai salah satu keterampilan hidup. Bukan solusi ajaib, tetapi alat sederhana yang memberi anak dan remaja rasa kendali atas diri mereka—bahwa mereka tidak sepenuhnya dikuasai oleh rasa sakit, dan selalu ada cara untuk menenangkan diri dengan aman dan penuh harapan.
Oleh: Pusat Pastoral GKJW | Pdt. Eko Susilowati
—————————————————————————————–
Referensi
Daniel H. Grossoehme. 2011. The Pastoral Care of Children. Roudledge Taylor & Francis Group. New York (p. 86-94)