Menjadi Gereja yang Terus Bertumbuh dan Berkembang Khotbah Minggu 26 April 2026

13 April 2026

Minggu Paskah 4
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 2 : 42 – 47
Mazmur: Mazmur 23
Bacaan 2: 1 Petrus 2 : 19 – 25
Bacaan 3: Yohanes 10 : 1 – 10

Tema Liturgis: Bangkit dan Menata Ulang Kehidupan
Tema Khotbah: Menjadi Gereja yang Terus Bertumbuh dan Berkembang

Penjelasan Teks  Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 2 : 42 – 47
Perikop ini berkisah tentang kehidupan jemaat mula-mula. Pada awalnya orang-orang yang telah mengaku beriman kepada Yesus Kristus yang mati dan bangkit membentuk suatu persekutuan. Jumlah mereka tidak banyak. Namun, mereka memiliki semangat dan tekat yang luar biasa untuk memperkokoh sekaligus menumbuhkembangkan persekutuan mereka. Sebagai persekutuan yang baru terbentuk, mereka banyak belajar tentang bagaimana menjalani hidup sebagai persekutuan orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Terlebih ketika mereka juga harus menghadapi berbagai pergumulan dan tantangan dari orang-orang yang membenci Yesus. Oleh karena itu, mereka sangat bersemangat untuk belajar bersama tentang ajaran dan teladan Yesus Kristus, serta berupaya menerapkannya dalam hidup keseharian. Selain itu, mereka juga semakin erat dalam kebersamaan dengan saling menguatkan, semakin rukun, dan saling peduli. Terlebih ketika mereka menyadari bahwa untuk tetap percaya dan setia kepada Yesus Kristus, menjadikan mereka harus menghadapi berbagai tantangan. Meskipun demikian berbagai tantangan itu tidak menjadikan mereka berkecil hati dan meninggalkan iman mereka kepada Yesus Kristus, melainkan menjadi semangat bagi mereka untuk semakin setia dalam iman dan semakin dekat di antara sesama pengikut Yesus Kristus.

Keberadaan mereka sebagai persekutuan orang-orang beriman kepada Yesus Kristus semakin lama semakin terorganisir dan tertata. Mereka juga berusaha bersama mempraktikkan ajaran dan teladan Yesus Kristus dalam hidup keseharian. Tidak sibuk memikirkan dirinya sendiri, melainkan  menyediakan diri untuk saling berbagi. Mereka tidak hanya mendekatkan diri kepada Tuhan secara bersama-sama di Bait Allah, melainkan juga di rumah mereka masing-masing bersama dengan keluarga mereka. Sehingga interaksi dan kedekatan di antara anggota keluarga semakin akrab. Bahkan, mereka  saling berkunjung antar keluarga secara bergiliran (Kis. 2:46). Sikap hidup jemaat mula-mula ini mengalir begitu saja dengan hati yang tulus dan gembira.

Ternyata apa yang mereka lakukan justru menjadi suatu kesaksian yang mendatangkan sukacita bagi banyak orang dan menjadikan banyak orang bergabung bersama mereka (Kis. 2:47). Alkitab, bahkan menunjukkan pada awalnya jumlah mereka yang berkumpul seratus dua puluh orang (Kis. 1:15). Kemudian jumlah tersebut bertambah menjadi tiga ribu jiwa (Kis. 2:41).

1 Petrus 2 : 19 – 25
Suatu keyakinan yang dimiliki seseorang akan mendorong dirinya untuk mewujudkan keyakinannya dalam hidup keseharian dengan tetap semangat, meskipun sesungguhnya harus menghadapi berbagai tantangan. Bahkan, dengan keyakinan yang dimilikinya setiap orang juga harus siap dan berani menghadapi berbagai tantangan, tidak mudah patah semangat dan menyerah. Sebaliknya, mereka semakin bersemangat untuk mewujudkan keyakinannya. Inilah yang dialami dan diwujudkan oleh orang-orang yang mengaku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus yang pada saat itu tersebar di berbagai tempat dan menjadi perhatian penulis surat 1 Petrus (1 Ptr. 1:1).  Oleh penulis surat 1 Petrus ini, mereka dikuatkan agar tetap setia dalam iman meskipun harus mengalami berbagai tantangan dan penderitaan. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa penderitaan yang dialami setiap orang karena imannya kepada Yesus Kristus adalah kasih karunia.

