YBPK sebagai Ruang Bertumbuh Khotbah Minggu 3 Mei 2026

20 April 2026

Minggu  Paskah  5Syukur Ybpk
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 7 : 55 – 60
Mazmur: Mazmur 31 : 1 – 5, 15 – 16
Bacaan 2: 1 Petrus 2 : 2 – 10
Bacaan 3: Yohanes 14 : 1 – 14

Tema Liturgis: YBPK sebagai Ruang Bertumbuh
Tema Khotbah: YBPK sebagai Ruang Bertumbuh

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 7 : 55 – 60
Stefanus adalah salah satu dari tujuh diakon yang melayani orang miskin di tengah jemaat di Yerusalem. Selain pelayanan yang ditujukan bagi orang yang membutuhkan, ia disebut sebagai seseorang yang penuh dengan Roh Kudus, kuasa rohani, dan hikmat. Ia juga memberitakan Injil dan melakukan berbagai mukjizat. Dalam menjalankan tugas dan panggilannya, Stefanus diperhadapkan dengan konflik Jemaat Yahudi. Karena hikmat dan Roh itulah, orang Yahudi melawan, memfitnah, menyeret Stefanus supaya ia diadili oleh Mahkamah Agama dengan tuduhan menghujat nama Allah.

Stefanus menjawab tuduhan itu dengan uraian ringkas tentang sejarah Israel dimana nenek moyang mereka telah membunuh para pemberita kehadiran Mesias, yang oleh mereka saat ini juga telah dibunuh. Hal itu membakar amarah Mahkamah Agama. Setelah ia menyatakan melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah, ia ditangkap dan dirajam batu sampai mati. Keberanian Stefanus menghadapi kematian ini, seperti halnya Sang Kristus yang juga mati karena kesaksian palsu tentang-Nya. Stefanus berlutut dan berseru dengan suara yang keras; bukan hanya untuk menunjukkan bahwa ia dalam semangat yang baik, tidak takut mati, namun juga mengungkapkan keinginannya yang penuh semangat dan kasih agar permohonannya dikabulkan, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Artinya: Stefanus berdoa pada Tuhan agar Tuhan memberikan pengampunan atas dosa mereka dan dosa lainnya.

Kesamaan antara Kristus dan Stefanus, martir pertama-Nya dalam kematian mereka; Kristus menyerahkan Roh-Nya ke tangan Bapa-Nya, sedangkan Stefanus menyerahkan jiwanya ke tangan Kristus. Keduanya berdoa untuk pengampunan bagi musuh-musuh mereka; dan keduanya berseru dengan suara yang keras sebelum mereka menghembuskan nafas terakhir mereka. Stefanus menjadi martir pertama Gereja mula-mula. Keberanian, perjuangan, dan semangatnya mewartakan kebenaran ditumbuhkan dari pengenalannya akan Kristus yang selalu hadir bagi orang yang terpinggirkan dan selanjutnya dihidupi melalui pelayanannya kepada orang miskin.

1 Petrus 2 : 2 – 10
Petrus menulis kepada jemaat yang dipanggil untuk memperjuangkan hidup kudus sebagai tanda kesaksian bagi Kristus. Salah satunya dengan cara membuang  cara hidup manusia lama, yaitu kejahatan (Yun: kakia, yang berarti kejahatan, keinginan buruk untuk melukai, kemarahan yang luar biasa, dan sikap tidak malu melanggar hukum), tipu muslihat (Yun: dolos, yang berarti kejahatan melalui kata-kata, penipuan, kebohongan, ketidakjujuran, akal bulus, tipu muslihat), kemunafikan (Yun: hupokrisis, yang berarti kemunafikan, penipuan, kepura-puraan), kedengkian (Yun: phthonos, yang berarti iri), fitnah (Yun: katalalia, yang berarti kata-kata yang jahat). Jemaat juga diajak untuk berpegang pada karunia kelahiran kembali yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka, serta berpegang pada pengharapan di tengah-tengah penderitaan masa kini selaku pengikut Kristus.

