Bacaan: Keluaran 24 : 1 – 11 | Pujian: KJ. 178
Nats: “Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya kepada umat serta berkata, “Inilah darah perjanjian yang diikat TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman tersebut.” (Ayat 8)
Abad ke-18 di Hindia Timur telah diberlakukan penggunaan meterai oleh Pemerintahan Hindia Belanda sebagai alat validasi keabsahan suatu dokumen penting. Meterai juga berfungsi sebagai alat pembayaran pajak atas dokumen yang dapat digunakan sebagai alat bukti atau keterangan. Misalnya, perjanjian jual beli, permohonan pengampunan hukuman, pengesahan, dispensasi hukum utama, untuk otorisasi membangun anjungan atau rumah singgah di tepi sungai, membangun jembatan, tembok dan pagar, saluran pembuangan dan pipa air, bazaar atau pasar, dan lain-lain. Melalui penggunaan materai ini ada sebuah komitmen dari kedua pihak, saling terikat satu dengan yang lain untuk melakukan ketetapan masing-masing sesuai tugas tanggung jawabnya dan tidak mengingkari ketetapan yang telah disepakati. Hal ini senada dengan teks hari ini tentang perjanjian antara Tuhan dengan bangsa Israel.
Musa menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel supaya mereka melakukan ketetapan Tuhan Allah seperti yang dikehendaki-Nya agar mereka terlepas dari hukuman. Oleh karena itu, Musa menyampaikan Firman Tuhan itu sebanyak dua kali, yaitu di ayat 3 dan ayat 7. Musa membacakan perjanjian itu di hadapan bangsa Israel dan sebanyak dua kali pula bangsa Israel merespons dan menyatakan bahwa “segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Hal ini menunjukkan kesediaan hati dan respons bangsa Israel untuk melakukan kehendak Tuhan. Kemudian, Musa menyiramkan darah lembu jantan kepada bangsa Israel sebagai simbol terikatnya komitmen/perjanjian antara bangsa Israel dengan Allah untuk saling setia sesuai dengan ketetapan.
Darah anak lembu jantan seperti materai di awal berfungsi sebagai validasi keabsahan yang penting. Peristiwa Paskah merupakan komitmen Allah untuk mengasihi kita, manusia yang berdosa supaya kita menerima kasih dan pengampunan. Maka, komitmen apa yang ingin kita wujudkan kepada Allah atas kehidupan kita? Komitmen kita harus kita lakukan secara konsisten dan sinambung, bukan kadang-kadang tetapi kita laksanakan sampai tuntas. Mari kita memiliki komitmen hidup bersama Tuhan, dengan setia melakukan kehendak dan perintah-Nya di sepanjang kehidupan kita, karena Allah telah berkomitmen terlebih dulu untuk mengasihi kita, manusia yang berdosa. Amin. [Kulz].
“Paskah adalah komitmen Allah yang nyata untuk mencintai manusia.”