Penulis surat 1 Petrus ini memberikan semangat agar setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus tetap bersemangat dan setia melakukan perbuatan baik, meskipun untuk melakukan perbuatan baik justru menjadikan mereka menghadapi penderitaan. Yesus Kristus selalu mengajarkan dan memberikan teladan tentang bagaimana seharusnya kebaikan itu dilakukan. Meski demikian Yesus Kristus harus berhadapan dengan penderitaan, disalibkan, dan mati. Penderitaan dan kematian Yesus bukan terjadi karena kesalahan dan kejahatan yang dilakukan-Nya, melainkan karena kasih-Nya yang begitu besar kepada orang berdosa. Oleh karena itu, jika pada akhirnya orang berdosa ini menyadari perbuatannya, bertobat, dan kembali kepada Yesus Kristus, mereka akan kembali hidup dalam pemeliharaan Yesus Kristus yang digambarkan sebagai gembala. Yesus Kristus adalah gembala yang selalu menyayangi domba-domba-Nya. Ia selalu bersedia ada di antara domba-domba-Nya dan menjaganya.

Yohanes 10 : 1 – 10
Ada 3 hal penting dan saling berkaitan yang perlu kita perhatikan bersama pada perikop ini, yakni: Pertama, pintu kandang. Pada masa itu kandang domba hanya memiliki satu pintu. Melalui pintu tersebut, domba-domba dibawa masuk ke dalam kandang yang bisa menjadikan domba-domba terlindung dan terhindar dari bahaya yang mengancam dirinya. Selain itu melalui pintu tersebut domba-domba dibawa keluar untuk menemukan padang rumput dan makan. Pintu memberikan jaminan keselamatan bagi kawanan domba. Gambaran Yesus sebagai pintu menyatakan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan yang membawa orang percaya kepada hidup dan menikmati pemeliharaan Tuhan.

Kedua, gembala. Gambaran ini juga ditujukan kepada Yesus. Sebagai gembala, Yesus mengenal dengan baik domba-domba-Nya satu per satu. Ia mengenal suara domba-domba-Nya. Sebaliknya, domba-domba itu juga mengenal dengan baik suara gembalanya. Sebagai seorang gembala, Yesus juga merawat dengan baik domba-domba-Nya. Jika ada yang sakit, domba-domba itu dirawatnya dengan baik. Bahkan, jika ada domba-dombanya yang yang tersesat dan hilang dicarinya hingga ketemu. Domba-domba itu selalu dijaga dan dilindungi dari berbagai bahaya yang mengancam. Demikianlah kasih dan perhatian Yesus kepada setiap orang yang beriman kepada-Nya dan mengikut Dia.

Ketiga, domba-domba. Gambaran ini ditujukan pada setiap orang yang percaya kepada Yesus. Domba-domba ini selalu menggantungkan hidupnya kepada Yesus. Perumpamaan ini mengandung makna bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan yang membawa orang percaya kepada hidup. Hidup yang Yesus berikan itu bukanlah hidup yang biasa, melainkan hidup yang berkelimpahan, yakni hidup yang mengenal Allah dan mengenal Yesus Kristus, yang mendatangkan keselamatan dan sukacita kekal. Oleh karena itu, setiap orang yang diselamatkan karena imannya kepada Yesus Kristus, perlu untuk mempertahankan imannya, memelihara relasi dengan Yesus, dan menggantungkkan hidupnya kepada Yesus Kristus maka keselamatan hidupnya akan terjamin.

Benang Merah Tiga Bacaan
Beriman kepada Yesus Kristus mengharuskan setiap orang, baik diri sendiri maupun bersama-sama hidup dalam pemeliharaan dan penggembalaan-Nya. Di antara sesama orang yang mengaku beriman kepada Yesus Kristus harus hidup bersama dalam persekutuan yang rukun, saling peduli, dan menopang. Yesus Kristus yang bangkit akan terus hadir di antara umat-Nya. Yesus Kristus hadir untuk menguatkan dan memberikan semangat bagi umat-Nya agar selalu memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya, tetap setia dan bertekun dalam iman kepada-Nya. Selain itu juga terus berupaya menata diri secara bersama-sama agar kehidupan persekutuan yang dijalani semakin tertata dan sejalan dengan ajaran dan teladan Yesus Kristus.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