Bagaimana memperjuangkan hidup kudus, penulis memberikan gambaran seperti halnya bayi yang baru lahir dan selalu ingin minum air susu murni dan rohani. Para penganut agama Yahudi sering disebut “seperti bayi yang baru lahir”, yang selalu haus dengan susu murni yang menggambarkan firman Tuhan. Susu murni itu memiliki rasa manis dan enak bagi seorang yang dilahirkan kembali; mudah dicerna dan memberi nutrisi kepada mereka, dan menjadi makanan. Sebagai anak Allah yang dilahirkan kembali (1 Kor. 6:19; Gal. 4:6), kita seharusnya selalu ingin susu murni Firman Allah (1 Ptr. 1:23-25). Suatu tanda yang pasti dari pertumbuhan rohani kita ialah suatu kerinduan yang mendalam untuk makan dari Firman Allah yang hidup dan kekal. Maka, kita patut berwaspada supaya kelaparan dan kehausan akan Firman Allah itu tidak lenyap. Kerinduan ini dapat padam oleh berbagai sikap yang salah (1 Ptr. 2:1) dan himpitan kekhawatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup.

Yohanes 14 : 1 – 14
Yesus mati di kayu salib bagi mereka yang percaya dan tidak mungkin Dia akan membiarkan mereka terlantar. Demikianlah kasih-Nya yang merupakan dasar dari “kepergian-Nya”, suatu kasih yang akan dinyatakan pada saat kedatangan-Nya yang untuk kedua kalinya, yaitu pada saat Dia datang kembali dan membawa mereka yang percaya (dan kita) ke tempat-Nya. “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Ay. 3). Yesus meneguhkan hati para murid agar mereka tidak gelisah ketika sebentar lagi mereka harus berpisah dengan-Nya. Satu hal yang harus diimani para murid adalah kepergian Yesus adalah untuk menyiapkan tempat terbaik bagi mereka kelak. Tempat di mana Yesus berada (rumah Bapa) merupakan tujuan setiap orang yang percaya.  Selain itu, sabda-Nya memberi kesempatan para murid untuk belajar memelihara iman dalam keadaan apapun. Yesus memberitahukan kepada para murid tentang kepergian-Nya kepada Bapa supaya mereka tahu kemana Ia pergi.

Namun demikian, mereka tidak mengerti. Setidaknya hal ini terungkap dari ucapan Tomas, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Ay. 5). Pertanyaan ini membuka kesempatan bagi Yesus untuk menyatakan diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Ia tidak hanya menunjukkan jalan tertentu yang harus dilewati sebagaimana dipahami Tomas dan Filipus, tetapi Dialah satu-satunya jalan menuju Bapa. Para murid yang menempuh perjalanan bersama-Nya akan menemukan Kebenaran dan Hidup. Hal ini dilakukan, karena Tuhan Yesus meyakini bahwa para murid akan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. “Pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar” itu meliputi pekerjaan membawa orang kepada Kristus maupun mengadakan mukjizat-mukjizat. Kenyataan ini tampak dalam cerita-cerita di Kisah Para Rasul (Kis. 2:41, 43; 4:33; 5:12) dan dalam pernyataan Yesus di Markus 16:17-18.  Dan untuk melengkapi para murid, Tuhan Yesus akan mengirimkan Roh Kudus.

Benang Merah Tiga Bacaan
Yesus mengajar dan mendidik para murid dalam ragam cara dan kesempatan supaya mereka menjadi tenang dan mengetahui tujuan hidup-Nya, serta memberi kesempatan mereka untuk belajar memelihara iman dan bertumbuh di dalam Kristus. Belajar bertumbuh diumpamakan seperti bayi yang haus minum susu. Kerinduan untuk hidup sesuai Firman Tuhan harus menjadi panggilan para murid, sambil meninggalkan cara hidup yang lama, digantikan dengan cara hidup yang baru. Ketika cara hidup lama digantikan dengan yang baru, nilai-nilai baik akan terinternalisasi dalam hidup. Dan melaluinya, perbuatan-perbuatan besar Tuhan dinyatakan dan disaksikan.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada kata bijak yang menyatakan bahwa untuk memperbaiki negara yang rusak, kita dapat memulai dari memperbaiki pendidikannya. Tidak perlu mengirimkan Bom Nuklir untuk menghancurkan suatu negara, tetapi cukup hancurkan sistem pendidikannya, maka negara itu akan hancur dengan sendirinya. Maka dapat disimpulkan, apabila pendidikan suatu negara lemah, maka menjadi pertanda lemahnya sebuah bangsa.

Pendidikan yang dimaksud tentu saja bukan hanya bertambahnya ilmu dan pengetahuan tetapi juga penanaman nilai karakter. Bukan hanya berorientasi pada nilai tertulis tetapi juga pertumbuhan karakter semakin serupa dengan Kristus. Tanpa keseimbangan tersebut kita hanya akan memanen persoalan di kemudian hari. Kita bisa melihat fakta yang terjadi hari ini, bangunan ambruk di tangan arsitek yang mengurangi komposisi bahan bangunan, kerugian ekonomi di tangan akuntan yang tidak jujur, kehilangan keadilan ketika hakim tidak berintegritas. Maka, bisa disimpulkan bahwa semua lini kehidupan berbangsa bernegara akan bermuara kepada pendidikan dalam ragam pengajaran.

Isi
Di sepanjang kehidupan-Nya, Tuhan Yesus mendidik para murid-Nya melalui pengajaran dan pilihan sikap-Nya. Ia memberikan pengajaran dalam setiap kesempatan berjumpa dengan mereka. Terkadang melalui ombak besar di danau Galilea, melalui seruan harapan orang lumpuh dan kusta yang memohonkan kesembuhan. Dalam riuh rendah ketika Ia dielu-elukan saat masuk Yerusalem bahkan dalam perjalanan sengsara menuju puncak Golgota. Salah satu penulis buku rohani menyebut bahwa seluruh masa hidup Yesus di atas bumi jikalau dirangkum ke dalam satu kalimat tunggal adalah: “Ia pergi berkeliling di seluruh Galilea, mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta menyembuhkan segala penyakit.” Ia tidak hanya mentransmisikan pengajaran, tetapi mentransformasikan hidup yang memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah kepada siapapun. Ketika Ia menyembuhkan banyak orang, Ia selalu berbicara dengan mereka tentang mengubah sikap atau cara hidup baru yang harus dijalani bersamaan dengan kondisi fisik yang berpulih. “Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” Maka, dapat kita katakan bahwa pendidikan adalah prioritas pelayanan Tuhan Yesus.   Melaluinya, para murid bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan segala maksud-Nya.

Melalui bacaan Injil Yohanes, pengajaran Yesus disampaikan melalui dialog dan percakapan mendalam tentang upaya menemukan jalan kehidupan. Hal ini dilakukan-Nya, mengingat bahwa tak lama lagi, Ia harus meninggalkan para murid-Nya. Maka, melalui perjumpaan ini, para murid dibekali untuk dapat berhadapan dengan ragam situasi dan peristiwa dalam hidup di dunia.  Yesus menyatakan kepergian-Nya ke rumah Bapa dalam rangka menyiapkan tempat bagi para murid. Meski, para murid masih merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Yesus. Maka, Ia menyatakan diri-Nya sebagai Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Bahkan tanpa melalui-Nya, setiap orang tidak dapat berjumpa dengan Bapa.