 

Pendahuluan
Kita bersyukur jika sampai pada hari ini jumlah orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus selalu bertambah. Demikian juga dengan keberadaan gereja-gereja yang terus berdiri di berbagai tempat. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mengaku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus semakin tersebar di berbagai tempat. Meski demikian hal ini juga bukan berarti gereja bertumbuh dan berkembang tanpa menghadapi masalah. Berbagai pergumulan dan tantangan selalu dihadapi oleh gereja. Pergumulan dan tantangan itu bisa berkaitan dengan kehidupan di dalam gereja maupun di lingkungan sekitar gereja. Oleh karena itu, gereja harus terus menata diri dan berusaha mengenal lingkungan di sekitarnya agar gereja dapat mengetahui apa yang sedang terjadi. Selanjutnya, dapat melakukan berbagai kegiatan secara konkrit sesuai dengan ajaran dan teladan Tuhan Yesus Kristus.

Isi
Jika kita memperhatikan kehidupan gereja mula-mula sebagaimana tertulis pada Kisah Para Rasul, kita bisa belajar tentang bagaimana gereja mula-mula menata diri, sekaligus mewujudkan kehidupan persekutuan yang menjadi kesaksian baik bagi banyak orang. Bahkan, bisa menjadikan banyak orang yang melihatnya tertarik untuk ikut menjadi bagian dalam persekutuan orang yang mengaku beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Alkitab, menunjukkan pada awalnya jumlah mereka yang berkumpul seratus dua puluh orang (Kis. 1:15). Namun pada akhirnya jumlah tersebut kemudian bertambah menjadi tiga ribu jiwa (Kis. 2:41). Tentu saja hal tersebut sangat mengagumkan. Dari informasi ini sebagai gereja kita perlu menyadari, bahwa tugas gereja bukan sekedar menambah jumlah anggota atau warga gereja, melainkan juga berusaha meningkatkan kwalitas iman warga gereja. Oleh karena itu, gereja tidak boleh terlena dengan jumlah warga gereja yang begitu banyak. Kemudian merasa bahwa apa yang sudah dilakukan gereja dianggap sudah cukup. Sehingga merasa tidak perlu ada lagi upaya peningkatan pelayanan dan peningkatkan kualitas iman warga gereja.

Gereja harus terus menerus berupaya meningkatkan kualitas iman warga gereja. Warga gereja harus terus menerus hidup dalam kebersamaan yang rukun dan akrab. Di antara warga gereja tidak ada yang menguasai atau mendominasi yang lain. Masing-masing warga gereja mempunyai kedudukan yang sama untuk ambil bagian dalam upaya menumbuhkembangkan persekutuan atau gereja. Selain itu, semua orang juga perlu bertekun dalam iman, mengupayakan agar imannya terus bertumbuh dan semakin kuat. Terlebih ketika menghadapi berbagai tantangan dan tekanan dalam hidup keseharian. Warga gereja harus semangat dan didampingi agar imannya tidak semakin lemah, melainkan semakin kuat. Inilah yang diingatkan dalam surat 1 Petrus. Setiap orang yang mengaku beriman kepada Yesus Kristus diberi semangat agar bukan hanya tetap setia dalam iman, namun juga berani mewujudkan imannya dengan melakukan perbuatan baik sesuai dengan ajaran dan teladan Yesus Kristus, meskipun untuk melakukan perbuatan baik itu justru menjadikan seseorang menghadapi tekanan dan penderitaan.

Sebagai warga gereja, setiap orang harus bertekun dalam iman. Oleh karena itu, gereja harus memiliki dan melakukan kegiatan untuk memberi semangat, mendampingi, dan membekali setiap orang dengan pengajaran-pengajaran yang menguatkan iman. Selain itu, juga menjadikan umat siap dan berani menghadapi berbagai tantangan tanpa mengorbankan imannya. Iman kepada Yesus Kristus harus selalu diwujudkan dalam hidup keseharian pada situasi apa pun, baik dalam kehidupan bergereja maupun dalam kehidupan bersama di tengah keluarga dan masyarakat.