Yesus tidak hanya mengajar tetapi mendampingi dan mendidik para murid-Nya untuk mendapatkan pengertian yang utuh tentang diri-Nya, karena Ia menyadari di masa depan, para murid akan berhadapan dengan ragam pengajaran yang dapat membuat mereka terombang ambing dengan ragam pengajaran yang menyesatkan. Maka, dalam kesempatan itu, Yesus mendengar, mengajar, dan berdialog dengan penuh kesabaran, menyelami pemahaman Tomas dan Filipus dan memberi pemahaman baru. Dengan proses tersebut, diharapkan para murid dapat menambahkan pengenalan mereka akan siapa Yesus dan menumbuhkan iman mereka.

Semangat belajar dan bertumbuh itulah yang terus diwartakan kepada umat percaya, seperti halnya kerinduan seorang bayi baru lahir akan air susu supaya ia bertumbuh (1 Petrus 2:2). Para orang Kristen Yahudi baru juga sering disebut “seperti bayi yang baru lahir”, yang selalu haus dengan susu murni yang menggambarkan Firman Tuhan. Seperti halnya bayi yang bergantung dengan susu, maka setiap orang percaya bergantung pada Firman Tuhan yang menjadi makanan dan nutrisi.

Umat percaya diminta hidup taat pada Firman Tuhan, menjauhkan kehidupan mereka dari kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian, fitnah (1 Petrus 2:1) dan dengan cara itulah orang percaya akan bertumbuh menjadi komunitas kudus, bangsa terpilih, imamat rajani yang cara hidupnya dapat dibedakan dengan komunitas-komunitas yang ada di sekitar lingkungan mereka. Dengan demikian, kita sebagai orang percaya dapat memberitakan perbuatan – perbuatan besar Allah, yang telah memanggil kita keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib, meskipun dalam realita hidup kita akan berjumpa dengan penolakan demi penolakan.

Salah satu tokoh yang memperjuangkan imannya di tengah penolakan itu adalah Stefanus (Kis. 7:54-60), salah satu diaken yang melayani orang miskin di tengah jemaat Yerusalem. Selain pelayanannya bagi orang yang membutuhkan, Stefanus disebut penuh dengan Roh Kudus, kuasa rohani, dan hikmat. Ia juga memberitakan Injil dan melakukan berbagai mukjizat. Dalam menjalankan tugas dan panggilannya, Stefanus diperhadapkan dengan penolakan Orang Yahudi. Mereka melawan, memfitnah, menyeret Stefanus supaya ia diadili di Mahkamah Agama dengan tuduhan menghujat nama Allah. Bukannya mundur, Stefanus berani mati mempertahankan kebenaran yang ia hidupi dan yakini. Ia tidak tergoda untuk merelakan nilai dan keyakinannya atau mementingkan keselamatan dirinya sendiri.

Apa yang menjadi keberanian dan kesaksian Stefanus tentu tidak hadir begitu saja, tetapi berangkat dari pengenalan dan penghayatan akan Kristus, Sang Juruselamat yang tertanam kuat dan bertumbuh menjadi nilai-nilai kebenaran, yang terinternalisasi dalam hidupnya. Hingga pengakuan iman Stefanus dinyatakan, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” (Ay. 56).  Bahkan ia berdoa bagi orang-orang yang menganiayanya. Keberanian, perjuangan, dan semangat Stefanus mewartakan kebenaran ditumbuhkan dalam pengenalannya akan Kristus. Kristus yang penuh kasih dan selalu hadir bagi orang yang terpinggirkan. Ia mati martir dengan menyatakan perbuatan -perbuatan besar yang dilakukan Tuhan. Dan melalui kematiannya, tokoh besar Yahudi, yaitu Saulus bertobat dan menjadi pekabar Injil yang sangat berpengaruh.

Sebagaimana nilai dan keyakinan Stefanus yang terinternalisasi dalam hidupnya membawa pewartaan kabar baik bagi banyak orang, demikian pendidikan dan pengajaran sangat berpengaruh bagi komunitas yang lebih luas. Di mulai dari komunitas terkecil, keluarga, gereja, dan sekolah menuju perubahan bangsa bahkan semesta. Ketika dalam komunitas kecil ditumbuhkan nilai – nilai kebenaran secara terus menerus. Bahkan bukan hanya itu, tetapi juga diajarkan, dilatihkan, sampai terinternalisasi dalam hidup sehari-hari, maka perubahan dalam komunitas yang lebih besar niscaya terwujud. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan ruang dimana nilai-nilai kebaikan, ketulusan, kejujuran, kebersamaan menjadi bahasa sehari-hari. Karena sejatinya, setiap kita mencercap cerita dan pengalaman bersama menjadi nilai yang dihidupi dalam perjalanan keseharian.

Penutup
Unit pendidikan dan pengurus cabang serta pengurus pusat YBPK dengan segala daya juang telah menjadi ruang bertumbuh anak didik dan guru untuk menciptakan peserta didik yang unggul dalam spiritual, intelektual dan ketrampilan berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Tempat dimana kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, dengki, dan fitnah tidak mendapat tempat dan sebaliknya kebaikan, ketulusan, kejujuran, kebersamaan bersama Tuhan, sesama dan semesta diajarkan, diteladankan menjadi nilai-nilai yang dihidupi dan menjadi perjuangan bersama. Mari sesuatu yang baik dan indah kita dukung dalam doa dan dana, supaya semakin banyak anak-anak yang dilahirkan dari rahim YBPK dapat menjadi saksi mewartakan kabar baik dan menjadi berkat bagi sesama. Nah, bagi komunitas keluarga, gereja, dan lingkungan kita saat ini, “Apakah kita telah menjadi ruang bertumbuh bagi setiap orang di dalamnya? Sudahkah kita menjadi tempat belajar tentang cinta Tuhan, sesama, dan semesta?” Mari kita renungkan! Amin. [NW].

 

Pujian: KJ. 53  Tuhan Allah T’lah Berfirman

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Wonten paribasan ingkang mekaten kangge ndandosi bangsa ingkang risak, kedah kita miwiti kanthi ningkataken pendidikan.” Mboten perlu ngirim bom nuklir kangge ngrisak negari, cekap ngrisak sistem pendidikanipun  kemawon, negari punika badhe ambruk piyambak. Pramila saged dipun simpulaken menawi sistem pendidikan ing nagari punika ringkih, pratanda bangsa punika ugi ringkih.

Pendidikan mesthinipun mboten namung nambah kawruh lan katrampilan, nanging ugi kedah nuwuhaken nilai-nilai karakter. Mboten  namung fokus kaliyan nilai-nilai akademisi kemawon, nanging ugi mbangun karakter miturut piwucalipun Gusti Allah. Tanpa kalih prekawis punika, kita namung badhe ngasilaken masalah ing mangsa ngajeng. Saged kita tingali kasunyatan sapunika: bangunan ambruk amargi pakaryan arsitek ingkang mboten jujur, kerugian ekonomi amargi akuntan ingkang ngapusi, lan icalipun kaadilan awit hakim mboten gadhah integritas. Pramila saged dipun simpulaken bilih sadaya aspek nasional punika jalaranipun wonten ing pendidikan.

Isi
Wonten ing sauruting gesang, Gusti Yesus mucal sarana tembung lan tumindak nyatanipun. Panjenenganipun mucal wonten ing sadaya wedhal,  mliginipun nalika pinanggih kaliyan para sakabat-Ipun. Kadhang kala sarana  ombak ageng wonten ing Segara Galilea utawi sarana  pasambating  tiyang lumpuh lan budhugen, ingkang nyuwun kasarasan. Lumanatar pangalembana nalika Gusti Yesus mlebet dhateng kutha Yerusalem utawi wonten ing lampah kasangsaran tumuju ing Puncak Golgota. Salah satunggaling penulis buku rohani ngendika menawi sadaya gesangipun Gusti Yesus menawi dipun ringkes dados satunggal ukara: ”Dèkné lunga nang tlatah Galiléa kabèh, memulang ana ing sinagogé-sinagogé, martakké kabar kabungahané Kratoné Gusti Allah lan nambani sakèhé penyakit.”