Yesus Kristus, sebagai pemilik sekaligus pemimpin gereja yang telah mempersekutukan kita dalam gereja-Nya telah mengajarkan, serta memberikan teladan kepada kita tentang bagaimana seharusnya hidup sebagai orang yang beriman kepada-Nya. Melalui pengajaran-Nya yang disampaikan dalam perumpamaan, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa diri-Nya adalah pintu kandang dan gembala bagi domba-domba-Nya. Hal ini untuk menyatakan dengan tegas bahwa Ia selalu melindungi dan menghindarkan kita dari berbagai ancaman dan bahaya.  Ia bahkan menjamin keselamatan dan memelihara hidup kita. Yesus Kristus sangat mengenal kita. Ia mengetahui dan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Ia akan selalu menyertai dan menolong kita. Bahkan, jika ada di antara kita yang tersesat dan hilang dicari-Nya hingga ketemu. Kemudian diajak kembali untuk ditempatkan dalam persekutuan orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Penutup
Sebagai orang-orang yang dipersekutukan oleh Tuhan Yesus Kristus dalam gereja-Nya, kita diingatkan agar tetap menjalin persekutuan yang akrab dengan Dia. Keakraban kita dengan Tuhan Yesus Kristus dapat menguatkan iman, sekaligus menjadikan kita berani melakukan perbuatan yang sesuai dengan ajaran dan teladan Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, kita juga harus selalu menata diri kita agar tetap dekat dan akrab dengan Dia dan meningkatkan kualitas iman. Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus kiranya juga berdampak peningkatan persekutuan kita sebagai gereja. Bahkan, juga menjadikan banyak orang datang dan bergabung dengan kita untuk ikut merasakan sukacita dan hidup tentram dalam penggembalaan Tuhan Yesus Kristus. Amin. [HSW].

 

Pujian: KJ. 249  Serikat Persaudaraan

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kita sami saos sokur menawi ngantos ing dinten punika cacahipun tiyang ingkang ngaken pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus sansaya tambah. Greja-greja ugi sansaya sumebar ing pundi-pundi panggenan. Prekawis punika nedhahaken bilih tiyang ingkang ngaken pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus ugi sansaya sumebar ing pundi-pundi panggenan. Nadyan mekaten prekawis punika mboten ateges tuwuh lan ngrembakanipun greja tanpa ngadhepi pakewet.  Mawerni-werni pakewet lan pambengan tansah dipun adhepi dening greja. Prekawis punika saged gegayutan kaliyan kawontenan ing saklebeting greja lan lingkungan sakiwatengenipun greja. Pramila, greja kedah terus mranata gesangipun lan ngupadi mangertos lingkungan ing sakiwa-tengenipun supados saged mangertos punapa ingkang kadadosan. Saklajengipun, saged nindakaken ayahan ingkang nyata miturut timbalanipun Gusti.

Isi
Menawi kita migatosaken gesangipun greja ingkang wiwitan kados ingkang kaserat ing Lelakone Para Rasul, kita saged sinau ing bab kados pundi greja ingkang wiwitan punika mranata gesangipun, sarta mujudaken gesang tetunggilan ingkang saged dados kesaksian ingkang sae tumrap kathah tiyang. Malah, saged andadosaken kathah tiyang ingkang ningali sami kesengsem ndherek srawung ing patunggilanipun tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus. Ing Kitab Suci nedhahaken wiwitanipun para tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus lan ngempal punika kaserat satus kalih dasa tiyang (PR. 1:15). Nanging, ing wusananipun cacahipun sansaya mindhak kathah ngantos tigang ewu tiyang (PR. 2:41). Prekawis punika tamtunipun nengsemaken sanget. Saking prekawis punika minangka greja kita perlu ngrumaosi, bilih ayahanipun greja mboten namung nambah cacahipun anggota utawi warga, nanging ugi ngupadi supados anggota utawi warga greja punika sansaya berkwalitas kapitadosanipun. Pramila, greja mboten pareng lena tumrap cacahipun anggota utawi warga greja ingkang kathah. Ing saklajengipun rumaos bilih punapa ingkang sampun katindakaken dening greja kaanggep sampun cekap. Satemah rumaos mboten perlu malih ngawontenaken pambudidaya gegayutan kaliyan peningkatan paladosan lan peningkatan iman warga greja.