Gusti Yesus mboten namung paring piwucal, nanging ugi ngewahi gesang para sakabat lan tiyang Yahudi, supados mangertos lan budidaya wiji-wiji Kratoning Allah. Nalika Panjenenganipun nyarasaken tiyang, Panjenenganipun ugi  ngendikan dhateng tiyang kalawau babagan ewah- ewahan  tumindak utawi cara gesang enggal  ingkang nyarengi  kasarasanipun, “Lungaa lan aja gawe dosa maneh.” Mila, kita saged  nyuraos  menawi  pendidikan dados prioritas peladosanipun Gusti Yesus. Kanthi mekaten para mitra lan sakabat sangsaya mangertos bab Gusti Allah lan punapa ingkang dados tujuanipun.

Gusti Yesus mboten namung mucal, nanging ugi ndidik para sakabat  supados saged mengertos babagan Panjenenganipun. Sarana Injil Yokanan, piwucalipun Gusti Yesus kaandharaken sarana dialog lan rerembagan ingkang lebet bab manggihi margi gesang. Panjenenganipun ugi mangertos bilih wonten  ing wekdal tembe para sakabat dipun abenajengaken maneka warna piwulang ingkang ndadosaken keblasar lan nyimpang. Panjenenganipun nindakaken prekawis punika, kangge ngengetaken bilih Panjenenganipun badhe nilar para sakabat, supados sarana pasrawungan punika para sakabat saged ngadhepi maneka warni kahanan lan kadadosan pigesangan ing bumi. Gusti Yesus ngendika bilih Panjenenganipun tindhak dhateng Dalemipun Sang  Rama kagem nyawisaken papan kangge para sakabat. Nanging para sakabat taksih mboten mangertos punapa ingkang dipun ngendikakaken Gusti Yesus. Milanipun, ing wusananipun, Panjenenganipun mirengken, mucal, lan mangun komunikasi kanthi sabar. Gusti Yesus nglairaken bilih Panjenenganipun punika Margi, Kayektenan, lan Gesang. Tanpa Panjenenganipun mboten wonten tiyang ingkang saged pinanggih kaliyan Sang Rama.

Semangat sinau lan tuwuh punika kawartosaken dhateng para tiyang pitados, kagambaraken kados dene bayi ingkang nembe lair lan pengin nyusu  (1 Petrus 2:2). Tiyang Kristen Yahudi kagambaraken kados dene “bayi-bayi ingkang  nembe lair” ingkang terus-terusan ngelak susu murni. Kados  dene bayi ingkang gumantung marang susu, sadaya tiyang pitados ugi gumantung  Pangandikanipun Gusti ingkang dados nutrisi lan tetedhan. Sarana waosan 1 Petrus punika, penulis gadhahi pangajeng-ajeng supados para sakabat saged kapisah kaliyan para tiyang ingkang kebak piala, cidra, lamis, drengki, lan pitenah (1 Petrus 2:1). Kanthi cara punika, para tiyang pitados badhe tuwuh dados umat ingkang suci, bangsa piniji, lan imamat rajani, ingkang kabentenaken kaliyan komunitas ing saubengipun. Saking gesang punika, tiyang pitados saged martosaken pakaryanipun Gusti Allah ingkang ngeram-eramaken, ingkang sampun nimbali kita medhal saking pepeteng tumuju  pepadhangipun, sanadyan gesangipun para tiyang pitados badhe manggihi panampik.

Stefanus (Lelakone Para Rasul 7:54-60) minangka salah satunggaling  diakon ingkang  ngladosi tiyang  sekeng ing pasamuwan Yerusalem ugi ngalami prekawis ingkang mekaten. Kejawi peladosan punika, Stefanus dipun wastani kebak panuntuning Sang Roh Suci, gadhahi kakiyatan spiritual, lan kawicaksanan. Stefanus ugi martosaken Injil lan nindakaken mawarni-warnipun mukjizat. Amargi saking agunging kawicaksanan lan Rohipun Gusti Allah, tiyang Yahudi budidaya mitenah Stefanus, lan ngadili piyambakipun wonten ing ngarsanipun Sanhèdrin kanthi tuduhan nyenyamah asmanipun Gusti. Tinimbang mundur, piyambakipun wantun mati mbela kayekten ingkang dipun ugemi lan dipun pitados.

Saking pundi raos wantunipun Stefanus punika? Raos wantun paseksinipun Stefanus tuwuh saking lebeting pangertosan lan kawruh. Kawruh lan katresnanipun dhateng Sang Kristus, Juru Wilujeng ingkang sampun ngoyot, lebet lan tuwuh dados winih-winih kabeneran ingkang rumaket wonten ing gesang. Langkung-langkung, piyambakipun ndedonga kangge tiyang ingkang nganiaya piyambakipun. Raos wantun martosaken kayekten tuwuh saking kawruh babagan Sang Kristus ingkang tansah leladi wonten ing antawasipun tiyang ingkang kesrakat lan nunggil tiyang miskin. Lan saklajengipun Stefanus nguwuh, “Lah, aku weruh langit mbukak lan Putraning Manungsa jumeneng ing sisih tengen Gusti Allah.” (Ay.56).  Saklajengipun, piyambakipun seda syahid kangge martosaken pakaryanipun Gusti Allah.  Sarana sedanipun, tokoh Yahudi, Saulus ngalami pitobat lan dados pekabar Injil.

Kadosdene winih  lan kapitadosan  Stefanus  ingkang ngetingal wonten ing salebetipun gesang, bekta pawartos endah  kangge tiyang kathah. Mekaten ugi  piwucal kedhah dipun wiwiti wonten ing patunggilan paling alit: kulawarga, greja, lan sekolah. Nalika komunitas-komunitas kalawau dados  papan ing pundi  winih-winih kayekten ingkang gesangaken gesang dipun wucalaken, dipun tindakaken, lan mawujud wonten ing gesang  saben dinten,  tuwuh kembangipun komunitas badhe mawujud. Pramila dados tanggel jawab kita sesarengan bangun papan ing pundi winih kasaenan, ketulusan, kejujuran, lan patunggilan dados basa ing padintenan. Amargi, sejatosipun, saben dinten kita nyerep cariyos lan pengalaman ingkang dipun lampahi dados winih ingkang  kita lampahi ing saben dintenipun.

Panutup
Satuan pendidikan YBPK, pengurus cabang lan pusat, menawi kanthi temen makarya, dados papan kagem tuwuhipun para siswa lan guru,  langkung -langkung nglairaken siswa ingkang unggul sacara rohani, intelektual, lan trampil adhedhasar nilai-nilai Kristen. Pramila sumangga kita nyengkuyung bab ingkang sae lan endah kanthi donga saha dana, supados langkung kathah lare-lare ingkang lair saking guwa garbanipun YBPK saged dados saksi nyebaraken kabar kabingahan saha dados berkah kangge tiyang sanes.

Sapunika, tantangan kangge kita, punapa kulawarga, pasamuwan kita sampun dados ruang tuwuh kembangipun sadaya tiyang wonten ing salebetipun? Punapa kita sampun dados panggenan sinau bab katresnanipun Gusti Allah, sesami, lan jagad? Swawi kita mbudidaya supados brayat, sekolah, lan pasamuwan kita saged dados papan ing pundi mboten wonten tumindak ala, cidra, lamis, drengki, lan pitenah, nanging namung kabecikan, katulusan, lan katemenan nunggil kaliyan Gusti Allah, sesami, lan semesta. Amin.  [NW].

 

Pamuji: KPJ. 192  Isining Kabar Kabingahan

Renungan Harian

Renungan Harian Anak