Greja kedah ngupadi supados kapitadosanipun warga greja sansaya berkualitas. Warga greja kedah gesang ing suasana patunggilan ingkang rukun lan guyup. Ing antawisipun warga greja mboten wonten ingkang menguasai lan mendominasi sanesipun. Saben warga greja nggadhahi kedudukan ingkang sami, inggih punika sesarengan ngupadi nindakaken ayahan nuwuhaken lan ndadosaken greja sansaya ngrembaka. Kejawi punika saben tiyang ugi tansah tumemen ing kapitadosan. Ngupadi supados kapitadosanipun tuwuh lan sansaya kiyat. Langkung-langkung nalika ngadhepi maweni-werni tantangan ing gesang padintenan. Warga greja kedah nggadhahi semangat lan dipun dampingi supados kapitadosanipun dhumateng Gusti Yesus Kristus mboten sansaya ringkih, nanging sansaya kiyat. Inggih mekaten ingkang dipun engetaken ing serat 1 Petrus. Saben tiyang ingkang pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus dipun paringi semangat supados mboten namung tetep setya, nanging ugi wantun mujudaken kapitadosanipun kanthi nindakaken tumindak sae nyondhongi kaliyan piwucal lan tuladhanipun Gusti Yesus Kristus, sanadyan nindakaken tumindak sae punika asring ndadosaken saben tiyang ngadhepi tekanan lan kasangsaran.

Minangka warga greja, saben tiyang kedah tumemen ing kapitadosan. Pramila, greja kedah nggadahi lan nindakaken kegiatan ingkang katujokaken kangge maringi semangat, mendampingi, lan membekali warga greja kanthi piwucal-piwucal ingkang saged nyaosakaken kapitadosan. Kejawi punika ugi ndadosaken warga greja tansah cumadhang lan wantun ngadhepi mawerni-werni pambengan tanpa ngurbanaken kapitadosanipun. Kapitadosan dhumateng Gusti Yesus Kristus kedah kawujudaken ing gesang sadinten-dinten. Ing kawontenan punapa kemawon, sae ing satengahing pasamuwan utawi greja, mekaten ugi ing gesang pasrawungan brayat lan masyarakat.

Gusti Yesus Kristus, ingkang kagungan saha pimpinan greja ingkang sampun nunggilaken kita ing grejanipun sampun paring piwucal, sarta paring  tuladha dhateng kita ing bab kados pundi kedahipun gesang minangka tiyang pitados. Lumantar piwucali-Pun ingkang kalantaraken ing pasemon, Gusti Yesus paring piwucal biih Panjenenganipun punika kados dene kori kandhang lan juru pangon tumrap mendha-mendhani-Pun. Prekawis punika martelakaken kanthi cetha, bilih Gusti Yesus tansah ngayomi lan nebihaken kita saking ancaman lan bebaya. Panjenenganipun malah njamin kaslametan lan ngrimati gesang kita. Gusti Yesus saestu pirsa kita. Panjenenganipun ugi pirsa lan paring punapa ingkang dados kabetahan kita. Panjenganipun tansah nyarengi lan paring pitulungan dhateng kita. Malah, menawi wonten ing antawis kita ingkang kesasar lan ical dipun padosi ngantos pinanggih. Lajeng, dipun kempalaken malih ing patunggilanipun tiyang-tiyang ingkang pitados.

Panutup
Minangka tiyang ingkang sampun katunggilaken dening Gusti Yesus Kristus ing grejani-Pun, kita dipun engetaken supados tansah ngawontenaken  sesambetan ing tetuggilan ingkang raket kaliyan Panjenenganipun. Kraketan kita kaliyan Gusti Yesus Kristus saged ngiyataken kapitadosan kita. Kejawi punika ugi ndadosaken kita wantun nindakaken tumindak ingkang nyondhongi kaliyan piwucal lan tuladhan-Ipun Gusti. Pramila, kita ugi kedah mranata gesang kita supados celak lan raket kaliyan Panjenenganipun, sarta ngindhakaken kwalitas kapitadosan kita. Kapitadosan kita dhumateng Gusti Yesus Kristus mugi ndadosaken kita sansaya raket ing patunggilan kita minangka greja. Malah, ugi ndadosaken kathah tiyang ingkang sami dhateng lan srawung kaliyan kita, ngraosaken sukabingah, katentreman lan ugi ngraosaken pakaryanipun Gusti Yesus ingkang dados Pangen kita. Amin. [HSW].

 

Pamuji: KPJ. 352  Santosaning Tetunggilan

Renungan Harian

Renungan Harian Anak